
Beberapa hari kemudian, Yasmin yang sudah bisa kembali akrab dengan anaknya, Nanda, kembali pulang lagi ke rumah. Dia juga mengajak Nanda, supaya bisa ikut tinggal bersama dengannya.
Akhirnya, Nanda mau juga di ajak tinggal di rumah kakek dan neneknya. Dia terlihat sangat bahagia, karena mamanya akan ada di rumah lagi, dan tidak pergi ke luar negeri untuk bekerja seperti dulu. Dia tidak mau ditinggal lagi sama mamanya.
Hari ini, Nanda mulai masuk taman kanak-kanak. Dia sudah di daftarkan di sekolah anak-anak, yang ada di dekat perumahan, jadi tidak terlalu jauh dari rumah, sehingga Yasmin atau yang lain, bisa antar jemput Nanda, tanpa harus menggunakan kendaraan, jika memang terpaksa tidak ada kendaraan di rumah, karena satu mobil dipakai ayah Edi dan ibu Sofie pergi bekerja, sedangkan motor yang ada di rumah tinggal satu. Jika Sekar tidak di jemput kekasihnya, dia akan bawa motor sendiri.
Karena hal itu juga, Yasmin punya rencana untuk beli kendaraan sendiri. Meskipun hanya motor biasa, yang penting bisa dijadikan alat untuk antar jemput anaknya, dan keperluannya untuk mencari pekerjaan.
Dan setelah membicarakan masalah ini dengan ayahnya, justru ayah Edi memberikan sedikit uang tabungannya, agar Yasmin bisa beli motor yang lebih baik.
Begitulah akhirnya, motor baru untuk Yasmin terbeli. Dia bisa antar dan jemput Nanda tanpa harus berjalan kaki lagi. Dia juga bisa sambil mencari-cari pekerjaan, yang mungkin bisa dia lakukan di saat waktu senggang dan tidak begitu terikat dengan aturan-aturan kerja seperti ditempat kerjanya yabg dulu.
Tapi beberapa hari kemudian, Wawan datang menemui Yasmin, saat dia baru saja pulang dari mengantar Nanda.
"Yasmin! Sayang," panggil Wawan, saat Yasmin baru saja mau masuk ke dalam rumah.
"Mas-mas Wawan!"
Yasmin terkejut dengan kedatangan mantan suaminya itu. Dia tidak pernah menyangka, jika Wawan masih berani datang dan menunjukkan diri di depannya.
"Aku kangen Kamu Sayang. Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Wawan, dengan wajah yang terlihat sendu.
Tapi, disaat Yasmin mau menjawab, kakaknya, Abimanyu, datang bersama dengan istrinya, Anjani.
Tin tin!
Abimanyu, membunyikan klakson mobil, agar adiknya, Yasmin, dan juga Wawan, tahu akan keberadaannya yang baru saja datang.
""Mas Abi?" tanya Yasmin pelan, seakan-akan untuk dirinya sendiri.
Meskipun Abimanyu dan Anjani belum keluar dari dalam mobil, tentu saja dia hafal, jika yang baru saja datang dengan membawa mobil itu adalah kakaknya.
Wawan juga terlihat terkejut dengan kedatangan mantan kakak iparnya itu.
Kakak ipar, yang dulu pernah memberikan 'bogem mentah' saat dirinya berniat untuk kabur dan tidak mau bertanggung jawab pada Yasmin.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Abimanyu dengan mata memicing. Dia curiga dengan keberadaan Wawan yang tiba-tiba datang pada adiknya, Yasmin.
"Tidak. Tidak ada apa-apa mas Abi," jawab Wawan cepat.
Yasmin, hanya diam dan tidak tahu mau menjawab apa, karena dia memang tidak tahu apa maksud dari kedatangan Wawan saat ini.
Anjani hanya diam melihat mereka semua. Dia ikut datang sendiri, karena Ara tidak ikut dengannya. Ara ada di rumah, bersama dengan baby sitternya.
"Aku... Aku pergi dulu ya," kata Wawan cepat, kemudian segera pergi
Abimanyu hanya diam saja. Begitu juga dengan Anjani. Sedangkan Yasmin, mengangguk mengiyakan saja.
Setelah Wawan pergi, Abimanyu berjalan lebih dekat ke arah adiknya, Yasmin.
"Mau apa dia datang menemui Kamu?" tanya Abimanyu, kepada adiknya itu.
"Tidak tahu Mas. Dia belum mengatakan apa-apa. Keburu Mas Abi datang tadi," jawab Yasmin dengan wajah bingung. Dia memang tidak tahu, apa maksud dari Wawan tadi.
