
"Hehehe... gak apa-apa Yah. Abisnya kak Nanda lupain Ara sih!"
Perkataan dan tawa Ara, mencairkan suasana tegang yang tercipta secara tiba-tiba. Di antara Awan, Abimanyu serta Anjani. Mereka bertiga berpikir bahwa, Ara memiliki rencana untuk membalas kakak sepupunya, Nanda.
"Ya sudah. Ayo kita pulang!"
Abimanyu mengajak mereka semua untuk pulang. Karena di ruang sidang sudah mulai sepi, dengan orang-orang yang tadi ikut menyaksikan sidang mereka.
Ruangan sidang juga mau digunakan untuk persidangan kasus lain, dengan jadwal setelah kasus mereka tadi.
"Ayah kuat nyetir sendiri?" tanya Ara, yang merasa khawatir dengan keadaan ayahnya.
"Iya masih. Pelan-pelan saja Kak."
"Emhhh... bagaimana jika Kalian berdua diantar Awan dan Ara. Awan yang nyetir. Toh sekarang mereka berdua tidak ada kegiatan apa-apa setelah ini. Hanya pergi ke rumah sakit liat kondisi Dika saja."
Elang mengusulkan supaya anak dan menantunya itu mengantarkan Abimanyu terlebih dahulu.
"Iya. begitu aja Yah. Gak apa-apa kan Kak?"
Ara langsung menyetujui usulan ayah mertuanya itu.
"Emhhh... apa gak repot mereka? Jadi muter-muter nanti," ujar Anjani, yang merasa tidak enak hati. Karena harus merepotkan anak dan menantunya.
"Gak apa-apa Bun. Awan gak merasa repot kok," sahut Awan, yang menyetujui usulan dari ayahnya juga.
"Terus kalian ke rumah sakitnya bagaimana?" Anjani memikirkan bagaimana cara anaknya itu pergi ke rumah sakit. Karena tadi, Awan dan Ara datang bersama dengan Elang.
"Tidak apa-apa Bun. Kami gak jadi ke rumah sakit. Besok-besok aja," jawab Awan, yang diangguki juga oleh Ara.
Akhirnya, Elang pamit duluan. Dia harus menyetir mobil sendiri kali ini. Karena tadi, dia datang ke persidangan bersama dengan Awan dan Ara. Sekarang, dia akan pergi ke kantor saja. Bukannya langsung pulang ke rumah, sama seperti rencana mereka sebelumnya.
*****
Di rumah sakit.
Orang yang menjaga Dika, datang menjenguk ke dalam ruangan. Karena di ruangan ICU, para anggota keluarga pasien hanya diperbolehkan menjaga di luar ruangan. Tidak sama seperti jika ada di ruang rawat inap umum.
__ADS_1
Saat dia masuk dan melihat keadaan kondisi Dika yang masih sama, tidak ada tanda-tanda yang lain, orang itu berbalik untuk kembali ke luar ruangan. Tapi sedetik sebelum pandangannya benar-benar teralihkan, ada gerakan jari tangan Dika yang tertangkap olehnya.
Dengan cepat, orang tersebut kembali melihat ke arah Dika. Dia kembali melihat dengan seksama, untuk memastikan bahwa pandangannya tadi bukan hanya sekedar ilusinya saja.
Tapi ternyata jari-jari tangan Dika tidak bergerak lagi, sama seperti yang dia lihat tadi.
"Hufhhh... apa kesadaran mataku sudah tidak normal? Baru juga bertugas di ICU ini selama dua hari."
"Bagaimana jika sampai berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan!"
Orang tersebut mengeluhkan kondisi ruangan ICU, yang membawa dampak negatif untuk kesadarannya. Mungkin karena ikut terbawa aura tegang, yang ada pada orang-orang yang menunggu di luar sana.
Karena di ICU, pasien yang keluar kebanyakan tinggal namanya saja. Jarang sekali yang bisa keluar dan sembuh dari penyakitnya. Itulah sebabnya, banyak yang pesimis dengan pasien yang harus menjalani perawatan di ruangan ICU seperti ini.
Sama halnya dengan arti dari singkatan nama ruangan, ICU dan juga fungsi dari ruangan tersebut.
