Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Dia Kembali


__ADS_3

..."Papa mau nikah lagi sama Mami. Kamu datang ya Nda?"...


..."Nikah lagi? sama Mami?"...


..."Iya. Mami yang di pangkalan barang-barang bekas itu lho Nda."...


..."Oh, yang itu. Kapan?"...


..."Iya, tiga hari lagi. Kamu kan udah kenal sama Mami. Baiknya Kamu ikut hadir ya? Mami pasti akan senang Nda."...


Nanda mendapat kabar dari papanya, Wawan, jika akan melaksanakan rencana pernikahannya dengan Mami, tiga hari lagi.


Papanya juga memintanya untuk ikut hadir dalam acara tersebut. Tapi, Nanda bingung. Bagaimana cara dia minta ijin pada eyangnya nanti.


..."Nda?"...


..."Iya Pa. Tapi... Nanda gak. jasa janji untuk bisa datang tepat waktu."...


..."Kenapa? apa Kamu dilarang mama Kamu untuk bertemu dengan Papa?"...


..."Gak. Mama gak pernah melarang Nanda. Karena Eyang kakung sudah pernah menasehati Mama. Tapi, Eyang Putri yang masih marah. Jika Nanda menemui Papa."...


..."Baiklah. Tapi, usahakan untuk bisa datang ya? atau Mami sendiri yang harus memintamu datang?"...


..."Gak usah Pa. Nanda usahakan untuk bisa datang. Salam buat Mami!"...


..."Ya-ya. Nanti Papa sampaikan."...


Klik!


Nanda mengakhiri hubungan telpon dari papanya, Wawan.


Tapi ternyata, di belakangnya Nanda, ada ibu Sofie, Eyang putrinya, yang mendengar semua perkataan dan pembicaraan yang dia lakukan bersama dengan papa kandungnya itu.


"Kamu mau bertemu dengan papa Kamu Nda?" tanya ibu Sofie, pura-pura tidak tahu, jika tadi dia sedang dibicarakan oleh cucunya, dengan mantan menantunya. Papanya Nanda, Wawan.


Nanda menoleh dengan cepat, karena merasa sangat kaget mendengar pertanyaan tersebut.


"Eyang," sapa Nanda, dengan wajahnya yang tampak canggung.


'Eyang pasti mendengar pembicaraanku dengan papa tadi. Bagaimana ini Aku bilangnya?" batin Nanda bingung.


"Kenapa?" tanya ibu Sofie, karena Nanda tidak menjawab pertanyaan yang tadi dia ajukan.


"Emhhh... itu Eyang. Anu..."

__ADS_1


"Anu apa? Kamu mau ketemu sama Papa Kamu?" tanya ibu Sofie, pada cucunya, Nanda.


Dengan takut-takut, Nanda mengangguk-anggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh eyang putrinya itu.


Ibu Sofie tampak menghela nafas panjang. Dia tidak bisa marah dalam keadaan seperti ini. Apalagi, Nanda bukan lagi anak-anak, atau remaja labil yang dengan mudah terpengaruh oleh papanya, Wawan.


"Eyang gak marah Nda. Dulu, Eyang menang marah sama Kamu, jika bertemu dengan papa Kamu itu."


"Bukannya Kamu tidak boleh bertemu dengannya. Eyang hanya tidak mau jika, Kamu terpengaruh dengan sifat aslinya saja."


Nanda tahu apa yang dimaksud oleh eyang putrinya itu. Semua demi kebaikannya sendiri.


Dulu, eyang putrinya itu menang marah besar. Di saat tahu jika, Nanda sering menemui dan bertemu dengan papanya.


Nanda masih sekolah, dan usianya masih remaja. Sangat labil jika mendapatkan pengaruh jelek dari Wawan.


Sebab itulah, eyang putrinya itu memarahinya, tiap kali ketahuan jika pulang dari bertemu papanya.


Tapi seiring berjalannya waktu, dan kesibukan yang padat Nanda sendiri, dia juga tidak pernah lagi menemui papanya.


Apalagi saat itu, papanya juga sudah berpisah dengan Mami, kemudian menikah lagi. Dan Nanda tidak pernah tahu, siapa istri dari papanya tersebut.


Begitu juga pada saat papanya sudah berpisah dengan istrinya yang baru. Nanda hanya ragu dari pesan yang disampaikan oleh papanya sendiri.


Tapi Nanda tidak pernah membalas pesan tersebut. Dia tidak ingin melihat papanya berbangga hati, karena merasa jika sudah bisa menaklukkan banyak wanita.


