
Awan tidak terpengaruh oleh beberapa aktivitas yang dilakukan oleh kedua orang, yang saat ini sedang berada di dalam kamarnya. Dia justru menarik selimutnya, supaya lebih nyaman saat meneruskan tidurnya.
"Lho Yu, kok malah narik selimut piye iki?" pak supir bertanya pada bibi pembantu rumah.
"Lah, tarik saja selimutnya den Awan," jawab bibi pembantu rumah, yang saat ini sedang merapikan beberapa buku yang berserakan di meja belajar Awan.
"Mengko nesu piye Yu, den Awan nya?" tanya pak supir lagi, yang merasa takut, jika tuan mudanya itu akan marah kepada dirinya nanti.
"Lah terus bagaimana?" bibi pembantu rumah balik bertanya pada pak supir.
Keduanya merasa sangat bingung, karena Awan tidak juga bangun dari tidurnya.
Tut
Tut
Tut
Handphone milik Awan berbunyi, tanda jika ada panggilan masuk untuknya. Dan ternyata, bunyi dari nada dering handphone miliknya membuat Awan mengeliat dan tidak lama kemudian, terbangun sambil mengucek-ngucek mata.
"Mana handphone?" tanya Awan, sambil mencari-cari keberadaan handphone miliknya.
"Lho Pak, Bi. Ada apa kalian berdua di kamarku?" tanya Awan, yang merasa heran dengan keberadaan kedua orang itu di kamarnya saat ini.
"Bangunin den Awan," jawab bibi pembantu rumah, yang juga diiyakan oleh pak supir.
"Betul den Awan. Kami berdua sudah berusaha untuk membangunkan den Awan sedari tadi. Tapi ternyata, bunyi dari handphone yang justru membuat den Awan terbangun."
Jawaban yang diberikan oleh pak supir, kembali menyadarkan Elang dengan keberadaan handphone miliknya yang tadi dia cari-cari.
"Oh iya, handphoneku!"
Awan, kembali mencari keberadaan handphone miliknya. Dia ingin tahu, siapa yang menghubunginya pagi-pagi sekali.
Setelah menemukan handphone miliknya, Awan segera mencari tahu, panggilan terakhir kali, karena panggilan Yadi sudah terputus secara otomatis, karena tidak segera dia terima.
Ternyata, panggilan telpon tersebut dari salah satu teman sekolahnya, yang tadi mengirim pesan juga.
__ADS_1
Temannya itu mengingatkan pada Awan, supaya berangkat ke sekolah lebih pagi, karena mereka bertugas untuk menjaga tes beasiswa untuk anak-anak SMP.
"Ah, Aku lupa!"
Awan menepuk jidatnya sendiri, karena lupa dengan tugas yang diberikan oleh OSIS SMA yang dia ikuti.
Sekarang, dengan cepat Awan berlari ke arah kamar mandi. Dia bergegas mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Tak kurang dari sepuluh menit kemudian, Awan sudah tampak berganti pakaian. Sedang pak supir dan bibi pembantu, sudah tidak ada lagi di dalam kamarnya.
Awan, berjalan keluar dari kamar dengan tergesa. Dia segera menemui pak supir, untuk mengantar dirinya ke sekolah.
"Pakai motor saja Pak, biar cepat dan bisa lewat jalan sempit dan gang perkampungan!"
Awan memberikan perintah pada pak supir, untuk memakai motor saja, dari pada memakai mobil.
Awan berpikir jika lebih cepat sampai ke sekolah dengan motor, dibandingkan dengan memakai mobil. Dan Awan, justru yang membonceng pak supir.
Dia yang berada di depan, karena menganggap bahwa pak supir akan lamban dalam menjalankan motornya. Sedangkan dirinya, akan lebih cepat lagi, karena melaju dengan kecepatan tinggi.
Meskipun sebenarnya itu tidak diperbolehkan, apalagi Awan juga belum memiliki SIM untuk mengemudi motor ataupun mobil. Tapi dua sudah seorang seorang pengemudi yang handal diusia yang belum seharusnya.
"Tapi hujan Den," kata pak supir memberitahu Awan.
"Hujannya masih air kan, gak uang logam?" Awan bertanya dengan nada bergurau.
"Hehehe... iya Den," jawab pak supir sambil terkekeh sendiri.
