Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Malu Sendiri


__ADS_3

Sore hari, waktu Ara pulang sekolah.


"Ra!"


Ara menoleh ke arah sumber suara yang memangil namanya. Dan benar saja dugaan Ara. Itu adalah suara Nanda.


Dengan cepat, Ara berjalan mendekat ke arah tempatnya Nanda berada. Nanda, yang sedang duduk di jok motornya tersenyum melihat Ara yang terkejut saat dia panggil. Motornya Nanda dalam keadaan terparkir di pinggir trotoar sekolah, sama seperti orang-orang yang sedang menjemput anak-anak yang lain.


"Kakak. Kok jemput Ara lagi?" tanya Ara, begitu sudah dekat dengan Nanda. Ara bingung dengan kelakuan sepupunya itu.


"Idihhh... GR. Gak lah, Kakak gak jemput Kamu kok. Tapi sengaja nungguin Kamu. Hehehe..."


Nanda justru tertawa senang, karena bisa mengerjai Ara, yang sekarang sedang cemberut.


"Eh, beneran. Kakak, sengaja nunggu Kamu. Tapi, ini tadi abis daftar sekolah. Terus gak pulang deh, tapi nunggu Kamu aja sekalian. Kakak udah kasih kabar ke bunda kok!"


Dengan penjelasan yang diberikan oleh Nanda, Ara akhirnya tersenyum. "Jadi, Kakak sudah daftar sekolah? terus gimana Kak, diterima gak? Kelas berapa?" tanya Ara beruntun. Dia ingin tahu semua.


"Eh, tanya satu-satu. Ini kayak gerbong kereta api, berderet-deret gak ada habisnya," sahut Nanda, tanpa bermaksud untuk memberikan jawaban yang tepat, atas pertanyaan yang diajukan oleh Ara.


Ara hanya menanggapi dengan nyengir kuda. Dia terlalu senang, dengan perkataan Nanda yang tadi, yang mengatakan bahwa dia sudah mendaftar sekolah, di yayasan tempat Ara sekolah.


Akhirnya, Nanda menceritakan kepada Ara, bahwa dia sudah mendaftar sekolah tadi siang bersama dengan eyang Kakung, ayah Edi. Tapi, karena ayah Edi kembali kerja lagi, Nanda mengantarnya sampai kantor, baru kemudian Nanda kembali ke sekolah Ara, menunggu sebentar untuk bubaran sekolah.


"Uhhh, Kakak baik banget sih!" ucap Ara, sambil tersenyum manja.


Mereka berdua, akhirnya bergurau dan bercanda sebentar, sebelum meninggalkan tempat itu. Di depan sekolah Ara.


Dari kejauhan, tampak Awan bersama dengan temannya. Mereka berdua, melihat keberadaan Ara, bersama dengan Nanda juga. Bahkan, mereka juga melihat, bagaimana cara Ara dan Nanda berbicara, bersenda gurau dan tertawa bersama.


"Lihat deh Wan. Gue pikir, tuh cewek emang lugu, meskipun pemberani. Lagian ya Wan, dia tuh masih kecil. Masih kelas tujuh! Ck, kelakuannya, ternyata tidak sama seperti yang terlihat dari luarnya!" Teman Awan, mengerutu sendiri, karena melihat bagaimana Ara dan Nanda, yang tampak akrab.


Awan hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan temannya itu. Dia juga pernah berpikir hal yang sama seperti yang dipikirkan oleh temannya itu. Tapi ternyata Awan salah. Cowok itu, bukan pacar Ara ataupun gebetannya. Tapi dia adalah sepupu Ara sendiri, yang baru saja datang dari Taiwan.


"Wan. Loe lihat kan?" tanya teman Awan, dengan nada kesal.


"Iya," jawab Awan pendek.

__ADS_1


"Ihsss, yang bener dong Wan jawabnya!" ujar temannya Awan kesal. Dia tampak jelas jika sedang dalam keadaan cemburu, karena melihat keakraban yang sedang Ara perlihatkan secara tidak sengaja.


"Yang salah di mana?" tanya Awan, yang pura-pura tidak tahu, apa maksud dari perkataan temannya itu.


"Kamu bisa menilai sendiri kan, cewek apa dia? Sama seperti cewek-cewek centil yang suka manggil-manggil kita kan kalau ke kantin atau di lapangan basket!" ujar temannya Awan lagi, masih dalam keadaan kesal.


"Loe cemburu?" tanya Awan menebak, apa yang sebenarnya terjadi pada temannya.


"Cemburu? eh, gak level. Cewek gitu dicemburui!" elak temannya Awan, sambil mencibir.


"Yakin?" tanya Awan, dengan tenang.


Teman Awan diam sejenak. Dia tampak berpikir sebentar, kemudian tersenyum dengan miring. Sepertinya, dia sudah mendapat ide, untuk mengerjai Ara.


