
Awan menceritakan tentang kejadian yang dia alami kemarin. Waktu dia dan temannya menolong dua ibu-ibu, dengan satu anak kecil, yang sedang di kejar-kejar preman.
Tapi, Awan juga menceritakan tentang keadaan ibu dan anak kecilnya itu, yang ternyata lebih dulu menolong ibu yang satunya lagi. Karena sebenarnya, hanya satu ibu yang sendirian itulah yang menjadi korban pencopetan dua preman tersebut.
"Jadi begitu Yah, awal mulanya Awan berkelahi. Kalau gak karena itu juga, ngapain cari masalah. Bikin badan jadi sakit semua. Tapi Awan salut tuh sama ibu-ibu yang bawa anak. Dia bisa gitu, menghajar dua preman, meskipun pada akhirnya tetap kabur juga."
Awan justru bercerita tentang ibu yang dia tolong. Dia mengatakan semua itu, dengan nada bangga, seperti sedang menceritakan tentang seorang pahlawan atau Super Hero.
"Wowww, benarkah? Di jaman sekarang masih ada ibu-ibu seperti itu? Hemmm, bener kata Kamu, hebat dia!" ujar Elang menanggapi.
Mama Amel yang kemarin sudah tahu, dan kini ikut mengangguk juga. Dia setuju dengan perkataan anaknya, Elang.
Di jaman sekarang, apalagi di kota besar seperti Jakarta ini, jarang-jarang ada yang peduli dengan kesusahan dan penderitaan orang lain. Kebanyakan, orang hanya peduli dengan keadaan dan kehidupannya sendiri. Sudah masing-masing, dan egois.
Itulah sebabnya, ada orang-orang yang mengatakan bahwa ibukota lebih kejam daripada ibu tiri.
Yang dimaksud dengan istilah itu adalah, keegoisan warga kota yang tidak lagi sama seperti kehidupan warga di kampung, atau pedesaan.
Warga di kampung atau pedesaan, lebih peduli dengan sesama warga lainnya, jika ada kesulitan atau kesusahan.
"Semoga saja, kesadaran warga kota, akan lebih baik lagi, sehingga bisa membuat hati setiap orang menjadi tenang dan merasa aman." Mama Amel, mengatakan doa dan harapannya, untuk perubahan sikap setiap warga kota.
Awan dan juga Elang, mengangguk dan mengamini harapan dari doa dari mama Amel.
"Ayah kenapa tidak beristirahat dulu di villa?" tanya Awan, yang baru saja sadar, jika ayahnya itu baru sampai di rumah.
"Tidak enak. Ngapain liburan sendiri, tidak ada temannya!"
Awan mengangguk dan tersenyum tipis, mendengar jawaban dari ayahnya itu.
"Besok deh Yah, kalau Awan liburan semester, kita jalan-jalan."
"Beneran ya? Kita sudah lama tidak pergi jalan-jalan, barengan. Mama kosongkan jadwal, jika kita sudah menentukan tanggal dan harinya," kata Elang, memberikan pesan pada mamanya.
Mama Amel, mengangguk mengiyakan permintaan anak dan cucunya.
Mereka sepakat, untuk pergi beristirahat di villa mereka yang ada di Bogor, saat Awan sudah selesai tes semester genap, untuk kenaikan kelas nanti.
"Asyekkk... Awan bisa main ke sungai, dan motor, mengelilingi kebun teh." Awan justru memiliki rencana sendiri untuk liburan mereka.
"Huh... dasar Kamu ini," ucap mama Amel, yang tidak suka, jika cucunya itu bermain ke sungai atau naik motor dengan cara ngebut.
"Oma. Awan itu perlu melatih andrenalin Oma. Biar tidak kaget, saat ada sesuatu yang mengejutkan, sama seperti kemarin itu. Kan Awan bisa siap gitu," sahut Awan cepat, membuat alasan yang tidak masuk akal.
"Ah, tidak ada hubungannya itu Sayang. Ada-ada saja Kamu!" kata mama Amel, dengan mencibir perkataan cucunya, yang dia anggap sebagai alasan yang tidak logis.
__ADS_1
"Hehehe... emang gak ada hubungannya Oma."
Elang menepuk pelan lengan anaknya, supaya tidak bercanda sembarangan dengan omanya.
Tapi, karena Awan yang sudah terbiasa dengan omanya, tidak menghiraukan 'kode' yang diberikan ayahnya itu.
"Ya sudah. Ayah mau ke kamar dulu. Mau mandi, dan beristirahat. Nanti malam, kita makan bersama ke luar yuk!"
Elang berpamitan, tapi juga mengusulkan supaya bisa makan malam bersama di luar.
"Luar rumah maksudnya Yah? ogah, ujan juga."
Awan sepertinya tidak paham dengan maksud perkataan ayahnya, atau mungkin dia pura-pura tidak tahu.
