
Awan datang ke apartemen Abimanyu pada sore hari, begitu dia pulang dari kampusnya.
"Apa yang terjadi Ra. Kenapa Kamu tidak latihan dan pulang cepat?" tanya Awan, yang merasa penasaran, dan ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya itu, di kampus tadi pagi.
"Tidak apa-apa Kak. Hanya inseden kecil saja kok," jawab Ara enteng.
"Cerita Ra. Gak mungkin juga, Kamu pulang secara tiba-tiba dan tidak biasanya juga."
Awan mendesak Ara, agar mau mengatakan apa yang terjadi pada dirinya tadi, di tempat Ara kuliah.
Tentu Awan merasa khawatir karena, Ara itu masih dalam usia muda. Dia belum seharusnya kuliah.
Dia khawatir jika, Ara mendapat perlakuan yang tidak baik di kampus.
Akhirnya, atas desakan Awan, Ara pun menceritakan tentang persoalan yang dia miliki di kampus.
Anjani, yang datang dengan membawa nampan berisi minuman untuk Awan, ikut duduk di antara mereka berdua.
Bundanya Ara itu, sudah tahu dari cerita anaknya, tadi begitu Ara tiba di rumah.
Dan sekarang, Anjani kembali mendengar cerita tersebut, di saat Ara bercerita pada Awan.
"Bagaimana bisa dekan memberikan keputusan seperti itu? ini tidak adil Ra. Kenapa Kamu tidak protes atau meminta untuk ditinjau ulang?" tanya Awan, yang tidak menerima begitu saja, apa yang dia dengar tadi.
"Tidak apa-apa Kak, biarin aja lah. Kita bisa pulang ke Indonesia, tanpa harus melakukan re_cedule. Ara, cuma dapat tugasnya dengan cara mengumpulkan lewat online aja kok," ujar Ara, menenangkan pikiran Awan.
"Iya juga sih. Tapi... ah, tetap aja Kakak gak habis pikir dengan apa yang diputuskan dekan Kamu itu."
Awan masih belum bisa menerima alasan, mengapa kekasihnya itu mendapatkan skorsing dari dekan.
Karena menurut Awan, di kekasihnya itu tidak bersalah.
Tapi, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa, untuk membuat Ara bebas dari hukuman skorsingnya.
"Ya sudah kalau begitu. Kita percepat acara pertunangan kita di Indonesia," ujar Awan, dengan tersenyum senang.
"Dih, kan jadi seneng gitu..."
Ara meledek Awan, yang pada akhirnya malah ikut merasa senang, dengan hukuman yang diberikan kepada Ara oleh dekan kampus.
Anjani, hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, mendengar dan melihat bagaimana akhirnya Awan yang merasa senang dengan waktu yang tepat ini.
"Sepertinya, dekan tau deh, ada yang kita rencanakan ini. Makanya, dia beralasan dengan kasih hukuman skorsing itu. Hehehe..."
Awan melucu sendiri, sebagian hiburan atas kekecewaannya, terhadap apa yang dialami Ara hari ini.
Tet tet tet!
Bel pintu berbunyi, tanda jika ada orang yang datang.
"Mungkin Anggi," tebak Anjani, sambil berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah pintu.
Clik!
__ADS_1
"Sore Bunda."
Anggi masuk dengan cepat, dan mencium tangan dan pipi bundanya itu.
"Eh, Kak Awan."
Anggi, yang baru saja selesai mencium pipi bundanya, melihat keberadaan Awan, yang duduk dengan menutupi tubuh kakaknya, Ara.
"Hai Dek. Kok sore baru pulang?" tanya Awan, dengan menolehkan kepalanya, ke arah Anggi.
Sekarang, Anggi berjalan menuju ke tempat Awan duduk.
"Hai calon pengantin. Udah mandi belum?" tanya Anggi, dengan tidak menghiraukan pertanyaan yang diajukan oleh awan padanya.
"Ihsss... udah dong!" jawab Ara cepat.
"Tumben?" tanya Anggi, dengan memicingkan mata, melihat ke arah kakaknya.
"Beneran Kak Awan?"
Sekarang, Anggi ganti bertanya kepada Awan, yang duduk di sebelah Ara.
"Gak tau," jawab Awan, sambil mengangkat kedua bahunya, tanda jika dia tidak tahu, apa Ara memang sudah mandi atau belum.
"Ihhh... kak Awan!" Ara merajuk juga, sama seperti yang biasanya dilakukan oleh Anggi, jika sedang merajuk.
"Hahaha... Kak Ara, gak pantes!" protes Anggi, sambil tertawa terbahak-bahak, mendengar perkataan kakaknya, yang terdengar aneh ditelinganya.
"Gak pantes?"
Awan dan Ara, bertanya kepada Anggi secara bersamaan. Sedangkan Anjani, hanya membuang nafas panjang, saat mendengar dan melihat ketiga anaknya itu sedang bergurau dan saling meledek.
