Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Semua Bisa Dibicarakan


__ADS_3

Mami tersenyum, kemudian masuk mengikuti Nanda. Sedang Wawan sendiri, tersenyum kaku pada saat melewati Yasmin yang masih berdiri di dekat pintu.


Tapi, dia juga ikut masuk ke dalam rumah. Rumah yang dulunya, juga pernah dia tempati saat awal-awal pernikahannya dengan Yasmin. Penuh kenangan manis bersama dengan istri pertamanya itu.


"Silahkan duduk Mi!"


Suara Nanda, yang mempersilahkan Mami untuk duduk, membuyarkan lamunan Wawan tentang masa lalunya di rumah ini.


"Duduk dulu Yah!"


Wawan tersenyum, dan mengangguk mengiyakan. Dia pun ikut duduk di samping Mami, yang sudah lebih dulu duduk di sofa ruang tamu.


Nanda sendiri, pamit untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Tapi sebelumnya, dia bertanya pada ke-dua tamunya itu. "Mau minum dingin apa hangat Pa, Mi? biar Nanda buatkan."


"Tidak perlu repot-repot Nda." Wawan menyahut.


"Oh ya Nda. Ini ada buah-buahan. Maaf ya, Mami gak tahu kesukaan buah apa di keluarga Kamu ini. Jadi Mami asal beli tadi." Selesai bicara, Mami menyerahkan plastik besar yang dia pegang sedari tadi. Berisi buah-buahan yang tadi dia beli.


"Kok pakai repot-repot segala Mi. Terima kasih ya Mi."


Nanda, menerima plastik pemberian Mami. Kemudian membawanya ke arah dapur.


Mami dan Wawan, sama-sama saling pandang. Kemudian menatap ke arah Yasmin yang saat ini duduk di depan mereka berdua.


"Dek, emhhh... maksudnya Yasmin. Mas ke sini..."


"Dek Yasmin?" Mami memotong kalimat Wawan, dengan bertanya pada Yasmin.


Yasmin hanya mengangguk saja, tanpa mau mengeluarkan suaranya.


"Wah kebetulan. Maaf ya! Mami gak tahu bagaimana wajahnya Dek Yasmin. Tapi, Mami membayangkan pasti cantik. Soalnya Nanda saja cakep."


"Kami ke sini, khususnya mas Wawan. Dia mau minta maaf sama Dek Yasmin."


Ternyata Mami membantu Wawan, untuk mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah mereka ini. Rumahnya ayah Edi.


Wawan mengangguk dan tersenyum canggung. Karena melihat Yasmin yang sedang menatapnya dengan tajam. Seakan-akan, mata pisau ada di iris matanya Yasmin saat ini.


Karena mendapatkan tatapan mata seperti itu, Wawan menunduk. Dia tidak berani melihat ke arah Yasmin.


Untungnya, Nanda datang membawa nampan berisi minuman. Tapi ada ibu Sofie dan juga ayah Edi, yang ikut bersama dengannya. Bahkan, ada Aksan juga yang berjalan dibelakang mereka.

__ADS_1


"Yah, Bu."


Wawan bangkit dan berusaha untuk bisa menyalami tangan kedua mantan mertuanya itu.


Ayah Edi memang menerima uluran tangan Wawan. Tapi ibu Sofie, tidak mau. Dia mengabaikan tangan Wawan yang sudah terulur untuk menyalaminya. Dan kini, Wawan akhirnya hanya bisa tersenyum tipis, menarik tangannya kembali.


Tapi ternyata, Wawan juga menyalami Aksan. Dan Aksan menerima niat baiknya itu.


Wawan pun tersenyum senang. Setidaknya, para laki-laki bisa berpikir jauh lebih baik dan panjang, dari pada perempuan. Dan ini sangat dimaklumi oleh Wawan sendiri.


Pembicaraan berbasa-basi yang cuma sebentar, yang didominasi dengan pembicaraan antara ayah Edi, Wawan dan Mami.


Sedangkan Yasmin dan ibu Sofie, hanya diam saja tanpa pernah mau menyahuti.


Aksan yang mengangguk, atau diam. Karena dia tidak mau ikut campur urusan masa lalu Wawan maupun yang sekarang ini. Karena mantan menantu di rumah ini, atau mantan suami dari istrinya itu, bukan urusannya juga.


Tapi pada akhirnya Wawan, mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah ayah Edi ini.


"Wawan minta maaf pada semua orang di rumah ini. Terutama pada Dek... emhhh mamanya Nanda."


Sepertinya, Wawan kesusahan dalam penyebutan nama Yasmin. Dia bingung dengan apa yang akan dia sebutkan.


