
Di ruang tamu, ibu Sofie berdua dengan Yasmin mengobrol dengan teman barunya, Risma, yang dia kenal saat ada seminar di balai kota.
Risma, berprofesi sebagai guru. Dia sudah berstatus pegawai negeri sipil yang baru saja naik pangkat. Risma, diangkat menjadi kepala sekolah, dan pindah tugas ke Jakarta. Dan kebetulan, sebulan kemarin, saat ada seminar yang dia hadiri, bertemu dan berkenalan dengan ibu Sofie.
Dari perkenalan itu, ibu Sofie khirnya tahu, jika Risma adalah seorang janda, karena suaminya meninggal dunia. Dia mempunyai satu anak yang di minta oleh pihak keluarga suaminya. Akhirnya, Risma tinggal sendiri. Untuk melupakan kesedihannya itu, dia menerima tawaran untuk pindah tugas ke Jakarta dengan kenaikan pangkat yang dia terima. Itulah sebabnya, dia akhirnya pindah domisili juga ke daerah ibu kota ini.
"Bu, ayah mana?"
Dari arah belakang, Abimanyu keluar dan bertanya tentang keberadaan ayahnya, ayah Edi.
"Ayah sedang ada pertemuan dengan teman-temannya, ada apa?" tanya ibu Sofie balik. Dia tersenyum tipis, ke arah anak perempuannya, Yasmin. Dia berpikir, jika ini adalah kebetulan yang baik, karena Abimanyu keluar dengan sendirinya, tanpa harus dia panggil terlebih dahulu, untuk dia kenakan dengan Risma, teman barunya itu.
"Duduk sini Abi," kata ibu Sofie, meminta pada anaknya Abimanyu, untuk duduk terlebih dahulu. "Ibu ingin perkenalkan teman ibu ini, dia kepala sekolah lho," kata ibu Sofie lagi, seperti sedang berpromosi.
Abimanyu, mengangguk sambil tersenyum ke arah tamu ibunya itu. "Abimanyu," kata Abimanyu, memperkenalkan diri sambil menyalami Risma, tamu ibunya malam ini.
"Risma."
Risma, juga memperkenalkan dirinya sendiri pada Abimanyu. Dia juga tersenyum dan mengangguk dengan sopan, sama seperti yang dilakukan oleh Abimanyu tadi.
Abimanyu akhirnya menuruti permintaan ibunya, untuk duduk terlebih dahulu. Dia juga merasa tidak enak dan kurang sopan, jika harus pergi begitu saja.
Akhirnya, mereka membicarakan banyak hal yang bisa dibuat topik. Ternyata, Risma termasuk orang suka mengikuti perkembangan banyak hal, seperti berita-berita yang sedang trending topik dan dibicarakan banyak orang. Mungkin karena dia yang berkecimpung dengan banyak orang, serta perkumpulan orang-orang yang setara dengannya.
"Bukannya lebih enak di Bogor, karena udara dan suasana kotanya tidak sama seperti kota Jakarta?" tanya Abi, saat tahu jika Risma berasal dari Bogor, sama seperti Anjani, istrinya.
"Iya Mas Abi. Harusnya enak di Bogor. Tapi, Saya jadi sedih karena banyak duka yang terjadi di sana. Anak juga diminta orang tua dari almarhum suami, jadi Saya berusaha untuk bisa move on. Yah... karena promosi kepala sekolah yang ditujukan untuk Saya dari Jakarta, mau tidak mau pindah juga ke Jakarta."
__ADS_1
Risma, menceritakan tentang kehidupannya, no pada akhirnya harus rela pindah dari Bogor ke Jakarta, untuk melupakan semua kesedihannya selama ini.
Abimanyu, mengangguk-anggukan kepalanya. Dia merasa bersimpati pada teman ibunya itu. Dia tidak menyangka, jika Risma yang terlihat bukan seperti wanita lemah, juga menyimpan banyak duka di hatinya. Mungkin, sama seperti Anjani, saat masih menjadi istri dari Elang Samudra.
Mereka masih berbincang-bincang layaknya tamu dan tuan rumah. Ibu Sofie, juga menawarkan pada Risma, untuk ikut makan malam bersama keluarga mereka.
"Risma, ikut makan malam ya. Bibi sudah menyiapkan makan malam lho, ayok!" ajak ibu Sofie, mengajak Risma agar ikut makan malam bersama dengan keluarganya.