"Tidak sarapan dulu Den?" tanya bibi pembantu, yang kaget karena melihat Awan, berjalan dengan cepat menuju ke arah motor yang sudah disiapkan oleh pak supir.
"Makan di kantin Bi!" jawab Awan dengan berteriak, karena dia sudah berada di luar rumah.
Bibi pembantu hanya bisa menggeleng mendengar jawaban dari tuan mudanya itu. Dia merasa sia-sia karena sudah bersusah payah, untuk menyediakan sarapan lebih pagi lagi dari pada kemarin.
Di jalan, Awan melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup mengkhawatirkan. Pak supir harus memejamkan mata, supaya tidak iku terbang karena merasa ketakutan. Apalagi, dia juga mengunakan mantel hujan yang berbentuk kelelawar.
Awan harus mengejar waktu, karena biasanya, dia harus mengunakan satu setengah jam untuk bisa sampai di sekolah. Ini karena keadaan jalanan Jakarta yang tidak sama seperti kota lain. Makanya, letak yang sebenarnya tidak terlalu jauh, jadi terkesan jauh, karena keadaan dan tata letak fasilitas jalan serta perumahan-perumahan kota Jakarta. Apalagi jika sedang turun hujan seperti pagi ini.
__ADS_1
Dan saat ini, waktu yang dia butuhkan untuk bisa sampai ke sekolah hanya tinggal tiga puluh menit. Dia tidak boleh terlambat lebih dari lima menit. Atau dia akan tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam sekolah, oleh pak security sekolah yang berbadan besar.
Kurang dari dua menit, Awan sampai di depan gerbang sekolah. Dia segera mematikan mesin motornya, kemudian turun. Awan melepas jaket parasut yang dia pakai, kemudian diberikan kepada pak supir yang masih duduk di bangku belakang dengan memejamkan mata.
"Pak, sudah sampai. Ini jaket nanti di jemur ya di rumah. Ini kunci motornya juga. Cepat balik ya!"
Awan menepuk pundak pak supir, agar membuka matanya. Dia segera berlari masuk ke dalam dan melambaikan tangan kepada pak supir yang sudah membuka matanya, meskipun masih dalam keadaan pucat dan juga deg-degan.
"Haduh den Awan. Bapak pikir, malaikat pencabut nyawa tadi yang memanggil bapak supaya membuka mata," kata pak supir dengan menghela nafas panjang.
Akhirnya, pak supir kembali ke rumah dalam keadaan lega. Karena dia akan bisa menjawab pertanyaan tuan besarnya, ataupun nyonya besarnya juga. Yaitu mama Amel ataupun Elang, ayahnya Awan.
Awan tiba di dalam kelas, saat bel sekolah berbunyi. Dia segera duduk di bangkunya, dan ber_tos ria dengan kawan-kawan se_geng nya juga.
"Gue pikir loe gak masuk Bro!" ucap salah satu dari kawan Awan.
"Telat bangun gue." Awan menjawab pertanyaan dari kawannya, sama seperti apa yang memang terjadi.
"Hu... pasti tidak ada yang membangunkan dirinya. Hahaha... kalau gue, mending tidur saja lagi!" ucap kawannya yang lain lagi.
"Itu sih emang kerjaan loe!" sahur Awan cepat, sambil menepuk jidat kawannya tadi.
"Hahaha..."
Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak, karena memang kawan Awan yang satu ini, suka tidur, meskipun otaknya tidak bisa ditidurkan.
Jadi kawan-kawan Awan, juga siswa-siswa yang cerdas, dengan kemampuan mereka masing-masing.
Mereka ada di sekolah tersebut, bukan karena hanya mampu membayar biaya sekolah yang mahal, tapi juga otak mereka memang mampu bersaing dengan siswa siswi yang lainnya juga.
"Good morning!"
Guru masuk ke dalam kelas, dan mengucapkan selamat pagi pada murid-muridnya. Satu kelas di dalam ruangan sekolah ini, hanya ada lima belas orang saja. Jadi, guru benar-benar bisa memantau perkembangan anak-anak didiknya.
"Morning to Miss!"
Siswa siswi menjawab ucapan selamat pagi dari guru mereka.
__ADS_1
Di sekolah ini, para guru dipanggil dengan sebutan Miss dan Mr. Hal yang sudah biasa untuk sebuah yayasan sekolah bertaraf internasional.