Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Video Call


__ADS_3

Di sebuah kamar apartemen di Atlanta.


"Kakak. Ayok keluar kamar. Tidur mulu sih!" Anggi berteriak dari luar kamar, memanggil kakaknya, Ara.


Clek!


"Apa sih Dek?" tanya Ara, yang melihat Anggi cemberut di depan pintu kamarnya.


"Kakak pulang, gak ajak main Anggi, malah tidur terus di kamar," jawab Anggi, dengan bibirnya yang mengerucut.


Dia ngambek.


"Ihhh... Kakak gak tidur kok," sahut Ara, sambil menoel dagu adiknya itu.


"Terus ngapain do kamar aja?" Anggi jadi ingin tahu, apa yang dikerjakan kakaknya di dalam kamar, selain tidur.


"Ini."


Ara menunjukkan satu tangannya yang lain, yang memegang handphonenya. Ternyata, Ara sedang berkirim pesan, untuk kakak sepupunya, Nanda.


"Kak Nanda ya? ah... Anggi jadi kangen di bonceng, terus keliling-keliling kompleks, mampir ke rumah... hiks, Miko."


Sekarang, Anggi justru terisak kecil, karena mengingat hari-harinya di rumah, di Jakarta, saat berkeliling kompleks bersama dengan Nanda, kemudian kadang-kadang, mampir ke rumah Miko untuk mengajaknya keliling juga.


"Cup cup cup. Kok malah nangis sih? jelek Ihhh!" Ara menggoda adiknya itu, supaya berhenti menangis dan tidak sedih lagi.


"Tapi Anggi kangen Kak Nanda dan Miko juga," ucap Anggi, masih dengan sesenggukan, menahan tangisannya.


"Eh, yang Anggi kangenin itu kak Nanda, apa Miko?" tanya Ara, ingin tahu apa yang dirasa adiknya kali ini.


"Semua..." jawab Anggi, dengan merajuk seperti anak kecil. ( Eh, memang masih kecil ding 🤭🤭🤭 )


"Ya udah sini!"


Ara mengajak Anggi, untuk masuk ke dalam kamarnya, kemudian naik dan duduk di tempat tidur.


Anggi juga melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh kakaknya itu.


Setelah kedua duduk di tempat tidur, Ara mengajak Anggi, untuk melakukan video call dengan Nanda.


"Mau kan video call dengan kak Nanda? atau sama tante Sekar aja?" tanya Ara, pada adiknya, yang saat ini sudah duduk di depannya, dengan bersilang kaki.


"Tante Sekar aja!"


Anggi sedang cepat menjawab, agar kakaknya menghubungi Sekar, mamanya Miko.


"Tapi..."


Tok tok tok!


"Kak, Adek!"


Sebelum Ara melakukan apa yang diminta oleh Anggi, pintu kamarnya di ketuk dari luar oleh bundanya, Anjani.


"Ya Bun!"


Ara menjawab panggilan bundanya itu, dari dalam kamar.


"Ayok Dek!"


Anggi ikut beranjak dari tempat duduknya, kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan bersama dengan kakaknya menuju ke arah pintu kamar.


Clek!


"Ya Bun, ada apa?" tanya Ara, setelah pintu terbuka, dan mendapati bundanya berdiri di depan pintu, dengan celemek yang masih dia pakai.

__ADS_1


"Kalian sedang apa?" tanya Anjani, pada kedua anaknya, Ara dan Anggi.


"Mau telpon tante Sekar Bun. Anggi mau lihat wajahnya Miko. Hehehe..."


"Ya sudah, jangan lama-lama ya. Nanti kita ada acara makan malam bersama ke luar, jadi kalian harus segera bersiap-siap. Ayah akan segera pulang, menjemput kita."


Ara dan Anggi saling pandang, mendengar perkataan bundanya, tentang jamuan makan malam mereka nanti.


Mereka berdua tidak tahu, siapa yang akan mereka temui dalam jamuan makan malam ini.


"Ayo Dek!" ajak Ara, agar kembali ke dalam kamar, untuk melakukan video call dengan tante mereka, yaitu Sekar.


"Asyik..."


Anggi berteriak senang, sambil melompat-lompat kegirangan, karena akan segera melihat wajahnya Miko, tak lama lagi.


Akhirnya, mereka berdua kembali masuk ke dalam kamar.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


Tapi, sepertinya panggilannya ini tidak bisa tersambung. Bahkan, Ara kembali mengulang kembali panggilannya tadi.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


Sayangnya, panggilannya tetap saja tidak diangkat oleh tantenya, Sekar, ataupun papanya Miko, Juna.


"Kok gak bisa Kak?" tanya Anggi, yang terlihat cemas, karena panggilannya tersebut, tetap tidak ada yang menerima.


"Tidak tau Dek. Mungkin Tante sedang repot, atau handphonenya ada di dalam kamar, dan mereka sedang tidak mendengarnya."


Akhirnya, Ara berinisiatif untuk menelpon kakak sepupunya, Nanda.


