Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tidak Sesuai Dengan Rencana


__ADS_3

Wajah Ara yang memerah, membuat Awan merasa kasihan juga. Karena sedari masih berasa di hotel, dia selalu menjadi bahan bully-an oma opanya. Bahkan sekarang ini ayahnya juga ikut-ikutan.


"Betul itu Wan, Ra. Hehehe..."


Mama Amel, tentu saja sangat bersemangat saat ini. Dia begitu senang. Karena anaknya yang tidak pernah mau ikut campur urusan di sekitarnya, mengatakan apa yang dia inginkan. Meskipun wajahnya juga tetap terlihat datar-datar saja tadi.


"Ihsss... Oma. Gak kasian apa liat Ara udah malu gitu!" Justru Awan yang ngambek dengan memajukan bibirnya.


"Sudah-sudah Ma. Ayok kita ke kamar. Biarkan mereka berdua menikmati masa-masa indah ini. Kita yang tua-tua, harus tahu diri lah. Hahaha..."


"Oya Pa. Mama juga gak mau, gara-gara kita bully dan desak untuk kasih cicit, mereka berdua malah kabur ke Amerika. Hehehe..."


Ke-dua orang tua di rumah ini, seakan-akan punya mainan baru untuk dijadikan bahan pembicaraan. Ada saja yang mereka katakan, untuk menggoda kedua pengantin baru, yang sama-sama malu sekarang ini.


"Kak," panggil Ara pelan.


Awan bahkan tidak mendengar panggilan dari istrinya itu.


"Ihsss..." Ara mencoba untuk menendang kaki Awan, panas yang ada di bawah meja.


Tapi ternyata, yang ditendang oleh Ara bukanlah kakinya Awan. Melainkan kakinya mama Amel.


"Eh Awan, apaan nendang-nendang kaki Oma?"


Ara merasa terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh mama. Dengan segera, tangannya menyentuh lengan Awan. Dia minta pertolongan dari suaminya itu, untuk melindunginya dari rasa malu.


Untung saja, Awan langsung menoleh dan paham dengan kode yang diberikan oleh istrinya itu.


"Oma sih! punya hobby baru ya sekarang?" ledek Awan, dengan kebiasaan omanya. Yaitu menggoda dirinya dan juga Ara.


"Hahaha..."


Mendengar tawa Mama Amel, Ara menghembuskan nafas lega. Dia pikir, suaminya tadi tidak peka, dan menjawab jika tidak tahu apa-apa.


Setelah semua drama mereka di meja makan, Mama Amel dan papa Ryan, pamit untuk kembali ke dalam kamar.


"Ya sudah ya. Oma mau ke kamar. Capek ini!"


"Oh ya Ra. Biarin itu dibereskan Bibi. Kalian juga segera tidur. Pasti masih capek kan? Besok masih harus ke kantor polisi juga lho!"


Mama Amel menyambung perkataannya yang tadi, saat pamit.


Sedangkan papa Ryan justru menyambung kalimat istrinya itu, dengan berkata, "kalian juga ingat! Jika capek, mending tidur aja. Gak bakalan maksimal kerja kalian berdua nantinya, jika tetap dipaksakan untuk bekerja."

__ADS_1


Setelah selesai mengatakan kalimat yang terdengar ambigu, di telinga sepasang suami istri yang masih duduk dan saling pandang karena bingung, papa Ryan merangkul pundak istrinya yang sedang terkekeh geli. Menyadari bahwa kalimat suaminya itu, membuat kedua cucunya bingung.


"Papa bisa aja ini ngomongnya!" ucap mama Amel, dengan bergelayut manja di lengan papa Ryan.


"Kak. Opa ngomong apa sih?" tanya Ara, yang tidak pernah berpikir sejauh mana opanya tadi bicara.


"Udah si, gak udah dipikirkan. Nanti juga Kamu tau kok Ra. Yuk!"


Ara menaikkan kedua bahunya, tanda jika dia mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya tadi. Yaitu tidak usah memikirkan apa yang dikatakan oleh opanya.


Dan sekarang, mereka berdua berjalan beriringan menuju ke arah kamar. Mereka ingin beristirahat. Karena rada capek yang mereka rasakan, masih belum hilang sekarang ini.


*****


"Kakak mau ke kamar mandi dulu ya!"


Ara mengangguk mengiyakan. Dia menata bantal di atas ranjang, agar lebih nyaman nanti saat tidur.


Beberapa saat kemudian.


Clek!


