
Ara dan Nanda akhirnya menuju ke rumah Mita. Karena suster yang berjaga, berbaik hati memberi tahu alamat rumahnya Mita Atmojo.
"Kak, kayaknya kita kelewat deh," kata Ara, saat melihat arah jalan, yang mereka lewati.
Ara, yang duduk di boncengan motor dan melihat aplikasi untuk melacak keberadaan suatu alamat, memberikan arahan kepada Nanda.
Motor berhenti, tak lama setelah Ara memperingatkan Nanda.
"Kelewat berapa gang?" tanya Nanda, dengan memperhatikan keadaan jalan.
"Gak Kak. Itu lho tadi, harusnya belok ke arah kanan, kan kita tadi lurus. Nih liat!"
Ara menunjukkan layar handphone miliknya, pada Nanda. Supaya Nanda juga bisa melihat, bagaimana keadaan jalan yang seharusnya mereka lewati tadi.
Setelah melihat dan menoleh ke arah jalan yang sudah mereka lewati, Nanda mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Iya. Ini harusnya tadi kita belok. Terus satu gang kemudian, kita akan sampai di rumah Mita."
Akhirnya, Nanda membaca peta yang ada di aplikasi tersebut, dan juga memahami sekalian. Biar tidak ada kesalahan lagi nantinya.
"Udah yuk!"
Ara mengajak kakaknya itu, untuk segera kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke rumah Mita.
Dan tak lama kemudian, mereka berdua sampai juga di rumah yang mereka tuju. Yaitu sebuah bangunan rumah yang berukuran besar, dan berbeda dengan bangunan-bangunan rumah yang lainnya.
Dari luar, bangunan tersebut tampak mirip dengan bangunan-bangunan rumah adat Jawa.
Sedangkan bangunan rumah yang ada di sekitarnya, kebanyakan berbetuk modern. Meskipun bangunannya juga sama besarnya.
"Bener ini Ra?" tanya Nanda, yang ragu untuk masuk ke dalam.
"Menurut alamat yang diberikan suster tadi ya emang ini," jawab Ara, mencocokan antara alamat yang dia dapatkan tadi di rumah sakit, dengan yang ada di aplikasi.
"Iya bener kok Kak," ucap Ara lagi, dengan yakin.
Sekarang, mereka berdua turun dari atas motor, kemudian mencoba untuk mencari bel, yang biasanya ada di pagar atau pintu gerbang rumah.
"Ini ada bel Ra," kata Nanda, memberitahu pada Ara, di mana letak bel rumah berada.
"Kok gak ada pak satpam ya?" tanya Ara, yang memperhatikan adanya pos security, tapi ternyata tidak ada seorang pun yang bertugas di dalamnya.
"Mungkin sedang ada perlu. Ke kamar kecil mungkin, atau sedang ambil makan."
Nanda menjawab pertanyaan dari Ara, yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban juga.
"Hemmm..."
Ara tidak lagi bertanya-tanya dan mengatakan apa-apa.
Karena ternyata, sebelum mereka memecat bel pintu, ada seorang laki-laki, yang berseragam security, menegur keduanya.
__ADS_1
"Maaf Mas, Mbak. Cari siapa ya?"
"Maaf Pak. Ini, Saya cari alamat rumahnya keluarga Atmojo. Apa benar ini rumahnya?" tanya Ara dengan sopan.
"Mbak dan Mas, ada keperluan apa?" tanya Pak security lagi. Dia juga memperhatikan bagaimana kedua tamu, yang saat ini berdiri di depannya.
"Kami berdua temannya Mita Pak. Tadi, kami datang ke rumah sakit, dan diberitahu jika Mita sudah pulang. Jadi, kami datang ke rumah," jawab Ara lagi, memberikan penjelasan kepada Pak security di rumah Mita.
"Oh, temannya Neng Mita. Ya-ya. Ini benar rumahnya Neng Mita. Keluarga dari Atmojo."
"Saya panggilkan bibi pembantu dulu Mbak, Mas."
Ara dan Nanda hanya mengangguk saja, tanpa protes, karena tidak langsung dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah.
Baik Ara maupun Nanda berpikir bahwa, memang seperti inilah prosedur yang berlaku, jika bertamu ke rumah Mita. Karena ternyata, Mita bukan dari kalangan keluarga biasa.
"Kak. Ternyata, Mita bukan dari kalangan orang-orang biasa ya? Jadi minder nih Aku."
Ara mengatakan, apa yang sebenarnya ada dipikirannya Nanda juga.
