Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kebahagiaan Yasmin


__ADS_3

Di rumah sakit, ibu Sofie datang di saat dokter yang menangani Anjani keluar dari ruangan IGD. Dia ingin membicarakan tentang kandungan Anjani, pada pihak keluarganya. Terutama suaminya Anjani sendiri.


"Ada pihak keluarga pasien yang bernama Anjani, terutama suaminya?" tanya dokter, dengan melihat ke arah orang-orang yang sedang duduk di depan ruang IGD.


"Saya Dok," jawab Abimanyu, kemudian berdiri diikuti oleh ayah Edi dan juga ibu Sofie yang baru saja duduk, karena dia memang baru saja datang.


"Begini Pak, emhhh... istri Anda selamat, tapi bayi yang dia kandung, terjadi sesuatu yang bisa menjadikan lahirnya tidak normal atau cacat. Jadi sebaiknya dia dikeluarkan saja sekarang, daripada dia terus berkembang tapi tidak normal. Tapi ini hanya saran dari Saya. Jika anda masih ingin mempertahankan bayi tersebut, juga tidak apa-apa. Tapi, kemungkinan saat lahir nanti, bayi itu juga akan membuat istri Anda seperti sekarang. Dan itu lebih berbahaya lagi, karena harus dipilih antara nyawa ibunya atau bayinya."


Keterangan yang diberikan oleh dokter, membuat Abimanyu merasa sedih. Dia ingin anaknya bisa selamat, tapi tidak mungkin mengorbankan nyawa istrinya juga.


Ayah Edi, memberikan saran pada anaknya, Abimanyu, agar memilih mengeluarkan bayi itu sekarang saja. Suatu hari nanti, Anjani pasti masih bisa hamil lagi, dan semoga saat itu semuanya baik-baik saja. Begitu juga dengan Sekar, dia mendukung keputusan yang diambil oleh ayahnya itu.


Tapi berbeda dengan ayah Edi dan Sekar, ibu Sofie justru ingin mempertahankan cucunya. Padahal dokter sudah mengatakan, jika nanti masih belum diketahui akan selamat atau tidaknya bayi tersebut, saat dilahirkan nanti. Dia hanya beralasan, tidak mau kehilangan cucunya itu.


"Ibu ini bagaimana, Anjani lebih penting Bu. Dia pasti akan bisa hamil lagi besok-besok. Jadi lebih baik Anjani yang diselamatkan sekarang ini!" Ayah Edi, memperingatkan istrinya agar tidak egois, dan hanya mementingkan kesenangan sendiri, tanpa berpikir panjang dan ikut merasakan perasaan Abimanyu saat ini.


"Abimanyu, segera putuskan untuk menyelamatkan Anjani. Kalian pasti akan mempunyai anak lagi nantinya!"


"Iya Mas. Ikuti saran Ayah saja," kata Sekar, meminta pada kakaknya agar menyelamatkan istrinya saja.


Abimanyu yang sedang kalut, hanya mengangguk mendengar perkataan dan nasehat ayahnya. Dia akhirnya memberikan keputusan untuk menyelamatkan Anjani, dan mengeluarkan bayi yang ada di dalam kandungan istrinya sekarang.


"Selamatkan istri Saya Dok. Biarlah anak kami pergi terlebih dahulu. Semoga besok kami masih mempunyai kesempatan untuk bisa memilikinya lagi," kata Abimanyu, memberikan keputusan yang dia ambil untuk secepatnya dilakukan oleh dokter.


Dokter mengangguk mengiyakan. Dia kembali ke dalam ruangan dan segera memerintahkan pada tim perawat untuk membawa Anjani ke ruang bersalin, untuk melakukan kuret atau proses pengguguran kandungan. Hal ini legal, karena mengingat keadaan yang mendesak, demi keselamatan dan kesehatan ibu.


Ibu Sofie, terlihat kesal dengan keputusan yang diambil oleh suaminya. Dia menginginkan cucunya itu bisa dipertahankan, apapun yang terjadi. Tapi, dia tidak berani membantahnya juga, apalagi tadi di rumah, dia juga sudah membuat kekacauan di pesta pernikahan anaknya, Yasmin. Dia tidak mungkin menambah amarah suaminya dengan menentang keputusan yang sudah di ambil ayah Edi dan Abimanyu.


Pintu IGD terbuka, dua perawat mendorong brangkar yang diatasnya ada Anjani, menuju ke ruang bersalin. Anjani sudah tidak sadarkan diri, sehingga dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Abimanyu berdiri bersama dengan Sekar. Mereka berdua, melangkah mengikuti perawat yang mendorong brangkar Anjani menuju ke ruang bersalin. Ayah Edi dan ibu Sofie, juga mengikutinya di belakang mereka, menuju ke tempat dimana Anjani akan ditangani lebih serius lagi.


"Sayang, bertahan ya. Kamu pasti kuat," kata Abimanyu, mensejajarkan langkahnya dengan brangkar Anjani. Dia menggenggam tangan istrinya, yang tidak menyadari kehadiran dirinya, sebab Anjani sudah dibius secara total.


"Bapak tunggu di luar ya!" kata perawat memberikan perintah.


Abimanyu berhenti di depan pintu ruangan. Dia masih belum beranjak dari tempatnya, sampai dokter kandungan datang dan menegurnya, "Bapak tunggu saja, dan berdoa untuk keselamatan istrinya ya."


Abimanyu hanya mengangguk samar. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Akhirnya dia mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Sekar, membimbing kakaknya itu agar duduk terlebih dahulu.


