Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Senyuman Anggi


__ADS_3

Tiga minggu kemudian, Sekar melahirkan anak keduanya. Anaknya itu, berjenis kelamin perempuan, yang tentunya membuat keluarga kecilnya, Juna dan Miko, merasa sangat bahagia, dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga mereka.


Begitu juga dengan keluarga besarnya, keluarga ayah Edi dan ibu Sofie.


Dan saat ini, mereka semua sedang berkumpul di rumah Sekar, karena dia dan bayinya sudah pulang dari rumah sakit.


Sekar baru saja sampai dan semua orang, menyambutnya dengan ucapan selamat dengan rasa syukur.


"Alhamdulillah, sampai di rumah dengan selamat."


"Selamat ya Dek."


"Selamat Sayang."


"Tante, selamat ya!"


"Hai Miko. Selamat ya, sudah punya adik bayi. Kamu jangan nakal sama dia! kalau Kamu nakal, adiknya Aku bawa pulang!"


Yang terakhir mengucapkan selamat adalah Anggi. Dia juga mau, jika ditawari untuk membawa adik bayi nya itu, pulang ke rumah.


"Enak aja. Itu adek Aku!"


"Ehhh... jangan berisik. Adek bayinya sedang tidur," kata Ara, memperingatkan kedua adiknya itu, yang sama-sama tidak ada yang mau mengalah.


"Weee... syukurin!"


"Yeee, kan Kamu yang salah!"


"Ck. Kalian berdua!"


Ara berdecak kesal, karena ulah Anggi dan Miko.


Sekarang, dia meminta pada keduanya untuk bisa diam, dan tidak lagi berdebat.


Anjani, yang kebetulan lewat di depan mereka bertiga, melihat dengan memicingkan mata, karena sebenarnya, ketiganya sama saja.


Sama-sama keras kepala, dan juga tidak mau mengalah.


Akhirnya Anjani berusaha untuk menasehati anak-anaknya itu, supaya tidak lagi berantem dan berdebat. Karena banyak tetangga sekitar yang berkunjung, untuk mengucapkan selamat, sekaligus menjenguk tante mereka, yaitu Sekar bersama dengan bayinya juga.


Ara tersenyum canggung, karena merasa jika dia adalah yang paling besar, tapi tidak bisa memberikan contoh yang baik pada kedua adiknya itu.


Tapi, Anggi pun akhirnya paham dan tidak lagi bersuara seperti tadi.


Begitu juga dengan mudah Miko, yang memang menjadi tuan rumah kali ini.


Dia akan berusaha, untuk tidak berantem terus dengan Anggi, pada saat ini. Meskipun entah untuk waktu beberapa jam ke depan.


Anjani tersenyum sambil mengacungkan jari jempolnya, pada ketiganya. Dia merasa bangga, dengan mereka bertiga.


"Nah, begitu kan lebih baik," ujar Anjani, dengan senyum yang merekah.


Ting!

__ADS_1


Terdengar bunyi notifikasi pesan, yang masuk ke handphone miliknya Ara.


Dengan segera, Ara membuka kunci layar handphone miliknya, untuk melihat siapa yang saat ini sedang mengirim pesan padanya.


Ternyata, pesan tersebut dari kakak sepupunya, Nanda.


Tak lama kemudian, Ara bertanya pada bundanya. "Bunda. Ara pergi sama kak Nanda boleh?"


"Kemana?"


"Kak Nanda minta di temani ke bengkel. Dia mau ganti spion, yang kemarin baret, terkena stang motor orang waktu di parkiran."


"Tapi Kak, sebentar lagi banyak tamu yang datang. Kita kan ke sini juga buat bantu-bantu tante Sekar," ujar Anjani, mengingatkan anaknya.


"Tapi, jika cuma sebentar saja sih, gak apa-apa."


Ara tersenyum, mendengar perkataan bundanya, yang terakhir.


"Terima kasih Bun," ucap Ara, dengan wajah berbinar-binar karena senang.


"Ingat ya, cuma sebentar."


Ara mengangguk mengiyakan.


"Lah, kak Nanda mana?" tanya Anjani, yang belum melihat keberadaan Nanda.


"Belum datang. Kak Nanda baru selesai mandi. Jadi masih di rumah."


Tadi, saat ayah Edi dan ibu Sofie berangkat ke rumah anaknya, Sekar, Nanda memang masih tidur. Sedang Yasmin, sedang pergi bersama dengan Aksan.


Jadi, Nanda sendiri di rumah.


Tak lama kemudian, suara motor sport Nanda, terdengar memasuki halaman rumah Sekar.


Nanda turun dari motornya, kemudian masuk ke dalam rumahnya Sekar.


"Assalamualaikum semua... Maaf ya, Aku telat. Hehehe..." ucap Nanda, dengan nada bergurau.


