Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kebiasaan Yang Berbeda


__ADS_3

Ara, yang baru saja mengantarkan Awan pulang, sampai di depan pintu, baru kembali ke dalam rumah.


Tapi dia tidak langsung mengecek keberadaan ponselnya, tapi ke arah dapur terlebih dahulu.


"Bunda. Kira-kira, ayah setuju dengan rencana kami itu gak?" tanya Ara, yang merasa khawatir jika, ayahnya tidak menyetujui usulan dari Awan tadi.


"Kita tanyakan pada ayah dulu ya. Gak usah terburu-buru. Kamu Awan juga masih muda ini," jawab Anjani, memberikan rasa tenang pada anaknya.


"Hore... Kakak mau meried! Asyekk..."


Anggi yang tiba-tiba muncul, berteriak senang, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh bundanya, menjawab pertanyaan dari kakaknya, Ara.


"Adek ngagetin aja sih!" gerutu Ara, dengan melihat ke arah adiknya, Anggi, dengan wajah kesal.


Anggi memang anaknya agresif dan ekspresif. Dia akan mengeluarkan apa yang dia rasakan saat itu juga, tanpa busa menutupinya.


Dia juga tidak suka dikritik, dengan apa yang dia lakukan, karena dia merasa jika, apa yang dilakukannya itu tidak merugikan orang lain.


"Ahhh, berita ini harus dirayakan. Ayo Kak, traktir Anggi ke market di bawah!"


Anggi tidak mempedulikan tentang protes kakaknya, dan justru minta untuk ditraktir ke market yang ada di lantai bawah, apartemen mereka ini.


"Ihsss... Kamu itu, jajan terus yang dipikirkan." Ara berkata demikian karena, Anggi itu memang banyak makan dan juga jajan.


Tidak sama seperti dirinya, Ara, yang tidak suka jajan di luar rumah, apalagi di tempat-tempat yang tidak ada label halal.


Baik di kafe atau bungkus makanannya.


Meskipun sebenarnya, Anggi juga tetap pilih-pilih makanan, sama seperti kakaknya, tapi intensitas jajanannya Anggi, memang lebih sering dibandingkan dengan Ara.


Itulah sebabnya, Anggi tumbuh lebih besar, di banding dengan ukuran usianya, yang seharusnya untuk anak-anak Asia. Khususnya di Indonesia.


Anjani hanya menggeleng, sambil melihat ke arah kedua anaknya secara bergantian.


Dua anaknya itu, memang ads banyak perbedaan. Baik secara fisik, kebiasaan, tingkah laku, dan kesukaan mereka.


Mereka berdua juga sering berantem dan berdebat. Meskipun itu hanya untuk sesuatu hal yang kecil dan sepele.


Tapi yang pasti, mereka berdua saling menyayangi satu sama lain. Sama seperti saudara kandung pada umumnya.


Beberapa saat kemudian, saat Ara mau ke kamar, dia baru mengambil tas miliknya, yang tadi dia letakkan di kursi tamu.


Dan saat melihat ke layar handphone tersebut, ada beberapa notifikasi pesan, yang masuk beberapa menit yang lalu.


Karena pesan itu dari dosen pembimbingnya, Ara langsung membukanya. Dia berpikir jika, ada sesuatu yang salah, dari sidang tugasnya tadi.


Atau jika tidak, ada informasi baru, mengenai pertandingan atau ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh dosen tersebut.

__ADS_1


Namun, Ara jadi terbelalak, melihat pesan yang saat ini dia baca.


Dengan terburu-buru, Ara membuka aplikasi majalah kampus, untuk melihat berita tentang dirinya di majalah online kampusnya sendiri.


"Ini kan tadi, saat kak Awan datang menjemput?" tanya Ara, bergumam seorang diri, saat memperhatikan foto-foto yang ada di layarnya handphonenya sekarang.


"Heh, ada yang julid ternyata. Ini mereka iri, apa karena gak bisa bersaing?" tanya Ara, yang tidak habis pikir, dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah membuat berita tersebut.


Setelah menghela nafas panjang, Ara berjalan menuju ke arah kamarnya. Dia ingin mandi, dan membuang pikirannya soal berita dan foto-foto dirinya itu.


Apalagi, besok di diharuskan untuk datang ke kantor dekan, untuk mengkonfirmasi tentang apa yang saat ini menjadi kehebohan di kampus.


"Ada-ada saja mereka. Gak punya kerjaan!"