Risma, tersenyum canggung. Dia merasa tidak enak hati karena harus ikut serta dalam kegiatan keluarga ibu Sofie. Teman yang baru dia kenal itu.
"Assalamualaikum... Abi, Kamu kenapa di telpon Anjani tidak bisa?"
Dari luar rumah, ayah Edi datang. Dia masuk ke dalam rumah, dan menegur anaknya, yang sedang duduk bersama dengan istrinya dan anaknya, Yasmin, serta satu orang lagi yang tidak dia kenali.
"Eh, maaf. Ada tamu ya. Ayah tidak tahu," kata ayah Edi, saat tahu jika satu orang yang ada di antara mereka adalah seorang tamu.
Ayah Edi, mengangguk sambil menyalami Risma. Begitu juga sebaliknya, Risma berdiri dan menyambut tangan ayah Edi, untuk berkenalan.
"Saya Risma," kata Risma, memperkenalkan diri.
"Oh, ya. Saya Edi, suaminya ibu Sofie," kata ayah Edi, balik memperkenalkan dirinya juga.
Akhirnya, mereka kembali berbincang-bincang lagi, sambil menunggu makan malam yang belum selesai di siapkan bibi pembantu rumah.
"Oh ya Abi, Anjani tadi berpesan, supaya Kamu menelponnya balik." Ayah Edi, mengingatkan anaknya, supaya menelpon istrinya, yang ada di Bogor.
"Eh iya Yah. Terima kasih, sudah diingatkan. Handphone Abi, tadi di tinggal di kamar. Abi pamit ke kamar dulu."
__ADS_1
Abimanyu, pamit untuk pergi ke lantai atas, di mana kamarnya berada. Dia berjalan dengan tidak memperhatikan kondisi yang ada di depannya, sehingga hampir saja bertubrukan dengan Sekar, adiknya, yang baru saja keluar dari dalam kamar.
"Mas, hati-hati lah!" kata Sekar, sambil memegang keningnya, yang hampir terantuk badan Abimanyu.
"Hehehe... maaf. Mas buru-buru jadi tidak lihat. Turun sana Kamu, makan malam segera di mulai," kata Abimanyu, memberitahu adiknya, Sekar.
"Lho, kok malah Mas Abi naik?" tanya Sekar heran, karena kakaknya itu, justru naik dan masuk ke dalam kamar, bukannya ikut ke meja makan.
"Mas mau telpon yayang dulu dong," sahut Abimanyu, sambil tersenyum-senyum 7.
"Idihhh..." Cibir Sekar, pada kakaknya Abimanyu.
Abimanyu, hanya menanggapi cibiran dari adiknya itu, sambil tertawa-tawa senang. Sepertinya, telpon dari Anjani tadi, melalui pesan yang disampaikan kepada ayah Edi untuknya, bisa membawa dampak yang besar untuk semangatnya lagi malam ini.
"Sudah sana buru ke bawah!"
Abimanyu, kembali menyuruh Sekar, agar segera turun ke lantai bawah. Sedangkan dia, kembali berjalan menuju ke dalam kamarnya sendiri.
*****
Pukul dua puluh satu lebih lima menit, Risna berpamitan untuk pulang. Dia mengucapkan terima kasih atas ajakan makan malam bersama keluarga ibu Sofie ini, sebagai awal hubungan baik yang mungkin bisa saja terjadi, kedepannya nanti.
"Bu Sofie dan bapak. Risma pamit untuk pulang dulu. Risna mengucapkan banyak terima dan juga selamat, karena ibu Sofie, juga akan mendapatkan promo kenaikan pangkat pada bulan depan nanti."
"Ah, Risma. Itu kan baru rencana Sayang. Belum ada kepastian dari atasan yang ada di pusat. Jadi, Aku tidak mau mengatakan apa-apa terlebih dahulu. Mereka, anak-anak dan juga suamiku ini, belum tahu dengan adanya rencana dari pihak terkait."
Ibu Sofie, merasa sangat beruntung, saat Risma mengatakan berita itu. Dia tidak perlu lagi, mengatakannya pada ayah Edi, dan juga anak-anaknya.
__ADS_1
Berbeda dengan ibu Sofie yang sedang berbahagia, Risma merasa ada yang mengganjal hatinya sedari tadi. Dia juga memiliki banyak pertanyaan, yang tidak bisa dia ucapkan untuk saat ini. Akhirnya, dia hanya bisa menyimpan semua pertanyaan itu di dalam hatinya sendiri