
Malam sebelum makan malam, Awan bicara dengan ayahnya, Elang, dengan apa yang sudah dia bicarakan dengan Nanda dan juga Mita tadi siang.
"Kami tadi menyimpulkan bahwa, kasus yang terjadi pada keluarga ayah Abi, ada kaitannya dengan teman kami Yah."
"Teman yang mana?"
"Teman?"
Elang bertanya tentang teman yang dimaksud oleh Awan.
Sedang mama Amel yang baru saja datang, langsung ikut menyahuti dengan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan oleh anaknya, Elang.
"Dika Oma, Yah."
"Dika..." Mama Amel berusaha untuk mengingat kembali nama temannya Awan yang bernama Dika.
"Dika yang mana?" tanya Elang, yang tidak pernah tahu, siapa Dika temannya anaknya itu.
Mama Amel mencoba untuk mengingat-ingat kembali, siapa Dika yang di maksud dengan temannya Awan.
"Anak dari pemilik perusahaan PT ANTARA GROUPS."
Elang dan mama Amel, sama-sama kaget saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Awan. Tentang siapa Dika.
"Jadi?"
"Dika yang itu?"
Mereka berdua, Elang dan mama Amel, sama-sama terkejut dengan kebenaran yang mereka dengar tadi.
"Emhhh... tapi tadi Ayah baru denger tentang kemajuan hasil penyidikan yang terbaru." Elang memberitahu, tentang berita yang dia dengar dari deteksi yang dia sewa, bersama dengan penyidik dari pihak kepolisian.
"Apa Lang?"
"Tentang apa Yah?"
Sekarang, ganti Awan dan mama Amel yang bertanya bersamaan. Karena ingin tahu, apa yang dikatakan oleh pihak penyidik dari hasil penyidikan mereka.
"Apa ada berita terbaru Yah?"
Ketiga orang yang sedang duduk dengan serius dengan pembicaraan mereka, mendongakkan kepalanya dengan cepat. Melihat ke arah suara yang sedang bertanya.
Orang itu adalah Ara.
Tadi, dia masih ada di dalam kamar. Sehingga dia tidak tahu jika suaminya, Awan, sedang berbicara dengan ayahnya soal pertemuannya dengan Nanda dan Mita.
Apalagi sekarang ini, justru Elang yang ingin menyampaikan sesuatu yang baru saja dia ketahui tentang hasil penyidikan terbaru.
"Ada beberapa sidik jari, yang tertinggal di rumah kontrakan. Di mana orang itu pernah menempati rumah itu. Dia diguda menjadi dalang dari kasus ini."
Awan, mama Amel dan Ara, menyimak dengan serius. Mendengarkan semua cerita yang disampaikan oleh Elang Malam ini. Soal kemajuan hasil penyidikan.
__ADS_1
"Jadi, papanya Dika sudah bebas?" tanya Awan, yang memang tidak tahu jika papanya Dika tidak dipenjara seperti mamanya.
Elang mengangguk mengiyakan pertanyaan anaknya. Kemudian dia melanjutkan lagi kalimatnya. "Tapi ini baru kemungkinan besar. Belum pasti juga. Cuma, hasil penyidikan sidik jari mengarah pada orang tersebut."
Awan dan Ara, mengangguk mengerti. Begitu juga dengan mama Amel.
"Semoga saja, orang itu segera ditangkap. Oma udah gregetan dengan orang itu!"
"Kenapa hanya mamanya Dika yang akhirnya dipenjara Yah?" tanya Ara, yang merasa penasaran, dengan kasus kedua orang tuanya Dika.
Akhirnya, Elang kembali menceritakan tentang kejadian yang menimpa rekan bisnisnya waktu itu. Mama dan papanya Dika. Yang sudah melakukan kecurangan dalam kesepakatan bersama antara dua perusahaan.
Awan dan Ara mengangguk paham. Mereka berdua tidak pernah menyangka jika, apa yang dialami oleh keluarga Dika seperti itu.
Dari cerita ini, baik Awan ataupun Ara, bisa menarik kesimpulan bahwa, Dika pergi melarikan diri dari rumah. Karena dia tidak mau dilibatkan dalam urusan kasus kedua orang tuanya.
"Pantas saja, dia tidak memberikan kabar apa-apa pada Mita."
"Iya Kak. Dia juga sudah tau tentang keadaan dan penyakitnya Mita. Jadi, seperti yang dikatakan pada kak Nanda, akhirnya dia nekad juga pergi dari dunia yang mengenalnya, sebagai Dika yang biasa tampil mewah.
