Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Menunggu Waktu


__ADS_3

Keadaan bandara internasional semakin ramai. Wajah-wajah yang terlihat cemas dan khawatir, tampak dari semua orang yang sedang menunggu kedatangan pesawat dari Taiwan.


Empat puluh lima menit, dari lamanya menunggu, sejak diumumkan untuk menunggu selama satu jam, pengumuman dari pengeras suara terdengar lagi.


Kali ini, petugas memberitahukan bahwa, pesawat akan tiba dalam waktu lima menit dari sekarang. Lebih cepat dari perkiraan yang pertama.


"Syukurlah. Akhirnya sampai juga."


"Alhamdulillah. Tidak terjadi sesuatu pada pesawat. Anakku dan keponakanku, ada di dalam sana. Baru pulang setelah lima tahun berada di Taiwan."


"Aku malah tidak bertemu dengan bapakku selama hampir sepuluh tahun. Dan kepulangannya kali ini, karena tenaganya sudah dianggap tidak berguna. Pensiun lah jadinya bapakku itu."


"Pilotnya baru belajar apa ya, kok gak bisa mengendalikan pesawat dengan baik?"


Wajah-wajah yang penuh kelegaan, tampak pada mereka, yang ikut menunggu, sama seperti yang dialami oleh ayah Edi dan juga ibu Sofie.


Ucapan rasa syukur dan helaan nafas lega, juga terdengar dari beberapa orang yang merasa lega dan tidak lagi merasa khawatir, dengan keadaan pesawat yang mereka tunggu-tunggu, karena di dalam pesawat tersebut, ada orang tua, sanak saudara dan ada juga anak-anak mereka. Sama seperti ayah Edi dan ibu Sofie, yang sedang menunggu anak mereka berdua, yaitu Yasmin, yang datang bersama dengan calon suaminya.


Dengan rasa was-was yang bercampur dengan bahagia, ibu Sofie melihat ke arah pintu keluar. Dia terus mengamati, seakan-akan tanpa berkedip, karena takut jika terlewatkan.


Satu persatu penumpang yang keluar dia lihat dengan seksama. Dia takut jika melewatkan penglihatan matanya, saat kedatangan anaknya, Yasmin.


Beberapa saat kemudian.


"Ibu, Ayah. Ibu Sofie, Ayah Edi!"


Ibu Sofie yang baru saja membetulkan kemeja suaminya, segera menoleh ke arah sumber suara. Begitu juga dengan ayah Edi.


Mereka berdua, tersenyum senang karena melihat kedatangan anak mereka. Dengan segera, mereka menghampiri Yasmin yang baru saja datang. Ada satu laki-laki, yang ikut melangkah bersama dengannya. Mereka berdua, mendorong dua troli, untuk membawa koper dan barang mereka masing-masing.


Yasmin, langsung memeluk ibunya, begitu dia sampai di depan ibu Sofie.

__ADS_1


"Bu. Apa kabar? hiks hiks hiks, Yasmin pikir tidak akan sampai ke Indonesia dan bertemu dengan ibu tadi," kata Yasmin, sambil berlinangan air mata.


Mereka berdua, saling berpelukan dan sama-sama menangis karena haru dan rasa bahagia yang mereka rasakan.


Ayah Edi, disalami oleh calon menantunya, yang ikut datang bersama dengan anaknya, Yasmin.


"Saya Aksan. Calon suaminya Yasmin."


Laki-laki tadi, dengan tegas memperkenalkan dirinya sendiri sebagai calon suaminya Yasmin.


"Oh, nak Aksan. Selamat datang. Saya Edi, biasa di panggil ayah Edi. Panggil saja seperti itu, sama seperti Yasmin biasa memangil. Kamu juga akan jadi suaminya, jadi tidak apa-apa kan kalau memanggil dengan ayah juga?"


Aksan mengangguk mengiyakan perkataan ayah Edi. Dia merasa senang, karena disambut dengan hangat oleh calon mertuanya itu.


"Ayah," sapa Yasmin, berganti dari ibunya ke arah ayahnya.


"Yasmin kangen Yah," kata Yasmin lagi, sambil menyalami, kemudian mencium tangan ayahnya. Setelah itu, Yasmin memeluk ayahnya.


"Dia tidak mau ikut tadi," jawab ibu Sofie, tanpa memberikan keterangan yang pasti.


"Kenapa tidak mau ikut Bu?" tanya Yasmin ingin tahu, kenapa anaknya tidak mau ikut menjemput dirinya.


Akhirnya, ibu Sofie menceritakan tentang Nanda, yang menolak untuk ikut mereka, meskipun tadi sudah masuk ke dalam mobil. Tapi karena Ara tidak ikut, akhirnya dia meminta untuk tidak ikut juga.