"Ya sudah. Jangan hiraukan lagi kalau dia datang menemuimu, entah dengan maksud apapun itu. Kamu harus berhati-hati dan ingat, jika keadaan Kamu kemarin-kemarin itu, karena ulah dia juga. Jangan sampai Kamu masuk ke dalam 'jeratan' yang sama seperti dulu lagi."
Meskipun dia sebenarnya tidak tega dan juga masih ada sedikit rasa bahagia, karena Wawan masih mengingat dirinya.
"Mas Abi mau kemana?" tanya Yasmin, saat ingat jika tidak biasanya kakaknya itu datang sepagi ini di hari kerja. Apalagi saat ini datang bersama dengan istrinya, Anjani.
"Kita masuk saja dulu. Ayok!"
Anjani yang menjawab pertanyaan dari Yasmin. Dia pun melangkah di belakang suaminya, yang berjalan terlebih dahulu. Mendahului Yasmin dan juga dirinya sendiri.
Sekarang, mereka bertiga duduk di ruang tengah yang ada di lantai atas.
Anjani, mengeluarkan sebuah buku tabungan dari dalam tasnya, kemudian memberikannya pada Yasmin. Buku tabungan tersebut atas nama Nanda.
Yasmin, tentu saja terkejut melihat buku tabungan yang diberikan Anjani padanya. Dia pun akhirnya bertanya tentang buku tabungan itu. "Ini apa maksudnya apa, Mbak Jani?" Yasmin benar-benar tidak tahu, jika Nanda memiliki buku tabungan sendiri.
Anjani pun menceritakan tentang awal mula buku tabungan tersebut ada.
__ADS_1
Yasmin terguguk sambil menunduk. Dia tidak menyangka, jika selama ini telah merepotkan keluarga kakaknya itu. Dia merasa sangat menyesal, karena dulu, selalu berpikir dan bertindak jahat pada Anjani, kakak iparnya, yang tidak pernah menaruh dendam padanya.
Padahal, Anjani dan kakaknya, Abimanyu, tahu betul, bagaimana kelakuannya sedari dulu sebelum dia mengalami hal yang sangat membuatnya menderita. Dan semua itu, dia lakukan dalam keadaan sadar, bahkan dalam kondisi yang sama seperti Anjani waktu itu. Hamil anak pertama mereka.
Anjani hanya bisa diam. Dia membiarkan Yasmin yang sedang menangis.
Sedangkan Abimanyu, hanya menghela nafas panjang dan menyenderkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Mas, Mbak. Ini kan uang yang Yasmin kirim untuk keperluan Nanda?"
Akhirnya, Yasmin bisa berkata, setelah beberapa menit menangis dan tidak bisa berkata-kata.
"Ya, tapi Mbak mu ini, minta ditabung saja. Buat biaya sekolah Nanda besok. Dia pasti akan membutuhkan biaya yang banyak nanti. Jadi, karena sekarang Kamu sudah di rumah, dan Nanda juga sudah mau ikut dengan Kamu, buku tabungan ini kami serahkan padamu juga."
Abimanyu, menjelaskan tentang alasannya membuat buku tabungan tersebut. Itu membuat Yasmin kembali terguguk, menangis dalam penyesalan yang teramat dalam.
*****
Beberapa hari kemudian, Anjani mengajak Abimanyu untuk pergi ke rumahnya di Bogor. Dia ingin mengunjungi makam ayah dan ibunya juga, karena sudah lama tidak berkunjung ke sana.
"Mas, weekend besok kita ke Bogor yuk Mas. Jani kangen sama ayah dan ibu. Nanti kita bermalam dia hari saja, jadi mas Abi bisa tetap berangkat ke kantor senin paginya."
Anjani mengutarakan keinginannya itu disaat mereka sedang bersiap untuk tidur.
"Weekend besok ya?" tanya Abimanyu, yabg sedang berpikir, apakah dia ada rencana dan tugas pada hari itu, atau free.
"Besok Mas lihat jadwal kerja dulu ya. Kalau bisa, kita Bogor Jumat sore, biar sabtunya kita sudah ada di di sana."
Akhirnya, Abimanyu mengatakan rencananya itu, tapi tetap melihat kondisi jadwal kerja yang dia miliki.
"Iya Mas. Terima kasih ya Mas!" seru Anjani dengan tersenyum lebar. Dia merasa sangat senang karena bisa pulang ke rumahnya sendiri, yang ada di Bogor.
Anjani pun memeluk suaminya itu dengan penuh cinta. Dia berharap jika, besok benar-benar bisa melaksanakan rencana yang sudah mereka berdua buat malam ini.
*** Mampir juga ke novel TK yang baru ya gaess 🙏🙏🙏
__ADS_1