Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tamu Malam Hari


__ADS_3

Hari segera berlalu. Siang berganti sore, dan sekarang, sore juga sudah berganti dengan malam. Senja di langit Jakarta, sudah berganti dengan kelap-kelip lampu kota yang penuh warna. Membuat suasana ibu kota, selalu meriah meskipun pada malam hari.


Di rumah ibu Sofie, Sekar yang baru saja datang dari kampus, membuka almari es. Dia ingin membuat es sirup, untuk menghilangkan haus yang datang. Saat mengambil botol sirup, dia melihat ada mangkuk asinan Bogor.


"Wah, seger nih. Siapa yang beli, kok banyak sekali. Empat mangkuk? wah, pas nih satu-satu," guman Sekar, kemudian mengambil satu mangkuk asinan Bogor yang ada. Dia berpikir, jika ada empat mangkuk, berarti dia juga mendapat jatah satu bagian.


Sekarang, Sekar membawa es sirup yang sudah dibuatnya. Dia juga membawa satu mangkuk asinan yang tadi ada di lemari es. Tak lama, dia berjalan ke arah ruang tengah, yang tampak sepi. Mungkin, ayah dan ibunya sedang ada acara, dan Yasmin belum pulang, atau sedang berada di dalam kamar.


Sekar makan di ruang tengah. Dia menikmati asinan Bogor itu, sambil bermain handphone, membalas pesan yang masuk dari teman-temannya.


"Ih, tumben ini asinannya enak, gak kayak biasanya. Bumbunya juga pas nih, gak terlalu pedas atau manis," kata Sekar, sambil memutar-mutar mangkuk, untuk melihat kemasan plastik yang digunakan untuk wadah asinan itu. Di plastik kemasan mangkuk tersebut, terdapat nama tempat usaha yang Sekar kenali.


"Lho, ini kan kafe rumah milik mbak Jani, siapa yang bawa? Apa mbak Jani datang, atau mas Abi yang sedang tugas, dan sekarang menginap di rumah, seperti biasanya?"


Sekar, bertanya-tanya tentang adanya asinan Bogor, yang sedang dia makan sekarang. Dia segera menoleh ke tangga, karena mendengar langkah kaki yang bermaksud untuk turun dari lantai atas. Ternyata itu adalah Yasmin, saudara perempuannya, dan dugaannya tadi benar, bahwa Yasmin ada di rumah, tapi berada di dalam kamar.


"Sedang apa Kak?" tanya Yasmin, saat melihat Sekar yang menoleh ke arahnya


"Gak ngapa-ngapain. Ini asinan siapa? Kakak sudah terlanjur ambil dan makan juga. Enak lho, coba deh," jawab Sekar, sambil menunjukan mangkuk asinan yang dia pegang. Dia pura-pura, tidak mengenali tulisan yang ada pada kemasan plastik tadi.


"Oh, mas Abi yang bawa. Katanya, titipan dari istrinya itu. Aku belum nyobain. Tadi langsung Aku masukkan ke lemari es. Memangnya Kakak gak makan dulu, malah makan asinan. Kalau sakit perut bagaimana?"


Yasmin, menjawab pertanyaan dari kakaknya, Sekar, dan menjelaskan juga tentang asinan Bogor yang saat ini dinikmati. Dia juga mengatakan, jika mas_nya Abi, ada di kamar atas, sedang beristirahat. Tapi, dia juga tidak suka dengan kebiasaan Sekar, yang asal makan, dan tidak memperhatikan kondisi perutnya yang sedang kosong.


"Ada mas Abi?" tanya Sekar, memastikan. Dia tidak mempedulikan perkataan dan pertanyaan dari adiknya, Yasmin. Dia tidak sabar, untuk mendengar jawaban dari adiknya itu, Yasmin.


Yasmine hanya mengangguk mengiyakan. Tapi, dia juga mengambil mangkuk asinan yang ada di tangan Sekar, kemudian mulai mencicipi asinan tersebut. Sepertinya, Yasmin merasa penasaran, dengan apa yang tadi dikatakan oleh kakaknya, tentang rasa asinan tersebut.


Setelan asinan tadi masuk ke dalam mulutnya, Yasmin mulai menguyah dan merasakan rasa dari asinan tersebut. Dia tidak bisa memungkiri, jika rasanya memang enak. Perpaduan dari bumbu pedas dan segarnya buah-buahan yang ada, membuat dia keenakan dan ingin memakannya lagi.


"Wah, iya benar. Ini memang enak, dan tidak sama seperti yang di warung dekat kampus ya Kak?"

__ADS_1


Sekarang Yasmin mengakui, jika asinan Bogor buatan kakak iparnya, Anjani, memang enak. Dia segera menyuap lagi, dan tidak menunggu Sekar yang masih ingin makan juga.


"Eh, itu kan punya Kakak. Kamu ambil sendiri sana ke kulkas. Aduh... jangan dihabiskan Yasmin!" Sekar, berteriak kesal, karena Yasmin makan asinan itu terus. Padahal, di lemari es, masih ada.


"Pelit ah, gitu saja tidak boleh," kata Yasmin, sambil mencibir kakaknya itu.


