Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tidak Boleh


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


"Kak. Kak Dika bagaimana ini? mau di pulangkan ke mana?"


Ara tentunya merasa bingung, saat dokter menyatakan bahwa, pasien Dika sudah diperbolehkan pulang ke rumah.


Sekarang Ara dan Awan, sedang bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit, saat mendapatkan kabar dari orang yang mengurus Dika. Karena baru saja mendapatkan kabar tersebut dari dokter yang menangani Dika.


Tapi Ara tidak tahu, ke mana nantinya Dika ditempatkan. Karena dia tidak mungkin bisa mengurus Dika di rumah ini. Sebab, selain Dika adalah orang lain, bukan anggota keluarga dan yang pasti bukan muhrimnya juga. Di tambah lagi keadaan Ara saat ini, sedang masa-masa ngidam.


Ara dinyatakan hamil, dan usia kandungannya saat ini baru tiga minggu. Tentu saja, ada banyak drama di pagi hari. Akibat rasa mual dan sebagainya. Ciri khas wanita hamil pada umumnya.


Sebenarnya, Awan sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Untuk menyambut kabar baik buat semua anggota keluarganya. Terutama untuk orang tua dan omanya juga.


Tapi di saat dia sedang berbahagia dengan kabar kehamilan Ara, kabar gembira dari Dika juga dia dapatkan. Meskipun dia harus berpikir sejenak, ke mana harus memberikan tempat bagi Dika saat ini.


Meskipun Dika sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, tapi tidak untuk mentalnya. Dia dinyatakan lumpuh secara fisik dan mental spikologisnya.


Harus ada yang membantunya, untuk melakukan apa-apa setiap hari. Mengurusnya, dan menjaganya juga.


"Kalau di apartemen bagaimana?" tanya Awan, memberikan usulan. Agar setelah Dika pulang dari rumah sakit, ditempatkan di apartemen saja.


"Susah Kak. Belum lagi jika dia sedang kumat. Bisa-bisa dia lompat dari balkon nanti."


Awan, mengangguk mengiyakan alasan yang dikemukakan oleh istrinya itu. Karena kondisi mental Dika memang belum stabil.


Ke rumah ini gak mungkin. Ke rumah Oma, belum tentu baik-baik saja. Lalu..."


"Bagaimana jika ke rumah kak Dika sendiri?"


Ara memotong kalimat suaminya, yang sedang berpikir untuk mencari rumah yang bisa di tempati Dika. Tanpa harus menganggu aktivitas kehidupan keluarganya, dan keluarga besarnya juga.


"Iya juga. Rumah itu kosong dan tidak terurus juga. Tapi, rumah itu sudah menjadi inventaris perusahaan juga. Jadi, jika ingin menggunakan rumah itu, harus minta ijin pada perusahaan. Dan di setujui oleh ayah Elang sebagai pemimpin PT SAMUDERA GROUP."


"Ribet juga ya, jika harus mengunakan inventaris perusahaan. Meskipun itu perusahaan keluarga sendiri," ujar Ara, yang tahu juga, bagaimana seharusnya jalur prosedur yang benar.


"Ya sudah. Nanti Kakak Coba hubungi Ayah Elang. Biar dua yang urus."


"Oh ya Dek, kok Kamu kepikiran tentang rumahnya Dika sih?" tanya Awan, yang baru sadar jika dia tidak sempat berpikir sejauh itu tadi.


"Hehehe... kan itu rumah kak Dika sedari dulu. Siapa tahu, dengan kak Dika menempati rumah tersebut, ingatannya bisa berangsur-angsur pulih. Dan kondisinya tidak seperti sekarang ini."


Pemikiran yang disampaikan oleh Ara, ada benarnya juga. Toh di mana pun Dika ditempatkan, tetap saja ada orang yang harus menjaganya.

__ADS_1


Akhirnya, Awan menghubungi ayahnya terlebih dahulu. Dia ingin meminta ijin pada ayahnya itu, untuk menempati rumah keluarga Dika. Yang pada kasus penipuan mamanya Dika, diambil alih oleh perusahaan PT SAMUDERA GROUP, sebagai jaminan ganti rugi atas penipuan yang dilakukan waktu itu.


Setelah beberapa saat kemudian, Awan sudah mendapatkan ijin dari ayahnya, Elang. Sekretaris ayahnya itu, akan mengurus segala sesuatunya, untuk membersihkan rumah tersebut. Agar Dika dan orang yang mengurusnya nanti, bisa langsung menempati rumah tersebut. Begitu mereka pulang dari rumah sakit.