Mungkin dia mau memanggil Dek, atau Yasmin, Wawan merasa sudah tidak pantas. Yang pada akhirnya, dia menyebut dengan mamanya Nanda.


"Dan hati itu bisa dengan cepat berubah-ubah. Mungkin, kesalahan yang Kamu lakukan dulu, ada kaitannya juga dengan kesalahan dari kami."


Ayah Edi menjeda kalimatnya, dengan menghela nafas panjang.


"Ayah sebagai orang tua, hanya bisa berpikir mana yang mungkin lebih baik di mata ayah sendiri. Tapi, itu juga belum tentu baik menurut yang lain. Atau di mata Allah SWT."


Ayah Edi mengatakan apa yang selama ini menjadi beban di hati dan pikirannya sendiri. Karena menurutnya, kesalahan Wawan, tidak bisa dipisahkan dari kesalahan Yasmin.


Dan kesalahan Yasmin, juga kesalahan kedua orang tuanya.


Mendengar perkataan yang diucapkan oleh ayah Edi, baik Yasmin maupun ibu Sofie, hanya bisa menunduk. Mereka berdua jadi tersadar dari kesalahan yang sudah mereka lakukan juga di masa lalu.


Sedangkan Nanda dan Aksan, hanya mengangguk saja. Membernarkan apa yang dikatakan oleh ayah Edi tadi.


Helaan nafas panjang, terdengar dari tempat ayah Edi duduk. Dia merasa sedikit lega, karena sudah mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatinya selama ini.


"Dengan niat baik Kamu ini, Ayah secara pribadi memaafkan Kamu Wan. Mungkin Ayah juga ada salah. Jadi, Ayah juga minta maaf."

__ADS_1


Yasmi menangis tanpa sadar. Dia akhirnya juga menyadari bahwa, dirinya ikut andil besar dalam kesalahan yang dilakukan oleh Wawan. Mantan suaminya itu.


"Yasmin... Yasmin juga minta maaf Mas. Yasmin, Yasmin terlalu egois dan tidak mau mendengarkan nasihat-nasihat ayah, dan juga mas Abi waktu itu."


"Bahkan, apa yang mbak Sekar bilang, juga Yasmin abaikan. Hiks..."


Wawan hanya mengangguk saja. Dia ikut meneteskan air mata tanpa dia sadari.


Begitu juga dengan ibu Sofie. Akhirnya dia juga meminta maaf.


Setelah semuanya dirasa cukup. Wawan dan Mami undur diri. Mereka pamit, karena malam juga sudah mulai larut.


"Salam buat mas Abi dan Mbak Jani Yah. Lain waktu, Wawan akan datang berkunjung ke rumah mereka."


Ayah Edi mengangguk mengiyakan. Begitu juga dengan yang lainnya.


Setelah Wawan dan istrinya pergi, Yasmin memeluk ayahnya dengan perasaan yang campur aduk.


"Maafkan Yasmin Yah! huhuhu..."


Suasana haru dan bahagia ada di rumah ayah Edi malam ini.


*****


Di rumah mama Amel.


Makan malam bersama sudah selesai. Elang pamit untuk pergi ke kamar terlebih dahulu. Karena besok pagi, dia sudah harus berangkat ke kantor.


"Besok pagi ada panggilan polisi juga Yah. Apa pihak pengacara bisa mengirimkan jadwal, untuk kesaksian Ara dan Anggi besok?" tanya Awan, mengingatkan pada ayahnya, dengan jadwal mereka ke kantor polisi.


"Iya. Ayah sudah tanyakan tadi. Tapi, pengacara kita hanya bilang jika jadwalnya sekitar jam sepuluh pagi."


"Oh, ya sudah kalau begitu. Terima kasih Yah."


Elang mengangguk mengiyakan. Setelah itu, dia berdiri dan berjalan menuju ke arah kamarnya sendiri.


Tapi sebelum menghilang, dia menoleh ke arah meja makan, kemudian berkata, "Wan. Jangan lupa, segera buatkan Ayah cucu ya! Biar Oma dan opa Kamu itu juga tenang, dan tidak ribut lagi."


Tentu saja, Awan dan Ara merasa kaget. Karena ayahnya itu, yang selama ini terkesan datar dan tidak mau tahu tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Justru mengatakan hal semacam itu.


Ini membuat mama Amel bersama dengan papa Ryan, tersenyum senang, mendengar perkataan yang diucapkan oleh anak mereka.

__ADS_1


Bahkan, papa Ryan mengacungkan jari jempol tangannya. Sebagai tanda setuju dengan apa yang tadi Elang katakan.


__ADS_2