
Kegembiraan di rumah ayah Edi dan ibu Sofie, semakin lengkap dengan kedatangan keluarga Yasmin, yang baru saja datang dan di jemput mereka di bandara internasional Soekarno-Hatta.
Ara dan Nanda, ikut membantu menurunkan beberapa barang bawaan mereka. Begitu juga dengan yang lainnya, bahkan, Anggi dan juga Miko, tidak mau kalah.
Mereka berdua, ikut sibuk mencari-cari barang yang berukuran kecil, yang bisa mereka bawa.
"Ra," panggil Nanda, karena Ara hanya diam saja sedari tadi.
"Ya Kak," jawab Ara, sambil menoleh ke arah Nanda, yang saat ini ada di sampingnya.
"Syukurlah," kata Nanda, tanpa bermaksud untuk menjawab pertanyaan dari Ara. Sepertinya, Nanda hanya ingin tahu, kenapa Ara sedari tadi hanya diam dan tidak bicara dengannya.
Ara memicing karena curiga, jika Nanda hanya ingin mengerjai dirinya saja.
"Apa?" tanya Nanda, saat melihat pandangan Ara yang tidak biasa.
"Kakak ngerjain Ara ya?" tanya Ara, yang merasa yakin dengan tebakannya itu.
"Gak. Ngerjain gimana maksudnya?" jawab Nanda, balik bertanya pada Ara.
"Tadi manggil, terus gak berkata apa-apa. Malah mengucap syukur," jawab Ara, menjelaskan tentang pertanyaannya yang tadi.
"Tentu saja Aku bersyukur Ra. Ternyata Kamu tidak sedang puasa bicara, atau sariawan. Soalnya sedari tadi cuma diam saja sih," kata Nanda, menjelaskan juga.
Sekarang, mereka berdua sama-sama tersenyum, menyadari kesalahpahaman yang terjadi pada mereka berdua.
"Ceihhh... Kak Ara pacaran nih!"
Dari arah belakang mereka, muncul Miko dan Anggi, yang meledek dan mengagetkan mereka berdua, Ara dengan Nanda.
Sebenarnya, Ara dan Nanda sedang mengangkat barang-barang yang ada di bagasi mobil. Tapi karena mereka berdua mengobrol untuk beberapa saat, Anggi dan Miko, jadi memergoki mereka berdua.
"Siapa yang pacaran?" tanya Ara kesal, karena diledek oleh Miko.
"Kakak lah," jawab Miko polos.
"Gak. Kakak gak pacaran. Kan kak Nanda juga kakaknya kak Ara. Sama kayak Miko juga," jawab Ara, mencoba memberi penjelasan pada adik sepupunya itu, Miko.
"Masakan sih?" tanya Miko tidak percaya.
"Memangnya pacaran itu apa?" tanya Ara, ingin tahu apa yang diketahui adik sepupunya itu soal pacaran.
__ADS_1
Anak-anak jaman sekarang, meskipun usianya terbilang masih kecil, tapi pikiran mereka sudah dewasa sebelum waktunya. Istilahnya, buah masak hasil karbitan.
Miko meringis saat ditanya Ara soal pacaran, karena sebenarnya dia juga tidak tahu dan asl ikut-ikutan saja.
"Kamu tahu dari mana kata pacaran itu?" tanya Ara menyelidik.
Miko mengeleng cepat. Begitu juga dengan Anggi, yang memang diam saja, dan tidak ikut meledek kakaknya itu.
"Makanya, kalau tidak tau, gak usah ngomong ya. Entar salah Kamu jadi disalahkan juga. Untungnya ini sama Kakak, coba kalau dengan orang lain, dan orang itu marah sama Kamu. Gimana coba?"
Nanda memperhatikan bagaimana cara Ara menasihati Miko dan Anggi. Dia jadi teringat masa kecilnya dulu, waktu dinasehati oleh Anjani.
"Bunda ada di sini kan?" tanya Nanda, yang baru ingat, jika dia belum menyapa bundanya itu.
Ara mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Nanda. Dan setelah itu, Nanda langsung pergi, tanpa menghiraukan Ara dan adik-adik sepupunya yang lain.
"Bunda Jani," sapa Nanda, saat Anjani sedang berbincang dengan Abimanyu dan juga yang lainnya.
"Nanda."
Anjani tersenyum, kemudian ikut menyapa Nanda, yang baru saja dia tanyakan pada Yasmin tadi.
Nanda menyalami Anjani, kemudian memeluknya. Dia merindukan bunda Anjani-nya, yang sudah lama tidak dia jumpai dan memberinya banyak nasehat-nasehat yang baik.
Nanda merasa menemukan bundanya kembali. Dan Anjani juga sama. Dia seperti menemukan kembali anak laki-lakinya, yang sudah lama pergi dan tidak pulang ke rumah.
Semua orang, termasuk Ara dan juga Abimanyu, ikut meneteskan air mata tanpa mereka sadari sendiri. Mereka ikut menangis, melihat pertemuan Nanda dengan Anjani yang penuh keharuan.
"Kok jadi banyak bawang ya di rumah ini," seloroh ayah Edi, membuat semua orang mengusap air matanya masing-masing.