Tak lama kemudian, papa Ryan datang. Dan bibi pembantu rumah, memberitahukan bahwa, makan malam sudah selesai dipersiapkan.
*****
Beberapa saat kemudian. Di kamarnya Awan.
Ara sedang memegangi perutnya dengan kedua tangan.
Awan yang melihat keadaan istrinya itu, jadi mengerutkan keningnya. "Kamu kenapa Dek?" tanya Awan pada Ara. Karena tadi saat makan malam, Ara terlihat baik-baik saja.
"Ehhh, ini Kak. Perut Ara sakit."
"Kamu kan gak makan sambel tadi. Atau Kamu ada alergi terhadap makanan tertentu? Tadi bibi masak biasa sih."
Awan memikirkan banyak hal. Dari kemungkinan-kemungkinan yang dialami oleh Ara saat ini.
Ara tampak meringis karena merasa sakit pada perutnya. Tapi dia juga enggan untuk bicara tentang rasa sakit yang dua rasakan sekarang ini.
"Dek, Kita panggil dokter atau ke rumah sakit sekalian? Biar diperiksa!"
Dengan panik, Awan bertanya pada istrinya itu. Yang masih dalam keadaan memegangi perutnya sendiri.
"Gak usah Kak. In_ini hanya sakit perut biasa," jawab Ara, sambil tersenyum tipis.
Tapi tentu saja, Awan tidak percaya begitu saja. Apalagi, dia melihat Ara yang sedang menahan rasa sakit diperutnya.
"Kakak panggil dokter dulu ya!"
Ara dengan cepat mencegah Awan yang sedang beranjak dari tempat duduknya. Di sampingnya duduknya Ara juga.
"Gak usah Kak!"
__ADS_1
"Tapi..."
"Ini Ara hanya..."
"Hanya apa?" tanya Awan dengan cepat.
Dia tidak mau mendengar perkataan Ara yang terasa lamban.
"Ara sedang datang bulan Kak."
Jawaban yang diberikan oleh Ara, membuat mata Awan membola.
"Datang bulan?" tanya Awan, memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
Ara mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa berani melihat ke arah wajah suaminya. Dia takut jika, Awan akan marah. Karena seharusnya, malam ini mereka berdua akan melakukan...
"Hah! Kakak pikir kenapa-kenapa. Udah bikin khawatir dan cemas saja Kamu ini."
Ara meringis, saat mendengar perkataan suaminya itu. Dia tahu bahwa, saat ini Awan pasti merasa kecewa. Karena akan gagal lagi untuk bisa sampai menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya.
"Tunggu sebentar ya!"
Tak lama kemudian, Awan sudah kembali ke dalam kamar lagi. Dia membawa nampan berisi air putih hangat, dan juga jus tomat.
Menurut berita yang dibaca Awan dari google, minum banyak air putih juga terbukti bisa menjadi cara mengurangi rasa nyeri haid. Menurut pakar kesehatan, wanita cenderung mengalami nyeri haid parah saat tubuhnya dehidrasi atau kekurangan cairan.
Itulah sebabnya, Awan membawakan air putih untuk istrinya itu.
Dan untuk jus, Awan membuatkannya untuk Ara juga. Karena ini jus tanpa gula. Bagus sekali untuk wanita yang sedang mengalami nyeri haid di hari pertama mereka.
"Ini di minum dulu Ra. Terserah mau yang mana dulu," kata Awan menawari Ara.
Ara jadi tersipu malu, saat suaminya itu melayani dirinya yang sedang datang bulan.
"Kamu ada pembalut kan? Atau Kakak belikan ke mini market terdekat dulu?" tanya Awan menyelidik.
Dia tidak menyediakan kebutuhan khusus untuk perempuan yang satu ini. Dia lupa, karena memang tidak tahu, jika Ara akan mendapatkan tamu bulanannya sekarang.
"Ada Kak. Ara sudah persiapan kok. Tapi emang gak banyak sih. Cuma satu bungkus kecil."
Awan mengangguk dan tersenyum. Mendengar jawaban yang diberikan oleh istrinya itu.
"Kak. Maaf ya!"
Kening Awan mengkerut heran, saat mendengar ucapan maaf dari Ara.
"Maaf untuk apa?" tanya Awan bingung.
"Kita... kita gak bisa..."
"Hahaha... besok kalau udah selesai, jangan sampai Kamu ada alasan lagi! Hahaha..."
__ADS_1
Awan tergelak, saat mendengar perkataan Ara yang belum selesai diucapkan. Ini karena Ara bingung dengan perkataan yang harus dia katakan.