
Liburan ke rumah Abimanyu dan Anjani, yang akan dilakukan oleh Anggi bersama dengan kedua kakaknya, di dengar oleh Miko.
Miko mendengarnya dari Anggi sendiri. Sehingga dia pun ingin ikut ke sana juga.
Dia pun mengatakan keinginannya itu pada mamanya, Sekar. "Ma. Liburan ini Miko ikut kak Ara ke Bogor ya!"
"Eh... gak bisa. Kakak lupa ya, kan Kakak harus daftar sekolah yang baru. Terus mama juga urus sekolah adik. Papa juga rencananya mau ajak kita pulang ke rumah simbah."
Simbah adalah kedua orang tuanya Juna. Karena jika untuk kedua orang tuanya Sekar, Miko memangilnya dengan sebutan Eyang.
Miko pun mengerucutkan bibirnya, karena tidak diijinkan untuk ikut bersama keluarga Ara ke Bogor.
Padahal, dia sangat merindukan bundanya Jani. Yang selama ini sering kali memberinya kue-kue buatan sendiri. Juga masakan bundanya Anggi itu sangat enak.
"Kamu berdoa saja. Semoga, kak Ara ataupun kak Awan, berhasil membujuk ayah Abi dan bunda Jani pulang lagi ke Jakarta."
Miko langsung berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah dapur. Di mana mamanya sedang mengerjakan pekerjaan dapur. Bersama dengan bibi pembantu rumah.
"Beneran Ma?"
"Ayah Abi dan bunda Jani akan pulang ke rumah Jakarta ini?" Miko sangat antusias, mendengar perkataan yang diucapkan oleh mamanya barusan.
"Iya Kak Miko. Tapi Kakak harus berdoa dengan sungguh-sungguh. Biar ayah Abi dan bunda Jani mau pulang, dan berobat ke dokter spesialis. Ya!"
"Yes! Ok Ma. Miko pasti berdoa terus untuk kepulangan ayah Abi dan bunda Jani Ma."
Sekarang, Miko duduk di depan mamanya. Dia memperhatikan bagaimana cara mamanya itu memotong-motong sayuran.
"Ma. Kalau sekolah yang bisa pintar memasak di mana?"
Tiba-tiba, Miko mengajukan pertanyaan kepada mamanya, tentang sekolah kejuruan untuk memasak.
Miko ingin mencoba sesuatu, yang dikuasi oleh Ahmed. Yaitu bidang kuliner.
Apalagi, dia juga suka dengan makanan yang enak. Tidak ada salahnya, dia meneruskan hobinya itu bukan hanya sekedar menikmati makanan saja. Tapi cara pembuatan, meraciknya dan memasaknya juga. Hingga bahan-bahan makanan tersebut bisa dinikmati sebagai makanan yang memang enak secara keseluruhan.
"Kamu mau jadi koki?" tanya Sekar, menjawab pertanyaan dari anaknya.
__ADS_1
Miko mengangguk mengiyakan pertanyaan tersebut. Dia memang belum pernah mencoba untuk memasak apapun.
Tapi dia sangat senang, saat masih kecil dulu, di saat melihat dan ikut menunggui Anjani memasak.
Bau harum dari makanan dan kue yang dihasilkan, membuatnya selalu ingin menikmati makanan yang enak-enak.
"Kenapa pengen jadi koki? kan Miko cowok," tanya Sekar lagi.
"Itu di TV banyak koki cowok. Bahkan, acara memasak jurinya juga cowok Ma. Yang chief... apa itu lho Ma!"
Sekar mengangguk mengiyakan perkataan anaknya. Karena memang ada benarnya juga, apa yang dikatakan oleh Miko saat ini.
Hotel-hotel dan restoran besar, kokinya juga kebanyakan cowok.
Karena pekerjaan menjadi koki tidak sekedar memotong wortel, mengupas bawang, atau membuat adonan.
Chef works in a high-pressure condition. Tuntutan yang dimiliki oleh seorang koki bisa dari jumlah makanan yang harus mereka sajikan, kualitas rasa yang tidak boleh berubah, penyajian yang menarik dan classy, atau bertanggung jawab untuk memegang nama baik restaurant di mana dia bekerja. Hal-hal ini membutuhkan ketajaman etos kerja yang tinggi.
Karena pekerjaan berat tersebut, dapur tempat koki bekerja tidak bisa dibandingkan dengan dapur para ibu-ibu memasak di rumah. It’s an aggressive work place. Selain itu, bekerja sebagai koki dituntut untuk tidak memiliki begitu banyak waktu untuk bersosialiasi.
