Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Ara Sakit


__ADS_3

Seminggu kemudian, semua terbukti dengan penyidikan pihak kepolisian. Kasus diselesaikan dengan persidangan yang tidak alot karena tersangka, Wawan tidak banyak membantah, meskipun diawal penyidikan, dia sempat mengelak, dan ngeyel, jika semuanya itu memang benar adanya.


Wawan kembali di penjara, dan untuk kali ini, pihak keluarga istri barunya, tidak mau ikut campur dalam urusan Wawan dengan pihak yang berwajib, karena ini sudah untuk yang kesekian kalinya.


Yasmin, yang sudah tidak memiliki uang tabungan, juga tidak bisa menolongnya. Dia hanya bisa menangis dan bersedih hati karena merasa bersalah atas semua yang sudah terjadi.


Keluarga ayah Edi, juga sudah tidak mempedulikan Yasmin. Dia mau pulang ataupun tidak, tidak lagi di cari-cari, karena Nanda, sudah aman bersama dengan Abimanyu dan Anjani.


Ibu Sofie, tidak lagi banyak bicara untuk melakukan hal yang bisa membuatnya kena amarah dari suaminya, ayah Edi. Ini karena sebelumnya, ibu Sofie masih membela Yasmin dan ingin mengajaknya untuk pulang ke rumah.


"Biarkan saja dia berada di jalanan atau dimana-mana. Dia sudah dewasa dan tua. Tidak usah peduli dengannya lagi. Dia tidak akan bisa berpikir, jika kesusahan dan penderitaan tidak dia alami sendiri."


Begitulah ayah Edi, menasehati istrinya, supaya tidak lagi memikirkan anaknya yang satu itu, Yasmin.


*****


Anjani dan Abimanyu, sudah pergi untuk berlibur. Mereka berdua saat ini baru saja sampai di Bogor bersama Ara dan juga Nanda. Mereka ingin melepaskan lelah dengan berlibur bersama dan tidak memikirkan permalasahan yang ada di Jakarta.


Nanda juga merasa senang, karena ikut bersama dengan bunda nya lagi, yaitu Anjani. Dia miliki teman bermain juga, yaitu Ara. Adik sepupunya, anak Abimanyu dengan Anjani.


"Bunda-bunda. Kita di sini terus ya. Adem ya, enak!" seru Nanda kegirangan, begitu turun dari mobil.


Saat ini mereka semua, sudah sampai di halaman depan rumah Anjani yang berada di Bogor.


Halaman rumah yang ada beberapa pohon buah yang rindang, ada kolam ikan dan Aquarium besar juga. Yang tetap terawat dengan baik, karena teteh koki dan para pegawai kafe rumah miliknya, sama-sama merawatnya dengan baik.


Mereka semua, sudah seperti keluarga sendiri untuk Anjani. Dia tidak memperlakukan mereka, para pegawainya, seperti atasan dan bawahan. Tapi mereka akrab layaknya seorang teman dan anggota keluarga sendiri.


"Nanda mau tinggal di rumah ini?" tanya Anjani, sambil menunjuk ke arah rumahnya.


Nanda mengangguk antusias. Dia tersenyum lebar karena berharap keinginannya itu terpenuhi.


"Nanti bicara sendiri sama ayah Abimanyu ya? biar ayah Abimanyu, yang memutuskan sendiri, apakah kita akan tinggal di sini selamanya, atau hanya sekedar berlibur saja," jawab Anjani, sambil mengedipkan sebelah matanya pada Nanda.


Nanda tersenyum senang mendengar jawaban dari bundanya itu, Anjani. Dia ingin bisa bermain-main dengan bebasnya di halaman rumah yang luas dan ada ayunan serta perosotan, seperti yang ada di taman kanak-kanak.

__ADS_1


Ini karena kafe rumah miliknya Anjani, memang ada arena bermain anak, yang ada di dekat kolam dan ada aquarium besar nya.


"Ala, Ala sini!"


Nanda berteriak memanggil adiknya Ara. Karena masih belum bisa jelas menyebutkan huruf 'r' Ara akhirnya menjadi Ala.


Baby sitter yang mengendong Ara mendekat ke arah Nanda, yang sedang asyik bermain ayunan.


"Sini, Ala sini!" kata Nanda, meminta pada baby sitter, supaya mendudukkan Ara di sampingnya.


Ayunan besar dari besi itu, bisa muat untuk dua orang dewasa. Tentu saja masih sangat muat jika untuk ditempati Nanda dengan Ara.


"Nanda, jangan kencang-kencang ngayunnya. Dek Ara takut ini," kata baby sitter, memperingatkan Nanda.