"Sudah-sudah. Ayok Anggi, Kamu yang buruan mandi. Kak Ara memang sudah tadi," kata Anjani, menengahi perdebatan antara mereka bertiga, agar tidak lagi berlangsung lama dengan penuh dramanya Anggi.
"Ya Bun. Tapi... ini kok tumben, kakak udah mandi?"
Anggi masih merasa penasaran, dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya tadi.
Karena biasanya, Ara baru mandi, jika dia sudah pulang.
Atau, Anggi yang akan mandi terlebih dahulu, jika Ara yang pulangnya terlambat.
"Iya memang. Kakak pulang siang ragi kok," jawab Ara, memberikan penjelasan kepada adiknya itu.
"Hah, pulang siang kenapa?" tanya Anggi, yang terkejut dengan jawaban Ara.
Kakaknya itu, tidak pernah pulang dari kuliah siang hari. Jadi, Anggi merasa jika ada sesuatu yang terjadi pada kakaknya itu.
"Gak apa-apa Dek. Kakak udah selesai semua tugasnya. Jadi, pulang aja."
Anggi mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh kakaknya, Ara.
"Enak juga ya kuliah. Tugas selesai, pulang. Gak harus nunggu waktunya pulang."
__ADS_1
Anggi justru mengerutu sendiri, dengan apa yang dia bayangkan dengan anaknya saja.
"Sudah Dek. Buruan sana mandi," kata Anjani lagi, menegur anaknya, Anggi, yang belum juga pergi dari tempatnya berdiri. Yaitu di depan Awan dan Ara.
"Iya-iya Bun," jawab Anggi, kemudian pamit pada Awan dan kakaknya, untuk masuk ke dalam kamar.
"Kak Awan, Kak Ara. Anggi ke kamar dulu ya. Mau mandi," pamit Anggi, sambil nyengir kuda.
Awan hanya mengangguk saja, sedangkan Ara, mengibas-ngibaskan tangan, seperti orang yang sedang dalam keadaan mengusir.
"Wekkk!"
Anggi masih sempat menjulurkan lidahnya, untuk meledek kakaknya, Ara.
"Hiiiihhh!" Ara jadi geregetan dengan tingkah adiknya itu.
"Sudah Ra, apa sih kayak gitu?"
Awan meminta pada Ara, agar tidak lagi terpengaruh oleh ledekan adiknya, Anggi.
"Kita bahas rencana kepulangan kita ke Indonesia ya," kata Awan, mengalihkan perhatiannya Ara, agar kembali fokus pada dirinya.
*****
Jakarta, di rumah sakit tempat Mita di rawat.
"Kak Dika gak datang Pa? Gak kasih kabar Ma?" tanya Mita, saat papa dan mamanya datang pada siang hari.
"Oh nak Dika. Doa ada kesibukan kuliah. Kemarin, dia udah pamit pada Papa," jawab papanya, dengan meletakkan keranjang buah.
"Bu, kupas apelnya ya! biar di makan sama Mita," kata mamanya Mita, pada bibi pembantu yang menemani Mita di rumah sakit.
Untuk menemani Mita selama dirawat, selain mama dan papanya Dika yang sering datang menjenguk dan menemani, ada bibi pembantu rumah, yang khusus untuk menemani Mita, jika mereka berdua sedang tidak ada dan apa keperluan lain di luar.
"Iya Nyah," jawab bibi pembantu mengiyakan.
Mita sedang berbincang-bincang dengan papanya, yang mengatakan bahwa, Dika sudah ijin kemarin, di saat mau pulang.
"Kamu cuti aja kuliahnya ya Mit? Kan Kamu baru saja masuk masih semester satu. Jadi, lebih baik fokus pada kesehatan dan pengobatan Kamu dulu," ujar papanya Mita, di saat mereka berdua sudah tidak lagi membahas soal Dika.
"Cuti Pa, kenapa?"
Mita tentu merasa terkejut, dengan usulan yang diajukan oleh papanya.
Dia tentu tidak habis pikir, kenapa papanya meminta dirinya untuk beristirahat dari kuliahnya, padahal dia merasa tidak ada sesuatu yang perlu di khawatirkan.
"Pa, kenapa Pa?" tanya Mita, meminta penjelasan tentang usulan papanya tadi.
"Tidak apa-apa Mita. Papa hanya tidak mau jika, kejadian kemarin itu terulang lagi," jawab papanya, dengan alasan yang mungkin bisa diterima oleh Mita.
"Tapi, Mita merasa baik-baik saja Pa. Kita pulang sekarang juga, Mita kuat kok."
Mita tidak tahu jika, apa yang dia alami kemarin, merupakan salah satu gejala penyakitnya yang tentu saja, tidak bisa dianggap remeh.
__ADS_1