
Awan pulang ke rumah, dengan malas. Sebenarnya dia tidak ingin pulang terlebih dahulu. Tapi ada opanya, papa Ryan, yang baru saja datang dari perjalanan bisnisnya ke beberapa negara.
Mereka berdua, sudah lama sekali tidak bertemu. Tentu saja, opanya meminta pada Awan, untuk langsung pulang ke rumah, begitu sekolah selesai.
"Opa sibuk terus. Aku jadi malas bertemu dengannya," ujar Awan pada dirinya sendiri, sambil berjalan dengan menunduk.
Dia berjalan ke arah warung Pak Lek, untuk mengambil sepeda motornya, yang ada di sana, karena menang di warung Pak Lek, motor siswa-siswi yang belum punya SIM dititipkan.
Teman Awan sedang tidak masuk sekolah. Itulah sebabnya, dia berjalan sendiri dalam keadaan menunduk, karena tidak ada teman berbincang-bincang.
"Kak Awan. Tumben sendiri?"
Awan mendongak, menatap ke arah suara, yang menyapanya. Dan ternyata itu adalah Ara.
Ara juga berjalan sendiri, karena temannya ijin pulang terlebih dahulu, pada jam istirahat siang tadi.
"Iya. Temen Kakak sedang tidak masuk" jawab Awan, tanpa memberitahu alasan temannya yang tidak masuk sekolah.
Ara mengangguk mengerti. Sekarang, dia tidak bertanya-tanya lagi. Dan Awan juga tidak bertanya kepada Ara, kenapa berjalan sendirian, tanpa ada teman yang biasa bersama dengannya.
Sekarang, mereka berdua berjalan bersama-sama, menuju ke luar gerbang sekolah. Dengan perasaan yang masing-masing, yang tidak bisa mereka ucapkan.
Awan hanya bisa diam saja, begitu juga dengan Ara. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Lidah terasa kaku, dan sulit untuk mengeluarkan suara. Dan mereka berdua akhirnya tetap saling diam, bahkan saat mereka berdua sudah sampai di luar sekolah. Di luar gerbang.
"Yang jemput belum sampai?" tanya Awan, karena bapak-bapak yang biasa menjemput Ara belum terlihat. Akhirnya, dia bisa bersuara juga, meskipun itu untuk pertanyaan yang biasa.
"Mungkin agak telat Kak," jawab Ara, sambil melihat-lihat sekeliling.
Mereka berdua, tampak melihat-lihat lagi, untuk menemukan keberadaan orang yang mereka cari. Pak ojek langganan Ara.
Tapi yang dicari-cari mereka, memang tidak terlihat, diantara sekian banyak orang yang datang menjemput.
"Kakak dijemput juga?" tanya Ara, yang tidak pernah tahu, bagaimana Awan datang dan pulang sekolah.
Awan tersenyum tipis, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Ara. Sekarang dia tahu, jika Ara memang tidak mengetahui, siapa yang sudah memberikan tumpangan padanya, pagi itu.
"Gak. Kakak bawa motor sendiri," jawab Awan memberitahu, jika dia membawa kendaraan sendiri untuk berangkat dan pulang sekolah.
Ara mengangguk-angguk mengerti. Tapi setelah sadar, Ara kembali bertanya kepada Awan, "Lah, motornya taruh mana? Kok malah ikut Aku ke sini?"
__ADS_1
"Hehehe... GR!" sahut Awan cepat.
"Motor Kakak ada di situ!" Awan kembali melanjutkan kata-katanya, sambil menunjuk ke arah warung, yang terdapat banyak sepeda motor terparkir.
"Hehehe... Aku pikir, emang sengaja antar sampai sini, karena Aku tidak ada temannya," ujar Ara beralasan, sambil menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Dia tersenyum malu-malu, karena merasa keceplosan.
Ara tentunya merasa sangat malu,dan juga menyesal, karena sudah keceplosan bilang seperti itu. Dia merasa jika, Awan akan merasa senang karena perkataan Ara yang tadi.
Tapi Awan tidak berkomentar apa-apa. Dia hanya ikut tersenyum, mendengar perkataan Ara, yang seperti sedang berharap jika pikirannya yang tadi, benar adanya.
"Ra!"
Ara dan Awan menoleh bersamaan, pada seseorang yang memangil nama Ara.
"Kak Nanda," sahut Ara, sambil berjalan cepat ke arah Nanda, yang baru saja turun dari motornya.
Ara meninggalkan Awan begitu saja. Apalagi, dia dalam keadaan yang kikuk, setelah keceplosan tadi. Dia lupa untuk berpamitan atau sekedar permisi, untuk pergi terlebih dahulu.
Awan melihat Nanda. Seorang pemuda, yang diperkirakan tidak jauh berbeda dengan dirinya sendiri. Tubuhnya tegap dan atletis, apalagi dengan motor sportnya yang masih terlihat baru. Dia jadi berpikir bahwa, pemuda itu mempunyai hubungan yang khusus dengan Ara.
