
Dari berbagai cerita yang sudah disambungkan, mereka bisa menarik kesimpulan bahwa, kasus ini ada kaitannya dengan Dika.
"Tapi ini perlu penyelidikan lagi. Kita tidak boleh asal tuduh, dan memberikan berita ini pada pihak kepolisian dan penyidik," kata Awan mengingatkan.
"Iya bener itu." Nanda menimpali perkataan yang diucapkan oleh Awan.
"Lalu, jika tidak ada tindakan selanjutnya, bagaimana caranya kita bisa tau, benar atau tidaknya?"
Sekarang, Awan dan Nanda tidak bisa menjawab pertanyaan dari Ara. Mereka berdua, tidak bisa memberikan penjelasan lebih lanjut, tentang bagaimana cara yang sebaiknya mereka lakukan.
"Emhhh... bagaimana jika jika bilang sama om Elang, atau ayah Kamu Ra?"
Mita memberikan usulan, supaya kesimpulan yang mereka bicarakan ini ada hasilnya.
"Tapi, ke mana mencari kak Dika?" Ara jadi bertanya juga, tentang keberadaan Dika yang tidak diketahui oleh siapapun.
"Ini tugas polisi dan penyidik. Mereka yang akan menemukan keberadaan kak Dika," sahut Nanda gemas. Karena Ara tidak yakin jika akan bisa menemukan keberadaan Dika.
"Emhhh... Oya juga."
"Baiklah. Kita akan lihat saja, bagaimana kelanjutannya nanti!" Awan menengahi, dengan mengakhiri pembicaraan mereka semua tentang siapa dalang dari semua kasus ini.
"Ya sudah. Ayo kita makan!" ajak Ara, yang memang sudah merasa lapar.
Apalagi, pesanan yang mereka lakukan tadi, sudah tersedia di atas meja. Tapi belum juga mereka sentuh.
Akhirnya, mereka berempat makan siang bersama. Dengan diselingi beberapa candaan yang bisa membuat mereka tertawa senang.
Mereka semua tidak ada yang tahu jika, sepasang mata memperhatikan dari jarak jauh.
Untungnya, orang tersebut tidak bisa mendengarkan semua pembicaraan yang mereka lakukan tadi.
Beberapa saat kemudian. Semua sudah selesai dengan makanan yang ada di piring masing-masing.
"Aku balik dulu ya!" pamit Ara, pada ke dua orang yang ada didepannya.
Sedangkan Awan hanya memberikan isyarat dengan anggukan kepala, sebagai tanda pamit.
Nanda juga melakukan hal yang sama. Hanya mengangguk saja.
"Hati-hati ya Ra, Kak Awan!"
Mita yang menyahuti pamitnya Ara.
Setelah Ara dan Awan pergi, Mita berkata pada Nanda. "Gak nyangka ya Kak. Seandainya kak Dika benar-benar yang melakukan semua ini."
"Ya. Dia sudah dibutakan oleh dendam dan pikirannya dipengaruhi oleh setan."
"Hemmm..."
__ADS_1
Mita membuang nafas panjang. Dia tidak menyangka jika, mantan kekasihnya itu setega itu. Bahkan memanfaatkan dirinya untuk ajang balas dendamnya juga.
Dia jadi merasa sangat bersyukur, karena sudah lepas dari laki-laki seperti Dika. Dan menemukan menggantinya yang lebih baik lagi. Yaitu Nanda.
"Ya sudah yuk! mau balik ke kampus apa langsung pulang ke rumah ini?" tanya Nanda, mengajak Mita untuk pergi dari kafe tersebut.
"Kakak masih ada kelas gak? Mita udah gak ada," jawab Mita, dengan beranjak dari tempat duduknya. Sama seperti yang dilakukan oleh Nanda juga.
"Udah agak ada sih."
"Ya sudah kita pulang aja kalau begitu!"
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke luar kafe. Dan tak lama kemudian, motor Nanda melaju pergi dari area parkir kafe, dengan membonceng Mita.
*****
Di jalan, Ara masih memikirkan apa yang tadi mereka bicarakan.
"Kak," panggil Ara dengan menolehkan kepalanya, melihat ke arah Awan.
"Ya, ada apa? Mau apa?" Awan menjawab panggilan istrinya itu, dengan dua pertanyaan, yang membuat Ara cengengesan.
"Kenapa?" tanya Awan bingung, karena istrinya justru cengengesan, dan tidak segera menjawab pertanyaannya.
"Emhhh..."
