
Hari ini, Abi diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Hampir satu bulan lamanya dia berada di rumah sakit. Dan selama itu pula, Anjani tidak pernah pergi dari sisinya.
Anjani tidak pernah pulang ke rumah, dan anak-anaknya, hanya bisa berkomunikasi dengan video call saja.
Untungnya, Sekar belum punya anak dan belum hamil juga saat ini, sehingga bisa ikut menjaga keponakan-keponakannya dengan baik.
Suaminya, Juna, juga tidak mempermasalahkan soal itu. Dia justru merasa senang karena bisa bermain-main dengan anak-anak, untuk menghilangkan capek sepulang dari kantor.
Melihat anak-anak yang mengemaskan dengan bermain bersama mereka, membuat rasa capek hilang dengan sendirinya.
"Besok kita punya anak yang banyak ya Yang, biar rame dan ada main-mainan terus untuk kita," kata Juna pada Sekar, saat mereka berdua sedang menemani Ara dan Nanda bermain di rumah.
"Ah, jangan banyak-banyak juga Mas. Capek tahu, urus anak-anak. Biaya kehidupan sekarang ini juga mahal Mas, gak cuma untuk makan saja, tapi pendidikan dan yang lain-lain juga mahal," jawab Sekar dengan nada protes.
"Hahaha... maksudnya kita punya anak lebih dari dua, biar yang satu besar kita ada ganti yang kecil begitu terus Yang," sahut Juna menjelaskan pada istrinya, Sekar.
Keduanya terus berdebat hingga ayah Edi dan ibu Sofie datang, memberi kabar jika kakaknya, Abimanyu akan pulang besok.
"Ayah akan menjemput mas mu Sekar. Apa Kamu bisa ikut Juna? biar yang perempuan di rumah saja, mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan Abi," kata ayah Edi, memberikan tawaran pada Juna dan Sekar.
"Benar Yah, mas Abi akan pulang?" tanya Sekar dengan cepat. Dia merasa sangat senang, karena kakaknya, Abimanyu, akan kembali pulang ke rumah.
Juna mengiyakan permintaan ayah mertuanya itu. Dia tidak masalah, karena besok hari libur.
Ara dan Nanda juga ikut tertawa senang karena mendengar perkataan kakeknya, yang memberitahukan bahwa, ayah mereka, ayah Abi, akan segera pulang ke rumah. Itu berarti, mereka bisa bermain-main dengan ayah dan juga bunda mereka, sama seperti dulu lagi.
__ADS_1
"Kangen ayah, bunda," kata Nanda, yang ikut di angguki Ara.
"Iya Sayang. Besok ayah dan bunda pulang kok. Kalian berdua, tidak boleh nakal ya," kata Sekar menasehati keponakannya itu.
Nanda dan Ara, mengangguk cepat. Mereka berdua tertawa senang karena bisa bertemu lagi dengan ayah Abi dan juga bunda Jani.
"Ibu akan membuat acara selamatan kecil-kecilan Yah. Buat tanda syukur atas kepulangan Abimanyu. Ibu sangat bersyukur, karena Abimanyu masih bisa selamat dan tidak sama seperti korban-korban kecelakaan yang lain," kata ibu Sofie, meminta ijin pada suaminya itu, untuk membuat acara selamatan, dengan membagikan makanan pada para tetangga-tetangga dekatnya.
"Iya Bu. Boleh, dan Ayah pasti akan dukung. Seminggu lagi, Yasmin juga akan datang bersama dengan calon suaminya. Ibu tidak boleh mengkritik penampilan calon suaminya Yasmin ya! Meskipun dia tidak berpendidikan tinggi, dan dari keluarga tidak mampu, serta dari desa, yang penting, dia mau menerima Yasmin apa adanya. Dia juga mau bertanggung jawab dan pekerja keras, tidak sama seperti Wawan yang hanya bisa menimbulkan keributan dan permasalahan saja."
"Iya Yah," jawab ibu Sofie, dengan menunduk.
Yasmin memang sudah mengatakan bahwa, calon suaminya itu orang dari desa dan tidak rupawan. Dia juga tidak punya pendidikan tinggi dan sudah tidak punya orang tua. Jadi, dia sendirian, itulah sebabnya, dia merantau ke Taiwan sejak lama, dan belum pernah pulang ke kampung halamannya. Rumah dan pekarangan di kampung, digadaikannya saat akan pergi ke Taiwan, untuk ongkos, dan baru tahun kemarin ditebus.
Karena merasa sudah tidak ada tanggungan hutang, maka calon suaminya Yasmin baru berani saat diajak untuk pulang ke Indonesia dan bertemu dengan keluarga Yasmin.