Nanda tentu tidak merasa sungkan, karena di rumah ini, hanya ada keluarganya sendiri. Dan tetangga-tetangga Sekar, belum pada datang ke rumah.


Mungkin mereka belum tahu, jika Sekar dan bayinya sudah pulang ke rumah.


"Ra, jadi ikut kan?" tanya Nanda, memastikan bahwa Ara jadi ikut dengannya ke bengkel motor.


Ara pun mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Nanda.


"Tapi gak lama kan Kak?"


"Ya gak tahu juga. Emang kenapa?" jawab Nanda, yang juga mengajukan pertanyaan kepada Ara.


"Emhhh... ini, bunda pesan jika tidak boleh lama-lama."


Nanda terdiam sejenak, di saat mendengar jawabannya Ara.

__ADS_1


Akhirnya, Nanda tidak jadi berangkat ke bengkel, tapi justru ikut membantu di rumah tantenya, Sekar.


Karena sebelum dia pergi bersama dengan Ara, banyak tetangga yang ternyata sudah pada datang ke rumah ini, untuk menjenguk Sekar, bersama dengan bayinya itu.


Nanda berpikir bahwa, tidak baik untuk pergi, di saat keluarganya sendiri sedang repot, dan membutuhkan tenaganya juga.


Ara juga sudah diberitahu oleh Nanda, jika mereka berdua, bisa pergi ke bengkel besok-besok, kalau ada waktu yang pas.


Nanda berpikir bahwa, keperluannya ke bengkel, masih bisa ditunda. Berbeda dengan yang saat ini, tenaga mereka berdua, sedang dibutuhkan oleh keluarga tante mereka, yaitu Sekar.


Diam-diam, Anggi melihat kedua kakaknya itu, Ara dan Nanda, dengan senyuman yang tampak misterius.


Entah apa yang ingin dilakukan oleh Anggi, pada keduanya nanti.


*****


Beberapa saat kemudian, rumahnya Sekar sudah terlihat ramai. Banyak orang, tetangga mereka, yang datang berkunjung, untuk melihat dan mengucapkan selamat, atas kelahiran bayinya Sekar.


Ara, di minta bundanya, Anjani, untuk membantu dirinya dan juga bibi pembantu, untuk menyuguhkan minuman dan makanan kecil, untuk para tamu yang datang.


Keluarga Juna, juga banyak yang datang juga.


Kebanyakan mereka, keluarga Juna, juga datang dengan cara rombongan.


Mungkin mereka memang melakukan kunjungan secara bersamaan, dengan membuat janji secara bersama. Agar bisa datang bersama-sama juga.


Anggi dan Miko, juga ikut membuat suasana rumah menjadi lebih ramai lagi, dengan ulah mereka.


Meskipun tadi sudah diperingatkan oleh Anjani, mereka berdua lupa, dan terus saja bertingkah laku seperti biasa.


Tapi karena ulah dari mereka berdua juga, para tamu jadi merasa terhibur, dan tidak bosan.


"Anggi, itu adik Aku ya. Kamu minta adik sama bunda Jani sendiri."


Miko mengatakan bahwa adik bayi itu adalah adiknya, dan Anggi, tidak diperbolehkan untuk mencium pipi bayi tersebut.


"Adik Anggi juga," sahut Anggi, tidak mau tahu.


Mereka berdua tidak sadar, jika tingkah mereka berdua, diperhatikan oleh banyak orang, tamu yang datang.


Dan begitulah akhirnya. Perdebatan dan pertikaian mereka berdua, tidak bisa dihindari.


Anjani terpaksa mengajak keduanya, untuk keluar rumah, dan menasehati mereka berdua.


"Tadi Bunda sudah bilang kan, tidak boleh berantem. Kok malah berantem lagi tadi."


Anjani meminta pada mereka berdua, untuk tidak lagi berantem dan berisik. Baru setelah itu mereka diajak kembali ke dalam rumah.


Tak lama kemudian, para tamu yang datang ke rumah Sekar, satu persatu mulai berdatangan. Dan ini membuat Anjani sibuk. Dia meminta pada Ara, untuk membantunya menyiapkan suguhan. Baik untuk minum dan juga makanan sebagai pendampingnya.


Ara juga dengan senang hati, menyanggupi permintaan bundanya, untuk membantunya.


Sedang Anggi dan Miko, kembali bermain, dan juga memulai pertengkaran-pertengkaran kecil mereka, sehingga rumah menjadi semakin ramai saja.

__ADS_1


Namanya juga anak-anak, sekali di tegur pasti akan diam. Tapi begitu dibiarkan, beberapa menit kemudian, mereka akan kembali sibuk dengan kegiatan mereka sendiri, yaitu ramai dengan segala tingkah dan celotehnya.


__ADS_2