"Dia bermain-main dengan Ara. Kan mas Kamu, belum sembuh benar. Kelumpuhan yang dia alami, membuat Anjani harus terus menerus berada di dekatnya. Dia juga masih belum ingat apa-apa. Dia hanya mengikuti apa yang kami ceritakan."


Yasmin menitikkan air mata, saat mendengar jawaban dari ibunya. Dia merasa sedih, dengan nasib kakaknya, Abimanyu, yang selalu membelanya selama ini.


"Yasmin jadi merasa kasihan pada mas Abi dan juga mbak Jani. Hiks, mereka pasti dalam keadaan yang sama-sama sedih, memikirkan perjalanan nasib mereka. Sama seperti yang dulu Aku lalui," kata Yasmin, saat teringat dengan kejadian demi kejadian yang membuat dirinya seakan menjauhkan diri dari keluarganya sendiri, karena harus menjadi seorang TKI di Taiwan.


"Sudah-sudah. Ayo kita pulang sekarang," ajak ayah Edi, kemudian mengambil alih troli yang tadi didorong oleh Yasmin.

__ADS_1


Ayah Edi, mendorong troli, yang berisi koper dan barang-barang milik Yasmin. Sedangkan Aksan, mendorong troli yang satunya lagi. Mungkin, yang dia dalam troli itu adalah koper dan barang-barang milik Aksan sendiri.


*****


Di Batam, mama Amel yang meminta bantuan pada salah satu rekannya, yang punya pengaruh, untuk bisa bekerja sama dengan pihak hotel, tempat Adhisti sering kali berkunjung, untuk mengawasi, siapa saja yang ikut datang bersama dengannya atau siapa saja yang masuk ke dalam kamar hotel, yang sudah di booking oleh Adhisti.


Ternyata, dari pantauan cctv hotel, Adhisti seringkali datang ke hotel tersebut. Seminggu bisa dua atau tiga kali.


Dia tidak datang seorang diri, tapi ada beberapa orang yang ikut datang atau mereka sudah melakukan janji temu terlebih dahulu dia kamar hotel yang sudah ditentukan.


Akhirnya, pihak hotel jadi merasa curiga dengan kegiatan mereka, Adhisti dan rekan-rekannya, karena mereka selalu lama jika ada di dalam kamar tersebut.


Dan mama Amel, mendukung ide dari pihak hotel tersebut, agar semua bisa jelas dan tidak ada kesimpangsiuran berita. Karena dari beberapa pegawai kebersihan kamar hotel, mereka pernah menemukan beberapa barang yang tertinggal secara tidak sengaja, yang diduga sebagai alat untuk kegiatan mereka selama ini.


Karena tidak mau menanggung resiko dengan beberapa asumsi dan kecurigaan terhadap kegiatan Adhisti, bermasa dengan teman-temannya itu, pihak hotel memanggil pihak kepolisian, untuk menyelidiki kegiatan mereka itu.


Beberapa polisi sudah datang dengan pakaian preman, dihari yang biasa dijadikan untuk bertemu serta berkumpul bersama. Jadi, beberapa polisi tadi, menyamar, supaya keberadaan mereka tidak mencolok untuk berada di dalam hotel.


Anggota polisi sudah menyebar ke beberapa tempat. Ada yang menunggu di loby hotel, menjadi petugas kebersihan yang berada di dekat lift, dan ada juga yang duduk santai sambil berbincang-bincang di balkon kamar hotel, yang tepat berada di samping kamar hotel yang sudah dipesan oleh Adhisti tadi pagi.


Mereka semua, anggota kepolisian, sudah bersiap-siap untuk melakukan pengerebekan.


Beberapa saat kemudian, target sudah datang. Tampak Adhisti berjalan dengan cepat menuju ke loby hotel, kemudian meminta pada resepsionis hotel untuk memberikan kunci kamar, dengan menunjukan bukti booking dari layar handphone miliknya.


Polisi yang berada di loby, memberikan kabar pada rekannya yang lain, yang berada tak jauh dari lift, yang akan digunakan oleh Adhisti untuk naik ke kamar yang sudah dia pesan.


Begitu seterusnya, hingga pada anggota kepolisian yang berada di dalam kamar dan sedang berbincang-bincang di balkon kamar.


Mereka semua, sudah bersiap untuk melakukan pengerebekan yang sudah direncanakan selama beberapa hari kemarin, terkait dengan laporan dari pihak hotel atas kecurigaan mereka terhadap tamu yang sudah menjadi langganan mereka selama ini.


Mereka, pihak hotel, tidak memandang hanya pada keuntungan dari pelanggan saja, tapi mereka juga ingin menjaga nama baik hotel agar tetap bersih dan tidak dipandang sebagai hotel yang bernilai negatif.

__ADS_1


__ADS_2