Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Masih Kecil


__ADS_3

Byur!


Terdengar lagi suara air kolam, yang kejatuhan sesuatu.


"Ara, Anggi. Kalian tidak apa-apa?"


Anjani berjalan dengan cepat, sambil berteriak memanggil kedua nama anaknya. Dia merasa sangat khawatir, dengan keadaan anaknya itu.


Tapi ternyata tidak ada sahutan. Ara dan Anggi tetap diam dan tidak menjawab panggilan dari bundanya itu.


"Ayah!"


Anjani belum sampai di kolam ikan. Tapi dia sudah berteriak keras, memangil suaminya yang masih repot dengan barang bawaan mereka semua.


Dia benar-benar merasa sangat mengkhawatirkan kedua anaknya, yang tadi pergi ke kolam ikan.


"Ara, Anggi. Kalian tidak apa-apa?"


Terlihat kedua anaknya itu sedang berada di pinggir kolam, dalam keadaan basah semua. Itu artinya, saat Anjani mendengar suara air tertimpa sesuatu, itu adalah Anggi yang secara tidak sengaja kecebur ke dalam kolam ikan.


"Hiks hiks hiks..."


Anggi sedang menangis dalam keadaan basah, dan dipeluk oleh kakaknya, Ara, yang juga sama basahnya.


"Kenapa Kak?" tanya Anjani, yang sekarang ganti memeluk Anggi.


Anggi langsung beralih memeluk bundanya itu, ketika melihat kedatangannya tadi.


Ara, akhirnya menceritakan secara singkat, atas kejadian yang terjadi tadi, pada adiknya, Anggi.


Ternyata, tadi Anggi tidak bisa diam, dan tiba-tiba terpeleset masuk ke dalam kolam ikan lele.


Karena Anggi juga belum begitu mahir dalam berenang, Ara dengan cepat ikut masuk ke dalam kolam ikan, untuk menolong adiknya itu.


Tapi karena Anggi tercebur ke kolam ikan lele, tentu saja, ikan-ikan lele tersebut dengan senang hati mengelitiki Anggi dengan patilnya dan juga kumis, yang memang dimiliki oleh ikan lele.


Anggi jadi menangis, karena rasa sakit pada tangan dan kakinya, yang tidak terbungkus pakaian.


Untungnya, Ara dengan cepat menolongnya tadi.


Ayah mereka berdua, Abimanyu, tertawa-tawa kecil, mendengar cerita dari Ara, tentang insiden tersebut.


"Ayah! Huhuhu..."


Anggi kembali menangis dengan keras, karena merasa sedang diledek oleh ayahnya sendiri.


"Makanya, lain kali hati-hati Dek. Kamu juga sih, datang-datang cuma mau main, gak kasih makan ikannya. Ya udah, ikannya yang kasih ucapan selamat datang," ujar Abimanyu, dengan masih menahan tawanya.


"Sudah-sudah, ayok ke dalam. Mandi dan ganti baju, biar gak kedinginan." Anjani, berusaha melerai olok-olok suaminya itu, pada Anggi.


"Hiks hiks hiks... ayah nakal Bunda."


Anggi mengadu, supaya mendapatkan pembelaan.


Ara, berjalan terlebih dahulu untuk bisa pergi mandi. Dia sudah merasa kedinginan, di cuaca kota Bogor yang memang selalu dingin juga.


Setelah selesai berberes, dan kedua anaknya juga sudah selesai mandi, Abimanyu beristirahat sejenak, sebelum kembali ke Jakarta dan langsung menuju ke bandara.

__ADS_1


"Ayah tidur ya Bun?" tanya Ara, saat dia tidak melihat keberadaan ayahnya.


"Iya Kak. Nanti ayah harus berangkat ke bandara juga. Biar tidak terlalu capek. Ayah juga sudah lama tidak nyetir mobil sendiri, untuk perjalanan jauh."


Ara mengangguk, kemudian membantu bundanya untuk membersihkan kamar yang akan dia tempati tidur selama berada di Bogor.


"Oh iya, Adek mana Bun?" Ara kembali bertanya, saat tidak menemukan keberadaan adiknya, Anggi.


"Tadi pamit pergi main di taman kafe," jawab Anjani, sambil menganti sprei.


Di saat membantu bundanya, handphone Ara berdering. Ternyata, Nanda yang sedang menghubungi dirinya.


..."Halo Kak Nanda."...


..."Sudah sampai di rumah Bogor ya Ra?"...


..."Iya Kak. Kakak ada di mana?"...


..."Ini baru selesai buat SIM-nya."...


..."Wah asyik dong, bisa pulang ke kampung untuk menemui tante Yasmin."...


..."Tapi Kakak mau nyusul ke Bogor saja ya? gak apa-apa kan?"...


..."Eh, gak ditunggu tante Yasmin di sana?"...


..."Hahaha... iyalah Ra! cuma ngetes Kamu aja kok. Ternyata, Kamu gak pengen Kakak datang nyusulin Kamu kan?"...


