Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Berkeliling Komplek


__ADS_3

Pagi mengantikan malam. Aktivis, kembali berjalan seperti biasa.


"Dek. Nanti gak usah ajak kak Nanda muter-muter ya. Kakak mau berangkat lebih pagi nih."


Ara memberikan pesan pada adiknya, Anggi, supaya tidak meminta pada kakaknya, Nanda, untuk putar-putar keliling komplek perumahan, sebelum berangkat. Sama seperti yang biasa dilakukan oleh Anggi dan Nanda.


"Ihhh, gak mau!"


Anggi tidak peduli, dengan pesan kakaknya itu.


"Adek!" Ara kesal, dengan jawaban yang diberikan oleh Anggi.


"Biarin. Kak Nanda sendiri yang janji, buat muter-muter kok, pagi ini." Anggi tidak mau kalah. Dia ingat dengan perkataan Nanda, kemarin sore, saat menelpon ke nomer bundanya,dan Anggi yang menjawab telpon tersebut.


"Bunda. Anggi tuh!"


Ara mencoba meminta bantuan pada bundanya, untuk menasehati Anggi, supaya tidak membantah perkataannya yang tadi.


"Kenapa lagi sih Kak?" tanya Anjani, yang merasa tidak biasa, dengan sikapnya Ara dari semalam.


"Di bilang Ara mau berangkat lebih pagi kok, Adek ngeyel." Ara mengadu, dengan mengatakan alasannya.


"Tapi kak Nanda sendiri, yang janji sama Anggi, buat muter-muter nanti," sahut Anggi cepat.


Anggi tidak mau, melepaskan kesempatan untuk bisa muter-muter lebih lama lagi, karena sudah di berikan janji oleh Nanda sendiri. Saat dia yang menerima panggilan telpon dari Nanda, untuk sebenarnya untuk bundanya. Karena panggilan tersebut, melalui handphone milik bundanya juga.


"Besok-besok saja sih Dek. Kakak sedang ada perlu penting pagi ini," kata Ara lagi, dengan mengatakan alasannya.


"Gak mau!"


Anggi tetap bersikukuh, untuk tidak mau menuruti perkataan kakaknya, Ara.


"Tumben Kak, memangnya ada apa?" Anjani kembali bertanya pada anaknya, Ara, yang mengatakan bahwa, dia ingin berangkat lebih pagi, karena ada sesuatu yang penting.


"Ya ada beberapa sih. Ya udahlah. Serah Adek."


Akhirnya, Ara mengalah dan membiarkan Anggi dengan rencananya. Sama seperti yang tadi dia katakan, yaitu muter-muter kawasan kompleks, karena sudah dijanjikan oleh Nanda sendiri.


Dan benar saja, tak lama kemudian, saat Ara dan ayahnya, Abimanyu sarapan pagi, Nanda datang.


Tapi di depan, sudah di sambut oleh Anggi, yang telah rapi. Sebelum dia sempat mematikan mesin motornya.


"Ayok Kak, langsung jalan saja!"


Nanda, yang belum mengerti, melihat dengan bingung. "Kemana?" tanya Nanda memastikan, apa maksud dari perkataan Anggi tadi.


"Ihhh... Kakak! Kita putar-putar keliling komplek pagi ini. Yang lama lho ya! Kakak kan sudah janji kemarin," jawab Anggi, menjelaskan pada Nanda.


"Oh... hehehe, yuk!"


Akhirnya, Nanda ingat dengan apa yang dia katakan pada Anggi, saat dia menelpon untuk bertanya tentang Ara. Meskipun tanpa bertanya secara langsung, karena Anggi sudah lebih dulu mengatakannya.


Dengan cepat, Anggi naik ke atas boncengan motor Nanda, dengan dibantu oleh Nanda sendiri, saat naik.


"Lewat depan rumah Miko, terus lewat depan rumah eyang juga ya Kak," kata Anggi, memberitahu ke mana saja arah yang akan mereka lalui nanti.


"Lah, itu Kakak pulang lagi dong!"

__ADS_1


"Hahaha... ya gak usah pulang. Cuma lewat aja kok," sahut Anggi, dengan tertawa senang.


Bruummm...


Brummm...


"Siap ya!"


"Siap Kak!"


Tak lama kemudian, motor Nanda keluar dari halaman rumah Abimanyu, dengan membonceng Anggi, dan bukannya Ara.


Ini karena dia belum bermaksud untuk berangkat ke sekolah, tapi memenuhi keinginan Anggi, untuk keliling-keliling kompleks terlebih dahulu.


Setelah beberapa lama kemudian, kini gilirannya mereka berdua lewat depan rumah Miko.


Kebetulan, Miko ada di depan rumah, bersama dengan papanya, Juna, yang sedang mengendong adiknya Miko.


"Miko! Weee...."


Anggi justru menyapa dengan meledek Miko, dari atas boncengan motor.


"Wooo....ikut!"


Miko akhirnya tertarik untuk ikut mereka juga. Padahal, dia belum bersiap untuk berangkat ke sekolah.