"Eh, ini bukan soal pelit. Tapi, Kamu sudah ada bagiannya sendiri. Mbak Jani, membawa empat mangkuk asinan, yang berarti, masing-masing dapat satu buat kita-kita. Ayah, ibu, Kamu dan kakak. Lah ini, bagian kakak, Kamu ada sendiri sana!" Sekar, mengomel karena adiknya, yang makan bagiannya.


"Katanya tadi suruh mencicipi. Kan sudah, lah minta lagi kan gak apa-apa. Punyaku, makan nanti lagi," jawab Yasmin, membela diri.


Sekar, hanya tersenyum kecut, mendengar perkataan adiknya itu. Dia merasa salah bicara, karena tadi, dia tang meminta agar Yasmin mencoba miliknya. Jika sekarang Yasmin mau makan lagi, itu bukan salahnya.


Akhirnya, Sekar minum sirupnya tadi, dan beranjak dari tempatnya duduk. Dia ingin ke dapur, dan membersihkan gelas bekasnya sendiri.


Tak lama, dari luar, terdengar suara mobil yang berhenti. Yasmin menoleh. Dia ingin tahu, siapa yang datang ke rumahnya malam-malam begini.


"Siapa dek?" tanya Sekar, berteriak keras dari arah dapur. Dia juga ingin tahu, siapa yang datang malam-malam, ke rumah.


"Assalamualaikum..."


"Waallaikumsalam..."


Yasmin menjawab salam dari tamu yang datang. Dia segera beranjak dari tempatnya duduk, dan melihat siapa yang datang kl bertamu ke rumah malam-malam begini.


"Maaf, apa bu Sofie ada?" tanya tamu yang datang.


Yasmin, mengamatinya dengan teliti, meskipun tidak akan di sadari oleh tamu tersebut. Dia juga mulai menduga-duga, siapa gerangan tamu ini.


Tamu yang datang ke rumah, adalah seorang wanita dengan perkiraan umur, yang di kira-kira Yasmin, berusia tak jauh beda dengan kakak iparnya, Anjani. Tamu ini, mempunyai selera mode yang terlihat sosialita. Ini terlihat dari tas dan juga pakaian yang dikenakan tamu tersebut.


"Siapa ya?" tanya Yasmin, pura-pura acuh dan tidak memperhatikan penampilan tamu Ibunya yang baru saja datang itu

__ADS_1


"Saya Risma. Saya kenalan ibu Sofie, saat ada seminar kemarin di balai kota. Kebetulan, Saya baru pindah tugas ke Jakarta dari Bogor. Ini tadi pas lewat daerah sini, dan sudah mengabari ibu Sofie, jika Saya akan mampir kok," jawab tamu tersebut, dengan memperkenalkan dirinya juga.


"Oh, temannya ibu ya. Pantes saja, penampilan sosialita begini," kata Yasmin dalam hati. Dia tentu tidak mungkin mengatakan itu secara langsung, di depan tamu ibunya, yang memperkenalkan diri dengan nama, Risma.


"Emhhh... apa ibu Sofie_nya ada?" tanya Risma, yang merasa tidak enak hati, karena dilihat oleh Yasmin dengan tatapan menyelidik.


"Ad... a... ada kok," jawab Yasmin, dengan terbata-bata. Dia gugup, karena ketahuan jika sedang memperhatikan tamu ibunya itu.


"Siapa dek?"


Dari arah belakang, muncul Sekar, yang langsung bertanya, siapa yang datang bertamu.


"Ini Kak, tamunya ibu," jawab Yasmin, begitu Sekar ada di dekatnya.


"Oh, ya sudah. Panggilkan ibu sana dek," perintah Sekar pada Yasmin, supaya memangil ibunya yang ada di dalam kamar.


"Eh iya-iya Kak. Aku panggil ibu dulu ya!"


Akhirnya, Yasmin berjalan dengan cepat ke belakang. Dia menuju kamar ibunya, untuk memberitahu jika ada tamu yang datang.


"Mari Tan, eh... mbak... eh, apa ya manggilnya. Sekar bingung. kalau Tante, masih muda, kalau mbak... ah, pokoknya ayok masuk dan silahkan duduk."


Sekar jadi merasa bingung, saat ingin menyebut panggilan apa yang pas untuk tamu ibunya itu. Akhirnya, dia hanya mempersilakan tamu tersebut, untuk masuk dan duduk di ruang tamu.


"Panggil apa saja boleh kok dek. Paling, Saya tidak jauh beda dengan Kamu, atau kakak Kamu, jika punya kakak. Hehehe..."


Tamu ibunya itu, ternyata mempunyai selera humor yang baik, dan bukan hanya selera mode dan penampilannya saja yang terlihat modis. Orangnya, juga terkesan smart. Ini menurut Sekar.


"Eh... sudah datang ya Risma. Maaf ya, Aku malah ketiduran, padahal, malam juga belum begitu larut."


Dari arah belakang, ibu Sofie datang bersama dengan Yasmin, yang tadi bertugas membangunkan ibunya itu. Dia sekarang, ikut duduk di ruang tamu, bersama dengan ibunya juga. Sedangkan Sekar, kembali masuk dan naik ke lantai atas, untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Nanti, dia bermaksud untuk turun, saat makan malam tiba.

__ADS_1


__ADS_2