..."Bukan. Bukan begitu Kak!"...


..."Iya, gak papa. Aku juga cuma becanda kok. Udah ya, hati-hati. Salam buat Bunda dan Anggi, sama ayah Abi juga."...


Klik!


"Huhfff..."


Ara membuang nafas panjang, saat panggilan telpon tersebut ditutup oleh Nanda.


"Siapa Kak, Nanda ya?" tanya Anjani menebak.


Hanya anggukan kepala saja, yang dilakukan oleh Ara, sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh bundanya.


"Ada apa?" tanya Anjani lagi, karena merasa jika Ara sedang tidak nyaman, setelah selesai menerima panggilan telpon dari Nanda.


Akhirnya, Ara menceritakan tentang Nanda, yang tadi mengatakan bahwa, kakak sepupunya itu, ingin menyusul mereka ke Bogor.


"Kan kak Nanda sudah bilang jika dia becanda. Tidak usah terlalu dipikirkan juga," ujar Anjani, menanggapi cerita Ara.


Tapi Ara merasa bahwa, nada bicara Nanda, seperti seseorang yang sedang kecewa.


'Apa kak Nanda marah ya, Aku gak menjawab boleh, saat dia bilang mau datang menyusul?' tanya Ara, dalam hati.


"Kakak-kakak. Keluar Kak Ara. Lihat siapa ya g datang?"


Dari arah luar, Anggi berteriak memanggil kakaknya, Ara.


"Apa Dek?"

__ADS_1


Ara dengan cepat keluar dari dalam rumah, dan menuju ke tempat di mana tadi Anggi berada. Yaitu di taman kafe.


"Miko, Kak Nanda?"


Ternyata di taman kafe, sudah ada keluarga tantenya, Sekar, bersama dengan Nanda juga.


Menurut cerita Sekar, Miko merengek terus, dan tidak mau berhenti menangis, karena tidak di ajak ke Bogor.


Itulah sebabnya, akhirnya Juna memutuskan untuk menyusul mereka ke Bogor, dengan mengajak Nanda juga.


Apalagi Nanda juga mau ikut, dan membatalkan rencananya untuk membuat SIM terlebih dahulu.


Anggi jadi merasa sangat senang, karena mendapat teman bermain. Meskipun dia juga merasa sedikit kecewa, karena tidak bisa mengajak Nanda untuk berputar-putar keliling kota Bogor. Itu karena Nanda ikut naik mobil.


"Tapi om gak bisa lama. Om harus kembali ke Jakarta untuk kerja," kata Juna, papanya Miko.


Anjani, yang sudah berada di antara mereka, hanya bisa mengangguk saja. Dia merasa sangat senang, dengan kedatangan mereka semua


Rumahnya di Bogor akan bertambah ramai, dan liburan anak-anaknya juga akan lebih seru, dengan adanya Miko dan juga Nanda tentunya.


Untungnya, bangunan rumah kost miliknya, ada di bagian bangunan baru, yang ada di belakang rumah utama.


Jadi, para penghuni kost-kostan, tidak akan merasa terganggu, dengan kedatangan mereka semua. Apalagi, ada anak-anak, yang tentunya akan sangat ramai dan berisik nantinya.


"Ayok-ayok, masuk!"


Anjani mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam rumah.


Tapi Anggi tetap saja tidak mau masuk, dan mengajak Miko untuk bermain-main di tanam kafe.


"Tapi tidak boleh nakal dan menganggu pengunjung kafe ya Dek!" Ara memberikan pesan pada adiknya, yang biasanya tidak mau diam diam dan usil. Apalagi sekarang ada Miko juga.


Ara takut jika, keduanya akan lebih membuat kekacauan di kafe, saat ada pengunjung yang datang.


"Iya-iya Kak," jawab Anggi cepat, dengan menunjukkan dua jari ke depan wajahnya.


"Awas ya!" kata Ara, mengancam adiknya itu.


"Wek!" sahut Anggi, dengan menjulurkan lidahnya, membalas ancaman dari kakaknya.


"Sudah-sudah Ra. Biarin aja mereka berdua main," ujar Nanda, memisahkan keduanya agar tidak terus saling meledek.


"We... kak Ara pacaran sama kak Nanda!"


Miko, justru meledek Ara dan Nanda, dengan kebiasaannya Anggi, yang mengatakan bahwa, Ara dan Nanda sedang pacaran.


"Hahaha... Kita juga bisa pacaran Miko. Ayok ke ayunan!"


Anggi menarik tangan Miko, supaya ikut bersama dengannya, dan tidak lagi mempedulikan kakaknya, yang sudah bersama dengan Nanda.


"Huh! dasar anak kecil."


"Kakak juga masih kecil weee..."


Anggi tidak mau kalah, dengan mengatai kakaknya itu.


"Ihhhh, Adek!" teriak Ara dengan kesal.

__ADS_1


"Hahaha... emang Kamu masih kecil Ra," sahut Nanda, dengan mengacak rambut Ara dari arah belakang.


__ADS_2