
Anggi dan Ara, sudah naik ke dalam bus. Tapi Miko belum juga mau naik.
"Miko, ayok Sayang naik! Anggi sudah ada di dalam lho," kata Anjani, meminta pada Miko, supaya segera naik ke dalam bus.
Mamanya Miko, Sekar, sedang mengendong bayinya, sambil merayu anaknya juga.
"Iya lho, nanti ditinggal, dan Miko tidak jadi ikut ke rumahnya Om Aksan."
Sekar, ikut menimpali perkataan Anjani, agar Miko mau untuk segera naik.
"Tapi Mama gak ikut. Hiks... hiks... papa juga gak ikut."
Miko justru mulai menangis, karena merasa sedih, harus pergi sendiri tanpa mama dan papanya juga.
"Miko, kan ada Anggi. Ayo naik!"
Tiba-tiba, Anggi berteriak memanggil Miko dari dalam bus.
"Tuh, ada Anggi di dalam, sana gih!"
Dengan bibir cemberut, akhirnya Miko dengan terpaksa mau juga masuk ke dalam bus.
"Mbak Jani. Nitip Miko ya Mbak," ucap Sekar, yang meminta pada Anjani, untuk menjaga anaknya juga.
"Pasti Dek. Apa aku akan tega, membiarkan Miko sendirian?"
"Hehehe... makasih ya Mbak."
Anjani mengangguk dan tersenyum, mendengar ucapan terima kasih dari Sekar. Dia juga tidak mungkin keberatan, dengan adanya Miko yang ikut bersama dalam rombongan ini, meskipun tidak ada Juna ataupun Sekar yang ikut.
Para lelaki sudah selesai dengan pekerjaan mereka semua, yang ikut membantu membawa barang-barang Yasmin dan Aksan, ke atas truk.
Pak supir dan kernet truk, mulai menutup bak terbuka truk dengan lembaran terpal plastik, supaya tidak terkena air hujan, jika sewaktu-waktu hujan turun saat ada di dalam perjalanan mereka nanti.
Sekarang, Abimanyu dan ayah Edi sudah selesai mencuci tangan, dan bersiap untuk ikut naik ke dalam bus juga.
Nanda sudah bersiap-siap. Begitu juga dengan yang lainnya.
Tak lama kemudian, bus mulai bergerak maju, mengikuti ke mana truk kendaraan berjalan.
Di dalam bus, Anggi dan Miko bernyanyi bersama dengan riang gembira. Miko sudah melupakan kesedihannya yang tadi, karena mama dan papanya tidak ikut bersama naik bus ini.
Mereka berdua, menyanyikan lagu-lagu yang mereka hafal, karena masih sekolah di taman kanak-kanak.
Jadi, mereka berdua juga menyanyikan lagu tema kendaraan, dan rekreasi yang sering kali dinyanyikan bersama saat ada di sekolah.
"Kita nyanyi lagu kereta api saja!"
__ADS_1
Miko mengusulkan supaya mereka menyanyikan lagu kereta api, karena dua sudah hafal.
"Ihhh, kita kan naik bus. Ya nyanyi juga lagu yang naik bus!"
Anggi membantah dan tidak mau menuruti perkataan Miko, yang meminta lagu kereta api.
Kedua_nya kembali bertengkar, gara-gara lagu yang ingin mereka nyanyikan tidak sama seperti yang mereka inginkan.
"Ihhh, berisik banget kalian berdua. Nyanyinya gantian Miko, Anggi."
Ara memberikan mereka solusi terbaik, agar tidak bertengkar terus.
Akhirnya, mereka berdua tersenyum senang dan melakukan tos bersama-sama, dengan senyum merekah di bibir mereka.
Begitulah akhirnya. Mereka secara bergantian bernyanyi bersama, Dati lagu kereta api, kemudian lagu kendaraan tayo, dan kapal laut, secara bergantian.
Bahkan, mereka berdua juga menyanyikan lagu pesawat terbang sambil merentangkan kedua tangan.
"Huh! Dasar anak kecil." Ara tersungut-sungut, karena merasa kesal dengan ulah kedua adiknya itu.
"Hehehe... Kamu juga dulu begitu Ra," ujar Nanda, yang duduk di sebelahnya Ara.
"Eh, masak sih Kak?"
Ara bertanya dengan tidak percaya, jika dia juga sama seperti adik-adiknya itu, saat masih kecil dulu.
Ara meringis malu, karena merasa di ledek kakaknya, Nanda.
"Nda. Tolong ambilkan air minum itu dong Kak."
Yasmin, yang duduk tidak jauh dari tempat duduknya Nanda, meminta tolong kepada anaknya itu, untuk mengambilkan air minum, yang sudah disediakan.
Ada dua dus botol air mineral, untuk perjalanan mereka kali ini.