"Ogah Gue. Kayaknya, Gue mau bikin perhitungan sama dia deh. Gak jadi Gue baik-baikin. Tapi langsung aja Gue permalukan dia sekarang aja," kata teman Awan, saat mendapat ide.


"Apaan?" tanya Awan ingin tahu.


"Udah. Ikut aja yuk!"


Tapi sepertinya itu tidak berhasil. Teman Awan, sudah di bakar cemburu. Tapi dia tidak mau mengakuinya. Dia bertekad untuk bisa membalas dendam pada Ara, meskipun dengan cara yang kasar.


Tiba-tiba, Awan di seret temannya itu, ke arah tempat Ara berada. Dia merasa sangat kesal, karena tadi Ara memintanya untuk mengikuti dari arah belakang untuk mengetahui rumahnya. Tapi ternyata, ini yang ingin Ara tunjukkan padanya. Dia berpikir jika Ara pamer, dengan keberadaan cowoknya.


Dengan terpaksa, Awan mencoba untuk melepaskan diri dari tangan temannya, yang terus menarik tangannya.


"Lepas ah! Gue gak anak kecil woi!"


Tapi teman Awan tidak peduli. Dia terus saja menarik tangan Awan, hinggap ada di dekatnya Ara.


"Lihat Wan!" kata temannya itu, dengan suara yang cukup keras, sehingga Ara dan Nanda menoleh ke arah mereka berdua.


Ara dan Nanda, hampir menyapa Awan. Tapi Awan mengangkat tangannya, sambil mengeleng. Tentu saja, ini membuat Ara dan Nanda menjadi bingung.


Padahal sebenarnya, Awan ingin bicara pada Ara dan Nanda, supaya tidak menghiraukan ulah temannya itu.


"Diyah. Loe pikir, Loe cewek paling cantik gitu ya? Gue bilang mau antar pulang, Loe gak mau. Pengen tau rumah Loe, Loe minta Gue ngikutin Loe dari belakang. Tapi ternyata ini? Loe mau memperlihatkan ini ma Gue. Loe mau pamer jika udah punya cowok gitu? Dasar cewek kecentilan!"

__ADS_1


Teman Awan marah-marah tidak jelas. Dia memarahi Ara, tanpa bertanya terlebih dahulu. Dan semua pertanyaan yang dia ajukan tadi, dengan nada marah, membuat Ara bingung. Begitu juga dengan Nanda.


"Kak, temannya Kakak kenapa? salah makan atau salah minum obat tadi?" tanya Nanda pada Awan, tentang tingkah temannya yang tidak jelas itu.


"Eh, ngomong apa Kamu?" tanya teman Awan emosi.


Mereka berdua, teman Awan dan Nanda, adu mulut dengan tidak jelas, apa yang mereka maksudkan.


Ara dan Awan, saling pandang tanpa tahu, apa yang harus mereka lakukan untuk membuat mereka berhenti dan tidak lagi berdebat.


"Stop!"


Mendengar teriakan Ara, Nanda dan teman Awan terdiam.


"Ada apa ini Kak?" tanya Ara, pada teman Awan, yang tiba-tiba datang dan marah-marah tidak jelas.


Keadaan mereka berempat, yang tampak sedang bersaing untuk mendapatkan Ara, menjadi pusat perhatian orang-orang, yang ada di sekitar mereka. Termasuk siswi-siswi populer, yang mengidolakan Awan dan temannya itu.


"Kak Awan kenapa dia?"


"Ehhh, tiga cowok rebutan cewek gak jelas gitu!"


"Siapa sih dia? Siswi baru kan?"


"Huh, apa istimewanya dia?"


Dengan kesal, Ara naik ke atas boncengan motor Nanda. "Yuk Kak, kita pulang!" ajak Ara, tidak mempedulikan keadaan sekitarnya.


Nanda pun menuruti permintaan Ara. Dia segera memasukkan kunci kontak motor, kemudian melaju meninggalkan tempat mereka, yang saat ini menjadi pusat perhatian cewek-cewek sekolah dan orang-orang yang datang untuk menjemput.


Awan pergi meninggalkan temannya itu. Dia tidak peduli dengan keadaan sekitar, yang membicarakan dirinya dan temannya. Sedangkan teman Awan, terdiam dalam kebingungannya sendiri.


"Tadi, cowok itu... menyapa Awan seperti... orang yang sudah saling kenal. Memang mereka berdua saling kenal ya?" gumam teman Awan, seorang diri, karena Awan, sudah pergi meninggalkan dirinya.


"Aduh bodoh Gue!"


Dengan kesal, temannya Awan menepuk jidatnya sendiri, karena baru saja sadar, bahwa dia sudah diperingatkan oleh Awan, meskipun tidak secara langsung.

__ADS_1


__ADS_2