
Pernikahan Yasmin dengan Aksan, dilakukan dengan cara yang sederhana. Selain karena untuk menghemat biaya, Yasmin sendiri yang memintanya. Dia tidak mau jika pesta pernikahannya yang kedua kalinya ini, akan membuat semua orang ikut terbebani, karena ikut menyumbang biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya pestanya itu.
Dia juga meminta pada suaminya, Aksan, supaya tidak terlalu memikirkan banyak hal, karena setelah ini, mereka berdua, akan kembali ke Taiwan lagi, untuk waktu yang lama, karena masa kontrak kerja mereka memang belum berakhir.
Keluarga Yasmin juga tidak banyak menuntut. Mereka semua tahu, bagaimana keadaan kedua pengantin. Meskipun pada awalnya, Yasmin ingin menikah nanti, jika mereka berdua pulang lagi ke Indonesia, tapi dengan saran ayah Edi, yang takut jika terjadi sesuatu pada mereka berdua di Taiwan sana, akhirnya pernikahan mereka dilaksanakan juga, meskipun sangat sederhana.
Hanya pihak keluarga Yasmin dan keluarga Aksan yang datang sebagai saksi, dan juga beberapa tetangga dekat serta pihak perumahan, dimana rumah ayah Edi berada.
Semua orang pun ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh keluarga ayah Edi, terutama Yasmin, sebagai mempelai wanitanya.
Setelah semua selesai, para tamu kembali pulang. Saudara-saudara Aksan, masih beristirahat sehari lagi sebelum kembali ke kampung.
Sedangkan Aksan dan Yasmin, sesuai dengan rencana mereka berdua, akan kembali ke Taiwan lagi seminggu kemudian.
"Mas Abi, mbak Jani. Yasmin minta tolong ya, jagain Nanda. Yasmin, memang tidak bisa jadi mama yang baik. Nanti jika Yasmin sudah kembali ke Indonesia dan menetap, entah di Jakarta atau pun di kampung, Nanda akan Yasmin ajak serta."
Yasmin berkata kepada Anjani dan Abimanyu, dengan mata berkaca-kaca. Dia menahan rasa sedih dan haru, yang tiba-tiba datang tanpa dia minta.
Dia merasa sedih karena tidak bisa menjaga anaknya, Nanda sedari dulu. Tapi, dia juga merasa haru, karena kakaknya Abimanyu, dan istrinya, Anjani, begitu sayang dan perhatian pada Nanda. Mereka berdua, tidak membedakan antara anak dan keponakan. Ara dan Nanda, bagi mereka sama saja.
Hal yang disyukuri oleh Yasmin, dan membuat dirinya lebih tenang saat pergi menjadi TKI lagi.
Yasmin memeluk Anjani dengan erat. Mengungkap rasa terima kasih, yang tidak bisa dia katakan lagi.
Setelah itu, Yasmin berganti dengan memeluk Abimanyu. Dia menangis tersedu-sedu, saat memeluk kakaknya itu.
Selain semua rasa yang sama seperti Anjani, dia juga merasa sangat kasihan dengan keadaan Abimanyu saat ini. Dan ini semua, juga ada hubungannya dengan dirinya sewaktu dulu.
"Mas Abi... maafkan Yasmin. Hiks hiks hiks..."
Abimanyu hanya mengangguk dan ikut menangis juga. Dia tidak tahu harus berkata apa pada adiknya, Yasmin.
Tapi, berkat Yasmin juga, ingatan Abimanyu pulih. Dan ini tentu suatu keberuntungan yang luar biasa untuk Abimanyu. Rasa syukur sayang dan bencinya pada Yasmin, membuat dirinya sendiri harus menyimpannya di dalam hati, tanpa dia sadari sendiri.
__ADS_1
"Hati-hati ya Yasmin. Sekarang, Kamu sudah menjadi seorang istri lagi. Jaga keluarga Kamu dan juga kelakuanmu," kata Abimanyu, memberikan pesan pada adiknya, Yasmin.
Suasana haru dan bahagia sangat terasa di rumah ayah Edi. Mereka semua, memiliki pesan dan nasehat untuk Yasmin. Dan semua nasehat-nasehat itu tentu saja sangat berarti.
Nanda juga ikut memeluk mamanya, Yasmin. Nanda ikut menangis, sama seperti yang lainnya juga.
"Ma... Mama kapan pulang lagi?" tanya Nanda, disela-sela tangisannya.
Yasmin, tidak kuasa menahan air mata lagi, saat mendengar pertanyaan dari anaknya, Nanda.
"Iya besok ya Sayang. Doakan mama bisa cepat pulang lagi, dan kita kumpul lagi kayak gini," jawab Yasmin sambil memeluk Nanda.
Mama dan anak saling berpelukan dan sama-sama menangis karena ingin bersama, tapi keadaan yang tidak memungkinkan.
