
Dua hari kemudian, Abimanyu diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Dia akan melakukan terapi dan pelatihan sendiri di rumah bersama dengan Anjani, istrinya.
Jika diperlukan dan keadaan dirinya memungkinkan, dianjurkan untuk datang ke rumah sakit seminggu sekali, untuk mengetahui perkembangannya. Baik untuk otot-otot dan otaknya juga.
Dokter yang menangani Abimanyu, berharap jika kesembuhan ingatannya itu permanen, sehingga tidak ada keluhan dan kembali amnesia lagi.
Begitu juga dengan latihannya selama ini. Dokter berharap, Abimanyu bisa bergerak sendiri, dan sabar dalam masa penyembuhan yang memang sedikit lambat dan tidak bisa secepatnya untuk busa sembuh total.
Ini karena selain cidera yang dia alami termasuk parah, otot dan tulang yang sudah tidak lagi pada masa pertumbuhan seperti anak-anak, tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama, dan tidak sama seperti luka jika seorang anak yang mengalaminya.
Kelenturan dan kekuatan tulang dalam tubuh orang dewasa dan anak-anak sangat berbeda karena kandungan yang ada juga berbeda.
Dokter hanya bisa memberikan nasehat dan saran yang dapat digunakan untuk memudahkan Abimanyu serta Anjani, guna memudahkan mereka dalam pelatihan sendiri di rumah nantinya.
Anjani tentu merasa sangat senang dengan diperbolehkan pulang oleh dokter. Itu karena dia masih bisa melihat dan menjaga Ara juga di rumah. Meskipun ada baby sitter yang menjaga anaknya, Anjani lebih tenang jika dia ada di rumah bersama dengan anaknya itu.
Apalagi, tiga hari ke depan, lamaran dan pernikahan adiknya, Yasmin akan dilakukan. Jadi, mereka berdua bisa ikut hadir dalam acara tersebut.
Apalagi sekarang ini, Yasmin juga sudah banyak berubah dan tidak lagi sama seperti dulu lagi. Dia tidak egois dan hanya mau menang sendiri. Yasmin juga lebih sering datang ke rumah sakit menemani Anjani, menunggu kakaknya, Abimanyu.
"Yasmin itu dulu sangat manja. Itu membuat dirinya egois dan semuanya sendiri. Aku juga ikut bersalah dalam perkembangan dirinya. Karena Aku selalu membela dirinya, jika dia berselisih atau bertengkar dengan teman-temannya. Itu membuat dirinya merasa ada di awang-awang dan menjadi seorang yang mempunyai ego tinggi. Apalagi, saat dia melakukan kesalahan-kesalahan yang sering dia lakukan, kami, terutama Aku dan ibu, selalu memaafkan dirinya. Aku menyesal karena telah memanjakan dirinya."
Anjani, baru tahu, jika Abimanyu ternyata sangat dekat dengan adiknya itu, Yasmin. Mungkin itu juga sebabnya, yang menjadikan salah satu alasan, Abimanyu tidak bisa bertindak tegas terhadap Yasmin selama ini.
__ADS_1
Tapi, berkat Yasmin juga, ingatan Abimanyu, berangsur-angsur pulih dan membaik. Karena di alam bawah sadar Abimanyu, kelakuan adiknya itu, sangat membekas dan tidak bisa dihapus begitu saja.
"Kita juga harus berterima kasih pada Yasmin Mas. Karena kedatangan ke sini kemarin, membuat mas Abi jadi ingat lagi dan pulih dari amnesia. Kata dokter, kasus seperti ini jarang terjadi. Karena amnesia mas Abi akibat suatu benturan keras yang terjadi saat kecelakaan kemarin itu. Tapi apa pun itu, Anjani tetap bersyukur karena akhirnya mas Abi bisa ingat lagi. Dan kita bisa mengatasi semuanya dengan baik-baik saja. Anjani berharap, mas Abi juga akan segera pulih dan tidak lagi lumpuh seperti sekarang ini. Kami sangat berharap agar mas Abi mau melakukan semua saran dan latihan yang dilakukan dan diberikan oleh dokter."
Abimanyu mengangguk mengiyakan perkataan istrinya, Anjani. Dia juga ingin secepatnya bisa sembuh dan tidak lagi merepotkan keluarganya, terutama istrinya.
Setelah menyelesaikan beberapa administrasi yang diperlukan, mereka berdua pulang ke rumah, dijemput oleh ayah Edi dan Juna, suaminya Sekar.
"Ibu tidak ikut Yah?" tanya Abimanyu setelah duduk di kursi penumpang bersama dengan istrinya, Anjani.