"Ad apa Kak?" tanya Anggi, yang secara tidak sengaja mendengar perkataan kakaknya itu.


"Gak apa-apa kok Dek," jawab Ara, sambil lalu.


Ara tidak menanggapi pertanyaan Anggi dengan serius.


"Ihhh... Kakak!"


"Apa sih Dek... Kakak masih bisa dengar ya, meskipun Kamu itu gak teriak-teriak gitu."


Ara memperingatkan adiknya, supaya tidak lagi berteriak-teriak.


"Kakak juga, kebiasaan bicara sendiri. Kayak orang gila tau!" Anggi membalas Ara, dengan mengatainya sebagai orang gila.


"Eh... Kamu suka, punya kakak gila?"


Anggi mengelengkan kepalanya dengan cepat, dan memperlihatkan kedua jarinya, sebagai tanda damai.


"Ck. Udah ah, kakak mau mandi." Ara pamit pada Anggi, untuk masuk ke dalam kamar dulu, karena dia ingin segera mandi.


"Ikut dong Kak," rengek Anggi, yang memang sudah tidak lagi pernah mandi satu tempat, bersama dengan kakaknya lagi, sama seperti dulu, sewaktu mereka berdua masih kecil.


"Apaan sih Dek. Udah ah, gak usah sok-sokan imut."


Ara mencibir adiknya, yang memperlihatkan pose di wajahnya dengan polos dan lugu. Khas anak-anak.


"Hehehe... Anggi kan emang imut Kak!" Seru Anggi, memprotes perkataan kakaknya, yang tadi sudah menilainya.


"Huwekk!"


Ara malah ikut-ikutan nakal. Dia meledek adiknya itu, dengan pura-pura muntah.


Dan pada akhirnya, mereka berdua saling pandang dan sama-sama tertawa senang.

__ADS_1


Ara melupakan masalahnya di kampus. Dia sudah tahu, jika besok akan menghadap ke dekan, dan menjelaskan berita serta foto tersebut.


Tapi Ara tidak mau ambil pusing, karena dia merasa tidak bersalah dalam hal ini.


"Oh ya Dek. Kamu sudah lama gak cerita soal temen Kamu yang anak timur tengah china itu. Gimana kabarnya? apa dia masih sering Kamu kerjain, atau sudah jadi bucin Kamu nya?"


Ara dengan sengaja mengajak adiknya untuk membahas masalah adiknya itu, dengan teman sekolahnya.


Setahu Ara, dari beberapa cerita yang disampaikan oleh Anggi, temannya itu sepertinya suka dengan adiknya.


Tapi karena Anggi anak yang tidak baperan, dan malah lebih suka usil, tidak pernah mengakui jika, dia juga menyukai temannya itu.


Suka dalam artian sebagai cinta monyet.


"Kakak... hiks hiks hiks, malah diingatkan. Udah sebulan ini kan Anggi gak ada cerita-cerita tentang dia. Itu karena dia pindah ke Dubai. Ke negara papanya."


"Oh, sorry Dek."


Anggi segera memeluk adiknya, yang sepertinya sedang patah hati.


Ara tidak pernah tahu jika, teman dekatnya Anggi sudah tidak lagi ada di Amerika.


Ahmed, temannya Anggi itu, di ajak balik ke negara asal papanya.


Pantes saja, hampir sebulan ini, Anggi tidak pernah lagi bercerita tentang Ahmed.


"Cup cup cup..."


Ara berusaha untuk menenangkan adiknya, yang sekarang jadi terisak.


Anggi merasakan kesedihan lagi. Meskipun selama sebulan ini dia sudah berusaha untuk melupakan semua kesedihannya itu.


Tapi di saat kakaknya, yang tidak tahu apa-apa, mengingatkan kembali, Anggi jadi merasakan kesedihan lagi.


*****


Malam harinya, saat keluarga Abimanyu berkumpulnya dan makan bersama.


Ara kembali mengatakan pada ayahnya itu, untuk semua rencana yang dia miliki bersama dengan Awan.


"Apa Kamu sudah berpikir dengan benar?"


Abimanyu, ayahnya, justru bertanya balik pada Ara.


Ayahnya itu berpikir bahwa, Ara masih berusia muda, dan belum bisa memutuskan untuk sesuatu yang sangat penting.


Karena hubungan antara dua orang, untuk pernikahan, bukan hal yang mudah dan perlu pertimbangan yang matang.

__ADS_1


__ADS_2