
Nanda, mengentikan motornya di sebuah kedai es jus, yang mereka temui di pinggir jalan. Dia mengajak Ara, untuk minum jus terlebih dahulu, sambil meneruskan obrolan mereka yang terpotong oleh ulah teman Awan tadi.
"Mbak, jus mangga dua ya!" Nanda membuat pesanan terlebih dahulu, sebelum melanjutkan obrolan mereka.
"Bungkus apa minum di sini Mas?" tanya Mbak-mbak penjual jus.
"Minum sini aja," jawab Nanda menjelaskan.
"Tunggu sebentar ya Mas."
Nanda mengangguk mengiyakan permintaan dari Mbak penjual jus. Dua mengambil dua kursi, untuk dia duduki sendiri dan satunya lagi untuk Ara.
"Duduk sini Ra!"
Ara menurut. Dia duduk di kursi yang disediakan oleh Nanda. Kursi plastik, yang biasa ada di warung-warung pinggir jalan.
"Siapa sih Ra tadi, pacar Kamu ya?" tanya Nanda ingin tahu. Setelah dia dan Ara duduk.
"Kakak yang marah-marah gak jelas tadi?" tanya Ara balik.
Nanda mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Ara. Dia tidak kenal dengan cowok tadi, dan dari seragam sekolah yang dikenakan oleh cowok tersebut, dia juga sudah ada di tingkat SMA. Sama seperti Awan, bukan lagi seragam SMP, sama seperti Ara.
"Temennya Kak Awan," jawab Ara memberitahu.
"Tadi kan dia sama Kak Awan," kata Ara lagi, melanjutkan keterangan dari jawabannya sendiri.
"Maksudnya, kalau bukan pacar Kamu, terus hubungan antara kalian apa? Kok dia kayaknya cemburu gitu. Apa jangan-jangan dia... naksir Kamu ya?" Nanda menebak-nebak, apa yang sebenarnya dirasakan oleh teman Awan tadi.
"Ihsss, ngaco Kakak!"
Ara mengelak dari tuduhan yang dikatakan oleh Nanda padanya. Sedang Nanda, tampak tertawa senang karena melihat perubahan wajah Ara yang memerah.
"Ini Mas, jus mangga-nya."
__ADS_1
Akhirnya, dua jus mangga sudah selesai dibuat oleh penjual, dan diberikan kepada Nanda.
"Nih, minum dulu."
Ara menerima jus mangga, yang diberikan oleh Nanda padanya. Setelah meminum jus mangga tersebut, untuk beberapa teguk, Ara bercerita tentang kakak kelasnya itu.
Nanda mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar cerita dari Ara, tentang cowok yang tadi. Dan Nanda bisa menarik kesimpulan bahwa, sebenarnya, temannya Awan tadi, ada dendam, penasaran dan ingin tahu, seberapa sulitnya untuk bisa menaklukkan hati Ara.
"Tapi, kenapa dia manggil Kamu dengan nama Diyah?" tanya Nanda, yang ingat betul, bagaimana cara cowok tadi memangil nama Ara.
"Dia sendiri yang mau manggil nama itu."
"Hehehe... ternyata, ada juga ya cowok yang naksir Kamu Ra. Hahaha..." Nanda tertawa-tawa senang, menggoda adik sepupunya itu.
Sedang Ara, kembali cemberut karena merasa sedang diledek oleh kakaknya, Nanda.
Setelah selesai minum jus mangga, Nanda mengajak Ara untuk segera pulang. Dia tidak mau jika bundanya, Anjani, merasa khawatir karena mereka terlambat sampai di rumah.
"Yuk. Nanti Bunda cemas," ajak Nanda, setelah selesai membayar jus yang mereka minum.
Sedang dari kejauhan, tampak Awan yang memperhatikan mereka berdua, tanpa ada senyuman di wajahnya. Dia sebenarnya ingin ikut bergabung dengan mereka berdua, Ara dan Nanda. Tapi dia juga merasa tidak enak hati, karena akan menggangu acara mereka berdua.
Setelah Ara dan Nanda pergi, Awan juga pergi dari tempatnya berada. Dia membelok pada salah satu jalan, di mana jalan tersebut adalah arah menuju ke rumahnya sendiri.
*****
Hari sudah hampir gelap. Abimanyu, yang sedang dalam perjalanan pulang dari pertemuannya dengan perusahaan lain, karena urusan dengan garmen mama Amel di Tangerang sudah selesai, meminta pada supir taksi online yang dia sewa, untuk langsung pulang ke rumah.
Dia membiarkan motornya ada di kantor, karena jika harus kembali ke kantor terlebih dahulu, waktu yang diperlukan akan lebih lama lagi. Dan dia akan sampai di rumah malam hari.
