
"Emhhh... Ra. Boleh Kakak tanya?"
Ara menoleh, dan melihat dengan gugup, karena Awan menatapnya dengan lekat.
"A_apa Kak?" tanya Ara tergagap.
"Apa Kamu ma..."
"Kak Ara, kak Awan lihatlah, Anggi bawain apa buat kalian berdua?"
Awan, menggantung pertanyaan yang dia ajukan untuk Ara, karena kedatangan Anggi yang secara tiba-tiba.
"Anggi bawa gulali untuk Kak Ara dan Kak Awan juga." Kembali Anggi berkata, karena pertanyaannya yang tadi tidak ada yang menjawabnya.
Satu persatu, gulali yang ada di tangan Anggi, berpindah ke tangan Ara dan juga Awan.
Gulali merupakan salah satu jenis camilan yang mungkin saja, difavoritkan banyak orang, terutama anak-anak. Camilan manis ini dibuat dari bahan dasar gula yang umumnya diberi tambahan pewarna makanan untuk membuat tampilannya semakin menarik. Di Indonesia, camilan bercita rasa manis ini ternyata mempunyai cukup banyak jenis dan dalam bentuk yang cantik-cantik.
Seperti yang sekarang ini diberikan pada Ara, berbentuk hati. Sedangkan untuk Awan, Anggi memberinya dalam bentuk bunga mawar.
Dan untuk Anggi sendiri, dia memegang dua gulali, dengan bentuk terompet dan kembang api.
"Emhhh... kebalik deh Dek," ucap Awan, saat melihat gulali yang diberikan pada Ara.
Anggi dan Ara tidak tahu, apa maksud dari perkataan Awan. Tapi saat gulali yang ada di tangan Ara, diminta oleh Ara baru tahu. Sedangkan Anggi, tentu saja tidak tahu.
"Jika begini bagaimana?"
Awan memberikan gulali mawar yang ada di tangannya, pada Ara. Sedangkan gulali hati yang ada di tangan Ara, dia ambil.
Anggi bertepuk tangan, saat Ara tersenyum sambil menutup mulutnya, dengan satu telapak tangannya yang bebas.
"Bolehkan?" tanya Awan, meminta kepastian.
"Yakin, tahu maksud pertanyaan Kakak? Soalnya, Kakak gak bisa ngomong secara langsung." Awan, kembali berkata, untuk menjelaskan tentang alasannya mengganti posisi gulali tersebut.
"Iya Kak. Hati Ara di minta Kak Awan kan?" tanya Ara, menterjemahkan bahasa isyarat yang di buat oleh Awan, melalui gulali hati dan mawar.
Awan tersenyum sendiri, kemudian mengangguk mendengar jawaban dalam bentuk pertanyaan dari Ara.
Dan anggukan Awan, membuat Ara menunduk malu, karena dia merasa sangat senang, tapi juga tidak tahu harus bagaimana mengekspresikan perasaannya sendiri saat ini.
"Hore..."
Ara dan Awan, cepat menoleh ke arah Anggi, yang tiba-tiba berteriak kegirangan tanpa alasan, di depan mereka.
"Adek, ada apa?" tanya Ara bingung, saat Ara bersorak kegirangan.
"Kak Ara pacaran lagi. Udah lama Anggi gak liat Kakak pacaran. Horeee..."
"Ihsss... Adek!" Ara hampir saja mencubit pipinya Anggi, tapi sayangnya, Anggi berdiri dengan cepat, sehingga Ara gagal mencubit pipinya.
Dan Ara berlari-lari memanggil bundanya, Anjani, memberitahukan kepada bundanya itu jika sekarang, kakaknya sudah pacaran lagi dengan Awan, dan bukan kak Nanda.
"Bunda-bunda, Kak Ara dan kak Awan pacaran!"
Teriakan Anggi ini, membuat semua orang termasuk para pengunjung restoran yang mendengar, ikut menoleh.
"Adek. Ini bukan di rumah, jangan teriak-teriak." Anjani menasehati anaknya, Anggi agar tidak seenaknya sendiri, dengan berteriak sesuka hati.
__ADS_1
Tapi mama Amel, justru tersenyum mendengar teriakannya Anggi tadi.
'Semoga saja, Awan bisa memanfaatkan waktu bertemu ini, dengan sebaik-baiknya.'
Mama Amel berharap, agar cucunya itu tidak lagi menyimpan semua perasannya, terhadap Ara.
"Tapi beneran Bun, lihat!"
Anggi menunjukkan gulali yang ada di tangannya, yang tadi ada empat dan sekarang tinggal dua saja.
"Maksud Adek apa?" tanya Abimanyu, yang sedari tadi hanya diam saja, memerhatikan anak-anaknya.
Akhirnya, Anggi menceritakan kembali, apa yang dia lihat tadi, saat memberikan gulali hati dan mawar pada kedua kakaknya, Ara dan Awan.
"Adek," panggil Ara, dengan merajuk.
"Ihhh, Ayah. Adek tuh..." Ara mengadukan kenakalan adiknya, pada ayahnya, Abimanyu. Ara merajuk seperti anak kecil, pada ayahnya.
