
"Dek," panggil Awan pada Ara. Di saat keduanya sama-sama sedang bersiap untuk berangkat tidur.
"Ya Kak," jawab Ara, dengan panggilan dari suaminya itu.
"Emhhh... kita... maksudku, Kamu sudah selesai kan?"
Ara mengeryit bingung, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya tersebut. Dia tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan itu.
"Iya. Semua udah selesai. Jadi sekarang ini, waktunya untuk tidur!" Ara pun menjawab asal. Karena itulah yang dia pikirkan untuk saat ini.
"Hemmm..."
Gumamam Awan yang tidak jelas, membuat Ara kembali menolehkan kepalanya. Untuk melihat keadaan suaminya.
"Kakak tidak apa-apa?"
"Tidak."
Jawaban pendek yang diberikan oleh Awan, membuat Ara berpikir. 'Kakak kenapa sih? aneh banget. Tanya tapi gak jelas.' Ara mengerutu sendiri dalam hati.
Tapi pada saat Awan sudah memulai berbaring di tempat tidur, dengan posisi miring ke arah pinggir, Ara tersenyum. Karena dengan posisi seperti ini, Awan jadi membelakangi dirinya.
'Emhhh... gitu ya. Hehehe... kerjain ah...'
Ara justru punya niatan untuk ngerjain Awan. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Karena dia juga tidak segera pergi untuk berbaring, menyusul suaminya untuk tidur.
Awan pun gelisah. Dia yang hanya pura-pura tidur, berusaha untuk menajamkan pendengarannya sendiri. Mengawasi setiap gerak-gerik istrinya, yang belum juga berbaring ke tempat tidur.
'Ara sedang apa? Kenapa gak langsung tidur di?' tanya Awan membatin.
Dia semakin gelisah, karena tidak adanya pergerakan disisi tempat tidur yang lainnya. Ini menandakan bahwa, Ara tidak menyusulnya ke tempat tidur.
Karena merasa cemas dan penasaran, akhirnya Awan berbalik. Dia memposisikan tubuhnya dengan terlentang. Mungkin dengan begitu, dia bisa mencari tahu keberadaan istrinya.
Tapi ternyata, Ara diam melihat ke arahnya yang tidur dalam keadaan gelisah. Ara menahan senyum, di kursi meja riasnya.
"Kamu ngapain Dek?" tanya Awan, yang tidak tahan lagi untuk bertanya. Karena Ara hanya diam saja dan tersenyum ke arahnya sedari tadi.
"Hehehe... gak ngapa-ngapain."
Ara menjawab pertanyaan tersebut, kemudian berdiri dan berjalan menuju ke tempat tidur. Di mana Awan sedang duduk, dan tidak lagi dalam keadaan berbaring seperti tadi.
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Ara, Awan mengeryit heran. "Terus kenapa gak tidur? Malah nonton Kakak yang tidur," tanya Awan lagi, karena jawaban yang diberikan oleh Ara tidak masuk akal menurutnya.
"Hemmm... sebenarnya Ara mau..."
Kalimat Ara yang menggantung, sangat dinantikan kelanjutannya oleh Awan. Dia merasa jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya itu.
"Apa sih? Kok main rahasia-rahasia segala."
__ADS_1
"Mau gak?"
Sekarang, Ara justru memberikan pertanyaan yang tidak jelas menurut Awan. Apalagi dengan menaik-turunkan alisnya. Dia jadi merasa gemas sendiri, karena Ara mengajaknya main tebak-tebakan.
"Sini!"
Awan menarik tangan istrinya, yang masih saja berdiri di depannya, sehingga Ara terduduk di sampingnya saat ini.
"Katakan ada apa?" tuntut Awan, meminta penjelasan tentang tebak-tebakan yang dibuat oleh Ara.
Bukannya menjawab, Ara justru membelai lembut pipi dan rahang Awan. Sambil tersenyum tipis. Tanpa berniat untuk membuka suaranya juga.
Ini membuat Awan gemas sendiri. Apalagi, perlakuan yang diberikan oleh istrinya ini membuat adiknya kecilnya yang tadi tidur terbangun.
"De_Dek..."
Suara Awan seakan-akan tercekat. Dia tidak bisa bicara dengan lancar. Dari suaranya yang terdengar parau, juga menandakan bahwa dia sedang dalam balutan rasa yang...
"Eh..."
Tiba-tiba, Ara kaget dengan apa yang dilakukan Awan selanjutnya. Tanpa adanya aba-aba dan pemberitahuan terlebih dahulu. Ternyata bibir Awan menyerang bibirnya Ara. Dia tidak mau mendapatkan penolakan, dengan gerakannya yang menuntut.
