Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kebetulan Dan Keberuntungan


__ADS_3

"Kak. Ma_maaf."


"Ma_maaf untuk yang kemarin."


Ara berkata dengan susah payah, untuk mengeluarkan suaranya, yang terputus-putus dalam kalimat yang terjeda juga.


Tapi karena mereka berdua, Ara dan Nanda, dalam keadaan perjalanan ke sekolah, tentu saja, Nanda tidak bisa mendengar suaranya Ara.


Suara Ara juga tidak terdengar dengan jelas, karena tertelan oleh bising suara kendaraan yang sama-sama ada di jalan raya. Apalagi, Nanda juga memakai helm, yang tentunya tidak akan bisa mendengar suara luar dengan baik.


Karena Nanda diam dan tidak menyahuti perkataannya, Ara akhirnya diam, dan tidak melanjutkan kalimatnya. Dia akan mengulang lagi, permintaan maafnya, saat tiba di parkiran motor nanti.


Pada saat berada di persimpangan jalan dan ada lampu merah, Nanda menoleh ke arah belakang, di mana Ara duduk di belakangnya.


Mungkin dia tadi mendengar perkataan Ara, dengan samar-samar, sehingga dia bertanya, "Ra, Kamu ngomong apa tadi?" dengan suara yang cukup keras.


Ara yang mendengar pertanyaan tersebut, hanya menggeleng saja, karena tidak mungkin juga bisa menjawab dengan baik, di saat lampu lalu lintas sudah kembali menyala hijau.


Begitulah akhirnya. Nanda pun melajukan kembali motornya, untuk bisa sampai di sekolah.


Setelah beberapa lama kemudian, motor Nanda berhenti di tempat parkir motor warung Pak Lek.


Ara turun, begitu motor berhenti dan menyerahkan helm yang dia kenakan pada Nanda.


"Kak," panggil Ara, saat Nanda memasukkan kunci sepeda motornya ke dalam saku celana seragam sekolahnya.


"Kakak mau sarapan sebentar di warung. Kamu kalau mau ikut, atau masuk ke sekolah lebih dulu juga tidak apa-apa." Nanda memberikan penjelasan kepada Ara, tanpa menunggu Ara untuk bertanya, atau mengatakan sesuatu setelah memanggilnya tadi.


Ara jadi serba salah, setelah mendengar perkataan yang diucapkan oleh Nanda. Dia merasa, jika saat ini, Nanda sedang marah padanya, namun dengan cara yang berbeda.


Nanda seolah-olah tidak peduli, dan hanya melakukan apa yang biasa dia lakukan bersama dengan Ara saja.


Soal yang lain, Nanda tidak mau memperdulikannya. Apalagi, Nanda juga tidak bertanya-tanya soal keajaiban kemarin, dan bertanya, bagaimana Ara bisa sampai di rumah terlebih dahulu tanpa dirinya yang mengantarkan.


Di saat Ara masih dalam kebimbangan, Nanda sudah masuk ke dalam warung Pak Lek.


Ara masih diam saja, berdiri di dekat motor Nanda yang terparkir, dengan perasaan yang serba salah.


Tin tin!


Suara motor sport, yang sangat di kenal oleh Ara, selain suara motor sport miliknya Nanda, terdengar memasuki area parkir motor warung Pak Lek.


Dan benar saja, tak lama kemudian, motor sport warna hitam tersebut, terparkir tidak jauh dari tempat parkir motornya Nanda.

__ADS_1


Motor tersebut adalah miliknya Awan. Dan tentu saja, yang mengendarai motor tersebut juga Awan sendiri.


"Kok masih di sini?" tanya Awan, setelah membuka helm full face-nya. Awan masih berada di atas motornya, yang baru saja terparkir.


"Emhhh... itu, emhhh... ini juga mau masuk kok Kak," jawab Ara, yang gugup karena mendapat pertanyaan yang sebenarnya tidak bisa dia jelaskan.


"Ayok," ajak Awan, yang ternyata sudah turun dari atas motor, dan bersiap dengan menunggu Ara.


Dengan rasa yang canggung, Ara mengangguk mengiyakan dan berjalan beriringan bersama dengan Awan.


Dari dalam warung, Nanda bisa melihat mereka berdua, Ara dan Awan, yang sekarang ini berjalan bersama-sama, menuju ke arah sekolah.


'Sepertinya Ara suka dengan kak Awan,' kata Nanda dalam hati, dengan masih melihat ke luar, di mana Ara dan Awan berada.


Beberapa saat kemudian, Dika datang bersama dengan mama dan papanya. Dia berhenti, tepat saat Ara dan Awan sampai di depan gerbang sekolah.


"Wan, tunggu!"


Awan menoleh, dengan memutar kepalanya saja ke arah belakang.


