
"Bun. Mama Amel dan papa Ryan, batal datang ke sini."
Anjani menautkan kedua alisnya mendengar perkataan yang diucapkan oleh suaminya barusan.
"Kenapa Yah?" tanya Anjani ingin tahu.
"Mas Elang sedang ada masalah." Abimanyu menjawab, sama seperti yang dikatakan oleh awan padanya tadi, saat Awan menelpon dirinya.
"Masalah apa?" tanya Anjani lagi, karena merasa penasaran dengan masalah yang dihadapi oleh Elang.
"Itu di kantor kok. Biasalah, masalah proyek baru," sahut Abimanyu memberitahu.
"Oh... Apa tidak ada yang bisa bantu dia? Kenapa mama Amel yang sudah berniat pensiun harus ikut menanggani juga Yah?"
Anjani tidak habis pikir, dengan apa yang dilakukan orang-orang, yang berkecimpung dalam perusahaan besar seperti PT SAMUDERA GROUP.
Mereka, para pengusaha, seperti tidak pernah ada lelahnya.
Tapi Anjani juga salut dengan mereka juga. Karena mereka selalu bisa membuat permasalahan yang ada selesai dalam waktu singkat.
Padahal, mereka bukan orang-orang yang masih segar dan muda. Tapi kebijakan dan omongan orang-orang seperti itu, selalu tepat waktu dan menjadi salah satu penyelesaian masalah.
"Bun," panggil Abimanyu, saat melihat istrinya seperti melamun.
Tapi Anjani tidak mendengarkan panggilan darinya. Sepertinya, Anjani benar-benar melamun.
"Bun," panggil Abimanyu sekali lagi. Tapi kali ini, dia sambil memegang tangan Anjani.
"Eh, iy_iya Yah. A_ada apa?" Anjani bertanya dengan gagap.
"Bunda mikirin apa? Mas Elang?"
Anjani mengerutkan keningnya bingung, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu.
"Maksud Ayah?"
"Kok jadi ngelamun, saat ayah cerita tentang permasalahan yang dihadapi oleh mas Elang," jawab Abimanyu, dengan wajah yang ikut bingung.
"Hehehe... Ayah cemburu ya..."
Anjani justru jadi punya niatan, untuk menggoda suaminya itu. Apalagi, sudah lama mereka berdua tidak melakukan hal-hal yang diluar dugaan.
"Maksud Bunda?" tanya Abimanyu kesal. Karena istrinya itu tahu, apa yang sedang dia rasakan saat ini.
"Gak apa-apa Yah," jawab Anjani, yang tentu saja ingin membuat suaminya itu semakin kesal. Karena jawaban yang dia berikan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh suaminya.
Beberapa saat kemudian.
"Yah."
Sekarang, Anjani yang ganti memangil Abimanyu.
__ADS_1
Tapi Abimanyu tidak menyahuti panggilan tersebut. Dia tampak tidak peduli dengan istrinya.
Padahal sebenarnya, dia hanya ingin membalas keisengan dari istrinya tadi.
Tapi setelah beberapa ditunggu ternyata Anjani tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia diam dan hanya memperhatikan bagaimana cara suaminya itu membalas keisengannya yang dia lakukan.
Dan sedetik kemudian, Abimanyu tidak tahan untuk saling diam. Dia melirik ke arah istrinya. Dan ternyata, netra nya tertangkap basah dengan netra Anjani.
Mereka berdua saling pandang tanpa bicara apa-apa. Dan tak lama kemudian, keduanya sama-sama tertawa senang.
"Hahaha..."
"Hihihi..."
Setelah puas tertawa-tawa, mereka berdua saling berpelukan. Dan mengeluarkan apa yang sedang mereka pikirkan tadi. Tanpa harus ditanya terlebih dahulu.
"Tadi, bunda itu sedang memikirkan mama Amel Yah. Dia kok ya masih kuat mikir gitu ya, dengan semua permasalahan kantor. Padahal, permasalahan kantor itu berat. Gak hanya satu juga. Ada banyak dan juga komplek. Dan pastinya memang saling terkait satu sama lain."
Anjani menjelaskan pada Abimanyu, tentang apa yang membuatnya melamun tadi.
Abimanyu tampak tersenyum, mendengar penjelasan yang diberikan oleh istrinya itu. Dia memeluk tubuh Anjani dari arah samping, kemudian mencuri kesempatan, untuk mencium bibir istrinya itu dengan cepat.
"Ayah..." Anjani merengek manja, dengan kelakuan suaminya sendiri.
"Apa Bun, mau lagi?" tantang Abimanyu, dengan tersenyum senang.
