Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Sama Saja


__ADS_3

Setelah Ara pergi bersama dengan Juna, untuk membeli makanan dan minuman, ayah Edi berkata pada istrinya, ibu Sofie, "Mungkin Ara deg-degan ya Bu. Kan sudah lama banget gak ketemu sama Nanda. Jadi rasa khawatir itu pasti ada. Cucu-cucu kita sudah besar-besar ternyata. Hehehe..."


Ibu Sofie ikut terkekeh, sama seperti yang dilakukan oleh suaminya itu. "Iya Yah. Gak kerasa, Nanda saja sudah SMA, dan Ara SMP. Sekar dan Yasmin, hamil juga. Hehehe... banyak juga cucu-cucu kita. Ada Anggi dan Miko juga kan?" kata ibu Sofie, menjelaskan dan mengandeng semua cucu-cucunya.


Ayah Edi mengangguk mengiyakan perkataan istrinya itu. Dia bersyukur, karena masih diberikan kesehatan dan keselamatan sampai sekarang, sehingga bisa melihat anak-anak berkeluarga dan memiliki anak.


Hidup yang diimpikan oleh setiap orang tua, yang ada adalah melihat anak-anak mereka tumbuh, berkeluarga dan hidup dalam kebahagiaan juga bersama dengan anak-anak mereka, yang merupakan cucu-cucu dari orang tuanya.


Kehidupan memang berputar, dan itu sudah sangat wajar.


Dari pengeras suara bandara terdengar pengumuman bahwa, penerbangan dari Taiwan akan segera mendarat.


Ara dan Juna, yang tadi pergi membeli makanan dan minuman, sudah kembali dengan apa yang mereka beli.


Ara membawa dia gelas minuman cola dan roti beraroma kopi, yang biasa ada di gerai-gerai makanan atau roti, yang ada di bandara dan juga Mall.


Juna membawakan dua gelas kopi, untuk dirinya sendiri dan ayah mertuanya, ayah Edi.


"Ini Eyang," kata Ara, menawari ibu Sofie dengan roti kopi, yang ada di paper bag kecil di tangannya. Sedangkan gelas cola, sudah di terima oleh ibu Sofie terlebih dahulu.


"Terima kasih Ra. Sini duduk. Pesawat akan segera datang. Tadi sudah ada pengukuran, dengar juga kan?" Ibu Sofie memberitahu Ara.


Ara hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan dari eyang putrinya itu.


Ayah Edi, meminum kopi yang tadi diberikan oleh menantunya, Juna, suaminya Sekar. Tapi dia tidak mau makan roti beraroma kopi juga.


Sekarang, mereka berempat, menunggu kedatangan Yasmin dan keluarga dengan lebih tenang.


Setelah beberapa menit berlalu, pesawat sudah dinyatakan mendarat dan penumpang sedang bersiap-siap untuk turun. Semua orang yang menunggu sanak keluarga dan mungkin temannya, juga bersiap-siap menuggu di pintu keluar.


Sama seperti yang dilakukan oleh keluarga ayah Edi.


Mereka semua, menuggu dengan senyuman kebahagiaan, karena sebentar lagi akan bertemu dengan orang-orang yang mereka tunggu-tunggu sedari tadi.


Dan setelah beberapa lama kemudian, tampak Yasmin yang sedang berjalan bersama-sama dengan para penumpang lainnya, berjalan ke arah pintu keluar.


Yasmin sudah tersenyum-senyum, saat melihat wajah ayah Edi dan ibu Sofie, yang datang menjemputnya. Berkerumun dengan para penjemput yang lain.

__ADS_1


Di antara ayah Edi dan ibu Sofie, ada seorang gadis kecil, yang tidak begitu jelas untuk Yasmin. Tapi dia merasa sangat yakin, jika itu adalah keponakannya sendiri, Ara. Anak kakaknya, Abimanyu.


"Ayah,ibu!" panggil Yasmin dengan melambaikan tangan.


Begitu juga dengan ayah Edi dan ibu Sofie. Mereka berdua, sama-sama melambaikan tangan juga pada anak mereka, Yasmin.


Setelah dekat mereka, ibu Sofie dengan Yasmin, saling berpelukan dalam keharuan. Begitu juga saat berpelukan dengan ayah Edi. Yasmin menangis haru, dengan perutnya yang sudah besar.


Mereka semua, bergantian saling berpelukan, antara Yasmin, Aksan dan Nanda.


Begitu juga dengan ayah Edi, ibu Sofie, Juna dan Ara tentunya.


"Ara?" tebak Yasmin, pada keponakannya yang sekarang sudah menjadi seorang gadis, yang sudah mulai tumbuh remaja.


"Iya Tante," sahut Ara sambil mengangguk mengiyakan.


Yasmin pun memeluk keponakannya itu dengan erat dan tersenyum bahagia. "Sudah besar Kamu Ra," kata Yasmin, sambil melihat tubuh keponakannya itu, dari atas ke bawah, begitu seterusnya, hingga Ara merasa serba salah.