Ruang ICU (intensive care unit) adalah ruangan khusus yang disediakan rumah sakit, untuk merawat pasien dengan kondisi yang membutuhkan pengawasan ketat. Ruangan ini dilengkapi dengan peralatan medis khusus yang digunakan untuk menunjang proses pengobatan dan pemulihan pasien.
Sangat berbeda dengan ruang rawat inap umum, yang digunakan untuk perawatan pasien biasanya.
"Tapi bisa jadi, tadi memang jarinya bergerak. Sayangnya, pas Aku liat udah gak gerak lagi."
"Ah, Aku akan laporkan hal ini pada den Awan. Karena bisa jadi, saat dia datang nanti Dika bisa langsung sadar. Hehehe..."
Ternyata, orang yang diminta Awan untuk berada di rumah sakit dan menunggui Dika adalah tukang kebun, sekaligus supir yang seharusnya bertugas untuk melakukan pekerjaan untuknya.
Tapi karena Awan merasa belum memerlukan supir, dan orang tersebut ngangur juga di rumah, akhirnya diberikan tugas untuk berdiam diri di rumah sakit ini. Sekalian menjaga Dika, yang sudah tidak ada papanya lagi yang selama ini menjaganya.
*****
Di rumah Abimanyu.
Mobil Abimanyu yang disupiri oleh Awan, baru saja datang. Tapi di rumah sudah tampak ramai dengan adanya Anggi yang ke luar dari dalam rumah, menyambut kedatangan ayah dan bundanya.
"Ayah, Bunda!"
Anggi berteriak senang, karena melihat kedatangan mobil ayahnya. Dia berpikir bahwa, mobil tersebut hanya ada ayah dan bundanya saja.
__ADS_1
"Eh, sama kak Awan dan kak Ara!"
Akhirnya Anggi berteriak lagi, saat melihat kedua kakaknya yang ikut ke luar dari dalam mobil. Dia merasa sangat senang, karena beberapa hari ini memang sudah tidak melihat wajah kakaknya itu secara langsung.
"Kok rame Dek?" tanya Ara, yang melihat adanya keramaian di dalam rumah.
"Ada Miko dan adiknya. Ada Tante Yasmin juga sama adiknya kak Nanda."
Jawaban yang diberikan oleh Anggi, membuat Ara bersemangat untuk segera masuk ke dalam rumah.
Awan membantu Abimanyu yang terlihat mulai payah berjalan. Meskipun dibantu oleh Anjani juga.
"Eh, Ayah!"
Ara tersadar, kemudian berbalik arah untuk ikut membantu ayahnya.
"Ayah kenapa?" tanya Anggi, yang tidak tahu bagaimana keadaan ayahnya saat ini.
"Ayah gak apa-apa kok. Cuma capek aja sedari tadi duduk. Jadi agak kram kakinya!" sahut Abimanyu, memberikan penjelasan kepada Anggi. Supaya anaknya itu tidak mengkhawatirkan keadaannya.
Anjani hanya tersenyum tipis, mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya itu. Dia tahu jika, Abimanyu sedang menahan sakit pada punggungnya.
"Ayah langsung istirahat di kamar ya," pinta Anjani, supaya suaminya tidak perlu ikut berbincang dengan yang lainnya nanti.
"Iya Bun," jawab Abimanyu pendek.
Dia berusaha untuk bisa berjalan dengan baik, agar tidak ada kecurigaan, saat adik dan keponakannya melihatnya berjalan dengan tidak normal.
"Wan, Ra. Tolong Kalian berdua ngobrol dengan Tante Yasmin dan yang lainnya dulu ya! Bunda mau langsung ke dalam kamar, mau bantu Ayah dulu."
"Iya Bun," jawab Ara sambil meringis, saat melihat ayahnya yang memang tampak payah dalam keadaan seperti ini.
Awan hanya mengangguk saja. Kemudian dia mengajak Ara untuk bergabung ke dalam rumah, di mana Yasmin dan Miko, bersama dengan adik-adiknya, ada di sana juga.
"Kak. Ara kok khawatir dengan keadaan ayah ya."
"Kita pikirkan nanti. Biar ayah istirahat dulu sekarang ini."
__ADS_1
Ara mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Dia pun membuang nafas panjang, agar bisa menormalkan kembali wajahnya yang tampak khawatir tadi.
Dia tidak mau jika, ada banyak pertanyaan dari tantenya, Yasmin, terkait dengan keadaan ayahnya saat ini.