Padahal, di luar rumah, di sekolah misalnya, Mita tampak seperti kebanyakan anak-anak yang lainnya juga.
Dia, Mita, tidak memperlihatkan kepada orang lain, bagaimana keadaan dirinya yang sebenarnya.
Mita justru terkesan menyembunyikan identitas dirinya yang sebenarnya.
Sama seperti yang dilakukan oleh Awan selama ini.
"Pantas saja, Dika tidak berani langsung memutuskan Mita seperti yang dia katakan."
Nanda berpikir bahwa, Dika hanya memanfaatkan kesempatan untuk bisa menjadi salah satu orang terdekat Mita. Karena keluarga Mita yang tidak biasa.
Tak lama kemudian, Pak security datang bersama dengan seorang ibu-ibu, yang Nanda belum pernah bertemu.
Jika bibi pembantu rumah, yang menjaga Mita di rumah sakit, tentunya Nanda sudah mengenalinya. Tapi ini bibi pembantu yang lainnya lagi.
"Kok beda orang Ra?" bisik Nanda, di dekat telinga Ara.
"Apa yang beda Kak?" Ara balik bertanya.
"Bibi pembantu yang ini, bukan yang menjaga Mita sewaktu ada di rumah sakit."
"Oh, mungkin ada beberapa bibi pembantu Kak di rumah ini," ujar Ara, menebak kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Emhhh... bener juga," sahut Nanda, yang paham bahwa, di rumah seperti ini, tidak mungkin hanya ada satu bibi pembantu saja.
"Maaf Mas, Mbak. Jadi menunggu lama," ucap Pak security, yang sudah berada di depannya Ara dan Nanda juga.
"Ini bibi pembantu, yang akan mengantar Mbak dan Mas, untuk bertemu dengan Neng Mita," ujar Pak security lagi, dengan menunjuk pada bibi pembantu rumah yang berdiri di sampingnya.
"Beda dengan bibi pembantu yang kemarin-kemarin menjaga Mita di rumah sakit ya Pak?" tanya Nanda, yang ingin memastikan bahwa, memang Mita itu yang dimaksud oleh Pak security.
__ADS_1
"Oh, bibi yang itu ada di dalam. Tadi sedang membantu neng Mita minum obat."
Ara dan Nanda, saling pandang karena mendengar jawaban yang diberikan oleh bibi pembantu, yang saat ini ada di depan mereka.
Akhirnya, mereka berdua tidak lagi bertanya, dan ikut apa yang dikatakan oleh Pak security.
Ara dan Nanda, ikut bersama dengan bibi pembantu rumah, yang membawa mereka masuk ke dalam rumah, melalui sebuah bangunan yang mirip dengan pendopo.
Sama seperti yang ada di dalam gambar-gambar, yang ada di rumah adat Jawa.
*****
Di rumah Anjani.
Anggi baru saja selesai mandi, ketika Miko berteriak memanggil namanya.
"Anggi! Anggi!"
"Hah, Miko? Ngapain sih dia datang dan berteriak-teriak gitu!"
Anggi yang masih berada di dalam kamar, mengerutu sendiri, karena ulah sepupunya itu.
Tok tok tok!
"Anggi!"
Sekarang, Miko tidak lagi berada di luar rumah. Tapi sudah masuk dan tepat berada di depan pintu kamar Anggi.
"Hihhh!"
Anggi geregetan dengan tingkah laku Miko, yang tidak sabaran.
Klek!
"Apa?" tanya Anggi judes.
"Ih, sok galak. Wekkk..."
Miko bukannya merasa takut, tapi justru meledek Anggi. Kakak sepupu sekaligus teman sejalur dengannya itu.
"Ngapain sore-sore gini datang ke sini? Udah mandi belum?"
Anggi tidak peduli dengan ledekan Miko. Dia terus menampakkan wajah galaknya, karena sedang tidak mood.
Anggi merasa tidak mood, karena ditinggal pergi oleh kedua kakaknya, Ara dan Nanda.
Apalagi, kedua kakaknya itu beralasan bahwa, mereka akan pergi ke rumah sakit.
Padahal setahu Anggi, kakaknya Ara, sudah tidak punya teman lagi ke Jakarta ini.
Dia berpikir bahwa, kakaknya itu hanya membuat alasan, agar bisa pergi dan tidak perlu repot-repot mengajak dirinya.
__ADS_1
Itulah sebabnya, dia masih dalam keadaan seperti ini, pada saat Miko datang ke rumahnya.