Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Rahasia Hati


__ADS_3

"Kamu masih ingat dengan Mita?" tanya Nanda, di saat pagi harinya dia datang lagi ke rumah Ara.


Dia belum puas berbincang dengan adik sepupunya itu, kemarin. Karena ada banyak orang, dan sedang dalam perbincangan yang serius untuk rencana pertunangan dua hari ke depan nanti.


"Ingat. Mita temannya Ara yang satu kelas itu kan?" jawab Ara, memastikan bahwa, Mita itulah yang dimaksud oleh Nanda.


Nanda pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan jawaban dan pertanyaan yang sekaligus diajukan oleh Ara barusan.


"Memang kenapa dia Kak?" tanya Ara lagi, karena Nanda hanya mengangguk saja.


"Emhhh... dia, dia sakit."


Akhirnya, dengan berat hati, Nanda mengatakan pada Ara, bagaimana keadaan Mita sekarang ini.


"Sakit? Sakit apa?" tanya Ara kaget.


Tapi Nanda justru mengelengkan kepalanya lagi. Karena Nanda memang tidak tahu, apa penyakit yang diderita oleh Mita saat ini.


"Kok Kak Nanda tau Mita sakit?"


Sekarang, Ara justru bertanya dengan mata memicing. Seakan-akan sedang menyelidik curiga, bagaimana bisa kakak sepupunya itu masih mengetahui tentang Mita, yang tentunya saat ini sudah tidak lagi menjadi adik kelasnya.


Secara, Nanda juga sudah kuliah. Dan jika benar, Mita juga baru saja lulus, dan mungkin, baru masuk ke universitas.


"Apa Kakak satu kampus dengan Mita?" tanya Ara, menanyakan tentang kemungkinan itu.


Nanda menghela nafas panjang, kemudian mengelengkan kepalanya lagi, baru kemudian dia berkata, "tidak. Kakak tidak satu kampus dengan Mita. Tapi dengan pacarnya Mita."


Ara kembali memicingkan matanya, dengan menatap wajah kakak sepupunya itu. Dia masih menunggu, hingga Nanda melanjutkan kalimatnya lagi, untuk menjelaskan pada Ara, bagaimana cara dia mengetahui tentang keadaan Mita sekarang ini.


"Mita tidak satu kampus, tapi Kakak satu kampus dengan Dika. Kami masih ingat dengan kak Dika? Temannya kak Awan," ujar Nanda, dengan mengingatkan Ara pada Dika, teman Awan, yang dulu juga kadang-kadang bersama dengannya juga.


"Kak Dika? Masih ingatlah Kak. Memang dia kuliah di Jakarta? Bukannya katanya dulu, mau kuliah ke luar negeri?"


Dika tersenyum tipis, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Ara tentang Dika.


Sekarang, Nanda menceritakan tentang keadaan Mita, dan apa yang dia ketahui tentang Dika, sehingga saat ini kembali ke Jakarta lagi.


Nanda juga menceritakan tentang perkataan Dika padanya, kemarin saat dia berada di parkiran rumah sakit.


"Jadi sekarang ini, Mita pacarnya kak Dika, tapi kak Dika pernah bilang begitu sama Kakak? Kok aneh ya kalau disambungkan?" Ara menarik kesimpulan, dari cerita yang disampaikan oleh Nanda padanya.

__ADS_1


"Kakak juga gak tahu Ra. Bahkan, pada waktu itu, Kakak juga belum sempat bicara dengan Mita. Keburu teman-temannya datang. Kakak malu," sahut Nanda, dengan nada yang kecewa.


Kecewa dengan sikapnya sendiri, yang merasa seperti seorang pengecut.


"Kakak suka ya, dengan Mita?"


Ara menebak jika, kakak sepupunya itu menyukai temannya, sewaktu masih sekolah di Jakarta.


Nanda tidak menjawab pertanyaan dari Ara. Dia hanya tersenyum samar, dengan membuang nafas.


"Perjuangkan Kak. Sepertinya, kak Dika gak sungguh-sungguh sama Mita," ujar Ara, memberikan penilaiannya terhadap hubungan antara Dika dengan Mita.


"Tapi, mereka belum putus Ra. Kakak gak mau terkesan jadi merebut kekasih orang. Dan belum tentu juga, Mita suka dengan Kakak. Bisa-bisa, Mita malah jadi ilfeel sama Kakak."


Ara mengangguk-angguk kepalanya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Nanda. Dia merasa jika, kakak sepupunya itu memang tidak seharusnya meminta pada Mita untuk menjadi kekasihnya pada saat ini.