Abimanyu duduk di kursi bersama dengan Sekar, di mana ayah dan ibunya juga sudah duduk di sana. Dia diam dan berdoa dalam hati, meminta keselamatan dan kelancaran untuk penanganan istrinya di dalam ruangan sana.


"Sabar Abi. Semoga Anjani bisa selamat dan cepat sehat. Nanti kalian akan bisa punya anak lagi, berdoalah kepada Tuhan." Ayah Edi, menasehati Abimanyu.


Abimanyu, mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya. Dia tidak tahu apa lagi yang bisa dia lakukan, selain hanya bisa berdoa, meminta keselamatan untuk istrinya, Anjani.


Ibu Sofie, hanya diam saja sedari tadi. Dia merasa tidak ada yang perlu di perhatikan dan dia bicarakan dengan Abimanyu, terkait dengan keadaan Anjani saat ini.


Meskipun Abimanyu dan Anjani tidak bisa mendengar perkataannya, ternyata ayah Edi mendengar perkataan istrinya, meskipun tidak jelas, tapi dia tahu apa yang dimaksud dari perkataan itu.


Sekar juga mendengar perkataan ibunya, meskipun tidak begitu jelas, sehingga dia bertanya, agar ibunya itu mengulang lagi perkataannya yang tadi.


"Ibu bicara apa? Sekar tidak mendengar dengan jelas," tanya Sekar.


Sekarang, ayah Edi yang bicara. Tapi dengan nada marah. "Ibu ngomong apa sih! Ingat, kemarin itu Yasmin juga hampir sama seperti yang Anjani alami. Untungnya dia tidak kenapa-kenapa, begitu juga dengan janin yang dikandungnya. Sekarang, menantu kita yang mengalami. Ibu juga seharusnya bersimpati, bukannya malah mengolok-olok seperti ini. Daripada si sini dan bikin pusing, mending Ibu pulang saja sana!"


Ibu Sofie, jadi merasa kesal karena ditegur, bahkan diusir oleh suaminya sendiri. Kini, dia hanya bisa diam saja dan tidak lagi berkata-kata. Dia tidak ingin membuat suaminya itu jadi lebih marah lagi.


"Sekar mau keluar sebentar Yah. Mau beli minuman," pamit Sekar pada ayahnya.

__ADS_1


"Iya," jawab ayah Edi pendek.


"Ibu ikut Sekar. Ibu mau sekalian beli pulsa. Ternyata pulsa handphone Ibu habis," kata ibu Sofie, meminta agar anaknya, Sekar, menunggu dirinya.


"Ibu ikut Sekar keluar sebentar Yah," pamit ibu Sofie pada suaminya.


Ayah Edi, hanya mengangguk dan tidak menyahuti perkataan istrinya itu. Dia tahu, itu hanya alasan saja, agar dia tidak lagi pusing berada di rumah sakit ini tanpa bisa melakukan apa-apa.


*****


Di rumah, Yasmin sedang berbahagia. Selain karena sudah resmi menikah dengan kekasihnya, Wawan, dia juga merasa berhasil membuat kakak iparnya itu celaka.


Tadi pagi, saat persiapan acara pesta pernikahannya, Yasmin melihat Anjani membuat susu hamil. Saat itulah, terlintas di pikiran Yasmin, untuk mencampurkan susu tersebut dengan obat yang dia miliki, yaitu obat untuk mengugurkan kandungan.


Sebenarnya obat itu di beli Yasmin, untuk dirinya sendiri, tapi karena dia sudah ada rencana untuk menikah dengan Wawan, obat itu akhirnya sudah tidak berguna untuk dirinya. Dan akhirnya, pikiran jahat itu datang. Yasmin mencoba kemanjuran obat tersebut pada kakak iparnya, Anjani.


Sayangnya pagi tadi, saat meminum susu tersebut, Anjani merasa jika susunya itu terasa seperti tidak biasa, dia membuangnya. Tapi Anjani sudah terlanjur minum beberapa teguk. Mungkin karena tidak sesuai dosis, efek samping dari obat tersebut juga tidak bisa langsung terasa.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Wawan, saat melihat Yasmin yang terus tersenyum sedari tadi.


Sekarang ini, mereka berdua sedang berada di dalam kamar.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang berbahagia karena akhirnya kita berdua bisa bersatu. Ingat lho Sayang, Kamu harus berkerja dengan rajin setelah ini. Aku tidak mau, jika ayah marah dan tersinggung dengan cara bekerja Kamu yang tidak baik. Ayah bisa malu pada temannya yang sudah memperbolehkan Kamu kerja."


Yasmin, menasehati suaminya itu, agar tidak membuat ulah dan itu bisa berakibat pada ayahnya juga.


"Iya-iya Sayang. Nanti, kalau Aku sudah berkerja dan bisa terus naik jabatannya, Aku akan menuruti apa saja yang Kamu inginkan. Jika hanya sekedar belanja di mall, itu tidak akan masalah bagiku. Yang pasti, Kamu akan bahagia bersama denganku."


Wawan berkata dengan sombong, padahal kerja saja baru seminggu, dan sekarang libur karena dia sedang menikah.

__ADS_1


"Harus dong Sayang. Kamu itu yang ter_the best pokoknya." Yasmin memeluk Wawan yang sedang duduk di sampingnya.


"Kita akan hidup berbahagia selamanya," kata Yasmin lagi, sambil tersenyum penuh dengan kebahagiaan dan kemenangan.


__ADS_2