Mama Amel langsung menghubungi Awan, terkait rencananya itu.


..."Ya Oma. Ada apa?"...


..."Kamu di mana?"...


..."Di rumah. Tapi, ini mau ke rumah sakit. Dika pulang hari ini Oma."...


..."Iya, ini juga Oma tadi baru denger dari ayah Kamu."...


..."Oh..."...


..."Ara si rumah kan? Gak usah ikut ke rumah sakit. Nanti malah mual, soalnya bau obat di sana!"...


..."Emhhh... "...


..."Udah di rumah aja! Nanti Oma datang ke sana. Oma udah janjian sama eyang putrinya Ara juga kok."...


..."Ohhh..."...


Awan berpikir sejenak. Karena apa yang dikatakan oleh omanya itu, ada benarnya juga.


Jika harus mengunakan tenaga orang lain, belum tentu cocok juga. Dan gak mungkin mempekerjakan dua orang laki-laki, untuk mengurus segala sesuatunya, yang memang dibutuhkan oleh Dika.


Dan jika harus wanita, tidak baik juga jika itu bukan istri dari pak supir sendiri.


..."Baiklah Oma. Begitu juga lebih baik. Nanti Awan kasih tau pak supir."...


..."Harus. Oh ya, itu Ara di rumah pokoknya! Gak boleh ke mana-mana, di saat awal hamilnya. Oma akan ke rumah sekarang. Jadi Kamu jangan pergi dulu!"...


..."Iya Oma."...


..."Tapi Kamu kabari pak supir, biar dia juga bisa kasih tau istrinya."...


..."Iya Oma."...


Klik!


"Hufhhh..."

__ADS_1


Awan menghela nafas panjang, saat selesai menutup panggilan telepon dari omanya, mama Amel.


Ara yang tidak tahu secara keseluruhan, tentang pembicaraan suaminya dengan omanya, melihatnya dengan maksud untuk meminta penjelasan juga.


Tapi Awan justru diam saja, dan mulai menghubungi seseorang lagi.


Ternyata, orang yang sedang dihubungi oleh Awan adalah pak supir. Orang yang mengurus Dika selama ini.


Akhirnya, Ara hanya bisa diam saja, sambil menunggu penjelasan yang akan diberikan oleh suaminya itu.


Setelah selesai menelpon pak supir, Awan pun memberikan penjelasan kepada istrinya itu. Dan dia juga mengatakan bahwa, omanya akan datang ke rumah ini, untuk menemani Ara. Karena nantinya, eyang putrinya juga kan datang untuk menemani dirinya.


"Jadi, Ara gak boleh ikut ini?" tanya Ara memastikan.


Tapi Awan tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia hanya mengangkat kedua bahunya, karena dia memang tidak mau jika istrinya itu akan mengalami mual-mual di rumah sakit.


"Hemmm... gak enak juga jadi orang hamil."


"Eh, harusnya bersyukur Sayang. Itu tandanya, Oma sangat memerhatikan keadaan Kamu. Gak semua wanita hamil bisa merasakan ketenangan."


"Dan maksud Oma ini ada benarnya juga kan?" tanya Awan, yang lebih mirip ibu-ibu jilid menurut Ara.


"Kakak kayak emak-emak komplek yang julid. Banyak maunya, banyak larangan juga. Hehehe.... tapi Ara seneng kok!"


Sebenarnya Ara merasa senang, karena semua orang memikirkan bagaimana keadaannya sekarang ini.


"Kak."


"Iya, ada apa? Mau minta apa anaknya Papa ini?"


Panggilan Ara, di respon Awan sebagai sebuah permintaan. Karena ngidamnya wanita, identik dengan sebuah permintaan. Apalagi jika permintaan itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal.


"Gak. Gak apa-apa. Cuma pengen manggil aja."


"Ihsss... kirain pengen..."


"Ihhh, apaan!"


"Hahaha..."


Mereka berdua akhirnya tertawa senang, dan saling menggoda juga. Dengan sebuah sindiran yang kadang-kadang tidak jelas. Agar tidak jenuh menunggu kedatangan mama Amel, yang sudah berjanji untuk segera datang ke rumah ini.


Mama Amel ingin menemani Ara, yang sedang mengandung cicit pertamanya.

__ADS_1


__ADS_2