
Di Bogor, Anjani dan Abimanyu, sedang melakukan video call. Mereka saling sahut-sahutan melepas rindu.
..."Bunda, Ayah Anggi lulus lho!"...
..."Oh ya? Wah selamat ya Dek!"...
..."Hehehe... iya Yah, Bun. Makasih."...
..."Kakak bagaimana kandungannya? Sehat kan? Ngidam apa ini sekarang?"...
..."Hiks... Bun. Ara ngidam pengen Ayah dan Bunda di Jakarta. Bersama Ara di sini."...
Abimanyu dan Anjani, saling pandang. Mendengar perkataan anaknya yang sedang hamil cucu pertama mereka.
..."Yang bener Kak?"...
..."Iya Yah. Hiks... tapi kak Awan dan Anggi kan gak mungkin bisa langsung memenuhi ngidam Ara yang satu ini."...
"Yah. Bagaimana ini?" tanya Anjani, yang merasa kasihan jika Ara kenapa-kenapa juga. Di usia kehamilannya yang masih rentan.
Apalagi menurut Anjani, usia Ara juga masih terlalu muda untuk hamil.
Sayangnya, dari kedua belah pihak keluarga, tidak ada yang mencegah pasangan baru itu, Ara dan Awan, untuk menunda kehamilan terlebih dahulu. Karena mereka semua justru berharap agar, Ara segera hamil dan melahirkan generasi baru bagi kedua belah pihak keluarga besar mereka.
"Baiklah. Kita akan segera ke Jakarta besok." Abimanyu memberikan keputusan.
Tapi, perbicangan mereka berdua yang pelan-pelan, bisa didengar oleh Ara dan Anggi dengan jelas.
Sehingga tanpa sepengetahuan Abimanyu dan Anjani sendiri, kedua anaknya itu melakukan tos dengan cepat.
..."Apa Kakak bisa menahan diri, maksudnya, Ayah dan Bunda akan ke Jakarta nanti. Segera Kak!"...
Anjani melihat ke arah suaminya, saat selesai bicara seperti itu. Dia ingin memastikan, bahwa apa yang dia tanyakan pada anaknya itu disetujui oleh suaminya.
Dan Abimanyu pun mengangguk setuju. Dia akan segera ke Jakarta, demi cucunya. Yang masih berada di dalam kandungan anaknya pertamanya itu.
Saat video call sudah ditutup, Anjani memeluk pundak suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Mereka masih membutuhkan kita Yah."
Abimanyu mengangguk mengiyakan perkataan istrinya. Dia pun menepuk-nepuk punggung tangan istrinya itu, sambil tersenyum getir.
Sebenarnya, dia merasa sangat egois. Karena keinginannya untuk bisa hidup dengan tenang, dia mengabaikan perasaan orang-orang terdekatnya. Termasuk dengan anak-anaknya.
Meskipun mereka semua mengatakan tidak apa-apa, sekarang Abimanyu lebih menyadari. Jika dialah yang paling egois diantara mereka yang masih muda-muda. Yaitu anaknya, Ara dan Anggi.
Jika mereka berdua bisa melepaskan keegoisan sebagai seorang anak, dia yang sekarang ini justru tidak bisa bersikap dewasa.
__ADS_1
Abimanyu ikut merasa bersalah. Karena mengedepankan kepentingan dan kesenangannya sendiri. Dia merasa sangat egois. Bahkan dengan mengajak istrinya untuk pindah dan hidup seperti sekarang ini.
Padahal Anjani sudah bilang, jika dia akan selalu menjadi orang yang mendukung segala keputusan yang dia ambil.
Anjani tetap merasa sangat bahagia, asalkan dia tetap berada di samping suaminya.
Tapi, saat tadi mendengar perkataan Ara yang sedang dalam keadaan hamil. Keduanya sama-sama saling membuka diri. Menekan rasa egois diantara mereka berdua. Dan memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
Tadi Ara meminta pada ayah dan bundanya, jika akan ada supir yang menjemput mereka. Jadi, mereka berdua diminta untuk segera bersiap-siap.
*****
Di Jakarta, Ara dan Anggi saling berpelukan. Mereka akhirnya berhasil membuat ayah dan bundanya kembali ke rumah mereka ini.
Sebenarnya pagi tadi, Awan yang mengusulkan agar membuat sebuah alasan. Supaya kedua mertuanya itu mau kembali ke Jakarta.
Selain mereka semua memang mengkhawatirkan keadaan Abimanyu dan Anjani yang hidup sendiri jauh di Bogor sana, Awan juga sudah memiliki rencana untuk pengobatan untuk ayah mertuanya itu.
Itulah sebabnya, tadi Ara dan Anggi melakukan video call dengan kedua orang tuanya.
Memberikan beberapa alasan, yang mungkin saja bisa melunakkan hati ayahnya.