"Utang?" tanya Ara bingung.
Dia tidak merasa punya utang pada suaminya ini, bagaimana mungkin sekarang ditagih hutang.
"Iya. Ini!"
Ara melotot tajam, melihat Awan yang menyentuh bibirnya dengan jari tangannya.
"Ih, Kakak mesum!"
"Mesum sama istri sendiri gak apa-apa kali. Hahaha..."
Awan tertawa terbahak-bahak, melihat bagaimana Ara yang malu karena permintaannya tadi.
"Ihsss... bikin gemes!"
Tangan Awan mengacak rambut Ara, dengan perasaan gemasnya, terhadap sikap istrinya yang masih saja malu-malu.
*****
Ternyata, hasil penyidikan masih dilakukan oleh pihak penyidik, memang mengarah pada sindikat pengedar narkoba, dan juga penjualan gadis-gadis ke luar negeri.
Sindikat ini sudah menjadi target lama. Tapi karena para anggotanya yang licin, yang membuat mereka susah untuk ditangkap.
__ADS_1
Ada beberapa nama yang saat ini dijadikan sebagai target.
"Ini orang yang pernah terkena kasus dengan PT SAMUDERA GROUP kan?" tanya salah satu penyidik.
Dari sidik jari yang ada di rumah kontrakan, yang kemarin di sergap tapi sudah dalam keadaan kosong, ditemukan beberapa sidik jari yang sama persis, seperti yang sudah ada di dalam catatan kepolisian beberapa tahun yang lalu.
Meskipun pemilik kontrakan mengatakan bahwa orang tersebut sekitar berumur dua puluh lima tahun, tapi dengan ditemukannya sidik jari ini, polisi jadi meragukan keterangan dari pihak pengelola kontrakan.
"Bukankah dia ada di dalam penjara?" tanya anggota polisi yang lain. Mungkin, polisi itu juga ikut dalam penyidikan kasus beberapa tahun yang lalu. Jadi dia tahu sedikit banyak tentang targetnya kali ini.
Tapi, dia hanya enam bulan dipenjara. Karena terbukti bahwa, semua kasus mengarah pada satu nama, dan itu adalah istrinya.
"Ini perlu penyidikan lebih lanjut."
Akhirnya, para anggota kepolisian yang bertugas sebagai penyidik, membuat berita acara ulang laporannya, dan hasil dari penyidikan terbaru yang didapatkan.
"Buat sketsa wajah ODP!"
"Siap laksanakan!"
*****
Di kantor, Elang sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi pada pekerjaannya. Dia baru saja mendapatkan kabar tentang kemajuan hasil penyidikan dari pihak detektif swasta yang dia sewa.
Dari beberapa cctv yang ada di sekitar jalan menuju ke rumah kontrakan penjahat tersebut, ternyata dia memang hanya sendirian.
..."Dia tidak pernah terlihat membawa teman ke bersama dengannya." ...
Begitulah kata-kata yang tadi diucapkan oleh detektif tersebut.
Dan pada saat Elang bertanya, apakah wajahnya tampak di layar cctv, detektif tersebut hanya mengatakan dengan ciri-ciri orang yang sama, seperti yang disebutkan oleh pemilik kontrakan.
..."Ciri-ciri orang tersebut, sama seperti yang dikatakan oleh pemilik kontrakan Tuan. Selalu memakai kacamata hitam besar, yang hampir menutup seluruh wajahnya." ...
..."Kamu ada copy_an dari tangkapan kamera cctv tersebut?" ...
..."Ada Tuan. Pemilik cctv yang Saya temui, dengan senang hati memberikannya. Karena mereka juga tidak suka jika di daerah mereka ada anggota sindikat yang mengkhawatirkan seperti itu." ...
..."Baiklah. Bawa saja ke kantor polisi, agar mereka bisa melakukan penyidikan lebih lanjut. Ini akan sangat membantu. Nanti kita ketemu di kantor polisi saja." ...
..."Anda mau ikut datang ke kantor polisi juga Tuan?" ...
..."Ya. Aku juga ingin tahu, siapa orang tersebut." ...
Elang membuang nafas kasar, jika mengingat semua kejadian yang terjadi pada keluarganya Anjani.
Apalagi, saat itu adalah hari di mana mereka semua sedang dalam persiapan pernikahan kedua anak mereka.
"Semoga saja, perjalanan keluarga Awan dan Ara tidak ada yang mengacaukannya lagi." Elang bergumam, dengan harapan yang ada di dalam hatinya.
__ADS_1