Tapi Yasmin menyakinkan calonnya itu, agar tidak terlalu memikirkan perbedaan yang ada. Keluarganya Yasmin, tidak akan mempermasalahkan soal itu, asalkan calonnya bisa bertanggung jawab dan buda menerima masa lalu Yasmin seperti apa adanya. Karena Yasmin sudah berstatus janda dengan satu anak yang ikut bersama dengannya.
Karena Yasmin melihat laki-laki itu selama ini adalah seorang pekerja yang baik dan bertanggung jawab, maka Yasmin mau menerimanya, dan berani mengajaknya pulang ke rumah, untuk menemui kedua orang tuanya.
Seminggu lagi, mereka berdua akan sampai di Jakarta.
*****
"Mas. Kita bersiap untuk pulang ya. Luka-lukanya sudah mengering dan semuanya sudah aman. Jika sudah waktunya nanti, kita akan melakukan operasi untuk membetulkan letak tulang yang ada bantuan penyangganya. Nanti, Mas Abi bisa latihan di rumah pelan-pelan sama Jani. Kita tinggal menunggu kedatangan ayah Edi dan Juna, yang akan menjemput kita di rumah sakit ini."
__ADS_1
Abimanyu hanya diam saja, mendengar perkataan istrinya Anjani. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan, karena dia juga belum bisa mengingat dirinya sendiri, apalagi dengan orang-orang yang mengaku sebagai keluarganya.
Tapi, selama ini dua minggu ini, Abimanyu sudah tidak lagi mengamuk. Mungkin dia sudah bisa menerima kenyataan bahwa, keadaannya yang sekarang ini, memang tidak bisa melakukan apa-apa, dan hanya tergantung dari orang-orang yang ada di dekatnya. Terutama pada Anjani, yang selalu ada di sampingnya dan tidak pernah meninggalkan dirinya, meskipun hanya untuk pulang sebentar saja.
Anjani sudah banyak berkorban demi dirinya. Meninggalkan anaknya dan juga rutinitas pribadinya sendiri demi Abimanyu.
Karena itu juga, Abimanyu merasa menyesal karena pernah marah-marah pada Anjani. Meskipun dia tidak ingat siapa Anjani, tapi karena kebersamaan dan dari pengakuan dan cerita yang dia dengar, bahwa Anjani adalah istrinya, Abimanyu jadi merasa sangat beruntung.
Abimanyu bersyukur karena mempunyai seorang istri yang baik dan benar-benar peduli terhadap dirinya. Tidak pernah mengeluh saat merawat dirinya, yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Dia jadi bersimpati pada Anjani, meskipun dia tidak tahu, bagaimana perasaannya dulu pada istrinya itu.
"Terima kasih, untuk semua yang sudah Kamu lakukan selama ini."
Tiba-tiba, Anjani mendengar perkataan suaminya, Abimanyu, yang mengucapkan terima kasih kepadanya. Hal yang tidak disangka-sangka oleh Anjani, sebab, Abimanyu sudah bisa menerima kenyataan dan keberadaannya juga.
"Tidak perlu berterima kasih Mas. Semua ini adalah kewajiban dan tugasnya Anjani, karena Anjani adalah istrinya mas Abi. Kita akan sama-sama, melewati semua ini. Jani tidak akan meninggalkan mas Abi," kata Anjani, dengan tersenyum dan mata berkaca-kaca. Dia merasa haru melihat perubahan sikap suaminya, Abimanyu.
Setelah semua selesai di bereskan, Anjani juga menyiapkan kursi roda untuk Abimanyu.
"Ini untuk mas Abi. Nanti, kita bisa latihan jalan dengan pelan di rumah. Mas Abi mau tinggal di rumah ayah, atau rumah kita sendiri? Sebenarnya untuk halaman lebih luas di rumah Bogor. Tapi kita akan lebih jauh jika ingin melakukan cek dan kontrol kesehatan mas Abi di rumah sakit ini."
Anjani, mencoba untuk mengajak Abimanyu berdiskusi tentang pilihan rumah yang akan mereka tempati nanti, sepulang mereka dari rumah sakit nanti.
"Terserah Kamu. Yang penting Kamu nyaman, dan tidak merasa kerepotan."
__ADS_1
Anjani merasa senang karena akhirnya, Abimanyu mau diajaknya bicara. Meskipun tidak memberikan solusi, tapi dengan memberikan sebuah kalimat sebagai jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan, itu sudah menjadi kemajuan yang sangat berarti bagi Anjani.
"Iya Mas. Anjani akan bertanya pada ayah nanti ya, bagaimana baiknya. Terima kasih Mas," kata Anjani dengan tersenyum, dan wajah yang berbinar-binar karena merasa senang.