
Kota Bogor, dimana rumah Anjani berada. Tempat yang tidak terlihat ramai tapi juga tidak sepi. Tapi untuk usaha kafe rumah miliknya, Anjani tidak merasa khawatir jika akan sepi dan tidak laku. Dia sudah memiliki beberapa pelanggan tetap yang selalu datang untuk makan atau mencari tempat untuk mengobrol dengan teman-temannya yang lain. Dan tentu saja ini akan membuat tempat usahanya itu ramai. Ada juga beberapa anak kost yang masih berstatus mahasiswa atau karyawan di perusahaan terdekat sering datang ke kafenya itu. Dia jadi merasa beruntung, karena mendapatkan ide untuk kafe rumah ini dulu. Apalagi sekarang, dalam waktu dekat ini, dia akan membuka cabang di dekat wisata keluarga yang tidak terlalu jauh dari rumahnya ini.
Selama tiga hari ini, dia ditinggal oleh suaminya, Abimanyu, untuk pergi kerja ke Jakarta seperti biasanya, saat mendapatkan panggilan dari beberapa perusahaan yang memintanya untuk datang. Karena pekerjaan suaminya itu tidak terikat, jadi dia akan sering di tinggal-tinggal tanpa tahu, kapan dan sampai batas waktunya juga tidak menentu.
Tapi , Anjani sedikit heran saat ini. Biasanya, Abimanyu akan mudah dia menghubungi kapan saja. Bahkan pada malam hari sekalipun. Apalagi, Anjani juga tidak terlalu sering mengirimkan pesan pada waktu jam kerja. Karena aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh suaminya itu ada pada jam kerja juga. Dia juga jarang melakukan panggilan telepon atau video call saat jam kerja, karena dia takut jika waktu itu Abimanyu sedang sibuk dan berada di kantor perusahaan yang dia datangi.
Dia jg hanya akan mengirim pesan jika pada siang hari dan telpon atau video call pada malam hari. Tapi kali ini sepertinya, Abimanyu sulit untuk dihubungi atau tidak mengangkat panggilan telepon darinya. Justru, Anjani akan lebih sering meminta bantuan pada ayah mertuanya, untuk menyampaikan pesan pada Abimanyu, jika tadi dia sedang menelpon dan suaminya itu tidak mengangkatnya. Seperti pad malam hari itu, Anjani akhirnya menelpon ayah Edi, bertanya tentang keberadaan suaminya sendiri.
..."Halo Ayah. Maaf menganggu."...
..."Ya Jani, ada apa?"...
Ayah Edi, tentunya heran dengan panggilan telpon dari menantunya itu. Karena tidak biasanya, menantunya itu menghubungi dirinya, apalagi pada malam hari.
..."Emhhh, apa Ayah ada di rumah?"...
..."Oh, Ayah sedang dalam perjalanan pulang. Ada apa?"...
..."Itu Yah. Emhhh... Jani, Jani mau minta tolong."...
..."Tolong apa Jani?"...
..."Tadinya Jani mau tanya tentang keberadaan mas Abi, tapi karena ayah ada di jalan, jadi tidak mungkin tahu juga."...
..."Oh... memangnya kenapa? Apa dia tidak bisa Kamu telpon atau handphone miliknya mati?"...
__ADS_1
..."Aktif kok Yah, tapi tidak di angkat. Pesan Jani juga tidak dibalas sama mas Abi Yah."...
..."Oh, mungkin dia sedang tidak ada di kamar dan handphonenya ada di kamar. Nanti ayah akan kasih tahu jika sudah sampai di rumah ya!"...
..."Ya Yah. Terima kasih Yah. Minta tolong buat telpon Jani balik ya Yah. Ayah Hati-hati di jalan."...
Anjani, akhirnya Lenih sering meminta bantuan dan menghubungi nomer ayah mertuanya itu, untuk menyampaikan pesan kepada Abimanyu, agar menelpon dirinya.
"Mas Abi kenapa ya? Kok tumben kesibukan kerjanya tidak seperti biasa. Apa dia tidak merasa, jika Aku sedang kangen dan ada sesuatu yang ingin Aku sampaikan?" Anjani jadi banyak berpikir tentang keadaan suaminya yang sibuk dengan pekerjaannya di Jakarta.
Akhirnya, Anjani pergi ke dapur untuk membuat susu, dan meninggalkan handphonenya di dalam kamar. Dia ingin minum susu terlebih dahulu, sebelum dia tertidur dengan menunggu kabar dari suaminya, Abimanyu.
*****
Hari ini, haru yang dinanti-nanti oleh Anjani, karena suaminya akan pulang, jika sesuai dengan rencana sebelumnya.
