Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Ngambek Dan Menghilang


__ADS_3

"Tadi ngapain?"


Nanda bertanya, pada Ara, yang saat ini sedang berjalan bersama-sama dengan dirinya, menuju ke tempat parkir motor Pak Lek.


"Apa?" tanya Ara bingung, dengan apa yang ditanyakan oleh Nanda padanya.


"Tadi, sama temennya kak Awan."


"Ohhh, kak Dika?" tanya Ara, mamastikan bahwa dia tidak salah sangka dengan siapa yang di maksud dan ditanyakan oleh kakaknya, Nanda, kali ini.


Tapi Nanda hanya mengangguk saja. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ara, dengan nama yang dia maksudkan tadi.


"Ini."


Ara justru menunjukkan sebuah kado, pada Nanda.


Dengan wajah datar, Nanda melihat ke arah kado, yang ditunjukkan oleh Ara kepadanya. Meskipun sebenarnya Nanda merasa bingung, dengan apa yang ditunjukkan itu, tapi dia tidak lagi bertanya.


"Hari ini aneh deh Kak," kata Ara, karena melihat Nanda hanya diam saja, saat dia memperlihatkan kado pemberian dari Dika tadi.


"Aneh?" tanya Nanda, dengan maksud untuk meminta penjelasan dari apa yang dikatakan oleh Ara barusan.


"Ya aneh Kak. Tadi pagi, Ara dapat kiriman hadiah dari omanya kak Awan. Dan siang ini, dapat kado dari kak Dika. Kan aneh ini, bisa barengan gitu."


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Ara, Nanda diam dengan berpikir bahwa, bisa jadi, ini adalah kesengajaan kedua kakak kelasnya itu, yang ingin mencari perhatian khusus dari Ara.


Atau, bisa juga keduanya sedang bersaing, untuk bisa menaklukkan hati Ara, dengan cara memberinya hadiah-hadiah menarik. Sedangkan Awan, hanya memberikan alasan jika, hadiah itu titipan dari omanya.


'Tapi, bisa jadi. Kan omanya kak Awan memang terlihat jika sayang gitu sama Ara. Lagian mereka juga orang kaya, yang tidak akan miskin hanya karena memberi hadiah untuk ara.'


Berbagai macam pikiran, dan juga praduga, ada di kepala Nanda. Meskipun dia tidak langsung mengatakan semua itu pada Ara.


Dia tidak mau jika Ara jadi salah paham, dengan apa yang dia pikirkan saat ini.


"Memangnya apa hadiah itu?" tanya Nanda, tanpa menoleh ke arah Ara.


"Kalau yang dari kak Dika ini, Ara tidak tau. Tapi yang titipan dari omanya kak Awan, tas gaul gitu deh Kak."


Ara menjawab dan memberitahu, apa-apa, hadiah yang dia terima hari ini.


Penjelasan yang diberikan oleh Ara, dengan hadiah-hadiah itu, membuat Nanda bertanya kepadanya. "Apa Kamu suka, dengan hadiah-hadiah itu?"

__ADS_1


"Ara tidak tau. Kan ini cuma di kasih Kak. Ara juga tidak tahu, yang ini isinya apa. Ara juga gak minta."


Ara sedikit tersinggung, karena mendapat pertanyaan dari Nanda, yang seakan-akan curiga jika dia dengan senang hati, dan memang berharap menerima semua pemberian hadiah-hadiah yang diberikan oleh cowok-cowok kakak kelasnya itu.


Dengan kesalnya, Ara berjalan dengan cepat, mendahului Nanda. Dia juga menghentak-hentakkan kakinya, yang memberikan tanda bahwa, dia sedang kesal.


Nanda jadi serba salah, dan merasa tidak enak hati, karena sudah membuat adiknya itu kesal dan marah.


"Ra. Tunggu!"


Tapi Ara tidak menghiraukan panggilan kakak sepupunya. Dia terus berjalan, menuju ke tempat parkir motor terlebih dahulu, tanpa mau menunggu Nanda.


"Ah, pasti dia akan menunggu di tempat parkir," gumam Nanda, yang tidak lagi berusaha untuk mengejar Ara.


Tapi ternyata dugaan Nanda salah. Ara tidak menuju ke tempat parkir motor, tapi langsung berlari menuju ke halte bus.


Dia benar-benar merasa kecewa, dengan apa yang dikatakan oleh Nanda tadi.


"Aku kan gak minta hadiah-hadiah ini. Apa Aku salah, jika menerima hadiah yang diberikan padaku?" tanya Ara sambil terus berlari.


Sesampainya di tempat parkir, Nanda kebingungan sendiri, karena tidak melihat keberadaan Ara di manapun.


