
Malam, disaat Anjani dan Abimanyu selesai makan malam, Anjani menceritakan tentang keadaan Yasmin pada suaminya, yang merupakan kakak dari Yasmin sendiri. Tapi, sepertinya, Abimanyu sudah tahu bagaimana keadaan adiknya itu sekarang. Mungkin dia tahu dari ayah Edi, dari ibunya sendiri, yang tidak mungkin diam begitu saja, melihat anak kesayangannya itu diabaikan oleh kakaknya, ataupun ayahnya sendiri.
"Apa Mas Abi sudah tahu keadaan Yasmin yang sekarang ini?" tanya Anjani memastikan.
Abimanyu tidak menjawab pertanyaan dari Anjani. Dia hanya diam tapi akhirnya mengangguk juga.
"Mas Abi tahu dari mana?" tanya Anjani lagi, ingin tahu dari mana suaminya itu tahu keadaan Yasmin yang sekarang.
"Dari ibu," jawab Abimanyu pendek. Dia juga tidak melanjutkan kalimatnya lagi.
Anjani menghela nafas panjang. Dia merasa jika suaminya itu masih belum bisa memaafkan Yasmin, adiknya sendiri, yang sudah membuat dirinya keguguran dan bahkan hampir kehilangan nyawa juga.
"Mas," panggil Anjani pendek. Dia menggenggam tangan suaminya itu, agar Abimanyu bisa mendengar perkataan yang akan dia katakan.
"Ya, ada apa?" tanya Abimanyu, dengan melihat ke arah istrinya yang ada disampingnya dan menggenggam tangannya juga.
"Mas belum bisa memanfaatkan Yasmin?" tanya Anjani ingin tahu.
Abimanyu hanya mengangguk saja. Dia tetap tidak mau bersuara meskipun itu tentang keadaan adiknya yang sedang kesusahan.
"Aku sudah tahu keadaan Yasmin dari awal. Ibu yang menceritakan semuanya, melalui telpon. Dan saat Aku datang ke rumah, Yasmin sedang ada di sana. Dia menangis pada ibu, menceritakan tentang keadaan itu. Tapi mereka berdua tidak tahu dengan kedatanganku, karena Aku juga segera pergi dari sana. Aku tidak mau ketemu dengan Yasmin lagi."
Akhirnya, Abimanyu menceritakan tentang kebenaran yang dia ketahui sendiri ataupun yang diceritakan oleh ibunya, yang kemungkinan berharap agar Abimanyu memaafkan adiknya, Yasmin, dan ikut membantunya juga.
"Tapi dia adikmu Mas. Apa Kamu tidak kasihan kepadanya dengan keadaannya yang sekarang ini?" tanya Anjani pada suaminya itu. Dia hanya ingin, melihat Abimanyu tidak lagi memiliki perasaan benci ataupun dendam pada Yasmin.
"Aku kasihan padanya, tapi Aku tidak suka dengan kelakuannya, bahkan sampai saat ini dia juga tidak datang sendiri secara langsung untuk minta maaf pada kita kan? terutama pada Kamu Sayang. Apa yang dia pikirkan saat itu dan saat ini, itu tetap sama. Dia tidak merasa bersalah dan itu tidak benar."
Abimanyu mengatakan isi hatinya dengan nada tinggi. Ini menandakan jika dia masih merasa belum bisa memaafkan Yasmin.
Anjani sendiri merasa heran dengan sikap adiknya, Yasmin. Dia merasa jika Yasmin itu tinggi hati dan tidak mau mengalah serta mengakui jika dia memang salah. Padahal, selama ini Anjani sudah berusaha untuk bersikap baik dan juga membantunya dalam keadaan apapun. Tapi sepertinya memang seperti itulah sifat asli Yasmin.
