Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tiba Di Jakarta


__ADS_3

Di jalanan Bekasi.


Ternyata, mobil yang dikendarai oleh Aksan, bannya kempes. Itulah sebabnya, dia bisa sampai di rumah mertuanya, tepat sesuai dengan waktu tempuh yang biasanya.


Untungnya, anaknya yang masih belum genap lima tahun itu tidak rewel, karena tertidur. Dan anaknya itu, akan tidur dengan antengnya, selagi perutnya terasa kenyang.


Justru Yasmin yang tampak gelisah. Dia bolak-balik melihat jam tangannya, dan juga layar handphone yang dia pegang.


"Mas, masih lama ganti bandnya? Jika gak bisa, cari montir aja sih!" ujar Yasmin, dengan wajah gelisah.


"Bisa Ma. Bentar lagi ini. Kamu tenang ya," sahut Aksan, yang sedang berusaha untuk mengantikan ban mobilnya.


Ban yang kempes, sudah selesai di lepas oleh Aksan. Sekarang, ganti ban pengganti, yang akan dipasang.


Dan tentunya, itu membutuhkan waktu serta kehati-hatian, agar bisa tetap dalam memasangnya.


Ini juga diperlukan untuk keselamatan mereka sendiri, sebagai pengendara dan pengguna kendaraan.


Sepuluh menit kemudian, ban beres dipasang. Aksan menepuk-nepuk tangannya sendiri, untuk membersihkan debu yang ada di telapak tangannya.


"Sini Pa, pakai air minum ini aja buat cuci tangan!"


Yasmin memposisikan botol air mineral, untuk mencuci tangan suaminya, supaya bersih.


Setelah dirasa cukup bersih, Aksan mengelap tangannya yang basah, dengan tissue yang diberikan Yasmin padanya.


"Yuk!"


Sekarang, mereka sudah siap lagi, untuk berangkat ke rumah ayah Edi.


Menyambut kedatangan Abimanyu dan keluarga. Karena mereka memang sudah sangat lama tidak bertemu.


*****


Keluarga mama Amel, juga sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, untuk menyambut kedatangan Awan.


Anak dan cucu satu-satunya, di keluarga Samudra.


Mereka semua, termasuk para pekerja yang ada di rumah, ikut merasakan kebahagiaan para majikannya itu.


Mereka, adalah para pekerja lama, yang tentu saja, sedikit banyak tahu, apa dan bagaimana keadaan keluarga majikannya selama ini.


Dan sekarang, mereka sedang menunggu kedatangan Awan, yang akan datang ke Jakarta, dalam rangka rencana untuk pertunangannya dengan Ara.


Anak dari mantan istrinya tuan muda mereka, Elang Samudra.

__ADS_1


Para pekerja lama, di rumah mama Amel, memang sudah tahu jika, calon istrinya Awan, adalah anaknya Anjani. Wanita yang dulunya pernah menjadi istri dari ayahnya Awan.


Tapi, jodoh keduanya tidak bisa bertahan lama. Dan kini, jodohnya dilanjutkan oleh kedua keturunan mereka masing-masing.


"Kadang, nasib dan segala perjalanannya itu aneh dan penuh misteri ya?"


Tanya salah satu bibi pembantu rumah, yang ada di rumah mama Amel.


"Iya. Mantan istri jadi besan. Begitu juga sebaliknya. Hemmm... gimana rasanya ya?" sahut yang lain, dengan memberikan sebuah pertanyaan, yang sulit untuk dijabarkan juga oleh yang lainnya.


"Hehehe... aku tuh gak bisa ngebayangin. Bagaimana bisa ya kok jadi aneh gitu sih?"


Yang lain juga ikut-ikutan menimpali. Jawaban dan pertanyaan, yang mereka miliki, juga semuanya sama pada intinya.


Merasa aneh dan tidak masuk akal untuk dipikirkan oleh mereka semua.


"Gak usah dipikirkan. Lagian,. bundanya neng Ara, hanya istri wasiat dan pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan oleh den Elang pada waktu itu."


"Yahhh... begitulah kira-kira permainan nasib. Siapa juga yang tahu, apa dan bagaimana kedepannya nanti." Lanjut orang tersebut mengatakan, apa yang dia ketahui.


Yang lain pun mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh salah satu temannya, yang mungkin tahu lebih banyak, tentang keadaan dan jalan cerita yang dialami oleh Elang dengan Anjani.


Sekarang, mereka semua diam dalam pikiran mereka masing-masing. Memikirkan tentang nasib mereka sendiri, yang tentunya juga banyak lika-likunya.