'Apa papa tidak pernah berpikir jika, bisa jadi, akibat perbuatannya itu akan membuat Aku trauma. Karena siapa tahu, karmanya papa akan ada padaku.'


Begitulah kira-kira pemikiran yang ada di dalam hatinya Nanda selama ini. Karena itu juga, dia tidak pernah berani mendekati cewek-cewek yang ada di dekatnya. Meskipun sebenarnya, cewek-cewek itu banyak yang suka dan memberikan lampu hijau padanya.


Nanda merasa takut untuk memulai suatu hubungan. Itulah sebabnya, sampai saat ini dia belum juga memiliki kekasih.


*****


Di Atlanta, Amerika.


Anjani sedang berbelanja di mini market, yang ada di seberang apartemen. Dia tidak berbelanja di mini market yang ada di bangunan apartemennya, karena dia sedang mencari bumbu-bumbu dapur asli. Dan bukan yang instan.


Dan kebetulan di mini market yang ada di seberang apartemen, menjual bumbu-bumbu dapur asli, meskipun tidak terlalu segar seperti yang ada di Indonesia.


Anjani tidak sendirian. Ada Ara yang menemaninya berbelanja. Jadi, mereka berdua bisa berbincang-bincang dan meminta pertimbangan untuk barang belanjaan yang mereka inginkan.


"Ra. Ini lengkuasnya jangan ambil banyak. Seperlunya saja."


Ara mengangguk mengiyakan perkataan bundanya. Tapi pada saat Ara mengambil lengkuas yang diinginkan, ada tangan lainnya, yang juga mengambil barang yang sama seperti yang akan di ambil olehnya.

__ADS_1


"Eh!"


Ara kaget. Dan orang yang tadi dengan sengaja mengambil lengkuas tersebut, sebelum dia ambil. Apalagi, orang itu juga tersenyum canggung padanya.


"You?" Sapa Ara, yang melihat dengan tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.


"Ya. How are you Ra?"


Ternyata, orang tersebut adalah salah satu dari temannya, yang dulu memfitnahnya dengan postingan foto majalah kampus.


Tiga dari temannya, satu orang akhirnya pindah dari kampus. Dan kabarnya juga tidak pernah diketahui setelahnya.


Dan sekarang, dia kembali muncul di hadapannya Ara.


"I am fine. How are you Clarissa?"


Dengan berbesar hati, Ara tetap menyapa temannya, yang bernama Clarissa itu dengan ramah.


"I... ah," kesah Clarisa dengan wajahnya yang tampak masam.


"Sorry Ra. Semua adalah salahku waktu itu."


Akhirnya, Clarissa meminta maaf pada Ara. Atas apa yang terjadi pada waktu itu.


Anjani yang ada bersama dengan mereka berdua, hanya diam mengamati saja.


Tapi karena mini market ini tidak mungkin digunakan untuk berbincang-bincang, akhirnya Ara mengusulkan supaya mereka mampir ke cafe, yang ada di sebelah mini market ini. Dan kafe tersebut, juga menyediakan makanan halal untuk di nikmati oleh muslim.


Clarissa setuju. Dan Anjani, juga mengangguk mengiyakan usulan tersebut.


Tapi sebelum mereka pergi, Anjani meminta pada mereka berdua untuk menunggunya sebentar. Dia ingin pergi ke kasir, membayar barang yang sudah mereka ambil.


Sekarang, mereka bertiga duduk di kafe, dengan menu ringan yang sudah mereka pesan.


Anjani hanya menemani, tanpa mau ikut campur dalam urusan anaknya itu. Tapi dia juga ikut mendengarkan, semua pembicaraan mereka berdua.


Dari penuturan yang disampaikan oleh Clarissa, dia hanya ikut saja dengan rencana yang dibuat oleh kedua temannya yang dulu.


Ara hanya tersenyum, mendengar cerita yang Clarissa katakan. Padahal sebenarnya, Ara tahu, siapa Clarissa ini.


Dialah dalang dari semua rencana tersebut. Dan dia dikirim ke negara Eropa oleh kedua orang tuanya, karena kedua orang tuanya merasa malu, dengan apa yang dilakukan oleh anaknya itu.


Tapi Ara tidak mau memotong atau menyalahkan Clarissa saat ini, ataupun kejadian yang dulu.


Semua sudah terjadi, dan berlalu. Yang penting, sekarang ini Ara juga sudah tidak lagi ada masalah dengan teman-temannya.

__ADS_1


Berbeda dengan bundanya, Anjani.


Bundanya itu merasa jika, ada rencana lain yang akan dilakukan oleh Clarissa. Temannya Ara, yang baru saja dia kenal dan dia lihat.


__ADS_2