"Ya Kak. Entar Kak Nanda suruh ke rumah Miko aja," jawab Anggi cepat.


Seperti, Anggi sudah tidak sabar, untuk bisa melihat wajah-wajah dari sepupunya, yang sudah setahun ini tidak pernah bertemu secara langsung dengannya.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


Dan dengan cepat, panggilan telpon untuk Nanda, tersambung.


..."Halo Anggi!" ...


..."Kak Nanda!" ...


Anggi langsung menjawab sapaan akrab Nanda, yang sangat senang, karena mendapatkan telpon darinya.


Nanda tidak menyapa Ara, karena dia tidak tahu, jika ada Ara juga bersama dengan Anggi.


Biasanya, Ara tidak ada, di saat Anggi menelepon dirinya. Sebab, selama ini Ara berada di asrama sekolah dan tidak ada akses telpon internasional.


Ara bisa menghubungi dan dihubungi, hanya melalui panggilan lokal, dari dan kepada orang tuanya saja.


..."Kakak."...


Ara menyapa Nanda, sambil mengarahkan handphone ke telinganya.


..."Ini Ara?" ...


..."Iya Kak. Ini Kak Ara." ...

__ADS_1


Tak lama kemudian, Ara menganti panggilan telpon tersebut, dengan panggilan video call.


Akhirnya, wajah Nanda tampak di layar handphone miliknya.


Ara dan Anggi, juga bisa terlihat di layar handphone miliknya Nanda.


Mereka bertiga, saling berbincang-bincang seru, untuk melepaskan rasa rindu mereka, dengan saling bercanda ria dan bercerita tentang banyak hal.


..."Salam buat Miko ya Kak?"...


Anggi berpesan pada Nanda, supaya menyampaikan salamnya pada Miko, yang tadi tidak bisa dia hubungi.


Menurut Nanda, Miko sedang pergi bersama dengan keluarganya, menjenguk saudara papanya, Juna, yang sedang sakit. Dan itu ada di daerah Bekasi.


..."Ya, nanti kakak sampaikan. Sama eyang juga gak?" ...


..."Iya dong, sama eyang Kakung dan eyang Putri juga." ...


Nanda tampak menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan Anggi.


Ara hanya tersenyum, melihat ke layar handphone tersebut, dengan senang karena sudah bisa melihat bagaimana keadaan kakak sepupunya itu.


..."Bye Kak Nanda!" ...


..."Bye Anggi, Ara." ...


..."Terima kasih ya Kak."...


..."Salam juga buat bunda dan ayah."...


..."Iya."...


Klik!


Ara yang terakhir kalinya berbicara, dengan mengucapkan terima kasih, pada kakak sepupunya itu.


Sekarang, mereka berdua pergi bersiap-siap, untuk pergi ke jamuan makan malam, yang tadi diberitahukan oleh bundanya, Anjani.


"Tumben ayah ngajak kita Kak, emangnya siapa sih yang mau menjamu kita makan malam ini?" tanya Anggi, yang merasa penasaran, dengan orang yang mengajak keluarganya untuk bertemu dan makan malam kali ini.


"Mana Kakak tau Dek. Kan Kakak juga gak pernah di rumah," jawab Ara, yang membantu Anggi, menyisir rambutnya yang sekarang ini sudah semakin panjang.


"Rambut Kamu udah panjang Dek, gak dipotong ini?" tanya Ara, yang merasa jika, rambut adiknya itu terlalu panjang.


Selama ini, rambut Anggi tidak pernah melampaui bahu, dan akan dipotong, jika sudah lebih panjang.


"Gak ah. Anggi lagi pengen panjang, jadi bisa dikepang gitu Kak," jawab Anggi, yang merasa semakin terlihat cantik, dengan rambut yang panjang.


"Ihsss, centil adiknya Kakak!"


Ara mencubit hidung adiknya itu, karena gemas sendiri, mendengar jawaban yang diberikan oleh Anggi tadi.


Mereka berdua, cekikikan di dalam kamar, saat bersiap-siap.


Dari luar kamar, Abimanyu yang baru saja pulang, bertanya pada istrinya, Anjani. "Anak-anak sudah dikasih tau Bun?"


"Iya, sudah kok Yah," jawab Anjani, dengan mengangguk.


"Mereka berdua tau gak Bun, kita mau ketemu siapa nanti?" tanya Abimanyu lagi.


"Gak Yah. Mereka juga gak tanya kok tadi," jawab Anjani, sambil mengeleng.


Abimanyu mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban itu.


"Ya sudah. Biarkan saja mereka berdua tidak tahu. Nanti juga tahu sendiri."

__ADS_1


Anjani hanya mengangguk dan tersenyum saja, menanggapi perkataan yang diucapkan oleh suaminya itu.


Akhirnya, Abimanyu masuk ke dalam kamar, diikuti oleh istrinya, untuk membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum mereka semua berangkat menuju ke tempat, di mana mereka sudah ditunggu, untuk jamuan makan malam.


__ADS_2