Tin, tin!
Mobil memasuki halaman rumah, berhenti tepat di depan pintu masuk ke dalam rumah. Pengemudi tampak keluar dan ternyata itu adalah mama Amel. Dia datang sendiri dengan menyetir mobilnya tanpa supir.
"Mama Amel?" sapa Anjani dengan pandangan yang tidak percaya.
Anjani, tadinya mengira jika yang datang adalah suaminya. Memakai mobil ayah atau temannya, karena mobilnya ada masalah, tapi ternyata mama Amel yang datang. Mama Amel adalah mantan mertuanya, mamanya Elang Samudra, mantan suaminya, sebelum menikah dengan Abimanyu.
"Hai Anjani, apa kabar Kamu?" sapa mama Amel, berganti dengan tanya kabar mantan menantunya yang hanya bertahan selama satu tahunan hidup bersama dengan anaknya tanpa menjalani kehidupan berumah tangga yang sebenarnya.
__ADS_1
"Baik Ma. Mama sendiri apa kabar?" tanya Anjani, dengan memeluk mama Amel setelah menyalaminya.
"Kamu terlihat gemuk sekarang. Apa Kamu sedang..."
Mama Amel tidak melanjutkan kalimatnya, saat melihat senyum di wajah Anjani. Dia yang tadinya melihat ke arah depan, sekarang jadi mengalihkan perhatian matanya ke perut Anjani.
"Masih rata. Apa baru beberapa bulan atau minggu?" tanya mama Amel menduga-duga.
"Ah, Mama. Ini belum ada yang tahu dan Mama justru tahu terlebih dahulu, sebelum Anjani mengatakan apa-apa dan pada siapa-siapa, termasuk mas Abi," jawab Anjani sambil tersenyum-senyum malu.
"Jadi, Abimanyu belum tahu jika Kamu hamil? Memang kemana dia, dan kenapa Kamu tidak kasih tahu berita bahagia ini padanya?" Mama Amel, kaget saat dugaannya tadi benar, bahwa Anjani memang sedang hamil.
"Mas Abi sedang di Jakarta Ma. Rencananya, hari ini pulang ke Bogor. Makanya, tadi waktu Mama datang, Anjani pikir itu mas Abi, yang memakai mobil siapa gitu, tahunya Mama yang datang."
Anjani, menjelaskan pada mama Amel tentang keberadaan suaminya, dan juga mengatakan bahwa dia memang sengaja tidak mengabari suaminya itu saat masih berada di Jakarta. Dia ingin membuat kejutan saat suaminya itu pulang nanti. Tapi, kejutan justru datang dari mama Amel, yang datang dan bisa menebak keadaan dirinya.
"Oh, begitu ya. Hehehe... selamat ya Sayang. Kamu akhirnya jadi mama juga sebentar lagi. Semoga selalu sehat dan selamat sampai lahiran nanti."
Mama Amel, diajak duduk di ruang tamu, tapi menolak. Dia meminta Anjani menemani dirinya duduk di salah satu gazebo kafe miliknya. Dia ingin mengajak Anjani mengobrol dengan santai di sana, sambil menunggu kedatangan Abimanyu. Dia ada keperluan dengan Abimanyu, makanya dia datang sendiri ke Bogor, karena dia pikir Abimanyu sedang ada di rumah dan tidak berada di Jakarta. Dia memang tidak menghubungi Abimanyu terlebih dahulu, karena dia juga ingin datang dan ketemu dengan Anjani.
Akhirnya, mereka berdua berbicara tentang banyak hal tentang apa saja, termasuk tentang wanita hamil dan bagaimana rasanya ngidam.
Mereka juga membicarakan tentang obat-obatan dan jamu yang boleh di konsumsi bagi wanita hamil. Mama Amel, banyak memberikan nasehat-nasehat pada Anjani, agar berhati-hati dalam memilih makanan dan minuman karena sedang dalam keadaan mengandung.
Anjani, menanggapi perkataan dan semua nasehat dari mama Amel dengan tersenyum dan mengangguk. Dia berterima kasih atas kebaikan dan perhatian yang diberikan oleh mama Amel padanya, meskipun sekarang ini, dia bukan lagi menantu mama Amel. Tapi, apa yang dilakukan oleh mama Amel untuknya, itu sesuatu yang sangat berharga, karena banyak nasehat yang baik darinya.
__ADS_1
Anjani bersyukur, karena ada mama Amel yang masih mau memberikan beberapa nasehat dan juga peringatan agar tidak melakukan sesuatu yang membahayakan keselamatan kandungannya juga.