Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Situasi Yang Berbeda


__ADS_3

Hari yang dinanti-nanti oleh kedua keluarga, tiba juga.


Semua sudah diurus oleh pihak EO, yang sudah dipesan oleh mama Amel, untuk acara pertunangan cucunya, Awan dengan Ara.


Rumah Anjani, pemberian dari Elang, sudah disulap sedemikian rupa oleh pihak EO, sehingga menjadi lebih bagus lagi, dengan berbagai bunga, untuk dekorasi yang sudah di susun dengan rapi dan cantik.


Keluarga Abimanyu, juga sudah siap berada di rumah tersebut, untuk menyambut kedatangan keluarga Elang, yang akan datang untuk melamar anaknya, Ara.


"Kak, deg-degan gak?" tanya Anggi, saat Ara merapikan dirinya di cermin.


"Banget Dek," sahut Ara, sambil melihat adiknya itu, melalui cermin yang ada di depannya.


"Ah... masak sih?"


Anggi bertanya lagi, dengan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.


"Ihhh... Kamu bertanya atau ngeledek Kakak sih?" tanya Ara, yang sedikit curiga dengan pertanyaan yang diajukan oleh adiknya, Anggi.


"Hehehe..."


Anggi justru cengengesan, mendengar pertanyaan kakaknya, yang bisa menebak apa yang ada di dalam otaknya.


"Anggi, ayok keluar sekarang!"


Dari luar pintu kamar yang terbuka, Miko berteriak memanggil Anggi, yang ada di dalam kamar bersama dengan Ara.


"Ngapain?" tanya Anggi, yang menolehkan kepalanya, tapi belum juga beranjak dari tempatnya berada.


"Rombongan keluarga kak Awan udah datang. Buruan!" ucap Miko dengan antusias.


"Aduh Dek, jangan tinggalin Kakak sendiri dong!" pinta Ara, supaya Anggi tetap bersama dengannya di dalam kamar.


"Tapi Kak, Anggi pengen liat," sahut Anggi, dengan berlari keluar dari kamar. Karena Miko masih menunggunya di depan pintu.


"Hiihhh..."


Ara jadi gemas sendiri, karena ulah Miko, yang mengajak adiknya itu untuk keluar, dan meninggalkan dirinya sendiri di kamar.


"Aku kok tambah deg-degan ya? Biasanya gak kayak gini nih," ujar Ara, dengan bergumam seorang diri.


Dia memegang dadanya, yang terasa berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Jangan lompat. Jangan lompat," kata Ara, masih dengan memegang dadanya sendiri.


"Apa yang lompat Ra?"


"Jantungku," jawab Ara reflek, tanpa melihat siapa yang datang dan bertanya kepadanya barusan.

__ADS_1


Saat sadar, Ara menoleh ke arah sumber suara yang tadi bertanya. Dan ternyata, di depan pintu kamar, ada Nanda yang sedang bersandar di daun pintu, sambil bersedekap menatap ke arahnya.


"Kakak," panggil Ara, dengan tersipu malu, karena perkataannya yang tadi dia katakan, tanpa sadar.


"Hehehe... adikku ini, bisa juga buat orang laper. Eh, baper." Nanda berseloroh, dengan maksud untuk bercanda, supaya Ara tidak merasa lebih tegang.


"Ihhh, kan..."


Ara bangkit, kembali berjalan menuju ke tempat Nanda, yang masih saja berdiri dan bersandar di daun pintu kamar, tanpa ada niatan untuk masuk ke dalam.


Nanda menunggu Ara. Yang pastinya akan keluar juga nanti. Apalagi, keluarga Awan juga sudah sampai. Dan acara ini akan segera dimulai.


"Adiknya Kakak, tambah cantik aja sih," tegur Nanda, saat Ara sudah berada di depannya.


"Ah, Kak Nanda. Ara kan jadi malu," sahut Ara, dengan tersenyum-senyum, sambil menundukkan wajahnya.


"Eh, kenapa malu. Coba berputar! Biar Kakak liat, ada yang kurang gak?"


Nanda meminta Ara, untuk berputar, untuk dia perhatikan, bagaimana penampilan adiknya itu.


"Emhhh..."


"Kenapa Kak? apa ada yang kurang atau tidak serasi?" tanya Ara cepat, karena merasa khawatir jika, penampilannya ada yang terlihat tidak sesuai.


"Ada. Ada yang kurang," jawab Nanda, penuh arti.


"Yang jadi pendamping. Hehehe..."


"Ihsss... Ara pikir apaan," ucap Ara, dengan wajah cemberut.


'Andai saja, yang menjadi pendampingmu itu Kakak Ra,' kata Nanda, yang hanya bisa dia ucapkan dalam hati.