Tapi ternyata mamanya Dika, ikut turun dan menyapa Awan. "Mas Awan," sapa mamanya Dika.


Ara ikut menoleh, saat ada suara seorang wanita dewasa, yang memangil namanya Awan. Dia terkejut karena orang tersebut adalah...


Mamanya Dika, juga terkejut dengan keberadaan Ara, yang ada bersama dengan Awan sekarang.


Dika merasa bingung dengan keadaan yang ada saat ini. Dia hanya tahu bahwa, Ara pernah bertemu dengan mamanya, saat Ara secara tidak sengaja hampir di serempet mobil mamanya waktu itu.


Waktu itu, Ara berjalan kaki dari halte bus ke arah sekolah pada waktu berangkat ke sekolah, karena Nanda sedang ada di rumah sakit menunggui mamanya, Yasmin.


Tapi Dika yang pada akhirnya turun dan ikut berjalan dengan Ara, hanya tahu bahwa, Ara tidak begitu paham dengan mamanya, karena pada saat itu, mamanya Dika tidak turun dari dalam mobil.


"Ya Tante," jawab Ara, sambil tersenyum dan mengangguk sopan. Meskipun sebenarnya dia juga terkejut, dengan apa yang dia lihat saat ini.


Ara tahu, jika wanita ini adalah orang yang menyerempet motor ayahnya.


"Mama, ini..."


"Iya, Mama tahu kok. Dia anaknya pak Abi, yang kemarin itu. Kuta datang ke rumah, tapi katanya kalian semua pergi ke kampung."


Mamanya Dika, akhirnya menjelaskan pada Ara bahwa, dia kemarin sempat datang ke rumah Ara, tapi dia dan keluarganya tidak ada di rumah. Dan sedang pergi ke ke kampung, mengantar kepulangan Yasmin dan Aksan. Adiknya ayahnya Ara.


Ara hanya menanggapi dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil tersenyum tipis, mendengar perkataan mamanya Dika.

__ADS_1


Awan hanya diam saja, dengan wajahnya yang datar tanpa ingin menanggapi apapun.


"Oh ya, mas Awan. Apa kabar? Jadi kalian juga sudah saling kenal ya?" Mama Dika, beralih ke Awan, yang merupakan cucu dari big bos PT SAMUDERA GROUP.


"Ya," jawab Awan pendek.


Setelah berbasa-basi sebentar, dan tidak mendapat respon yang baik dari Awan, mamanya Dika, pamit untuk berangkat ke kantor.


Sedangkan Dika, bingung dengan perkataan dan apa-apa, yang tadi sudah diucapkan oleh mamanya.


"Ma, bentar!"


Dika memangil mamanya, untuk meminta penjelasan, tentang Ara, yang dia kenal dengan nama Diyah.


"Ada apa Dik? Mama mau berangkat kerja ini," ucap mamanya Dika, bertanya tentang apa yang diinginkan oleh anaknya itu.


"Ma, itu tadi Diyah Ma. Yang kemarin Aku ceritakan ke Mama."


Sekarang, mamanya Dika yang kaget. "Jadi, dia..."


"Iya Ma. Dia Diyah, yang Dika taksir."


"Tapi, itu tadi dia... jalan sama Awan," ujar mamanya Dika, yang bingung dengan jalinan perasaan anak-anak.


"Itu hanya teman aja Ma. Dika yang naksir Diyah kok," kata Dika dengan kesal.


"Iya-iya. Kamu sana gih! Nanti ditikung Awan lho," sahut mamanya Dika, dengan menakut-nakuti anaknya.


"Tapi, Mama dukung Dika kan!" tanya Dika, yang tetap tidak ingin pergi, sebelum mamanya memberikan dukungan untuk dirinya, yang ingin mendapatkan Ara


"Iya-iya."


Dika tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh mamanya. Dia segera berlari, menuju ke tempat Ara dan Awan, yang masih berdiri menunggu dirinya.


Di dalam mobil, papanya Dika menuggu dengan cemas.


"Ma. Lama banget, ada apa itu dengan Dika?" tanya papanya Dika, yang tadi melihat istrinya sedang berbicara dengan seorang gadis dan Awan.


Mamanya Dika tersenyum, mendengar pertanyaan dari istrinya itu.


Akhirnya, saat mobil kembali berjalan meninggalkan jalanan sekolah, mamanya Dika bercerita pada suaminya, tentang siapa gadis yang ditaksir oleh anaknya, Dika.


"Ohhh... kok bisa kebetulan gitu sih Ma?" tanya papanya Dika, menanggapi cerita dari istrinya, setelah selesai.

__ADS_1


"Ya gak tau juga Pa. Ini kebetulan apa emang keberuntungan sih ya Pa?"


__ADS_2