Ada juga beberapa makanan kecil, buatan Anjani sendiri. Dan ada beberapa snack kesukaan anak-anak, yang biasanya di makan sebagai cemilan saat perjalanan.
Setelah beberapa jam dalam perjalanan, Anggi dan Miko, sudah kecapaian.
Mereka berdua sudah minum dan makan makanan yang mereka sukai juga. Dan tak lama kemudian, keduanya tertidur karena merasa ngantuk.
Suasana bus jadi sepi, tanpa celoteh Anggi dan Miko. Sedangkan Abimanyu, sudah ikut tertidur, setelah meminum obatnya.
Ara juga sudah mulai mengantuk dan kadang-kadang, kepalanya membentur pundaknya Nanda. "Eh, maaf Kak," kata Ara meminta maaf, saat tersadar dan kembali menegakkan kepalanya dengan benar.
"Tidur sini. Yang nyaman. Kakak belum ngantuk kok," sahut Nanda, sambil menepuk-nepuk pundaknya sendiri.
Tapi Ara sepertinya malu. Dua hanya nyengir kuda, tapi tidak langsung mengangguk-anggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan dari Nanda.
__ADS_1
Namun pada akhirnya, Ara benar-benar merasa mengantuk, dan tanpa sadar, tertidur pulas dengan menyandarkan kepalanya di pundak Nanda.
Nanda pun memposisikan pundaknya sedemikian rupa, sehingga membuat Ara lebih nyaman dengan tidurnya yang dalam keadaan duduk.
Dan tak lama kemudian, Nanda bahkan ikut tertidur juga, dengan posisi menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
*****
Di rumah Dika, saat masih pagi.
Mama dan papanya, mengajak Dika untuk menjenguk Abimanyu. Mereka mengatakan bahwa, orang yang mereka serempet kemarin itu adalah pegawai di kantor PT SAMUDERA GROUP.
Dan menurut perkiraan papanya Dika, Abimanyu bukanlah pegawai biasa. Ini terbukti saat berada di klinik, tak jauh dari kantor PT SAMUDERA GROUP.
Bos Abimanyu, mama Amel dan juga Elang, bahkan datang secara langsung, untuk melihat keadaan Abimanyu saat itu.
Itulah sebabnya, mama dan papanya Dika, harus bisa mengambil hati Abimanyu, agar kerja sama mereka dalam bisnis barunya, yang ada kaitannya dengan PT SAMUDERA GROUP, bisa berjalan dengan lancar.
"Ayok Dika ikut. Mereka juga punya anak gadis yang masih remaja lho," kata mamanya Dika, merayu anaknya itu, supaya ikut saat mereka datang ke rumah Abimanyu siang nanti.
"Malas ah Ma. Gadis remaja, jelek paling," sahut Dika dengan malas.
Saat ini, mereka sedang sarapan. Dan karena hari ini adalah hari libur, mereka sarapan juga tidak dengan terburu-buru.
"Kayaknya sih cantik ya Pa? Manis lah Dik. Kami juga tidak jelas melihatnya. Dia gak menampakkan diri dengan keadaan jelas kok," ujar mama Dika, mengingat saat dia datang ke rumah Abimanyu.
"Ah, malah gak jelas gimana sih Ma! Ogah ahhh. Dika udah punya gebetan sendiri. Cantik dan tentunya juga pinter Ma."
Dika kekeh untuk tidak ikut pergi bersama dengan mama dan papanya. Dia sudah ada rencana sendiri, untuk bisa merayu Awan, supaya mau mengantarkan dirinya, pergi berkunjung ke rumahnya Ara.
"Sebentar saja kok Dik," kata mamanya lagi, yang belum menyerah untuk bisa mengajak anaknya itu.
"Sudahlah Ma. Kalau tidak mau, ya udah. Mama ini kayak anaknya tidak laku aja, pake mau dikenal-kenalkan dengan cewek."
Papanya Dika, yang sedari tadi hanya diam saja, menyahuti perkataan istrinya. Dia merasa risih juga, saat perkataan istrinya menyangkut kepentingan hubungan antara Dika dan cewek yang mereka berdua juga belum kenal dengan baik.
Apalagi, papanya Dika juga melihat keluarga Abimanyu yang biasa-biasa saja. Bukan dari kalangan orang-orang papan atas atau pengusaha, sama seperti keluarga mereka.
"Hemmm..."
Akhirnya, mamanya Dika hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tidak mungkin bisa memaksa lagi, jika suaminya itu, sudah menyahuti perkataannya yang tadi.
Mama Dika, kembali melanjutkan makannya, karena sarapan pagi mereka, tertunda karena perbincangan yang tadi dibicarakan oleh mereka. Yaitu soal keluarganya Abimanyu, dengan anak gadisnya.
Sedangkan Dika sendiri tidak tahu, jika yang di maksud oleh mamanya tadi adalah Ara.
Cewek kelas tujuh, yang sedang dia dekati selama ini.
__ADS_1