__ADS_1
"Suatu hari nanti, dia akan memohon kepada kita. Biarkan dia menjalani kehidupannya yang sekarang. Dia tidak mau mengakui jika salah ataupun minta maaf, itu tidak masalah. Tapi Aku juga tidak akan membantunya, jika dia memintanya suatu hari nanti. Aku benar-benar tidak bisa memaafkan Yasmin."
Setelah berkata demikian, Abimanyu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke luar rumah. Dia berdiam diri di teras depan, dan tidak ingin diganggu, meskipun itu Anjani, istrinya sendiri.
Jika sudah dalam keadaan seperti ini, Anjani tahu, jika Abimanyu, suaminya itu, sedang dalam keadaan perang batin. Bisa dipastikan jika Abimanyu sebenarnya merasa kasihan pada adiknya, tapi sisi lain dari hatinya, menentang keras dengan perasannya yang lemah. Dia butuh waktu untuk menentukan sikapnya sendiri terhadap adiknya itu. Dan Anjani tidak mau lebih mengacaukan hati suaminya untuk saat ini.
Anjani ikut beranjak dari tempat duduknya. Tapi dia masuk ke dalam kamar. Dia ingin beristirahat, karena tubuhnya sudah sering merasa capek dan payah karena kehamilannya itu.
Tak lama, Abimanyu masuk ke dalam kamar. Dia ikut berbaring dengan posisi miring ke arah istrinya. Dia mencium kening Anjani, kemudian berkata, "maaf, Mas tidak bisa memaafkan Yasmin, karena selain dia sudah menghilang nyawa calon anak kita, itu juga membahayakan keselamatan dirimu juga. Bahkan nyawamu. Itulah sebabnya Aku sangat marah padanya, apalagi dia juga tidak pernah datang ke sini, untuk meminta maaf secara langsung dan pribadi padamu. Aku melakukan semua ini untukmu, Jani. Jadi, jangan lagi membahas masalah Yasmin."
Setelah itu, Abimanyu memejamkan mata untuk ikut tidur bersama dengan istrinya, Anjani.
Di lain pihak, Anjani yang belum sepenuhnya tertidur pulas, mendengar semua perkataan Abimanyu. Dia jadi menitikkan air mata haru, mendengar perkataan suaminya itu. "Terima kasih Mas. Kamu begitu memperhatikan Aku. Semoga suatu saat nanti, kamu bisa memaafkan Yasmin, dia juga adikmu, yang perlu banyak bimbingan juga darimu agar tidak lagi melakukan kesalahan," kata Anjani dalam hati. Dia memeluk suaminya yang sudah ada di alam mimpi.
*****
Waktu berlalu. Sudah tiba waktunya untuk Anjani melahirkan. Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan calon anaknya itu.
Abimanyu juga begitu bersemangat. Dia menata satu ruangan khusus untuk menyambut kelahiran bayi yang akan segera lahir dari rahim istrinya. Anaknya dengan Anjani.
Seminggu lagi jadwal kelahiran bayi mereka. Jadi mereka berdua dengan bersemangat untuk menyambut hari itu.
"Mirip Aku lah Mas. Kan dia cewek," jawab Anjani, yang memang sudah tahu jenis kelamin bayi mereka.
Abimanyu juga sudah tahu, tapi dia tidak mau jika hanya wajah istrinya saja yang jadi duplikat wajah anak mereka nanti.
"Tapi, kata orang-orang tua, kalau anak cewek itu, wajah malah mirip ayahnya lho Sayang. Bagaimana kalau kita buktikan omongan orang tua dulu? biar mereka tidak berpendidikan, tapi orang tua itu jeli dan tahu dari banyaknya pengalaman hidup," ucap Abimanyu, dengan memberikan tantangan pada Anjani, tentang perkataan atau mitos orang-orang tua yang lebih berpengalaman soal kehidupan.
"Hehehe... bilang saja Mas cemburu, jika wajah anak kita hanya mirip Aku dan tidak ada wajah Mas di wajah anak kita nanti," jawab Anjani, sambil mengolok-olok suaminya.
