
Hujan gerimis turun dari subuh. Membuat malas untuk keluar rumah dan melakukan aktifitas seperti biasanya. Apalagi untuk pasangan pengantin baru, yang sedang honeymoon, seperti Abimanyu dengan Anjani.
Jam di dinding kamar hotel sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Tapi, mereka berdua, Abimanyu dan Anjani, masih betah berada di bawah selimut, setelah tadi usai melaksanakan shalat. Mengucapkan segala syukur atas nikmat dan karunia Tuhan yang mereka terima saat ini.
Anjani, diam saja di dalam pelukan suaminya. Dia Merakan kehangatan dan kenyamanan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Abimanyu juga sama. Dia masih memeluk istrinya, Anjani, dengan penuh perasaan. Menyalurkan segala rasa yang ada sejak dulu, dan dia pendam seorang diri. Dia bersyukur, karena penantian panjang ini, bisa berakhir dengan kebahagiaan dan hidup bersama dengan Anjani. Wanita yang diam-diam, dia cintai sedari dulu.
"Mau sarapan apa Sayang?" tanya Abimanyu, dengan berbisik pelan di dekat telinga Anjani.
"Hemmm, nanti saja ya mas. Jani masih malas keluar kamar," jawab Jani kembali merapatkan dirinya dalam pelukan suaminya. Mengusir hawa dingin yang berhembus dari jendela kamar hotel, karena pendingin ruangan, sudah di matikan oleh Abimanyu sejak semalam.
"Kita pesan saja dari kamar. Nanti biar di antar. Kita tidak usah kemana-mana."
Anjani, mendongak menatap ke arah suaminya. Dia merasa senang karena Abimanyu, selalu bisa mengerti keadaannya.
"Ya Mas. Terima kasih ya Mas."
Anjani, mengucapkan terima kasih atas pengertian suaminya itu. Dia merasa dimanja dengan sikap yang di tunjukkan oleh Abimanyu kepadanya.
"Ya tidak apa-apa. Sebenarnya Aku juga malas keluar kamar kok. Kan lebih baik, kita kayak gini. Nanti, sambil menunggu makanan datang, kita bisa berbagi kehangatan agar tidak merasakan dingin seperti ini," kata Abimanyu, yang terdengar ambigu di telinga Anjani.
"Ini juga sudah hangat Mas," sahut Anjani belum paham apa maksud dari perkataan suaminya itu.
"Hemmm..."
Abimanyu, tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya menghela nafas panjang dan mengelus pipi istrinya, menyalurkan kehangatan pada wajah Anjani.
"Kamu masih terasa dingin. Apa perlu banyak kehangatan agar bisa lebih hangat lagi?" tanya Abimanyu, dengan berbisik di telinga Anjani lagi.
Anjani, melebarkan matanya. Dia tidak menyangka, jika suaminya itu, bisa juga berkata mesum, meskipun tidak begitu vulgar.
Abimanyu, semakin erat memeluk Anjani, tapi dia tidak melakukan apa-apa lagi. Dia tahu, istrinya itu butuh waktu untuk istirahat juga. Tidak mungkin dia paksa untuk melakukan lagi kegiatan yang sama seperti semalam.
"Tidurlah. Aku akan pesan makanan terlebih dahulu."
__ADS_1
Akhirnya, Abimanyu beringsut, untuk turun dari tempat tidur dan melangkah ke meja, di mana telpon hotel berada. Dia akan memesan makanan, lewat pesan antar dari pihak hotel.
Abimanyu, kembali ke tempat tidur lagi, setelah selesai membuat pesanan. Dia ingin kembali memeluk istrinya meskipun hanya sekedar berbaring saja.
Anjani, mengubah posisi tidurnya dalam pelukan suaminya, agar lebih nyaman. Dia sangat senang bisa merasakan kebahagiaan ini. Hidup dengan suaminya yang sabar dan lembut, serta pengertian seperti ayahnya dulu.
Tak terasa, Anjani benar-benar tertidur pulas dalam pelukan Abimanyu. Dia tersenyum dalam tidurnya, dan itu terlihat jelas oleh Abimanyu yang sedang memandang wajahnya.
