Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Potongan Kue


__ADS_3

Ara dan kedua orang tuanya, masih dalam keadaan menangis penuh keharuan dengan saling memeluk. Anggota keluarga yang lain, juga ikut menitikkan air mata haru, karena ikut merasa bahagia dan hanyut dalam suasana.


Anggi tidak mau ketinggalan. Dia berlari dari arah tempatnya tadi berdiri, menubruk Ara dan kedua orang tuanya, untuk ikut memeluk mereka bertiga.


Miko juga ikut-ikutan, tapi tidak ikut memeluk. Dia hanya berdiri di dekatnya Anggi. Sedangkan Nanda, yang dulu di waktu kecilnya ikut bersama dengan keluarga Ara, hanya bisa menghela nafas panjang, menahan air matanya agar tidak ikut menetes.


Sebenarnya, Nanda terasa sesak di dada. Tenggorokannya juga terasa penuh, sehingga sulit untuk berbicara. Itulah sebabnya, dia hanya bisa diam, menahan semua perasaan yang ada sekarang ini.


"Kak Ara, kuenya. Miko mau, atau Miko aja yang potong-potong?"


Tiba-tiba, suasana haru itu pecah dengan perkataan Miko yang tidak tahu keadaan. Tapi ini justru membuat mereka semua tertawa senang, karena keluguan Miko yang masih kecil.


"Miko, hahaha..."


Tawa Sekar tidak bisa dia tahan. Begitu juga dengan suaminya, Juna. "Ah, itu si Miko, ngaco dia!" ujar Juna, menyesali perbuatan anaknya sendiri.


"Hihihi... lucu banget sih dia!" ucap Yasmin menutup mulutnya, dengan satu tangannya, sedangkan tangan yang satunya lagi, mengelus-elus perutnya yang terasa keras, karena gerakan bayi yang ada di dalam perutnya itu.


"Hahaha... Miko-miko," ujar ayah Edi, yang juga tidak bisa membendung tawanya.


Begitu juga dengan ibu Sofie. Dia ikut tertawa senang, mendengar perkataan dari cucunya, Miko yang terkenal usil.


Anjani dan Abimanyu, hanya bisa tertawa kecil, karena sedari tadi, Miko memang sudah ingin memotong kue ulang tahun untuk Ara.


"Itu kue kak Ara Miko. Kamu kan udah makan juga tadi, nyicipin yang lain. Bentar dulu Napa? makan aja mulutnya!" Anggi berkata dengan kesal, karena dia juga sudah berebut dengan Miko, soal kue ulang tahun Ara, sedari pulang sekolah.


Miko tidak menggubris perkataan Anggi. Dia menarik tangan Ara, agar segera ke tempat kue ulang tahun, yang ada di meja, di depan tempat duduk Sekar dan Juna, mama dan papanya Miko.

__ADS_1


Ara yang belum bisa mengatakan apa-apa, hanya tertawa-tawa senang, dengan air mata yang masih menetes. Dia mengikuti langkah Miko, dengan tangannya yang sedang ditarik paksa oleh sepupunya itu.


"Ayo Kak potong!" kata Miko lagi, yang memang sudah tidak sabar, untuk bisa menikmati kue buatan Anjani. Dia juga mengambilkan pisau kue untuk Ara, agar segera memotong-motong kue tersebut.


Anggi tidak mau kalah. Dia segera mempersiapkan dirinya di posisi samping kakaknya itu, di sisi lain. Dia tidak mau jika, potongan kue-kue itu akan dihabiskan Miko sendiri. Dia tidak mau jika itu sampai terjadi.


"Eh, eh, jangan berebut Sayang. Nanti, kuenya eyang ambil sendiri untuk kak Nanda lho," ucap ibu Sofie, yang mencoba untuk menenangkan kedua cucunya itu, supaya tidak menganggu Ara, yang belum berdoa dan meniup lilinnya.


"Sekarang, kita berdoa saja dulu ya Sayang. Cucu-cucu Eyang yang cantik dan ganteng. Gak berkah kuenya, jika tidak berdoa terlebih dahulu." Ayah Edi, mengingatkan kedua cucunya itu, agar ikut berdoa bersama-sama, untuk kebahagiaan kakak mereka, Ara.


Keduanya, Anggi dan Miko, mengangguk mengiyakan perkataan eyang kakung mereka. Sekarang, mereka mengikuti cara orang-orang yang lebih dewasa, untuk ikut berdoa, yang dipimpin oleh yah Edi, sebagai orang yang lebih tua diantara mereka semua.