"Jani. Nanda akan tinggal di Indonesia, jadi besok-besok masih bisa kok meluk dia. Nangisnya udahan ya!" kata ayah Edi, yang membuat semua orang tertawa senang.
Termasuk dengan Anjani dan Nanda sendiri.
Tentu saja Anjani merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan Nanda lagi. Sedari kecil, Nanda ikut bersama dengannya. Dia merawat Nanda, sama seperti dia merawat anaknya sendiri. Apalagi, dia juga tidak memiliki anak laki-laki.
"Yasmin juga akan melahirkan di Jakarta. Mungkin baru beberapa tahun ke depan pindah ke kampungnya mas Aksan. Ini masih ngumpulin modal usaha dulu. Mas Aksan juga masih ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan." Yasmin memberitahu rencana mereka kedepannya nanti.
"Syukurlah. Kami sangat mendukung rencana kalian itu. Semoga saja tidak lama lagi," kata Abimanyu, mendoakan keberhasilan rencana adiknya.
Semua mengamini harapan dan doa yang dipanjatkan oleh Abimanyu tadi. Karena semua tentu saja, ingin yang terbaik untuk Yasmin dan keluarganya.
__ADS_1
"Bu, makanan sudah siap. Mau ditaruh dimana?"
Bibi pembantu rumah ayah Edi, dibantu oleh bibi pembantu rumah Sekar, masak bersama-sama, untuk menyambut kedatangan Yasmin dan keluarga kecilnya, yang baru saja pulang dari Taiwan.
Dan sekarang, semuanya membereskan barang-barang dan tempat duduk yang ada di ruang tengah, untuk menjadi tempat makan lesehan secara mendadak.
Karena tidak mungkin, meja makan di rumah ayah Edi, muat untuk menampung semua anak dan menantunya, yang sekarang ini sudah ada anak-anaknya juga.
Jadilah ruang tengah rumah ayah Edi, menjadi sama seperti rumah makan lesehan, untuk bisa menampung senja anggota keluarga besarnya.
"Besok-besok, kalau nambah anggota lagi, ruang tamu ikut jadi rumah makan lesehan juga ini," seloroh ibu Sofie, mengomentari tentang keadaan keluarganya sekarang ini.
"Hahaha... iya Bu. Tidak apa-apa. jika perlu, tidak usah ada kursi dan barang-barang lainnya juga, biar cucu-cucu kita, bisa bermain dengan bebas di dalam rumah," sahut ayah Edi, sambil tertawa senang, melihat mereka semua ada di rumahnya.
Suasana yang berbeda dari biasanya, tampak begitu jelas. Karena suara anak-anak dan tawa mereka semua, tentunya tidak sama seperti hari-hari biasanya, yang hanya ada ayah Edi dan ibu Sofie saja. Bahkan, jika mereka berdua sedang pergi bekerja, hanya ada bibi pembantu rumah yang ada di rumah sendirian.
*****
"Kakak beneran gak balik ke Taiwan?" tanya Ara, begitu mereka semua sudah selesai makan bersama.
Nanda mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Ara.
"Rencananya mau daftar sekolah di mana?" tanya Ara lagi.
"Sekolah Kamu bisa gak?" tanya Nanda, yang ingin bersekolah di yayasan yang sama seperti sekolah Ara.
"Katanya sih gak bisa jika ada siswa baru, yang tidak mulai dari awal masuk tahun ajaran baru Kak," jawab Ara menjelaskan.
"Kenapa?" tanya Nanda, sambil memicingkan mata, memikirkan jawaban yang diberikan oleh Ara.
"Gak tau juga sih sebenarnya. Karena sekolah yayasan itu, mengedepankan prestasi dan kwalitas, dari pada kwantitas saja. Apalagi jika tidak dari awal. Pihak guru tidak mau asal mengajarkan kepada anak-anak, yang tidak diketahui sedari awal bisa mengikuti pelajaran atau tidak. Makanya, tes prestasi akan terus ada tanpa pemberitahuan terlebih dahulu untuk waktunya."
Nanda mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan dari Ara, soal sekolah yayasan, yang saat ini menjadi sekolahnya Ara.
"Kalau begitu Kakak daftar yang dekat dengan sekolah itu saja." Nanda memutuskan untuk mendaftarkan dirinya, disekolah yang ada di sekitar sekolahnya Ara.
Nanda hanya ingin tahu, dan mengawasi Ara setiap hari. Dia juga tidak mau jika, Ara di ganggu orang lain, saat pergi dan pulang sekolah. Sama seperti yang biasa dia baca di beberapa berita online, akhir-akhir ini.
"Ada Kak. Ada beberapa sekolah yang berkualitas juga, baik sekolah negeri ataupun swasta. Sekolah itu juga sejalur dengan arah sekolah Ara kok," kata Ara, memberitahu pada Nanda.
"Iya, bagus kalau begitu. Kakak akan melihat-lihat dulu besok, jika ada waktu."
__ADS_1
Akhirnya, mereka berdua kembali berbincang-bincang, dengan sesekali diganggu oleh Anggi dan juga Miko, yang memang tidak mau diam dan terus-menerus bergerak ke sana-sini, mencari perhatian dari orang-orang yang sedang sibuk sendiri.