Setengah jam kemudian, pintu kamar hotel di ketuk dari luar. Abimanyu turun dari tempat tidur dan melihat ke pintu, dimana ada lubang kaca kecil, untuk melihat siapa yang datang. Ternyata pelayan hotel, yang membawa kereta makan pesanannya tadi.
Cklek!
Pintu terbuka, dan pelayanan menganggukan kepala sopan.
"Ini sarapan pesanan anda Tuan," kata pelayan tanpa bermaksud untuk masuk ke dalam kamar. Dia menjaga privasi tamu hotel.
"Oh ya, terima kasih."
Abimanyu, mengambil kereta makan yang di serahkan pelayan kepadanya. Dia memberi tips pada pelayan tersebut, sambil mengucap terima kasih.
"Sayang. Kamu mau sarapan sekarang atau nanti?" tanya Abimanyu, sambil mengelus-elus pipi Anjani. Berusaha untuk membangunkan istrinya, agar bisa makan untuk memulihkan tenaganya lagi.
"Sayang," panggil Abimanyu lagi.
"Emhhh."
Anjani, hanya berguman tidak jelas dalam tidurnya. Dia belum mau bangun dan kembali memeluk lengan suaminya.
Akhirnya, Abimanyu beringsut untuk bisa lebih dekat lagi dengan Anjani. Dia ikut memejamkan matanya, yang memang masih terasa berat akibat kegiatan mereka semalam.
*****
"Haommm..."
Anjani, menguap begitu membuka mata. Dia melihat ke arah samping, dimana suaminya itu ikut juga tertidur. Dia tersenyum bahagia, melihat suaminya itu tertidur pulas dengan memeluknya. Sekarang, dia berusaha untuk bisa lepas dan pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Tidurlah. Kita tidak akan kemana-mana hari ini. Di luar juga masih gerimis," kata Abimanyu, masih dalam keadaan mata tertutup.
"Ihsss, curang!" teriak Anjani, tapi tidak terlalu keras juga.
"Kok curang?" tanya Abimanyu, tanpa mengubah posisi tidurnya, masih tetap terpejam meskipun dia bisa tahu apa yang sedang dilakukan istrinya.
"Itu, Mas Abi ternyata pura-pura tidur," jawab Anjani, sambil memainkannya mata suaminya, agar membuka matanya.
"Hehehe... ini tidak curang. Aku hanya ingin melihat istriku, yang sedang mengagumi keindahan yang ada di depannya ini," ucap Abimanyu, dengan memberikan sebuah kiasan, untuk menggambarkan keadaan mereka sekarang ini.
Anjani cemberut, karena Ketahun sedang mengagumi sosok suaminya sendiri. Dia tidak bisa berkata lagi, dan berusaha untuk mengalihkan perhatian Abimanyu, dengan bertanya tentang makanan yang tadi dia pesan.
"Kak, makanannya sudah datang belum?" tanya Anjani, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Ah Mas, kenapa Jani tidak dibangunkan tadi? Itu sudah ada di sana."
Anjani, menyalahkan Abimanyu, yang tidak membangunkan dirinya saat makanan yang sudah dipesan datang.
"Tadi sudah dibangunkan. Kamu saja yang tidak mau. Malah mempererat pelukan juga tadi," jawab Abimanyu sambil membuka matanya, menatap wajah istrinya yang melihatnya, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dia katakan.
"Sekarang ada tiga pilihan," kata Abimanyu lagi, saat Anjani hanya diam saja tanpa mengatakan apapun.
"Kok tiga, apa?" tanya Anjani penasaran.
"Pilih untuk di kerjakan yang pertama kali. Pertama, mandi dulu, makan atau kita melanjutkan permainan seperti semalam?"
Anjani, kembali melotot tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Abimanyu.
"Mas. Sekarang kok jadi gitu sih bicaranya?" tanya Anjani tidak percaya.
"Kenapa? Ini kan wajar, sama istri sendiri ini, bukan orang lain kan?" jawab Abimanyu, kemudian balik bertanya pada Anjani. Dia bangkit dan menarik Anjani kembali ke tempat tidur.
"Diam berarti memilih yang ketiga untuk yang pertama dilakukan."
Abimanyu, justru memutuskan sendiri, apa yang akan mereka lakukan untuk pertama kalinya saat ini. Di pagi hari, dengan gerimis yang mewarnai pemandangan jendela kamar hotel.
__ADS_1