Apalagi, ada Dika, yang masih berstatus sebagai kekasihnya Mita. Meskipun Dika pernah mengatakan jika dia tidak mau dengan Mita yang penyakitan, tapi, siapa yang akan percaya, jika itu dikatakan lagi oleh Nanda sebagai alasannya, pada saat meminta pada Mita untuk mau jadi kekasihnya Nanda.


Nanda tidak punya bukti apa-apa. Tidak ada saksi juga, yang ikut mendengarkan perkataan Dika, pada saat berada di area parkir rumah sakit.


Bisa-bisa, Nanda akan dinilai sebagai seorang pembual dan pecundang, sehingga mengunakan cara yang curang.


"Ya sudah Kak. Biarkan saja dulu, bagaimana kelanjutannya nanti. Tapi, jika Kakak memang suka dengan Mita, Kakak harus bisa menjaganya, melindungi Mita juga, dari apa yang akan dilakukan oleh kak Dika padanya."


Setelah saling pandang, dan terdiam sejenak, akhirnya Nanda memutuskan pandangannya dari Ara.


"Sebenarnya, Kakak ada nama lain yang sudah membuat kakak tidak bisa melupakannya. Membuat Kakak tidak bisa pergi jauh-jauh darinya, meskipun sekarang ini, itu tidak mungkin. Dan Kakak sadar diri sedari dulu, jika itu memang tidak mungkin."


Nanda mengatakan isi hatinya, tapi itu pun hanya bisa dia ucapkan dalam hati. Dia tidak pernah berani untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan selama ini.


Setelah saling pandang, dan terdiam sejenak, akhirnya Nanda memutuskan pandangannya dari Ara.


"Kamu, selamat ya! Besok acara pertunangan Kamu dengan Awan. Semoga, Awan bisa mencintaimu dan menjagamu sepanjang masa."


Nanda berkata demikian, tapi dengan tidak melihat ke arah Ara.


"Aamiin..."


Ucap Ara, mengamini ucapan dan doa yang diucapkan oleh Nanda, dengan memiringkan kepalanya, untuk melihat wajahnya Nanda, yang saat ini sudah tidak bisa dia lihat seutuhnya, karena Nanda sedang memalingkan wajahnya. Menghindar dari tatapan Ara, yang tidak bisa dia terima.


"Kak! Kak Nanda!"

__ADS_1


Tiba-tiba, dari arah belakang, muncul Anggi yang berteriak keras.


"Ada apa Anggi?" tanya Nanda, yang terkejut dengan kedatangan Anggi. Apalagi, Anggi juga berteriak-teriak, memanggil namanya.


"Hehehe... gak apa-apa. Cuma kangen di bonceng motornya Kakak. Ayok Kak!"


Ternyata, Anggi ingin di bonceng motornya Nanda, sama seperti dulu, sewaktu di masih usia TK.


"Eh, Kakak gak bawa motor tadi ke sini," jawab Nanda, menjelaskan.


Tadi, Nanda datang bersama dengan ayah Edi, yang sekarang ini, sedang pergi bersama dengan Abimanyu.


"Ambil yuk Kak. Anggi pengen muter-muter komplek. Terus... nyari jajanan. Entar kita mampir ke rumah Miko. Kita iming-imingi dia. Hehehe..."


Ara melongo, mendengar perkataan yang diucapkan oleh adiknya, Anggi.


Dia tidak menyangka jika, keinginan Anggi tadi, hanya ingin mengusili Miko saja.


"Dek. Gak ada ya, yang lebih baik dari usil sama Miko?" tanya Ara, yang merasa heran karena adiknya itu ada saja idenya untuk bisa usil.


"Biarin. Mumpung ada di Jakarta. Besok-besok, kalau sudah balik ke Amerika, gak bisa ngerjain Miko lagi!" sahut Anggi dengan cepat.


Tentu saja, jawaban yang diberikan oleh Anggi, membuat Ara dan Nanda saling pandang, kemudian tertawa bersama-sama.


"Hahaha..."


"Hehehe... dasar!"


"Biarin weee..."


Anggi tetap saja, tidak terpengaruh dengan nasehat yang diberikan oleh kakaknya.


Dan tiba-tiba, dari arah jalan, di depan rumah, ada mobil yang berhenti.


"Anggi!"


Anggi menoleh dengan cepat, karena ada seseorang yang tadi sedang dia bicarakan, memanggil namanya.


Ternyata, Miko datang dengan diantar oleh papanya, Juna.


"Wah-wah... copple datang nih," ujar Ara, melihat kedatangan Miko.

__ADS_1


Nanda tertawa kecil, melihat keadaan yang akan menjadi lebih seru dna ramai setelah ini.


.


__ADS_2