Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Diyah Manuhara


__ADS_3

"Terima kasih banyak Kak!" ucap Ara cepat, sambil turun dari boncengan motor sport, dan langsung berlari menuju ke gerbang sekolah.


Sedang pemuda yang naik motor tersebut, langsung melajukan kembali motornya, menuju ke arah warung Pak Lek, yang tidak jauh dari sekolahnya.


"Pak Lek, nitip!" ucap pemuda tersebut, setelah memarkirkan sepeda motornya.


Pak Lek penjual warung, hanya mengangguk sambil mengeleng beberapa kali, melihat tingkah laku anak-anak sekolah, yang menjadi pelanggan di warungnya, jika bubaran sekolah.


Pemuda tadi juga berlari ke arah gerbang, karena satu menit kemudian, pintu gerbang tersebut akan segera di tutup.


"Hah! Hampir saja," kata pemuda itu dengan membuang nafas lega.


Sekarang, dia berjalan dengan tenang, menuju ke arah gedung sekolahnya, yang berseberangan dengan gedung sekolah tingkat SMP.


Sepi.


Halaman sekolah sudah sepi, saat pemuda itu berjalan menuju kelas.


Ara, yang tadi dia bonceng, juga sudah tidak tampak di luar kelas. "Syukurlah dia sudah masuk, dan tidak terlambat. Untungnya, Aku berangkat sendiri tadi," gumam pemuda itu sendiri.


"Woi Bro! Aku pikir Loe gak masuk hari ini," sapa temannya, yang sudah cemas menunggu kedatangannya,.di saat dia baru saja datang.


"Napa?" tanya Awan datar.


Pemuda tadi adalah Awan. Dia berangkat sendiri, dan tidak diantar oleh supir. Dia juga menolak untuk menjemput temannya, meskipun tadi malam temannya itu memintanya untuk datang menjemput.


Dan ternyata, secara kebetulan, Awan bertemu dengan Ara, yang sedang berjalan kaki, berdua dengan tukang ojek yang biasa mengantar dan menjemputnya juga.


Itulah sebabnya, dia bisa memberikan tumpangan pada Ara tadi. Meskipun pada awalnya Ara menolak karena meragukan dirinya.


"Nape Loe gak mau jemput gue? Tumben-tumbenan," tanya teman Awan, yang sedikit kesal, karena ditolak oleh Awan, dengan permintaannya semalam, supaya Awan datang menjemput ke rumah.


"Males. Lama-lama, gue kayak tukang ojek Loe!" sahut Awan setelah duduk dan meletakkan tasnya.


"Halah... mana ada tukang ojek ganteng begini, dengan motor sport lagi? gak kuat bayar Gue!" Temannya Awan justru meledeknya.


Tapi perdebatan mereka berdua, tidak berlangsung lama, sebab, guru mereka sudah datang dan membuka pintu. Siap memberikan pelajaran dan tugas-tugas yang harus diselesaikan.


Apalagi, sekolah ini memang menitik beratkan pada sistem pendidikan yang membuat siswanya aktif dan kreatif, sehingga tidak hanya sekedar mendengarkan guru yang sedang memberikan pelajaran dan penjelasan saja.


Pada waktu istirahat sekolah, Ara sedang bersama dengan temannya datang ke perpustakaan sekolah. Mereka ingin meminjam buku, yang ada kaitannya dengan tugas yang diberikan oleh guru mereka tadi.

__ADS_1


Perpustakaan sekolah di yayasan tersebut, menjadi satu di gedung yang sama, meskipun di dalamnya, ada sekat pembatas antara perpustakaan tingkat SMP dan SMA.


Ara baru saja mau masuk ke dalam bersama dengan temannya tadi, saat Awan dan temannya keluar dari perpustakaan tingkat SMA.


Sekilas, Ara yang melihat postur tubuh kedua kakak kelasnya itu, yang dia ketahui saat mereka berdua datang ke dalam kelasnya, karena mendapat tugas untuk membantu panitia penerimaan siswa baru, tingkat SMP.


Sayangnya, Ara yang waktu itu hanya mengenali salah satu dari mereka. Dan Ara, meminta klarifikasi padanya, soal kakak kelasnya itu, saat memberikan petunjuk yang salah, pada saat ditanya Ara, di waktu ada tes penerimaan beasiswa berprestasi, beberapa bulan yang lalu.


Dan setelah itu, Ara baru sadar jika, perbuatannya itu bisa membuat kakak kelasnya merasa malu. Tapi Ara belum sempat meminta maaf pada orang tersebut. Dia takut jika orang itu akan marah, dan merasa kesal, sehingga menaruh dendam padanya. Sama seperti yang dikatakan oleh bundanya, saat Ara menceritakan tentang kejadian pertama kali masuk sekolah, pada bundanya, Anjani.


Anjani menanggapi cerita Ara dengan bijak. Dia menasehati Ara, supaya meminta maaf pada kakak kelasnya itu, supaya tidak ada kesalahpahaman lagi, dan juga tidak ada sakit hati karena merasa dipermalukan.


"Kak!" panggil Ara, pada kedua kakak kelasnya itu.


Karena Ara tidak tahu nama mereka, meskipun hanya salah satunya, Ara jadi tidak bisa memanggil mereka berdua dengan menyebut nama salah satu dari mereka juga.