Meskipun Miko sudah berseragam, memakai pakaian sekolah, tapi dia belum sarapan dan juga memakai sepatu.


"Kamu belum siap berangkat. Jika sudah, bisa ikut terus sekalian di rumahku." Anggi menolak permintaan Miko, dengan alasan yang dia buat sendiri.


"Ayok Kak, jalan lagi!" Kata Anggi, meminta pada Nanda, supaya kembali melajukan motornya.


Miko meminta ijin pada papanya, agar diperbolehkan untuk ikut ke rumah Anggi.


"Tapi Kamu belum sarapan," jawab Juna, dengan masih mengendong bayinya. Adiknya Miko.


"Nanti bawain tas sama sepatu Miko ke rumah om Abi Pah. Miko mau sarapan di rumah bunda Jani, sama Anggi saja!"


Miko tidak mau tahu. Dia berlari ke arah motornya Nanda, dan minta diajak ikut keliling juga.


"Hati-hati Nda," kata Juna, memberikan pesan.


"Ya Om."


Sekarang, Nanda memboncengkan kedua sepupunya itu, untuk berkeliling kompleks lagi, dengan melewati jalan di depan rumah eyang mereka.


"Eyang!"


Anggi berteriak keras, memangil eyang kakungnya, ayah Edi, yang sedang memanaskan mesin mobilnya.


"Hallo Eyang!"


Miko tidak mau kalah. Dia juga berteriak, menyapa eyangnya itu.


"Lho, kalian?"


Ayah Edi cukup terkejut, dengan sapaan demi sapaan yang dia dengar dari cucu-cucunya sendiri.

__ADS_1


"Langsung Eyang. Nanti Nanda terlambat jika mampir dulu," kata Nanda, masih dari atas motor dan berada di depan pintu pagar rumah eyangnya, ayah Edi.


"Iya-iya gak apa-apa. Hati-hati itu bawa bocah dua!" Ayah Edi memberikan pesan, karena merasa khawatir dengan kedua cucunya yang masih kecil-kecil itu.


"Iya Eyang."


Brummm...


Motor Nanda, kembali melaju dengan pelan, dengan tujuan rumahnya Anggi sendiri.


Mereka sudah berkeliling- keliling, dan sekarang waktunya untuk pulang lagi.


"Yeee... Asyik kan Miko!"


Anggita berteriak senang, setelah sampai di depan rumahnya lagi. Dia merasa senang, dengan pamer pada Miko, jika berkeliling muter-muter seperti tadi, itu menyenangkan.


"Kamu sih enak. Tiap pagi bisa minta Kak Nanda buat keliling komplek dengan motor. Aku kan gak Kamu jemput. Tadi aja, Kamu pelit!"


Miko menyalahkan Anggi, yang tidak pernah mengajak dirinya. Sedangkan tadi, saat dia bau ikut serta, Anggi juga sebenarnya merasa keberatan.


"Hehehe..."


Tapi Anggi tidak merasa bersalah. Dia malah cengengesan, saat Miko berkata demikian, seakan-akan menyalahkan dirinya.


"Woi! Udah turun cepet. Kakak mau berangkat!"


Dari dalam rumah, Ara meminta pada keduanya, Anggi dan Miko, untuk turun dari atas boncengan motornya Nanda, karena dia akan segera berangkat ke sekolah.


"Gak ajak kak Nanda sarapan dulu Kak?"


Anjani bertanya pelan pada Ara, dari arah belakang punggung anaknya.


"Tapi, ini udah waktunya berangkat Bunda," jawab Ara, dengan melihat jam tangannya.


"Tawarin aja dulu. Gak sopan juga kak, kalau gak ditawarin," ujar Anjani, menjelaskan pada Ara supaya tetap bersikap sopan, meskipun dengan kakak sepupunya sendiri, dengan usia yang belum tua juga.


Akhirnya Ara menurut juga dengan perkataan bundanya.


Setelah kedua adiknya, Anggi dan Miko, turun dari atas boncengan motor, dia menawari Nanda untuk sarapan terlebih dahulu, sebelum mereka berdua berangkat ke sekolah.


"Kakak, sarapan dulu yuk," kata Ara menawari Nanda, untuk masuk dan sarapan.


"Gak usah Ra. Om Abi sudah berangkat kan?"


Ara mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Nanda.


Tadi, saat Anggi dan Nanda pergi untuk berkeliling kompleks, Abimanyu memang sedang sarapan pagi. Tapi tak lama setelah itu, ayah mereka itu pamit untuk pergi ke kantor.


"Ya sudah, langsung berangkat saja kita."


Akhirnya Ara mengangguk juga, mengiyakan perkataannya Nanda.


"Bunda. Kita langsung berangkat saja."


Dengan menyalami dan mencium tangan bundanya, Ara berpamitan.


Begitu juga dengan Nanda. Dia melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Ara.

__ADS_1


Kedua adik mereka, Anggi dan Miko, yang pada akhirnya berebut untuk menyalami tangannya Nanda.


"Kak, besok lagi ya!" bisik Anggi, pada saat menyalami tangannya Nanda.


__ADS_2