"Ibu ada pekerjaan yang harus dia kerjakan di kantor, sebelum dia cuti, saat pernikahan adikmu. Dia sudah banyak cuti untuk bulan kemarin dan bulan ini. Jadi ya gitu, numpuk kerjaannya," jawab ayah Edi, memberitahukan kegiatan istrinya, ibu Sofie.
"Abimanyu banyak merepotkan ya Yah. Maaf ya Yah," kata Abimanyu, dengan nada yang sedih.
Abimanyu mengangguk paham dengan apa yang disampaikan oleh ayahnya tadi. Dia tahu, jika pekerjaan ayah dan ibunya itu berbeda, meskipun sama-sama sebagai pegawai negeri di kota Jakarta ini.
"Dua hari lagi, pernikahan adikmu, Yasmin, akan berlangsung. Semoga ini adalah akhir dari perjalanannya yang penuh lika-liku dulu. Ayah harap, Yasmin bisa lebih baik daripada yang dulu, baik dalam kehidupan bersama dengan Aksan, dan juga kelakuannya diluar sana. Yah harap, Aksan juga bisa membimbing istrinya itu, Yasmin, untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi daripada kemarin-kemarin."
Semua yang ada di dalam mobil, mengamini harapan dan perkataan ayah Edi, meskipun hanya ada di dalam hati mereka. Mereka semua juga memiliki harapan yang sama untuk Yasmin.
*****
"Kamu tidak usah kembali ke Batam Elang. Di Jakarta saja. Yang di Batam, serahkan pada pengacara untuk melelang dan mengurusnya. Kamu fokus dengan kehidupan barumu, bersama dengan Awan. Kamu bisa tinggal di rumah Mama, atau jika tidak suka, Kamu bisa tinggal di apartemen atau rumah yang lain. Tapi karena rumah Kamu yang ada di depan rumah Anjani sudah mama jual, Kamu bisa tinggal di rumah yang lain saja. Jika rumah yang Kamu inginkan ternyata masih di kontrak orang lain, kita bisa memberikan mereka pilihan yang lain, untuk pindah atau menempati rumah mama yang lainnya."
__ADS_1
Mama Amel, memberikan beberapa pilihan untuk anaknya, Elang Samudra, untuk bisa tinggal di Jakarta dan tidak lagi kembali ke Batam.
Mama Amel, merasa kasihan dengan keadaannya anaknya yang sedang bersedih hati karena kehilangan istrinya, Adhisti, dengan cara yang tidak biasa.
Dia juga merasa kasihan dengan cucunya, Awan, yang tentunya tidak bisa tenang dalam perkembangan dirinya, jika harus ikut bersama dengan ayahnya, yang saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja secara mental.
"Tapi Ma. Elang ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Jika semua sudah beres dan tidak ada tanggungan lagi, Elang akan kembali ke Jakarta. Awan tidak perlu ikut ke Batam. Biar dia ada di Jakarta bersama dengan Mama. Elang yakin, jika Mama bisa mengatasi Awan dengan baik. Dia tidak banyak rewel dan akan baik-baik saja, jika berada di dekat Mama. Baby sitter juga akan menjaganya juga."
Mama Amel mengangguk sambil melihat ke arah cucunya, yang saat ini tertidur pulas di samping ayahnya, Elang.
Dia memang tidak tahu apa-apa, dan apa yang sebenarnya terjadi disekitarnya saat ini.
"Mbak, tolong selama Saya ada di Batam, jaga Awan ya dengan baik. Mbak bisa bertanya pada Mama Amel, jika ada sesuatu yang dibutuhkan dan tidak Mbak ketahui," kata Elang, memberikan pesan pada baby sitter Awan, yang saat ini ada di bangku belakangnya.
"Iya Tuan," jawab baby sitter pendek.
Baby sitter tidak banyak bicara, karena dia tahu, jika eyangnya Awan, adalah orang yang baik dan tidak banyak menuntut. Mama Amel, tidak sama seperti nyonya nya yang dulu, Adhisti.
Itu karena selama ini, setiap mama Amel datang ke Batam menjenguk Awan, dia hanya bertanya tentang perkembangan cucunya secara singkat dan tidak bertele-tele. Mama Amel juga tidak banyak menuntut pada baby sitter, saat menjaga Awan sehari-hari.
Yang penting, Awan bisa berkembang sebagai seorang anak yang masih dalam pertumbuhan dan tidak ada yang dikeluhkan. Itu saja.
Ini yang membuat baby sitter merasa bersyukur, karena mama Amel sangat baik dan tidak terlalu cerewet, sama seperti yang ada dalam cerita-cerita, jika nenek dari anak yang diasuh biasanya jauh lebih cerewet daripada mama anak yang sedang di asuhnya.
__ADS_1