Awan dan temannya, berhenti karena merasa terpanggil. Dan saat mereka berdua menoleh, ternyata ada anak SMP, yang memangil mereka.


Teman Awan, langsung tersenyum manis, karena merasa mendapatkan kesempatan, untuk bisa melaksanakan rencananya kemarin.


Sedangkan Awan, berpikir bahwa, Ara sudah tahu, jika dia adalah orang yang tadi pagi menolongnya.


"Saya minta maaf ya Kak. Untuk semua yang terjadi saat pertama masuk sekolah kemarin, di kelas." Ara mengucapkan permintaan maafnya, kepada temannya Awan.


"Oh, tidak masalah Dek. Saya yang salah kok waktu itu. Jadi tidak perlu minta maaf," ujar temannya Awan, seakan-akan tidak mempermasalahkan soal kejadian kemarin itu.


"Oh ya, mana Kamu siapa?" tanya temannya Awan, yang merasa mendapatkan kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan adik kelasnya, yang pemberani meskipun terlihat polos.


"Diyah Manuhara," Ara memperkenalkan dirinya sendiri, pada kakak kelasnya itu.


"Ohhh, Diyah ya... Nama yang cantik," sahut teman Awan, dengan gaya merayu, meskipun secara tidak langsung.


Ara hanya tersenyum tipis, mendengar pujian dari kakak kelasnya itu. Sedangkan Awan, mengerutkan keningnya mendengar Ara memperkenalkan dirinya.


'Tadi pagi, Dia di panggil dengan nama Ara, sewaktu orang yang mengantarnya, memintanya untuk ikut denganku. Kok sekarang jadi Diyah?' tanya Awan dalam hati.


'Oh, mungkin dia biasa dipanggil dengan nama Ara di rumah, sedangkan di sekolah, biasa di panggil dengan nama depan, agar mudah untuk diingat,' kata Awan lagi, dalam hati.


Sekarang dia paham dengan nama Diyah Manuhara, atau Ara. Awan bisa mengambil kesimpulannya sendiri, tanpa harus bertanya pada Ara secara langsung.


"Oh ya, ini temannya Kakak, namanya Awan. Bukan Awan panas lho ya!" temannya Awan, memperkenalkan Awan dengan bercanda, sehingga Ara dan temannya tadi tertawa-tawa kecil, karena merasa lucu.

__ADS_1


Awan hanya tersenyum tipis, mendengar candaan temannya itu. Padahal, teman Awan malah tidak memperkenalkan dirinya sendiri. Dan justru Awan yang dia perkenalkan.


'Manis juga dia kalau tersenyum begitu,' kata Ara, saat melihat Awan tersenyum tipis, karena biasanya berwajah datar.


Mereka berdua, Ara dan Awan, saling melirik satu sama lain. Dan Ara, tetap tidak mengenali Awan, sebagai pemuda yang tadi pagi sudah menolongnya. Memberinya tumpangan hingga sampai d sekolah, sehingga tidak jadi terlambat masuk sekolah.


Awan juga diam dan tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak mau, jika harus mengatakan semua yang sudah dia lakukan pada Ara, hanya untuk mendapatkan simpati.


'Ternyata, dia memang tidak mengenali Aku,' batin Awan, dengan melihat arloji yang ada di tangan temannya itu.


"Oh ya, Kami pergi dulu ya," pamit temannya Awan, saat sadar dengan waktu yang mereka miliki, karena Awan mengingatkan, meskipun tanpa bersuara.


Ara dan juga temannya, mengangguk mengiyakan.


"Besok-besok kita ngobrol ya!" kata teman Awan, sambil berjalan meninggalkan teras perpustakaan sekolah.


"Ra, tadi kok Kamu mengangguk saja, saat kakak tadi memangil namamu dengan sebutan Diyah?"


Teman Ara bertanya, setelah Awan dan temannya itu pergi menjauh dari tempat mereka berdiri.


"Kenapa? kan sama aja, namaku memang Diyah Manuhara, jadi terserah yang manggil. Mau Diyah atau Ara, atau komplit, hehehe..." ujar Ara menjelaskan, kalau dia tidak mempermasalahkan soal panggilan namanya.


"Hehehe... iya juga sih. Tapi kan rasanya aneh, dan tidak biasa," sahut temannya, yang merasa tidak nyaman, saat mendengar nama Ara, diganti dengan nama Diyah.


"Itu karena tidak terbiasa saja," ujar Ara menjelaskan.


"Oh ya, itu kakak yang tadi kenapa malah tidak memperkenalkan dirinya, justru memberitahu nama dari temannya, kan aneh ya?"


"Eh iya-iya. Hehehe, mungkin lupa dia," sahut Ara terkekeh geli, mengingat kakak kelasnya tadi.


"Grogi mungkin Ra, ketemu Kamu."


Ara, kembali tertawa, karena mendengar dugaan temannya itu.


"Ada-ada saja. Udahlah, yuk masuk!" ajak Ara, sambil menyeret tangan temannya.


"Eh, jangan di serat-serat dong Ra..."


Tapi Ara tidak peduli. Dua tetap berjalan, dengan mengadeng tangan temannya itu, untuk melanjutkan maksud mereka datang ke gedung perpustakaan sekolah ini. Yaitu mencari buku.


Dan akhirnya, mereka berdua segera masuk ke dalam ruangan perpustakaan sekolah, untuk mencari buku-buku yang mereka butuhkan.

__ADS_1


__ADS_2