"Mbak! Ajak anak-anak masuk dulu!"


Dari dalam rumah, Anjani memangil baby sitter, agar membawa Ara dan Nanda masuk ke dalam rumah.


Mereka semua, akan menikmati makan siang yang sudah tertunda, karena Anjani menolak tawaran Abimanyu, untuk makan siang di jalan.


"Bunda, Bunda. Nanda mau makan sendili ya, kan Nanda udah besal," kata Nanda, tidak mau disuapi Anjani.


"Oh, Nanda sudah besar ya... emhhh, baiklah. Ini buat Nanda. Coba, bunda mau lihat, saat Nanda makan," kata Anjani sambil tersenyum, kemudian menyerahkan piring yang tadi ada didepannya pada Nanda, supaya Nanda busa makan sendiri.


Abimanyu melihat keduanya dengan tersenyum. Dia merasa sangat beruntung, karena Anjani adalah istri yang baik dan sabar. Dia juga tidak pendendam, meskipun sudah berkali-kali disakiti oleh keluarganya, dan dirinya juga, bahkan ikut meragukannya. Di saat kasus video, hasil editan Wawan.


Dalam hati, Abimanyu berjanji akan berusaha untuk membahagiakan Anjani, untuk seumur hidupnya. Anjani akan menjadi prioritas utama untuk dirinya.


"Mas," panggil Anjani, pada suaminya, Abimanyu.


Anjani melihat jika suaminya itu sedang melamun, dan tidak konsentrasi dengan makanan yang ada didepannya.


"Mas," panggil Anjani lagi, dengan memegang tangan suaminya, yang berada di atas meja.


"Eh ya Sayang. Ada apa?" tanya Abimanyu terkejut.

__ADS_1


Abimanyu gelagapan, karena sentuhan tangan istrinya itu, membuatnya tersadar dari lamunan.


"Sedang mikirin apa Mas?" tanya Anjani, tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya. Karena pertanyaan itu, tidak perlu untuk dijawab juga.


"Tidak ada Sayang. Mas cuma merasa menyesal, dengan kejadian kemarin," jawab Abimanyu, sambil menatap wajah istrinya dengan rasa bersalah. "Maafkan Aku ya Sayang," kata Abimanyu, melanjutkan kata-katanya lagi.


Anjani tersenyum mendengar jawaban dari suaminya. Dua tahu, jika suaminya itu sedang kalut kemarin. Jadi, dua tidak busa berpikir jernih dan panjang.


"Semua orang pasti punya salah dan khilaf Mas. Jani anggap, kemarin itu adalah kekhilafan Mas Abi. Jani juga tidak sempurna. Banyak sekali kesalahan yang Jani lakukan. Jani harap, Mas Abi bisa mengerti dan menegur Anjani, jika Anjani melakukan kesalahan yang tidak Anjani sadari sendiri.'


Sekarang, mereka berdua saling berpegangan tangan, terpisah oleh meja makan.


"Bunda-bunda. Dek Ara nangis!"


Teriakan Nanda, menyadarkan mereka berdua, Anjani dan Abimanyu, jika di meja makan saat ini tidak hanya mereka berdua saja. Tapi ada Nanda, yang ikut makan bersama dengan mereka.


Anjani dan Abimanyu segera berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke kamarnya Ara.


Tadi, Ara mengantuk, sehingga oleh baby sitter_nya, Ara di ajak ke kamar untuk beristirahat dan tidur terlebih dahulu.


"Ada apa Mbak?" tanya Anjani panik, begitu dia sampai di dalam kamarnya Ara.


"Badannya panas Bu, dan tidak mau minum susunya juga," kata baby sitter, melapor.


Anjani mendekat dan menyentuh kening anaknya. "Panas banget. Tadi kan gak apa-apa ya?" tanya Anjani memastikan, jika anaknya tadi dalam keadaan baik-baik saja.


"Kita bawa ke dokter saja Sayang. Ayok!"


Abimanyu, dengan segera mengajak istrinya itu, untuk membawa anak mereka ke dokter.


"Iya Mas, ayok! Mbak, tolong jaga Nanda ya. Kami pergi untuk memeriksakan Ara."


Anjani segera mengambil beberapa potong baju Ara, dan memasukkan kedalam tas. Dia juga berpesan kepada baby sitter, agar menjaga Nanda, saat dirinya dan Abimanyu pergi memeriksakan kondisi Ara, yang tiba-tiba demam.


"Semoga tidak terjadi apa-apa ya Mas," doa Anjani, penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2