Apalagi, Awan juga melihat mereka berdua, Ara dan Nanda, yang sedang berbincang-bincang dengan akrab. Bahkan, Awan juga melihat pada saat Nanda mencubit pipinya Ara. Sedangkan Ara sendiri, hanya tersenyum malu-malu, dan tidak menghindar dari cubitan tersebut. Bahkan setelah itu, Ara tampak merajuk, seperti sedang memberikan sebuah tawaran, yang tidak bisa dipenuhi oleh pemuda itu.
Dengan tersenyum kecut, Awan berjalan lagi, menuju ke arah warung Pak Lek, di mana motornya berada.
Ada sesuatu yang terasa hilang dalam hatinya. Tapi Awan tidak tahu, apa yang dia rasakan saat ini. Dia hanya tahu jika, dia sedikit merasa kecewa, karena menilai Ara sebagai seorang gadis yang pemberani, meskipun terkesan lugu.
Tapi ternyata dugaan dan pikiran Awan salah. Ara tidak sebaik yang dia pikirkan. Awan merasa kecewa. Dan ini membuatnya menjadi bersemangat untuk pulang ke rumah. Dia tidak ingin berlama-lama berada di sekolah ini, dengan terus mengingat semua hal, yang tadi dia lihat dengan matanya sendiri.
Di lain pihak, Ara sedang berbicara dengan Nanda.
"Kok Kakak yang jemput, bukan Pak ojek?" tanya Ara, sambil melihat kakak sepupunya itu, yang baru saja membeli sepeda motor sport dua hari kemarin. Dan sekarang ini, sedang dipakai untuk menjemput Ara.
"Sengaja. Pak ojek Kakak minta libur siang ini. Kakak mau jemput, khusus untuk adik Kakak yang pinter!" jawab Nanda dengan gemas, dan mencubit pipinya Ara.
Ara hanya diam dan tersenyum malu-malu, mendapat perlakuan seperti itu, didepan orang banyak.
"Kakak ihsss... malu tau!" ujar Ara cemberut.
"Hehehe... biarin. Adek sendiri ini!" sahut Nanda sambil terkekeh.
__ADS_1
"Yuk naik, kita pulang!" ajak Nanda, sambil menepuk boncengan motornya.
"Eh, Ara ninggalin Kak Awan sendiri..."
Ara tidak melanjutkan kalimatnya, karena pada saat dia menoleh ke tempat yang tadi, di mana dia dan Awan berada, sudah tidak ada orang lagi. Awan sudah pergi, padahal Ara belum pamit dan memperkenalkan Nanda dengan Awan.
"Yahhh... dia sudah pergi," ujar Ara merasa kecewa.
"Siapa?" tanya Nanda, sambil melihat ke arah yang sedang dilihat oleh Ara juga.
"Tadi Kak, yang berdiri sama Ara di sana! Dia Kakak kelasnya Ara, tapi tingkat SMA."
Nanda mencoba untuk mengingat-ingat siapa tadi, yang berdiri bersama dengan Ara. Tapi sepertinya Nanda tidak ingat.
"Kakak tidak liat siapa-siapa tuh!"
Ara melihat-lihat lagi kearah lain. Tapi sosok Awan, tetap saja tidak terlihat. Bahkan di warung Pak Lek, Awan juga tidak tampak.
Dengan tersenyum canggung, Ara mengeleng beberapa kali. Dia merasa tidak enak hati, karena belum sempat mengatakan apa-apa pada Awan. "Pasti dia merasa jika Aku tidak sopan dan berpikir yang tidak-tidak, karena kedatangan Kaka Nanda." Ara bergumam seorang diri, dan itu tidak terdengar dengan jelas di telinga Nanda.
"Ngomong apa sih Ra?" tanya Nanda ingin tahu.
"Gak. Gak apa-apa. Mungkin dia sudah pulang," jawab Ara, masih dengan mengelengkan kepalanya.
"Ya udah yuk pulang!"
Ara naik ke atas boncengan motor sport Nanda. Dia akhirnya pulang juga bersama dengan sepupunya itu, meskipun hati dan pikirannya, masih tertuju pada Awan.
Ada sesuatu yang Ara rasakan. Tapi dia juga tidak tahu, apa yang dia rasakan itu.
Perasaan yang sama sekali tidak bisa diungkapkan. Malu jika bertemu. Malu untuk berbicara dengan biasa, dan malu jika ada penilaian yang salah, jika tidak dijelaskan agar tidak ada kesalahpahaman.
Ara bingung dan juga tidak bisa berpikir jernih. Dia tidak tahu, mau bicara seperti apa pada Awan besok-besok, jika mereka bertemu lagi.
Ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Ara, untuk menjelaskan tentang kejadian sore ini, sepulang sekolah. Tapi, Ara juga bingung, bagaimana memulai pembicaraan dengan Awan.
"Ah, bisa jadi dia juga tidak peduli."
Akhirnya, Ara mencoba untuk membuang jauh-jauh pikiran dan perasaannya yang tidak menentu itu.
__ADS_1
"Ra. Pegangan, jangan melamun. Nanti jatuh!"
Nanda berteriak mengingatkan Ara, yang sedang berada di belakang punggungnya. Duduk diatas bocengan.