Pintu kamar mandi terbuka. Awan keluar, kemudian mengelap mukanya dengan mengunakan handuk kecil yang sambil berkata, tanpa melihat ke arah tempat tidur. "Ra, buru ganti Kamu ke kamar mandi sana!"


Tapi ternyata tidak ada sahutan dari istrinya. Awan jadi menolehkan kepalanya, melihat di mana keberadaan Ara.


Ternyata Ara sudah tidur pulas di ranjang, tanpa menunggu suaminya terlebih dahulu.


"Hufhhh... ditinggal lagi. Kan gagal bikin cicit buat Oma kalau begini."


Awan menghela nafas panjang. Meskipun sebenarnya dia merasa kecewa, tapi dia tidak tega juga, jika harus membangunkan istrinya itu supaya bisa melakukan apa-apa yang belum sempat mereka berdua lakukan.


Perlahan-lahan, Awan naik ke atas tempat tidur. Membaringkan tubuhnya di dekat tubuhnya Ara. Dia juga memeluk tubuh istrinya itu, seakan-akan tidak mau jika Ara sampai terjatuh dari tempat tidur.


"Begini aja Kakak sudah bahagia Ra. Kakak akan menjagamu. Menunggu hingga Kamu siap."


"Benar kata opa. Lebih baik tidur dan beristirahat, dari pada melakukan apa-apa dalam keadaan yang tidak fit. Bisa-bisa tidak maksimal. Hehehe..."


Awan bergumam seorang diri, sambil tersenyum dan tetap memeluk tubuh istrinya.


Tak lama kemudian, dia juga ikut terpejam. Menyusul Ara ke alam mimpi.


*****

__ADS_1


Di sebuah rumah kontrakan yang tidak seberapa besar. Dan ada di perkampungan padat penduduk.


Seseorang sedang memaki-maki, dengan melihat ke arah layar handphone yang dia pegang.


"Bodoh mereka semua!"


"Begitu aja bisa ketangkep. Ke mana keahlian mereka semua selama ini?"


"Ahhh, sialll!"


Prankkk!


Dia melempar handphone yang tadi dia pegang ke pojok ruangan. Sehingga handphone tersebut hancur berkeping-keping.


Dia menjambak rambutnya sendiri, dengan marah.


"Agrhhh..."


Kesal, marah dan dendam, menguasai hatinya yang terasa sepi beberapa tahun terakhir ini. Dia merasa sangat terpukul. Dengan apa yang dialaminya untuk beberapa waktu lalu.


Semua dia lewati dengan sudah payah. Segala sesuatu yang biasanya dia dapatkan dengan mudah, sudah tidak ada lagi.


Dia harus berjuang keras, untuk bisa sampai pada posisi yang sekarang ini. Menjadi kepercayaan dari sebuah organisasi gelap, yang berkedok dengan sebuah yayasan amal.


Dia tampil rapi dan tampak elegan, jika sedang berada di acara yayasan.


Tapi dia akan berubah menjadi seseorang yang tidak punya perasaan. Mirip seperti serigala, jika ada di dunianya yang tak pernah diketahui oleh orang lain.


Bahkan, anak buahnya yang ada di lapangan, tidak pernah mengetahui bagaimana rupa wajahnya yang asli.


Dia terpaksa harus melakukan semua ini, demi keselamatan dan dendam yang ada di dalam hatinya. Karena itulah, identitas dirinya tidak pernah diketahui oleh siapapun.


Mereka, anak buahnya yang ada di lapangan, hanya tahu dan biasa menyebut dirinya dengan panggilan Bos.


Dunia bawah, yang tidak tampak dari luar, adalah dunia hitam.


Mereka melakukan semuanya dengan rapi. Perampok dan penculikan terhadap para gadis dan anak-anak. Penjualan hasil penculikan, dan bahkan, penjualan organ tubuh manusia dengan cara ilegal.


Semua itu karena sebuah misi. Dia memerlukan banyak uang untuk dendamnya. Karena untuk melaksanakan rencana dendamnya, dia butuh anak buah yang perlu bayaran besar.


Sayangnya, rencananya yang pertama gagal. Bahkan, anak buahnya tertangkap. Dan sekarang ada di dalam tahanan.


Mereka semua, ada dalam masa penyelidikan.

__ADS_1


Itulah sebabnya, dia harus menghilang untuk sementara waktu. Memikirkan kembali rencana yang harus dia lakukan ke depannya nanti.


Karena misinya ini harus segera dia lakukan. Dia tidak akan bisa hidup tenang, saat orang-orang yang sudah membuatnya menderita bisa tersenyum dan berbahagia dalam kehidupan mereka.


__ADS_2