Karena sesungguhnya, kehidupan seseorang, tidak pernah ada yang bisa menyangka, dan juga merencanakan.


*****


Keluarga Abimanyu, dan juga Awan, baru saja tiba. Mereka semua, menuju ke pintu keluar. Karena mama Amel dan papa Ryan, juga Elang, sudah siap ada di sana, untuk menjemput mereka.


Keluarga Ayah Edi, memang tidak ada yang menjemput Abimanyu dan keluarganya. Ayah Edi hanya di minta untuk melakukan penyambutan di rumah, karena mama keluarga Awan, akan datang sekalian ke rumah mereka, untuk mengantar Abimanyu bersama dengan istri dan anak-anaknya.


Maksud dari semuanya itu adalah, papa Ryan tidak mau kebanyakan acara untuk membicarakan tentang acara besoknya lagi.


Acara pertunangan antara Awan dan Ara, yang akan dilakukan dua hari ke depan nanti.


Saat kedatangan mereka inilah, akan dibicarakan juga untuk detail acara besoknya. Dan ini karena Abimanyu, tidak ingin ada acara yang terlalu besar dan meriah juga.


Mengingat bahwa, waktunya juga tidak memungkinkan. Sedangkan Awan dan Abimanyu sendiri, harus sudah kembali ke Amerika, di minggu-minggu ini juga.


"Awan!"


Mama Amel memeluk cucunya itu, dengan berderai air mata haru.


Padahal, mama Amel juga seringkali datang ke Amerika, untuk menjenguk Awan. Baik datang seorang diri, atau bersama dengan papa Ryan, dan anaknya, Elang.

__ADS_1


Tapi, begitulah mama Amel. Tetap saja, dia selalu merasa sangat bahagia, jika bisa bertemu lagi dengan cucunya.


Setelah puas memeluk Awan, sekarang ganti menyapa Anjani dan anak-anaknya.


"Anjani, Ara, Anggi," sapa mama Amel, mengabsen istri dan anak-anaknya Abimanyu.


Mereka semua, jadi berpelukan secara bergantian.


Begitu juga dengan Awan dan ayahnya, Elang. Papa Ryan dengan Abimanyu, dan berganti antara Elang dengan Abimanyu juga.


Setelah semua sudah selesai saling berpelukan dan sama-sama lega, karena diberikan kelancaran dan kemudahan dalam perjalanan mereka ke Indonesia, kini mereka semua menuju ke tempat mobil di parkiran.


Ada tiga mobil yang datang menjemput.


Satu dikemudikan sendiri oleh Elang, sedang dua yang lain, dikemudikan oleh dua orang supir.


Barang-barang bawaan mereka, sudah masuk ke dalam bagasi mobil. Dan kini, tinggal mereka semua yang masuk, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Abimanyu.


Rumah Abimanyu, sudah dibersihkan dan dibereskan, dengan diatur sedemikian rupa oleh ayah Edi dan Juna, suaminya Sekar.


"Bun, Yah. Tante Yasmin baru saja sampai juga katanya."


Tiba-tiba, Ara memberikan kabar tentang keadaan yang ada di rumah eyangnya.


"Lho, harusnya kan udah dari beberapa jam yang lalu mereka datang."


Abimanyu bertanya, dengan heran, atas apa yang dikatakan oleh Ara tadi.


"Katanya, mobil Om Aksan kempes. Jadi harus ganti ban juga di jalan. Tapi itu pas kejadian mereka udah sampai di Bekasi kok," ujar Ara, memberitahu tentang apa yang dialami oleh mamanya Nanda, Yasmin.


"Tapi sekarang mereka udah ada di rumah kan Kak?" tanya Anjani, memastikan jika, adik iparnya itu baik-baik saja.


"Iya Bun. Udah kok," jawab Ara, dengan tersenyum.


"Syukurlah." Ucap Anjani lega.


"Alhamdulillah kalau begitu," ucap Abimanyu juga.


Anggi, hanya diam saja Sedari tadi. Entah apa yang saat ini sedang dia pikirkan.


"Miko dan Kak Nanda ada kan di rumah?"


Tiba-tiba, setelah semuanya saling diam, Anggi bertanya tentang sepupunya, Miko dan Nanda.


"Dek. Yang mau ditanyakan itu Miko atau kak Nanda?" tanya Ara, memastikan.

__ADS_1


"Hehehe..."


Anggi justru terkekeh sendiri, karena dia sengaja iseng untuk bertanya. Karena sedari tadi, tidak ada yang membahas mengenai Miko, atau Nanda.


__ADS_2