"Ka_kak..."
Ara juga semakin tidak bisa menyeimbangi apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Tapi dari ucapan yang dia katakan, itu membuat Awan semakin memperdalam ciumannya.
Beberapa saat kemudian, Awan melepaskan bibirnya dari bibirnya Ara. Dia memberikan kesempatan kepada istrinya itu untuk busa bernafas lega, sama seperti yang dia lakukan juga.
Ara mengangguk malu-malu, tanpa perlu menunggu pertanyaan dari Awan selesai.
Ini membuat Awan tersenyum lebar, dengan bernafas panjang.
"Akhirnya..."
Dengan gerakan cepat namun lembut, Awan menarik tubuh Ara ke dalam pelukannya. Membawa istrinya itu untuk dibaringkan di tempat tidur. Dan semuanya, tentu saja sudah bisa ditebak. Apa yang mereka lakukan berdua.
( Adegan di skip, karena hal yang wajar terjadi untuk pasangan suami istri. Peace ya gaesss! )
*****
Pagi harinya, Ara sudah terbangun terlebih dahulu. Dia berniat untuk turun dari tempat tidur, karena ingin pergi mandi.
"Auhhh..."
Suara mengaduh Ara yang kesakitan, membuat Awan terbangun.
"Dek, Kamu gak apa-apa?" tanya Awan khawatir, dengan keadaan istrinya itu.
Apalagi, di saat melihat wajah Ara yang meringis dengan tubuhnya yang hanya dibalut selimut. Sedangkan dia sendiri, hanya mengunakan celana kolor pendek tanpa dalaman_nya.
__ADS_1
Senyuman terbit di bibir Awan, mengingat semua kejadian yang dia lakukan bersama dengan Ara semalam.
"Huppp!"
"Aaa..."
Ara menjerit kaget, saat merasa tubuhnya seakan-akan melayang ke udara.
Saat sadar, ternyata Awan membopong tubuhnya, kemudian di bawa ke dalam kamar mandi.
"Sini Kakak mandiin. Kamu pasti kecapekan kan dengan kegiatan kita semalam?" goda Awan, dengan tersenyum menggoda istrinya.
"Kakak ihsss..."
Tentunya Ara masih malu-malu, dengan apa yang mereka lakukan semalam. Karena meskipun sudah seminggu lebih mereka menikah, baru semalam mereka menyempurnakannya.
Awan mendudukkan Ara di pinggir bathtub. Dia mengatur suhu air, supaya bisa mengalir hangat.
Setelah mengisi bathub, Awan membantu Ara menguyur seluruh tubuhnya terlebih dahulu, sebelum berendam.
"Kak," panggil Ara, saat Awan mulai mempermainkan bagian-bagian tertentu pada tubuhnya.
"Hemmm..."
Awan tidak mempedulikan keadaan Ara, yang sudah mulai terpengaruh dengan apa yang dia lakukan. 'Ini hukuman untuk seminggu dianggurin!' batin Awan puas.
Meskipun keadaan tubuhnya sudah payah, tapi apa yang dilakukan oleh suaminya itu membuatnya ikut terpengaruh juga.
Tubuhnya tidak bisa menolak dengan semua yang dilakukan oleh suaminya. Bahkan, kini Ara merespon kegiatan Awan dengan meremasss rambut suaminya itu.
Dan akhirnya, sebelum benar-benar mandi, mereka berdua melakukannya lagi di kamar mandi.
Untungnya, hari masih sangat pagi. Sehingga Anggi belum bangun dari tidurnya. Mereka berdua, jadi aman untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa mereka cegah.
Setelah beberapa menit kemudian, barulah keduanya keluar dari dalam kamar mandi, dengan Ara uang dibopong lagi sama Awan.
Dia mendudukkan istrinya itu, di tipe tempat tidur.
Cup!
"Terima kasih Sayang."
Awan mengucapkan terima kasih kepada istrinya, yang saat ini terbalut piyama mandi. Setelah mengecup kening Ara.
Dengan wajah memerah, Ara hanya tersenyum dan mengangguk saja. Dia masih saja merasa malu, dengan semua yang sudah mereka lakukan bersama-sama sedari semalam.
"Tidak usah masak. Nanti Kakak pesan goofood aja. Kamu diam saja di dalam kamar. Aku akan buat alasan pada Anggi, agar dia tidak banyak tanya."
Ara kembali mengangguk. Dia juga tidak mau jika adiknya itu tahu, kemudian mengolok-oloknya nanti.
__ADS_1
Itu bisa terjadi sepanjang pagi, dan bahkan sampai malam nanti. Di saat Anggi menyadari dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat ini.