"Sudah-sudah, ayo duduk sini lagi," ajak Abimanyu pada Ara, dan menghentikan pertikaian kedua anaknya itu.
Awan, yang melangkah dari arah belakangnya Ara, hanya tersenyum, kemudian duduk kembali ke tempat duduknya sendiri.
Mama Amel memegang tangan cucunya, dengan isyarat sebuah pertanyaan.
Dan Awan, hanya mengangguk saja, dengan melihat ke arah omanya itu.
Untuk menenangkan hatinya sendiri, Awan meminum minumannya, seteguk.
"Oh ya, Ara libur sepekan ini kan?" tanya mama Amel, pada Ara.
"Iya Oma."
"Jani, Kamu ada acara tidak besok-besok?"
Sekarang, mama Amel ganti bertanya kepada Anjani, yang duduk di sebelahnya.
"Tidak ada Ma. Cuma kegiatan biasa, antar jemput Anggi, tapi sampai di depan apartemen saja."
"Lho, kok cuma di depan apartemen?" tanya mama Amel bingung.
Mama Amel tidak tahu, jika Anggi pergi ke sekolah, di antar jemput oleh bus sekolah.
Setelah Anjani menjelaskan, akhirnya mama Amel mengangguk mengerti. "Oh, baguslah kalau begitu," kata mama Amel, sambil mengangguk.
"Berarti, besok-besok Kami boleh datang ke apartemen kan? Jika Awan tidak ada kegiatan di kampus. Atau, kita bisa pergi ke mall, atau istirahat di mension, jika Anggi juga ada libur sekolah."
Usulan mama Amel, membuat Anggi kegirangan. Dia langsung meminta pada bundanya, supaya menyetujui usulan dari omanya Awan.
"Iya Bun. Anggi setuju dengan usulan Oma. Iya kan Kak?" ujar Anggi, bertanya kepada kakaknya, Ara, meminta dukungannya.
Awan mengangguk samar, saat Ara melihat ke arahnya. Kemudian Ara pun mengangguk mengiyakan pertanyaan dari adiknya.
"Yeee..."
Anggi kembali berseru dengan senang, karena bisa kembali jalan-jalan, atau berlibur ke mension keluarganya Awan. Meskipun sebenarnya, Anggi belum pernah berkunjung ke mension tersebut.
Tapi Anggi sudah bisa membayangkan, bagaimana keadaan mension. Karena dia sering mendapatkan cerita dari beberapa teman sekelasnya.
*****
__ADS_1
Di Indonesia.
Nanda sudah selesai dengan ujiannya. Dan sekarang, dia sedang bersiap untuk berlibur terlebih dahulu ke kampung, sebelum perpisahan sekolah dilaksanakan.
Tas yang akan dia bawa, sudah siap. Begitu juga dengan tiket kereta api, yang akan membawanya pulang ke kampung halaman papa sambungnya, Aksan.
Drettt drettt drettt...
Drettt drettt drettt...
Handphone milik Nanda bergetar. Dan ada nama papanya, Wawan, di layar handphone tersebut.
..."Ya Pa, ada apa?" ...
..."Nda, bantu papa cari kontrakan rumah."...
..."Maksud Papa?" ...
..."Papa di usir sama Mami."...
..."Kenapa?" ...
..."Papa tidak tahu Nda. Tiba-tiba dia marah, dan membuang baju-baju Papa."...
Nanda terdiam sejenak, mendengar perkataan yang diucapkan oleh papanya, Wawan.
Dia merasa ada sesuatu yang terjadi, antara papanya itu, dengan mami, istrinya yang sekarang ini.
..."Nda?"...
..."Tapi Nanda mau pergi ini Pa."...
..."Pergi ke mana?" ...
Nanda diam dan tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia tidak mau mengatakan bahwa, dia ingin pulang ke kampung, untuk mengunjungi keluarganya, yang sekarang ini ada di kampung halamannya papa sambungnya.
..."Ayoklah Nda, bantu Papa. Nanti uangnya Papa transfer Nda."...
..."Tapi, tiket kereta api Nanda, tiga jam lagi Pa. Cari sendiri, dekat-dekat situ kan bisa Pa? Atau, cari di tempat yang Papa tau dari kenalan."...
..."Pergi ke mana, kok naik kereta api?" ...
Nanda gelagapan, karena hampir saja ketahuan, jika dia akan pergi ke kampung.
..."Nanda mau cek kampus yang di Bandung Pa. Kan Papa yang minta Nanda kuliahnya di Bandung saja." ...
..."Hemmm... beneran gak bisa bantu Papa ini Kamu?" ...
..."Iya Pa. Maaf." ...
..."Ya sudah hati-hati ya." ...
Klik!
"Huhfff..."
Nanda bernafas lega, setelah telpon ditutup oleh papanya, Wawan.
"Apa lagi yang terjadi pada papa? gak mungkin mami mengusir, jika dia tidak berulah."
__ADS_1
Nanda menghela nafas panjang, saat mengingat semua kelakuan papanya lagi, pada masa yang sudah lewat.