Sekar hanya bisa memberikan beberapa penjelasan pada Miko. Jika dia ingin sesuatu, apalagi untuk masa depannya nanti, harus dilakukan secara serius. Dengan berusaha keras untuk bisa mewujudkannya.
"Iya Ma. Kan untuk sekolah kejuruan masak masih tingkat SMA. Masih ada tiga tahun lagi. Miko bisa ikut belajar Mama, atau pada Bunda Jani, jika dia pulang nanti."
"Katanya, si Ahmed, yang teman Anggi dari Arab itu lho Ma. Dia juga belajar bikin kue pada bunda Jani kok."
Sekar mengangguk mengiyakan. Karena dia juga tahu, jika Ahmed adalah pengusaha kuliner khas timur tengah. Yang belajar membuat kue-kue Indonesia dari kakak iparnya, Anjani, sewaktu berada di Amerika sana.
*****
Ayah Edi dan ibu Sofie, baru saja datang dari kantor umroh dan haji.
Mereka berdua mendapat kepastian untuk berangkat haji tahun ini. Dan karena mereka menggunakan pendaftaran haji furoda, maka mereka berdua akan segera berangkat ke tanah suci Mekkah tahun ini juga.
Haji Furoda adalah program Ibadah haji khusus dengan kemudahan tanpa harus antri, dan kemudahan-kemudahan yang diberikan bagi para jamaah dalam melaksanakan ibadah haji.
Visa haji furoda disebut juga sebagai visa mujamalah atau haji tanpa antre dan dapat dikatakan juga sebagai haji tanpa quota.
__ADS_1
Namun pastinya, biaya yang harus dikeluarkan juga tidak sedikit.
"Ayah. Kita harus kasih tahu Abi dan Anjani. Biar mereka tahu, kita akan segera berangkat haji untuk tahun ini."
"Biar mereka pulang juga. Atau mereka mau ikut haji juga, biar daftar yang sama seperti kita. Kan gak perlu nunggu antrian panjang dan lama Yah."
"Siapa tahu, dengan mereka berhaji, ada kebaikan dan Abimanyu juga bisa sehat lagi Yah."
Ayah Edi mengangguk mengiyakan, semua perkataan yang diucapkan oleh istrinya. Dia tahu jika, apa yang dikatakan oleh istrinya itu ada benarnya juga.
Sudah waktunya untuk meningkatkan ibadah mereka di hari tua. Karena semua permalasahan hidup ini, akan semakin besar. Bukan semakin sedikit.
Meskipun usia semakin berkurang. Bukan berarti semua permalasahan juga berkurang. Karena semakin bertambah usia seseorang, semakin bertambah juga tangung jawab dan permasalahan yang dihadapi.
Berbeda dengan anak-anak. Yang tidak harus memikirkan banyak hal, karena mereka adalah tangung jawab orang tuanya.
Sedangkan untuk orang tua itu sendiri. Bertanggung jawab atas anaknya, dirinya dan juga orang-orang yang memang menjadi tanggung jawabnya.
Misalnya orang tuanya, mertuanya atau orang-orang lain yang sudah ditetapkan untuk diambil tangung jawabnya. Karena ada beberapa orang dewasa yang menanggung biaya kehidupan keluarganya yang lain, dengan beberapa sebab juga.
Misalnya orang yang ditanggung itu karena tidak bisa bekerja lagi, yatim-piatu, atau orang tua jompo dari pihak keluarga yang tidak memiliki anak.
Kehidupan ini begitu kompleks. Dengan semua permalasahan dan juga cara untuk mengatasinya.
Tergantung dari orang tersebut menilainya dari sudut pandang mereka masing-masing. Tapi memang harus dipertimbangkan dalam keadaan seperti apapun juga. Demi kebaikan bersama.
"Yasmin apa harus balik Jakarta juga Yah?" tanya ibu Sofie, mengingat bahwa, anaknya itu yang berada di luar kota. Dengan jarak yang cukup jauh.
Berbeda dengan Abimanyu yang berada di Bogor. Masih bisa di bilang dekat, jika hanya ingin ke Jakarta saja.
"Terserah dia bagaimana baiknya Bu. Yang penting, kita kabari saja."
Ayah Edi, menyerah keputusan pada anak-anaknya. Karena mereka juga sudah memilki kehidupan dan tangung jawabnya sendiri-sendiri.
Meskipun sebenarnya setiap orang tua, bisa dipastikan jika ingin sekali dekat dan bisa melihat anak-anak mereka.
Karena orang tua akan selalu menganggap anak mereka itu kecil. Dan membutuhkan mereka. Padahal, anak-anaknya itu juga sudah dewasa dan menjadi orang tua juga.
__ADS_1