Dan benar saja, akhirnya yang direncanakan oleh mereka berhasil.
"Kamu gak jadi sekolah di Bogor Dek. Ayah dan bunda akan segera kembali ke sini."
Tapi karena kemarin-kemarin ayah dan bundanya ada di Bogor, dia pun tidak bisa membiarkan keduanya hidup sendiri di sana. Dia ingin menemani mereka berdua.
Namun, apa yang menjadi rencana hanyalah sebuah rencana. Bisa saja semua berubah, seiring dengan berjalannya waktu dan kesempatan yang ada.
Dan apa yang diusulkan oleh Awan, benar-benar mampu membuat ayahnya takluk. Sehingga mau pulang ke Jakarta.
Kabar gembira ini pun segera disampaikan oleh Ara kepada suaminya, yang sedang berada di kantor.
Saat ini, Awan sudah aktif dalam mengurus kantor. Bersama dengan ayahnya, Elang.
Awan pun mengatakan pada Ara, jika dia akan segera mengutus seseorang. Untuk menjemput ke-dua mertuanya itu sekarang juga.
Ara pun mengucapkan banyak terima kasih, atas perhatian yang diberikan oleh suaminya itu.
Setelah selesai memberikan kabar pada suaminya, Ara menghubungi eyangnya. Memberitahu pada mereka tentang kabar kepulangan ayah dan bundanya besok.
..."Yang bener Ra?"...
..."Iya Eyang. Saat ini, kak Awan sudah meminta seseorang untuk menjemput ayah dan bunda ke Bogor."...
..."Padahal Eyang baru saja mau menelpon ayah dan bunda mu nanti."...
__ADS_1
..."Ada apa memangnya Eyang?"...
..."Gak ada apa-apa. Eyang hanya kangen dengan mereka saja."...
..."Oh..."...
Dan setelahnya, berita tentang kepulangan Abimanyu dan Anjani ke Jakarta pun disampaikan lagi kepada Sekar.
Tapi kali ini, bukan Ara yang memberikan kabar tersebut. Tapi ayah Edi sendiri. Karena dia juga ingin menyampaikan sesuatu, pada anak perempuannya itu.
Itulah sebabnya, dia meminta pada Ara, agar tidak langsung memberitahukan pada tantenya, Sekar.
..."Iya Eyang. Tolong bilang pada tante Sekar ya Yang!"...
..."Iya-iya. Nanti Eyang yang bilang sama tante Sekar ya."...
Klik!
Ara kembali memeluk Anggi, dan mereka berdua sama-sama menangis karena bahagia.
*****
Berita baik pun tidak hanya ada pada keluarganya Ara. Tapi juga pada Dika.
Secara perlahan-lahan, Dika mulai bisa mengerakkan tangannya. Meskipun hanya sebatas menaik-turunkan tangannya.
Tapi ini adalah sebuah kemajuan untuk semua usaha yang dilakukan oleh orang-orang yang ada disekitarnya Dika.
Terutama Awan, yang sudah mengusahakan segala sesuatunya untuk kesembuhan dan kenyamanan yang dia butuhkan.
Karena untuk spikologisnya, Dika sangat memerlukan banyak hal. Tidak hanya sekedar perawatan dan pengobatan saja.
Orang yang merawat Dika pun mengucapkan banyak syukur, atas semua keberhasilan Dika ini.
"Den Awan harus segera diberitahu. Ini juga karena dia sering datang ke sini, mengajak mas Dika berbincang-bincang. Mengajaknya untuk bergerak. Yahhh... meskipun tidak setiap hari. Tapi apa yang dilakukan oleh den Awan benar-benar patut untuk dijadikan teladan."
Istrinya pak supir, mengangguk setuju. Dia sudah lama mengenal Awan. Karena dia juga ikut mengasuh anak majikannya itu, sewaktu masih kecil dulu.
Karena dia dan suaminya itu, memang sama-sama bekerja dengan keluarga Samudra sejak lama.
Perawat yang mengurus Dika, hanya menganggukkan kepalanya saja. Karena dia juga tahu, jika dirinya, di bayar oleh Awan. Sedangkan pasien yang dia rawat, yaitu Dika, hanya sebatas teman Awan saja.
Bahkan perawat tersebut juga tahu, jika keluarga Dika di masa lalu, adalah orang-orang yang telah berbuat tidak baik pada keluarga Samudra.
Dan yang paling terakhir kalinya adalah, penculikan papanya Dika, pada calon istri dan adik iparnya Awan sendiri.
Hal yang tidak mungkin bisa dimaafkan oleh orang lain. Untuk semua kejahatan yang sudah mereka lakukan selama ini.
__ADS_1
Tapi pada kenyataannya, Awan justru menjamin hidup Dika sampai saat ini.