Ayah Edi pun berdoa untuk keselamatan dan kesehatan cucunya itu, Ara, dengan diamini oleh semua orang, termasuk Anggi dan juga Miko, yang masih saling lirik-lirikan, dengan menatap ke arah kue ulang tahun.


Setelah selesai berdoa, lilin yang sudah dinyalakan segera ditiup oleh Ara dengan tepuk tangan semua orang yang ada di rumahnya.


Anggi dan Miko, juga bersemangat saat bertepuk tangan, karena mereka berdua tahu, jika setelah ini, kue tersebut akan dipotong-potong dam mereka berdua ingin mendapatkan potongan yang lebih besar dari pada yang lainnya.


"Kak, Anggi juga ya. Awas kalau cuma Miko yang dikasih gede! pokoknya Anggi yang paling gede!" Anggi ikut juga meminta pada kakaknya itu, supaya diberikan potongan yang lebih besar dari pada yang lain, termasuk potongan kue untuk Miko. Bahkan, Anggi juga mengancam Ara.


Tapi Ara tidak menggubris semua perkataan adik-adiknya itu. Dia memotong kue tersebut untuk pertama kalinya, dan langsung dia bawa ke hadapan Anjani.


Ara menyuapi bundanya itu, dengan potongan kue yang pertama kali, kemudian setelah Anjani menggigit kue tersebut, Ara ganti menyuapi ayahnya, Abimanyu.


"Terima kasih Bunda, Ayah, yang sudah menjadi orang tua Ara yang paling hebat."


Ara mengucapkan kalimatnya itu, dengan mata berkaca-kaca menahan air mata, supaya tidak menetas lagi. Meskipun pada akhirnya tetap saja, air mata itu menetes dengan sendirinya. Isakan tangisnya juga tidak bisa dia tahan, meskipun sebenarnya itu adalah tangisan kebahagiaan, di hari ulang tahunnya.

__ADS_1


Anjani dan Abimanyu, memeluk anaknya itu, Ara, secara bersamaan. Sambil mengucapkan rasa syukur dan terima kasih, atas semua yang sudah mereka lalui selama ini.


Karena menuggu lama, Miko dan Anggi tidak sabar, untuk bisa mendapatkan potongan kue tersebut, akhirnya mereka berdua memotong sendiri, untuk diri mereka sendiri.


"Aduh-aduh, kalian berdua ya. Sini-sini, Eyang bantu!"


Melihat kedua cucunya berebut, ibu Sofie mengambil tindakan untuk membantu keduanya, memotong-motong kue untuk mereka.


Dan setelah itu, mereka berdua, pergi untuk duduk di dekat Sekar, agar bisa menikmati kue tersebut.


Tapi Anggi tidak mau duduk di dekat Miko, sehingga dia lebih memilih untuk duduk di dekat Yasmin, yang ada Nanda juga di sana.


"Anggi, sini!"


Teriak Miko, memanggil Anggi, supaya duduk di dekatnya.


"Gak mau. Aku mau duduk dekat kak Nanda aja. Biar nanti di bonceng motornya. Kan bisa foto tuh, kayak yang ada di tipi-tipi. Weee!"


Keduanya justru berdebat mengenai tempat duduk. Dan ini membuat Nanda gemas, untuk tidak mencubit pipinya Anggi.


"Aduh! sakit Kak!"


Anggi berteriak sambil memegang pipinya, yang dicubit oleh Nanda. Sedangkan Miko, tertawa senang, melihat Anggi yang sedang ngambek, karena pipinya kena cubitan.


"Awas ya Miko, jangan ngeledek Anggi. Nanti Kakak cubit juga pipi gembul Kamu!" Teriak Nanda dari tempat duduknya yang ada di dekat Anggi.


Miko segera menutupi kedua pipinya, mengunakan kedua telapak tangan, agar tidak dicubit oleh Nanda.

__ADS_1


Sedangkan yang lainnya, melanjutkan acara ulang tahun Ara, dengan makan dan minum, sambil berbincang-bincang.


Dan keluarga dari bos Abimanyu, keluarga mama Amel, baru saja memasuki halaman rumah. Mereka datang terlambat, karena harus menunggu kedatangan Elang, yang pagi tadi, ada urusan ke kantor bea cukai, bersama dengan pegawainya, mengurus beberapa hal, untuk perusahaan mereka.


__ADS_2