Untungnya, saat ini mereka berdua sedang ada di dalam kamar. Dan duduk berdampingan di pinggir tempat tidur. Sehingga apa yang terjadi antara mereka berdua, anak-anak mereka tidak ada yang tahu.
Anjani terkikik geli, membayangkan bagaimana kelakuan suaminya, yang tidak sama seperti yang terlihat di luaran sana.
"Kenapa? Sama istri sendiri ini kok," sahut Abimanyu cepat.
"Iya-iya. Ayah emang the best deh buat Bunda," ucap Anjani, yang memuji Abimanyu.
"Hufhhh... tapi, tadi Ayah sempet kepikiran jelek juga."
"Ayah pikir, bunda sedang memikirkan mas Elang," ujar Abimanyu, dengan wajah menyesal.
"Maafkan Ayah ya Bun," Ucap Abimanyu cepat. Dia segera meraih tangan Anjani, kemudian menggenggam kedua tangan istrinya itu.
"Hihihi... Ayah masih cemburu aja Ihsss.Orang udah pada tua juga. Apalagi, anak-anak akan menikah. Apa yang mau dicemburui Yah?" Anjani mengelengkan kepalanya, melihat wajah Abimanyu yang sedang meringis.
Tapi sedetik kemudian, Anjani mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih Yah. Dengan pengakuan Ayah yang bilang cemburu, Bunda jadi tau juga nih. Ternyata, Ayah tetap mencintai Bunda sampai saat ini."
Abimanyu tersenyum lebar, mendengar perkataan yang diucapkan oleh istrinya itu.
Sekarang, keduanya sama-sama tertawa kecil. Kemudian saling berpelukan lagi. Dan untuk akhirnya, tak usah digambarkan juga bagaimana yang seharusnya menjadi aktifitas suami istri.
*****
__ADS_1
Anggi sedang Ahmed ke toko kuenya.
Tadi, Ahmed sengaja datang ke rumah Anggi, untuk mengajaknya ke toko kuenya. Dia ingin Anggi bisa mencicipi kue buatannya.
Kue yang sudah pernah dia pelajari bersama dengan bundanya Anggi. Yaitu Anjani.
"Memang Kamu bikin kue apa?" tanya Anggi, saat melihat Ahmed yang belum selesai dengan pekerjaannya.
"U duduk saja di luar Anggi. U bisa menganggu konsentrasi di saat i membuat kue. Takut jika nanti enak," ujar Ahmed meminta Anggi agar menuggu di ruangan depan.
"Tidak. Aku mau lihat Kamu memasak. Cowok memasak itu seksi!"
Perkataan Anggi yang terakhir, justru membuat Ahmed menghentikan kegiatannya. Kemudian menoleh ke arah tempat Anggi, yang berdiri di sudut pantry.
"U suka cowok memasak? I akan masak buat U setiap hari nanti."
Anggi terbelalak, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Ahmed barusan. Dia tertawa-tawa, sambil mengelengkan kepalanya beberapa kali.
"Hahaha..."
"Ada-ada saja Kamu," ucap Anggi, yang menganggap bahwa, ucapan Ahmed hanya bualan saja.
"Lihat saja nanti."
Setelah beberapa saat kemudian, kue buatan Ahmed selesai dan siap untuk dihidangkan.
"Taraaa!"
"Wahhh!"
Ternyata, kue yang dibuat oleh Ahmed adalah kue putu ayu atau putri ayu.
Yaitu Putu Ayu kue basah yang dikenal sebagai jajanan tradisional khas Indonesia. Kue ini memiliki tekstur yang empuk dan lembut, mirip seperti bolu tapi lebih ringan yang dimasak dengan cara dikukus dan diberi parutan kelapa sebagai toping.
Anggi langsung mengambil satu, dan menggigitnya untuk mencicipi. "Hemmm... enak." Ucap Anggi dengan memberikan jempol tangannya sebagai penilaian terhadap kue tersebut.
"Beneran enak?" tanya Ahmed tidak percaya.
Dia pasti berpikir bahwa, Anggi hanya ingin membuat dirinya merasa senang.
"Iya enak. Coba saja!"
Anggi mengambil satu kue lagi, kemudian menyuapi Ahmed dengan tangannya.
Dengan tersenyum senang, Ahmed menerima suapan kue tersebut. Dia mengigit kue dan mengunyahnya. Merasakan rasa kue putri ayu buatannya sendiri.
"Akhirnya, i bisa buat juga kue ini. Besok, U mau i buatkan kue apa lagi Anggi?"
"Hah! Gak usah repot-repot. Aku juga tidak akan lama lagi ada di sini..."
Anggi menutup mulutnya cepat, dengan mengunakan kedua tangannya. Dia lupa jika, Ahmed belum dikasih tahu tentang kepindahannya ke Indonesia.
__ADS_1