Supir taksi pun mengiyakan permintaan Abimanyu. Dia merasa senang, karena seharian ini, ada penumpang yang menyewanya.
"Terima kasih lho Mas. Saya jadi ada orderan buat tambahan setoran besok," kata supir taksi online, pada Abimanyu.
__ADS_1
"Sama-sama Mas. Memang mobil ini sewa atau ada bos sendiri Mas?" jawab Abimanyu, dengan bertanya balik.
"Punya Saya sendiri sih Mas. Tapi kan masih nyicil di dealer. Kalau tidak pakai mobil yang bagus, taksi online juga tidak laku Mas. Persaingan pasar!"
Abimanyu mengangguk mengerti, dengan apa yang dikatakan oleh supir tersebut. Apalagi saat ini, banyak sekali persaingan di bidang transportasi secara online. Ada juga yang secara mandiri, dan tidak bergabung dengan aplikasi-aplikasi transportasi online. Jadi, mereka benar-benar harus tahu, bagaimana keadaan dan situasi pasar. Karena persaingan tidak hanya berupa barang dagangan, tapi juga di bidang jasa.
"Sehari bisa ngumpul berapa Mas, kalau sudah di potong dengan bahan bakar dan uang makan?" tanya Abimanyu, yang akhirnya punya topik perbincangan dengan supir taksi tersebut.
Supir taksi akhirnya bercerita tentang bagaimana suka dukanya saat menjadi supir online. Pendapatan yang tidak menentu dan juga cuaca yang kadang-kadang tidak mendukung. Belum lagi jika ada kerusakan pada kendaraan dan tagihan dealer sudah dekat.
"Enak kerja do kantor Mas. Pendapatan ada, dan pasti!" Supir taksi mengatakan penilaiannya terhadap suatu pekerjaan, yang berbeda tempat.
"Hahaha... gak juga Mas. Orang hanya bisa lihat enaknya aja sih. Gak tahu kalau pas kejar deadline. Yahhh, semua ada timbal balik pastinya," ujar Abimanyu, menjelaskan.
"Yang penting ada usaha Mas. Kalau masalah rezeki, Tuhan yang atur, karena setiap orang sudah ada takaran dan bagiannya masing-masing." Abimanyu melanjutkan kata-katanya, memberikan semangat untuk supir taksi tersebut.
"Betul Mas. Tidak boleh iri dengan rezeki orang lain. Karena belum tentu, yang banyak itu cukup ya Mas. Karena yang penting itu berkahnya," kata supir tersebut, menyahuti perkataan Abimanyu dengan semangat.
"Betul sekali Mas."
Abimanyu juga menyahut perkataan dari supir tersebut dengan cepat. Dia merasa jika supir taksi online ini, sedang membutuhkan dorongan semangat, agar tidak berputus asa dalam usahanya.
"Mas bisa hubungi Saya, jika butuh taksi seperti hari ini."
Abimanyu menerima selembar kartu nama, yang di sodorkan oleh supir taksi, yang memang mengantar Abimanyu seharian ini.
"Iya Mas. Terima kasih," ucap Abimanyu, menerima kartu nama tersebut.
"Oh ya Mas. Kok gak beli mobil sendiri kenapa? Saya lihat Mas bukan karyawan biasa di perusahaan tadi. Orang-orang saja, baru kerja udah pada beli mobil Mas, meskipun gaji mereka juga terpotong banyak untuk kredit mobilnya, dan uang untuk keperluan sehari-hari, justru sedikit saja lebihnya."
Abimanyu tersenyum, mendengar perkataan dari supir tersebut. Dia tidak menyalahkan, tapi juga tidak membenarkan perkataan dari mas supir taksi.
Menurut Abimanyu, kebutuhan setiap orang itu berbeda-beda. Dan tidak semua orang bisa hidup apa adanya, karena di jaman modern seperti sekarang ini, jiwa gengsi untuk kehidupan sosial manusia lebih tinggi, dibanding dengan keperluan primer yang seharusnya.
__ADS_1
Banyak diantara orang-orang yang sudah berpasangan punya mobil mentereng, padahal sebenarnya rumah masih ngontrak atau masih hidup bersama dengan orang tua mereka. Padahal yang seharusnya, memiliki rumah itu yang lebih dulu diutamakan sebelum mobil.
Tapi, Abimanyu tidak mau memberikan komentar apa-apa, terkait apa yang dibicarakan mereka saat ini. Abimanyu tidak mau salah bicara, karena setiap orang punya pemikiran yang berbeda antara satu dengan yang lain.