"Sudah Yasmin. Lihat mukanya Ara, udah merah gitu Kamu perhatikan," tegur ibu Sofie, pada anaknya, Yasmin.


Juna memeluk iparnya, Aksan dan juga keponakannya, Nanda.


"Apa kabar Mas?" sapa Aksan pada Juna.


"Baik-baik," jawab Juna sambil menepuk-nepuk punggung iparnya itu.


Begitu juga saat memeluk Nanda, Juna melakukan hal yang sama.


Sekarang, Nanda sedang berhadapan dengan Ara. Ada yang ingin dia tanyakan, tapi sulit untuk dia ucapkan.


"Nanda, tidak mau peluk Ara? kalau gak mama yang mewakili nih!" kata Yasmin, menyindir anaknya itu.


"Di sana saja yang dibicarakan cuma Ara terus. Sekarang, ketemu, gak ada yang mau diomongin?" sahut papanya, Aksan, ikut menyindir Nanda.


Tentu saja, sindiran kedua orang tuanya itu membuat Nanda malu. Bukan hanya Nanda saja, tapi juga Ara.


Wajah mereka berdua, tampak memerah. Dan itu justru membuat Aksan, suaminya Yasmin, semakin menggoda keduanya, Ara dan Nanda.

__ADS_1


"Ayok ah, kita tinggal saja mereka berdua di sini. Kelamaan nunggu mereka yang sedang malu-malu," seloroh Aksan, sambil melirik ke arah Ara dan Nanda.


"Hehehe..."


"Hahaha..."


"Hihihi..."


Ayah Edi, ibu Sofie dan Yasmin, sama-sama tertawa senang, melihat mereka berdua yang menjadi salah tingkah.


"Sudah-sudah ayo! kasihan yang di rumah sudah nunggu." Juna mengajak mereka semua, untuk segera pulang.


Akhirnya, mereka semua sama-sama berjalan menuju ke tempat parkir. Meninggalkan bandara internasional, untuk pulang ke rumah.


Perjalanan Pulang ke rumah ayah Edi, terasa sangat cepat, dibandingkan saat menunggu di bandara tadi. Apalagi, ada Ara dan Nanda, yang terus saja di jadikan badan godaan mereka, yang sudah dewasa.


"Pantes saja minta pulang ke Indonesia terus. Adiknya sudah gede gini, takut juga dia kalau sampai adiknya itu di ambil cowok lain. Hahaha..."


Aksan justru membuka rahasia anak tirinya, Nanda. Dan Yasmin, sebagai mamanya Nanda, menimpali perkataan suaminya itu dengan cepat. "Dia kan sepupu yang baik Mas. Pasti mau jagain sepupu ceweknya ini. Lagian, Nanda itu cucu ayah yang paling besar. Jadi ya, mau tidak mau, itu tugas Nanda. Masak iya si Miko yabg jagain Ara?"


Perkataan Yasmin, membuat Nanda merasa mendapatkan angin, karena dibela oleh sang mama. Dia jadi tersenyum, saat melihat ke arah Ara, yang juga sedang melihatnya. Meskipun tidak lama kemudian, Ara kembali menundukkan kepalanya, karena merasa malu.


"Mereka berdua, belum terbiasa lagi. Beda waktu kecil dulu. Nanti, lama-lama juga berantem, sama seperti Anggi dan Miko juga. Hehehe..." Juna ikut menimpali perkataan Yasmin, karena teringat dengan anaknya, Miko, dengan Anggi, adiknya Ara.


"Oh iya, tumben mereka berdua tidak ikut Mas?" tanya Yasmin pada Juna, saat teringat keponakannya yang masih kecil-kecil itu.


"Gak boleh sama mama dan bundanya. Mereka berdua suka bikin ribut, nanti mengganggu pengunjung yang lain di bandara," jawab Juna cepat, mengingatkan Yasmin dengan tingkahnya Miko dengan Anggi.


"Hehehe... iya juga ya. Ahhh, jadi kangen dengan mereka. Pasti bikin gemes," ujar Yasmin, membayangkan bagaimana keadaan kedua keponakannya itu.


"Memang jenis kelamin bayi Kamu apa?"


Tiba-tiba, ibu Sofie bertanya kepada Yasmin, tentang jenis kelamin bayi yang masih ada di dalam kandungannya.


Dan pertanyaan dari ibunya itu, justru membuat Yasmin tidak lagi bisa tersenyum. Karena sebenarnya, Yasmin ingin anak perempuan. Sedangkan yang sekarang dia kandung, berjenis kelamin laki-laki.


Tapi untuk Aksan, yang belum pernah memiliki anak, tentu saja itu tidak menjadi masalah. Karena baginya, anak laki-laki atau perempuan, sama saja.

__ADS_1


__ADS_2