"Ihsss, Kamu ini." Mama Amel mencubit pipi cucunya, dengan gemas.
"Oma! Awan bukan anak kecil lagi," ucap Awan meringis.
"Makan di luar, maksudnya ya di rumah makan atau restoran. Gitu lho," kata mama Amel, menjelaskan pada cucunya, terkait usulan dari anaknya tadi.
"Oh.... hehehe, Awan pikir ayah mau ajak makan di luar rumah itu ya di teras atau halaman rumah. Kayak camping gitu, bikin tenda di halaman depan atau belakang rumah. Sama seperti waktu Awan kecil dulu."
Awan benar-benar tidak paham, dengan maksud perkataan ayahnya tadi. Dia berpikir bahwa, ayahnya mengajak makan malam, di luar rumah, dengan membuat tenda di halaman depan atau belakang rumah.
Mereka bertiga sama-sama tertawa, karena kekonyolan yang dipikirkan oleh Awan, yang sebenarnya sudah tumbuh remaja dan tidak lagi kecil seperti dulu lagi.
Mobil Abimanyu, memasuki halaman rumah. Tapi sepertinya rumah dalam keadaan sepi. Entah kemana Anjani dan Anggi, yang biasanya langsung keluar rumah, menyambut kedatangan mereka, jika baru saja datang.
"Kok sepi Yah!" tanya Ara, setelah keluar dari dalam mobil.
"Tidak tahu. Coba saja ketuk pintunya, dan panggil Bunda atau Anggi. Mungkin mereka tertidur, karena cuacanya mendukung untuk tetap tidur-tiduran."
Mereka memang baru saja datang. Dan cuaca di Jakarta, juga sama seperti saat perjalanan pulang mereka dari kota Bogor.
Hujan deras yang turun di Bogor tadi, juga sama seperti yang terjadi di Jakarta.
Hujan turun dengan lebat dan ada guntur serta kilat yang ikut datang.
Itu juga yang membuat Anggi serta Miko ketakutan dan tidak lagi berani berdebat, dan ikut bundanya, Anjani, ke dapur.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Pintu diketuk Ara berkali-kali. Tapi tidak ada sahutan dari dalam rumah. Sepi, dan seperti tidak ada penghuninya.
__ADS_1
"Gak ada Yah," kata Ara memberitahu ayahnya, jika bunda dan adiknya, tidak ada di rumah.
Abimanyu, yang sedang mengeluarkan barang-barang bawaan mereka berdua dari dalam bagasi mobil, mendongak sebentar, untuk memastikan jika memang tidak ada orang di rumah.
"Bentar," ucap Abimanyu, sambil mengeluarkan handphone miliknya, untuk menghubungi istrinya.
Tut
Tut
Tut
Sambungan telpon terhubung.
..."Halo Mas. Sudah sampai di mana?" ...
..."Di rumah. Tapi kok sepi, Kamu di mana sekarang?" ...
..."Oh, sudah sampai di rumah? Aku sedang mengantar Miko pulang Mas. Ini masih di jalan, belum sampai rumahnya. Bagaimana ya?" ...
Anjani tampak bingung, karena belum sampai di rumah Sekar, untuk mengantar anaknya, Miko. Tapi dia justru sudah di hubungi suaminya, dan mengatakan bahwa dia sudah berada di rumah.
Anjani bingung, karena kunci rumah juga dia bawa.
..."Aku balik pulang Mas?" ...
..."Antar Miko saja dulu."...
..."Ini kunci rumah Aku bawa, bagaimana dong?"...
^^^"Oh, ya sudah kalau begitu. Pulang saja dulu, nanti biar Miko kita antar sama-sama."^^^
..."Ya Mas. Aku balik pulang ini."...
Anjani segera mengajak anak-anaknya, Anggi dan juga Miko, untuk pulang terlebih dahulu.
"Ayah sudah pulang Bunda?" tanya Anggi, yang tentunya ikut mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya, melalui panggilan telpon.
"Iya. Ayah baru sampai." Anjani menjawab pendek.
"Miko gak jadi pulang Tante?" tanya Miko, yang bingung sendiri, karena tidak jadi pulang, dan malah balik lagi ke rumahnya tantenya, Anjani.
"Iya. Kita balik dulu ya? Nanti Miko di antar sama Om Abi, dengan mobil dan tidak jalan kaki lagi."
Miko tersenyum senang, mendengar jawaban dari tantenya itu. Dia merasa nanti juga akan dapat oleh-oleh, yang om Abi-nya bawa dari kota Bogor.
__ADS_1
"Tapi Miko minta oleh-olehnya ya Tan. Yang dari Bogor!" Miko memberikan syarat.
Anjani hanya mengangguk saja, sedangkan Anggi, menjulurkan lidahnya, untuk meledek sepupunya, yang usil tapi doyan makan.