"Hahaha... iya lah, dia kan anak kita berdua. Masak cuma mirip Kamu, dan tidak ada wajahku padanya," kata Abi sambil tersenyum mendengar perkataan sendiri.
__ADS_1
"Hehehe..."
"Hahaha..."
Mereka berdua sama-sama tertawa, karena sadar jika apa yang mereka bicarakan ini soal anak mereka sendiri. Anak mereka berdua, yang baru akan lahir seminggu kemudian.
"Ya sudah, ayok kita tidur. Besok Kamu ada kelas senam hamil kan, biar bisa lancar pas melahirkan nanti."
Anjani mengangguk mengiyakan perkataan Abimanyu. Akhirnya, mereka berdua tidur dengan posisi saling berpelukan, setelah Abimanyu mengelus-elus perut buncitnya Anjani.
*****
Di rumah kontrakan yang padat penduduk. Yasmin menangis melihat keadaan anaknya yang sedang demam. Dia ingin datang ke rumah ibunya, tapi dia tidak ad uang untuk ongkos bajay ataupun taksi. Dia juga tidak tahu, harus meminta bantuan pada siapa, karena suaminya, Wawan, sudah tidak pulang selama tiga hari.
Saat dia datang ke tempat kerja suaminya, dia justru mendapat amarah dari pemilik percetakan, karena Wawan sudah menipu anak gadisnya yang membuka salon di samping percetakan tersebut.
Dari apa yang Yasmin dengar dari pemilik percetakan tersebut, Wawan sering meminjam uang pada anaknya, dengan alasan untuk membayar uang kontrakan atau berobat anaknya yang sedang sakit.
Bahkan, seminggu kemarin, Wawan kembali meminjam uang kepada anaknya itu, dengan jumlah yang sangat besar, yaitu dua puluh juta. Saat ditanya, uang itu akan digunakan Wawan, untuk membayar pengobatan anaknya yang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit.
Tentu saja, anak pemilik percetakan tersebut jadi tidak tega dam memberikan uang pinjaman lagi. Padahal, pinjaman demi pinjaman sebelumnya belum juga dibayar satupun oleh Wawan. Dan sudah empat hari ini, Wawan tidak masuk kerja dan tidak busa dihubungi.
"Tapi dia tidak pulang ke rumah, dan anak kami memang sakit, tapi ada du rumah dan tidak di rawat di rumah sakit," kata Yasmin memberitahu keadaannya yang sebenarnya pada pemilik percetakan.
"Apa? berarti Wawan sudah banyak menipu anakku! Apa Kamu juga berkompromi dengannya, mau menipu kami?" tanya pemilik percetakan tersebut dengan nada marah dan curiga.
"Kalian akan aku laporkan ke polisi, jika tidak ada kejelasan dimana keberadaan Wawan dalam waktu dua hari ini," kata pemilik percetakan lagi, melanjutkan kata-katanya yang tadi.
Tentu saja, ancaman pemilik percetakan tersebut membuat Yasmin takut. Dia segera pamit pulang dan menjaga anaknya yang sedang sakit.
Untungnya, tadi ada salah satu tetangganya yang baik dan mau menjaga Nanda, meskipun hanya sebentar saja. Tetangga tersebut juga memberikan makanan untuk mereka berdua.
__ADS_1
Yasmin benar-benar berterima kasih pada tetangganya tadi. Tapi saat dia ingin meminjam uang untuk datang ke rumah ibunya, orang tersebut mengatakan jika dia sedang tidak ada uang. Dia baru saja membayarkan uangnya untuk tagihan rumah kontrakan miliknya sendiri.
Yasmin jadi merasa sangat sedih dengan keadaannya yang sekarang ini. Dia merasa sangat menyesal, karena masih saja mempercayai Wawan, suaminya yang sudah seringkali mengelabuinya, untuk kesenangan sendiri sedari dulu.