Nanda hanya tersenyum, menanggapi Ara yang sedang merajuk.


"Sudah yuk Kita ke luar! Acara akan segera dimulai," ajak Nanda, sambil memposisikan tangannya, agar Ara mau mengandeng tangannya.


"Sementara, Kakak yang akan mendampingi Kamu. Besok-besok, sudah ada Awan."


Ara tersenyum, mendengar perkataan kakaknya itu. Dan dengan senang hati, Ara pun mengaitkan tangannya, untuk mengandeng tangan Nanda, yang sudah siap untuk mengajaknya ke luar, di mana acara pertunangannya dengan Awan, akan segera dilaksanakan.


**Do'akan saja semoga acara pertunangan mereka lancar ya gaess 😁😁🙏


*****


Di tempat Dika bersembunyi.


Pada akhirnya, Dika tidak jadi pergi ke Medan ataupun Bandung, sesuai dengan permintaan mamanya.

__ADS_1


Dia yakin jika, saudaranya akan merasa kerepotan jika harus menampung dirinya, yang pastinya akan cepat atau lambat ikut disangkut pautkan dengan masalah mama dan papanya juga.


Dia juga tidak menghubungi Mita, kekasihnya itu, karena dia merasa juga sangat yakin jika, papa dan mamanya Mita, tidak mungkin bersikap sama seperti kemarin-kemarin, saat keluarganya belum mengalami kasus seperti ini.


Dika menjual handphone dan motor miliknya, dan berganti dengan model yang biasa-biasa saja.


Dengan bekal uang hasil menjual handphone dan motornya itu, Dika menyewa sebuah kamar kost kecil di pinggir kota. Dia juga memblokir semua akun media sosial miliknya, agar tidak ada yang mencari dan men_tag namanya.


Dika merasa seperti seorang buronan. Padahal, semuanya bukan kesalahannya sendiri.


Tapi, akibat dari perbuatan mama dan papanya, dia jadi ikut terkena imbasnya. Dia harus pergi tanpa status sebagai seorang Dika yang keren dan borjuis.


Sekarang, Dika bersiap dan untuk bisa menjadi diri sendiri, dan belajar menyesuaikan keadaannya yang sekarang ini.


"Gue gak bisa pergi ke mana-mana di kota besar untuk sementara waktu. Tapi, Gue bisa menjadi orang lain, untuk bisa beraktivitas di sini."


Dika berpikir bahwa, di pinggiran kota ini, tidak akan ada orang yang mengenal dirinya. Jadi, dia bisa bebas melakukan apa saja yang dia inginkan.


Untuk sementara waktu, dia akan diam-diam saja, dan hanya memantau perkembangan kasus kedua orang tuanya, dari media sosial dan televisi.


Dika membuat akun sosial, dengan mengunakan nama lainnya, agar tidak bisa dikenali oleh siapapun.


Dengan begitu, dia akan bebas melakukan apa saja yang bisa dia lakukan, di media sosial, tanpa ada yang curiga, jika dia adalah Dika. Anak dari pemilik perusahaan PT ANTARA GROUPS, yang sedang bermasalah dengan PT SAMUDERA GROUP.


"Ini semua gara-gara keluarga Loe Wan. Ah, kenapa harus Loe lagi, Loe lagi. Argh!"


Dika semakin merasa kesal, karena yang membawa masalah untuk kedua orang tuanya itu adalah perusahaan milik keluarganya Awan.


Teman yang dia anggap paling baik dan mengerti dirinya, waktu sekolah dulu.


Meskipun pada akhirnya, Dika juga merasa jika, Awan sudah menikung cintanya pada Ara. Cewek yang menjadi targetnya Dika.


Dan kini, rasa marah itu menjadi dendam pada Awan.


Padahal, Awan sendiri tidak pernah tahu menahu, soal permasalahan antara PT SAMUDERA GROUP dengan PT ANTARA GROUPS.


Tapi, pemikiran Dika tentu saja berbeda dengan apa yang terjadi.


Dia mencampur adukkan permasalahan hati, dengan realita yang terjadi pada kedua orang tuanya sekarang.


"Awas aja ya Loe Wan, Ara. Tunggu aja, apa yang akan Gue lakukan untuk Kalian berdua besok."


Dika bergumam seorang diri, dengan perasaan marah dan dendamnya, yang sudah menguasai hati dan pikirannya sendiri. Tanpa mau berpikir bahwa, semua ini adalah kesalahan dari pihak PT ANTARA GROUPS sendiri, yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.


Dika belum menyadari, bahwa dirinya sudah dikuasai oleh rasa dendam dan juga ambisi yang salah.


**Dan Setan berteriak dengan senang 😈👿 😂😂🏃🏃

__ADS_1


__ADS_2