Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Persetujuan Abimanyu


__ADS_3

"Ada banyak hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan Kak. Apa Kakak sudah siap, dengan usia Kakak yang belum begitu matang?"


Dari nada bicara dan pertanyaan yang diajukan oleh Abimanyu tadi, menandakan bahwa, dia belum siap untuk melepaskan anaknya itu, untuk pergi meninggalkan dirinya, dan hidup bersama dengan orang lain. Yaitu suami dari anaknya nanti.


Mungkin, untuk sebagian orang tua, baik ayah atau ibu, memang ada kekhawatiran tersendiri.


Mereka menganggap bahwa, anak-anak mereka masih kecil, meskipun sebenarnya tidak lagi anak-anak.


Khawatiran mereka, bukan tanpa sebab. Karena dunia yang akan mereka lalui nanti, bukanlah dunia yang sekedar untuk bermain-main atau mampir dalam waktu singkat.


Pernikahan adalah kehidupan yang paling panjang waktunya. Karena itu juga, pernikahan disebut sebagai penyempurna sebagian dari agama, menurut agama Islam.


Ini karena, waktu yang lama digunakan, seumur hidup seseorang, dalam mengarungi kehidupan berumah tangga, dengan segala kewajiban dan tugas-tugas sebagai seorang istri atau suami.


Dan nantinya, mereka akan menjadi orang tua juga, sama seperti ayah dan ibu mereka.


Abimanyu menghela nafas panjang, dan tersenyum tipis, saat mengingat semua hal tentang Ara. Anaknya yang paling besar.


Kini, Abimanyu sadar jika, anaknya itu tidak lagi anak-anak, dan dia, mau tidak mau, sesuatu saat nanti, pasti akan melepaskan anaknya itu untuk berumah tangga, dengan seseorang yang akan mendampingi anaknya itu.


"Yah."


Anjani memegang tangan suaminya itu, untuk menyadarkan dirinya, jika semua sudah berlalu.


Abimanyu menoleh ke arah istrinya. Dia mengangguk dan kembali melihat ke arah anaknya, Ara.


Anggi, yang sedari tadi ikut dalam pembicaraan mereka, hanya bisa diam menunduk.


Sama seperti yang dilakukan oleh kakaknya, Ara. Dia berpikir jika, suatu hari nanti, saat dia meminta ijin pada ayahnya, juga akan mengalami hal yang sama seperti kakaknya saat ini.


"Lalu, kapan semua Awan dan ayahnya datang?"


Tiba-tiba, Anggi mendengar ayahnya yang bertanya pada kakaknya. Dia jadi mendongak, menatap ke arah kakaknya, Ara.


Ternyata, Ara juga baru saja mendongakkan kepalanya, melihat ke arah ayahnya itu.


"Ayah. Jika ayah belum menyetujui usulan ini, tidak apa-apa. Ini hanya usulan kak Awan saja. Karena, dia tidak mau jika, hubungan kami akan hanya seperti ini dalam waktu yang lama."


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh anaknya, Ara, Abimanyu tersenyum.


Abimanyu tahu bahwa Awan adalah pemuda yang baik dan tidak asal dalam melakukan sesuatu.


Dia akan mempertimbangkan semuanya, dan itu mengambil sebuah keputusan juga dengan pemikiran yang matang.


"Ayah hanya bisa berdoa Kak. Untuk kebaikan Kamu, adek, dan kita semua."


Anggi, yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan apa yang menjadi pembicaraan mereka, ikut tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh ayahnya itu.


Ara juga tampak tersenyum bahagia, dan segera memeluk ayahnya itu, bergantian dengan bundanya, Anjani.


"Terima kasih Yah."

__ADS_1


"Terima kasih Bunda."


Ara mengucapkan terima kasih kepada ayah dan bundanya, dengan mata yang berkaca-kaca menahan rasa haru.


Sekarang, dia akan memberitahu pada Awan, tentang persetujuan dari ayahnya ini.


'Semoga saja, semua rencana ini tidak ada halangan yang merintangi.'


Ara berdoa dan berharap agar semuanya bisa berjalan dengan baik dan lancar.


Setelah selesai membahas tentang rencana Ara, kini mereka semua tersenyum dalam kebahagiaan.


"Sudah ayo tidur. Sudah malam, dan kalian berdua, juga masih harus berangkat sekolah besok."


Anjani mengingatkan kedua anaknya, untuk segera pergi ke kamar dan tidur.


"Iya Bun," sahut Anggi, yang masih merangkul pundak kakaknya.


Sekarang, mereka berdua, Ara dan Anggi, beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamar mereka.