Bahkan, saat Nanda bertanya kepada Pak Lek, pemilik warung dan tempat parkir, juga tidak tahu, di mana cewek yang biasanya bersama dengan Nanda.


"Gak ada mas Nanda. Sedari tadi, cewek-cewek yang datang, ya... ambil motor mereka masing-masing. Gak ada tuh cewek yang biasanya bareng mas Nanda."


Akhirnya, Nanda bergegas pergi, setelah mengeluarkan motornya dari tempat parkir.


Dia ingin mencari keberadaan Ara, yang pergi dan tidak tahu kemana. Dan ini karena Ara kesal dengan ucapan yang dikatakan oleh Nanda padanya, soal hadiah itu.


Setelah Nanda pergi, Awan keluar dari dalam warung. Dia sendirian, karena Dika sudah pulang terlebih dahulu tadi.


"Ada apa Pak Lek?" tanya Awan, pada pak Lek yang punya tempat parkir, karena dilihatnya Pak Lek bergumam tidak jelas seorang diri.


"Itu lho, mas Nanda. Ceweknya ilang!"


"Ilang? Maksudnya ceweknya yang mana, kok bisa ilang?" tanya Awan, yang bingung dengan dengan jawaban yang diberikan oleh Pak Lek.


"Itu lho mas Awan. Cewek SMP yang biasa bareng mas Nanda. Ilang tadi," jawab pak Lek, menjelaskan pada Awan.


'Ara.'

__ADS_1


Awan membatin, dengan menyebut nama Ara. Dia yakin, jika yang dimaksud oleh Pak Lek adalah Ara.


"Oh gitu," gumam Awan, dengan mengangguk mengerti.


Setelah itu, Awan segera naik ke atas motornya, dan pergi dari tempat parkir tersebut. Dia ingin mencari keberadaan Ara, yang bisa jadi, nekad naik angkutan umum.


'Padahal Om Abi dan tante Jani, sangat khawatir, jika Ara naik angkutan umum. Sama seperti waktu dulu, saat Nanda tidak bisa berangkat ke sekolah, karena mamanya melahirkan di rumah sakit.'


Awan terus berkata dalam hati, dengan mencari-cari keberadaan Ara, di sekitar jalanan yang dia lalui.


Tiba di halte bus, Ara juga memperhatikan beberapa cewek, yang ada di sana. Tapi Ara tidak ada di antara mereka semua.


'Apa dia sudah naik angkutan ya?' tanya Awan, di dalam hatinya.


Ada rasa khawatir, jika Ara kenapa-kenapa di jalan. Itulah sebabnya, Awan terus berusaha untuk mencari keberadaan Ara, dengan bertanya pada anak-anak yang masih ada di halte tersebut.


"Lihat Ara gak? Ini, cewek ini."


Awan bertanya, dengan menunjukan layar handphone miliknya, pada seseorang yang kebetulan dia kenal, yang ada di halte tersebut.


"Oh... Kak Awan ini. Cari yang ada kek, ngapain juga cari yang gak ada. Hehehe..."


"Serius ini. Penting!" ucap Awan, dengan wajah yang memang tampak lebih serius, dibanding biasanya.


"Kayaknya tadi dia udah naik angkutan Kak. Sepuluh menit yang lalu."


"Dari sepuluh menit yang lalu, ada beberapa angkutan yang lewat dan berangkat?" tanya Awan, agar lebih jelas dan mudah untuk dia mencari nantinya.


"Aduh Kakak, mana ada Kuta itung dan perhatikan."


Cewek tadi, tidak bisa memberikan penjelasan yang lebih baik, karena dia memang tidak memperhatikan.


"Emhhh... ok. Thanks ya!"


Awan langsung pamit, setelah mengucapkan terima kasih kepada cewek tersebut.


Sekarang, dia mencoba untuk mencari-cari angkutan, yang akan lewat dan membawa Ara ke halte yang lainnya, agar bisa mendapatkan angkutan yang lain, yang menuju ke kompleks perumahannya Ara.


Ini karena untuk pulang ke rumah Ara, dia harus berganti angkutan umum sebanyak dua kali. Itulah sebabnya juga, kedua orang tuanya Ara, tidak memperbolehkan dirinya untuk pulang dan pergi sendiri dengan naik angkutan umum, jika memang benar-benar urgent.


Tapi dari sekian angkutan yang melewati halte, yang ada di dekat sekolah, Awan tidak menemukan Ara di dalamnya.

__ADS_1


"Ke mana ya Ara?" gumam Awan, yang bertanya sendiri, dengan kebingungannya.


Awan tidak menemukan jejak Ara, dari beberapa angkutan yang dus temukan. Hal ini membuat Awan, menjadi lebih khawatir.


__ADS_2