Dan semua orang ikut menangis, menyaksikan keduanya. Mereka semua tidak bisa menahan air matanya, karena mengalir begitu saja tanpa mereka sadari sendiri.
*****
Seminggu kemudian, Yasmin dan Aksan, suaminya Yasmin yang baru, berangkat ke Taiwan.
Yasmin juga tidak keberatan. Dia tahu, bagaimana keadaan kakaknya itu. Dia juga memakluminya, sehingga dia berpamitan saat masih berada di rumah.
Nanda mau ikut serta bersama ayah Edi dan ibu Sofie. Tapi karena Ara tidak mau ikut, akhirnya Nanda juga tidak mau ikut dan memilih berada di rumah saja, menemani Ara dan juga ayah Abi nya.
Anjani tersenyum mendengar perkataan Nanda, yang memilih untuk berada di rumah, daripada ikut mengantar mamanya, Yasmin.
"Nanda beneran gak mau ikut antar mama? lama lho mama gak balik ke rumah nanti. Nanda gak kangen? Kan kalau sama dek Ara, ayah Abi, kita selalu ada di rumah. Bisa ketemu setiap hari juga," kata Anjani, menasehati Nanda. Dia tidak ingin, membuat Nanda jauh dari Yasmin. Karena bagaimanapun, Yasmin adalah mama kandungannya Nanda.
Nanda menoleh ke arah Abimanyu. Dia seakan-akan meminta pendapat pada ayah Abi nya itu. Dan di saat Abimanyu mengangguk sambil tersenyum, Nanda akhirnya mau ikut juga, meskipun tanpa adanya Ara yang ikut serta.
"Terima kasih Mbak Jani, Mas Abi," kata Yasmin, saat Nanda mengatakan ikut dan mengadeng tangannya.
Anjani dan Abimanyu, hanya mengangguk saja kemudian melihat kepergian mereka semua menuju ke arah bandara, untuk mengantar kepergian Yasmin dan Aksan, yang akan pergi lagi ke Taiwan sebagai TKI.
__ADS_1
"Ara kenapa tadi tidak mau ikut eyang, antar tante Yasmin?" tanya Anjani ingin tahu, apa alasan anaknya itu, menolak untuk ikut serta.
"Ara pengen di rumah saja. Sama Ayah, sana Bunda," jawab Ara, sambil bermain jari-jari tangan ayahnya.
"Oh... Ara mau nemenin Ayah terapi?itu Ara malah sudah terapi ayah juga. hehehe..."
Anjani, menunjuk ke arah jari-jari tangan Ara, yang sedang memencet-mencet jari tangan ayahnya, Abimanyu.
"Memang bisa Bunda?" tanya Ara ingin tahu.
"Coba tanya ayah. Kerasa gak pijatan tangan Ara, di tangan ayah?" Anjani meminta pada Ara, untuk bertanya sendiri kepada ayahnya.
"Kerasa gak Yah, pijatan tangan Ara?" tanya Ara pada ayahnya, sesuai dengan permintaan bundanya tadi.
"Kerasa kok Sayang. Tapi memang kurang keras. Itu karena Ara masih kecil, sehingga tenaganya juga kecil. Nanti, kalau bunda yang kasi pijatan tangan untuk Ayah, Ara coba perhatikan ya," jawab Abimanyu, dengan memberikan contoh yang bisa membuat Ara bersemangat.
"Coba Bunda sekarang saja. Ara mau liat!" teriak Ara, karena Anjani saat ini sedang tidak berada di dekat mereka. Tapi pergi ke dalam rumah, untuk mengambil bola, yang biasa digunakan untuk latihan Abimanyu.
Di saat Anjani keluar dari dalam rumah, Ara kembali berteriak dan menginginkan hal sama seperti yang dikatakan oleh ayahnya itu.
"Apa Sayang?" tanya Anjani memastikan. Dia tidak terlalu jelas, saat mendengar teriakan anaknya, Ara.
"Bunda pijit ayah... Ara mau lihat. Kata ayah, bunda bisa kan, terus Ara disuruh lihat, bagaimana cara bunda memijat tangannya ayah Bunda," kata Ara merajuk.
"Mas. Permintaan Ara ini, bukan modus kan?" tanya Anjani, yang menatap curiga jika ini hanya sebuah rekayasa bagi Abimanyu.
"Modus bagaimana?" tanya Abimanyu dengan senyum yang dia sembunyikan.
"Hilih... bilang saja mau pegang-pegangan tangan gitu," jawab Anjani menjelaskan.
"Hahaha... gak salah kan Sayang? coba saja tanya pada Ara," kata Abimanyu, menirukan ucapan Anjani, saat meminta Ara untuk bertanya kepadanya tadi.
"Eh, kenapa jadi balas-membalas sih!" gerutu Anjani yang sudah menduga jika ini semua hanya keinginan suaminya.
__ADS_1
Ara, ikut tertawa-tawa senang, meskipun dia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi antara kedua orang tuanya itu.