"Bun. Kenapa waktu sepertinya cepat sekali jalannya?" Abimanyu bertanya pada istrinya, Anjani, yang masih duduk bersama dengannya.


"Begitulah Yah. Kita sebagai orang tua, akan merasa sangat cepat untuk waktu yang berjalan, saat anak-anak kita mulai dewasa, dan akan memulai sebuah kehidupan yang baru juga untuk mereka."


Anjani paham dengan apa yang dikatakan dan sedang dipikirkan oleh suaminya itu.


"Mungkin, untuk sebagian orang tua, juga akan mengalami dan berpikir hal yang sama seperti ini Yah."


Di mana ibu Sofie, mertuanya, dan adik-adiknya Abimanyu, yang belum bisa menerima dirinya, yang sudah masuk dalam kehidupan anak dan kakak mereka, sebagai seorang istri.


"Semoga, Ara dan Anggi, tidak akan mengalami hal yang sama seperti Aku dulu."


Anjani bergumam pelan, di samping suaminya.


"Kenapa Bun?" tanya Abimanyu, yang tidak begitu jelas, mendengar perkataan istrinya yang bergumam tadi.


"Egh... gak apa-apa Yah. Ayo tidur," ajak Anjani, mengalihkan perhatian suaminya.


Abimanyu, mengangguk mengiyakan perkataan istrinya, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dan memegangi tangan istrinya.


"Ayo," ajak Abimanyu.


Dan Anjani tersenyum, mengikuti langkah suaminya itu, masuk ke dalam kamar.


*****


Di flat sederhana Awan.


Dia menerima pesan dari kekasihnya, Ara.


Dari pesan yang disampaikan oleh Ara, mengatakan bahwa, ayah dan bundanya, setuju dengan rencana mereka berdua.

__ADS_1


Tentu saja, ini membuat Awan merasa senang dan bahagia.


Dia mengepalkan tangannya erat, sebagai ungkapan rasa bahagianya, sambil tersenyum.


"Yes!"


Tak lama kemudian, Awan mencoba untuk menghubungi omanya, yang saat ini sudah berada di Jakarta.


Dia menyampaikan kepada omanya, jika ayah dan bundanya Ara, sudah menyetujui. Tinggal menunggu waktu dari pihak keluarganya, yang akan datang secara resmi untuk melamar Ara.


Jika ini sudah dibicarakan bersama, akan ada pesta lamaran, atau bisa jadi akan langsung dengan pesta pernikahan saja.


..."Eh, Kamu maunya lamaran dulu, atau langsung menikah Wan?" ...


..."Ahhh, Oma."...


Awan merasa malu karena, omanya itu seperti sedang meledeknya.


Ini sama seperti menggambarkan bagaimana perasaan Awan yang selalu deg-degan, saat bersama dengan Ara.


Dia selalu berusaha untuk tidak berbuat apa-apa, jika bersama dengan kekasihnya itu, selain hanya sebuah pelukan sekilas saja.


Mungkin, untuk sebagian anak-anak muda, dia dianggap terlalu sopan dan tidak ada keberanian apa-apa, pada kekasihnya itu.


Padahal, Awan memang tidak mau salah dan akhirnya kebablasan, dalam keadaan dan waktu yang salah.


..."Iya-iya. Oma akan segera datang ke Amerika, bersama dengan ayah dan opa. Kamu jangan khawatir ya!" ...


..."Ayah ke mana Oma? Handphone ayah sibuk terus sedari tadi. Awan tidak bisa menghubungi ayah." ...


..."Mungkin sedang sibuk aja."...


..."Tidak ada sesuatu yang terjadi kan?" ...


..."Gak ada. Kamu tenang saja."...


Tadi, Awan memang sempat menghubungi ayahnya beberapa kali. Tapi, handphone milik ayahnya itu, selalu dalam keadaan sibuk dan tidak bisa menerima panggilan telpon darinya.


..."Terima kasih Oma. Nanti tolong sampaikan pada ayah, jika Awan sudah menelpon dirinya. Tapi tidak bisa terus."...


..."Iya-iya. Nanti Oma sampaikan."...


Klik!


Awan menghela nafas panjang, setelah selesai memberitahukan kepada omanya, tentang persetujuan ayahnya Ara.


Sebenarnya, Awan ingin melakukan lamaran dan pernikahan di Indonesia saja.


Tapi dia belum bisa memutuskan, karena ayahnya belum ada komentar apapun.


Bahkan, ayahnya belum bisa dia hubungi sendiri.

__ADS_1


"Semoga ayah dalam keadaan baik-baik saja, dan tidak ada sesuatu yang terjadi pada ayah."


__ADS_2