
Tut tut tut!
Tut tut tut!
"Angkat dong Ma... Dika sedang butuh bantuan ini," gumam Dika, dengan wajah yang sangat terlihat jelas, jika dia sedang cemas.
"Woi, gak usah pura-pura telpon. Mikir ini gimana?" tanya pemilik mobil, yang ditabrak Dika.
"Iya-iya sebentar!" Dika menyahuti dengan juteknya, karena telponnya juga tidak diangkat-angkat oleh mamanya.
"Atau jangan-jangan, ini bukan mobil Kamu ya, makanya gak bisa nyetir?" tanya orang tersebut, meragukan Dika.
"Ini mobil Gue sendiri. Enak aja menghina orang!"
"Lah, lampu merah Kamu nyeruduk aja tadi, itu kesalahan Bro. Jangan mentang-mentang mobil Kamu mentereng, terus seenak jidat Kamu mengendarainya."
Pengemudi mobil tersebut, memberikan ceramah yang panjang lebar pada Dika. Karena memang tadi, posisi lampu lalu lintas, sudah berganti dengan warna merah.
"Loe aja yang mendadak ngerem, padahal masih jalan juga nyampai tadi waktunya. Kan masih kuning." Dika terus membela diri, dan memberikan alasan.
Padahal sudah sangat jelas, jika dialah yang bersalah di sini.
Tak lama kemudian, mobil polisi datang. Dan kebetulan, salah satu polisi tersebut, adalah kenalan papanya Dika.
"Lho Dik. Kamu yang menabrak mobil ini?" tanya polisi tersebut, karena memang sudah tahu, bagaimana kejadian yang sebenarnya terjadi.
Ini karena, saksi yang melapor, menceritakan tentang kejadian yang tadi terjadi di lampu merah.
"Eh, bukan begitu Om. Ini bukan seperti yang mereka katakan."
Dika, masih berusaha untuk mengelak, dan menceritakan semuanya, dengan versi ceritanya sendiri.
"Jadi gitu Om. Dia mendadak berhenti, dan tidak memberikan tanda-tanda terlebih dahulu."
"Hai, apa Kamu gak bisa lihat, jika lampu sudah berganti dengan warna merah?" tanya pengemudi mobil tersebut, dengan nada jengkel.
"Anak muda jaman sekarang, tidak tahu aturan dan banyak beralasan," imbuh orang itu, dengan mengerutu sendiri, setelah mendengar penjelasan dan cerita karangan dari Dika.
"Bagaimana kalau kita selesaikan di kantor polisi saja?" tanya polisi tadi, memberikan jalan tengah.
"Sepertinya tidak perlu pak polisi. Di mobil sport mewah seperti itu, biasa ada cctv, yang memberikan sinyal otomatis, jika ada bahaya. Lihat saja dari layar monitor yang ada di mobilnya."
Salah satu saksi yang lain, yang sepertinya lebih tahu banyak tentang mobil sport mewah, memberikan solusi, yang mempercepat penyelesaian kasus ini.
Dan begitulah akhirnya. Dika, mau tidak mau, harus menerima kenyataan, jika di layar monitor mobilnya, menampilkan semua kejadian yang memojokkan dirinya sendiri.
Setelah diketahui oleh semua orang jika Dika yang bersalah, akhirnya dia harus menanggung semua biaya perbaikan mobil, yang dia tabrak tadi.
"Ya sudah, ayok kita ke bengkel. Kamu bisa mengetahui sendiri, berapa biaya yang perbaikan mobil ini."
__ADS_1
Akhirnya, mau juga Dika di ajak ke bengkel mobil, untuk bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dibutuhkan, untuk memperbaiki mobil orang tersebut.
Dan polisi kenalan papanya Dika, tidak bisa melakukan apa-apa, karena memang Dika terbukti bersalah.
Teng klunting!
Teng klunting!
Handphone milik Dika berbunyi. Di layar handphone tersebut, tertera tulisan Mama.
Dika menerima panggilan telpon tersebut dengan cepat dan senang.
..."Halo Ma."...
..."Ada apa Dik. Mama sedang dalam perjalanan metting, dan handphone ketinggalan tadi di dalam mobil."...
..."Ma, tolong transfer ke rekening Dika ma. Dua puluh juga ya Ma."...
..."Hai, banyak sekali! untuk apa Dik?"...
Akhirnya, Dika dengan ras takut-takut, menceritakan tentang kejadian yang tadi dia alami, di lampu merah.
Dia juga mengatakan bahwa, bibir mobilnya, bagian depan, ikut sedikit penyok, akibat benturan kecelakaan yang tadi dia alami.
..."Ah, Kamu ini ceroboh sekali! Mobil Kamu itu bisa habis puluhan juga, jika diperbaiki seperti semula. Apa Kamu tahu itu?"...
..."Iya Ma, maaf. Tapi orang itu justru meragukan Dika Ma. Dia bilang jika, mobil ini bukan mobil Dika. Kan menghina itu namanya Ma!"...
Setelah meminta share lokasi bengkel mobil, mamanya akan segera menyusul, untuk melihat siapa dan seperti apa orang yang sudah meragukan anaknya itu.
..."Ya sudah. Mama akan segera ke bengkel itu. Tunggu ya!"...
..."Ya Ma. Cepet ya Ma!"...
Klik!
*****
Di stasiun kereta api, Nanda sedang menunggu keberangkatan kereta api, yang belum jam keberangkatan.
Dia memilih untuk duduk-duduk di bangku, yang ada di stasiun, untuk para penumpang yang sedang menunggu.
"Hai!"
Ada seseorang, yang tiba-tiba menyapa Nanda, dengan menepuk pundaknya.
"Kak Nanda kan?" tanya orang tersebut.
"Iya, Kamu... Kamu temannya Ara kan? Yang dulu biasa bareng dia," jawab Nanda, dengan sebuah pertanyaan juga, untuk orang tersebut.
__ADS_1
"Hehehe... iya Kak. Apa kabarnya Ara Kak? Betah ya dia di sana, sampai lupa pulang tuh," ujar temannya Ara, yang dulu sering bersama-sama dengan Ara.
Cewek tersebut meminta ijin untuk duduk, di kursi, yang masih kosong di sebelah Nanda.
Nanda mengangguk mengiyakan, dan bergeser, supaya lebih lega, untuk diduduki cewek tersebut.
"Ya, mau bagaimana lagi? namanya juga merantau ke benua lain."
Nanda baru menyahuti perkataan temannya Ara, di saat cewek itu sudah duduk.
Sebenarnya, Nanda juga memiliki pemikiran yang sama, seperti temannya Ara itu. Memiliki Ara, yang sekarang ini berada di Amerika. Jauh dan tidak bisa dia ajak ke mana-mana lagi.
"Ini Kakak mau ke mana?" tanya temannya Ara. Seorang gadis remaja, yang sama juga seperti Ara, karena memang seumuran, juga, dengan adik sepupunya.
"Mau pulang kampung," jawab Nanda, menjawab pertanyaan, yang sepertinya itu hanya sebuah basa-basi belaka.
"Pulang kampung? Bukannya Kakak asli Jakarta ya?" tanya cewek itu lagi. Sepertinya, dia merasa penasaran dengan sosok Nanda, karena setahu dia dari ceritanya Ara, Nanda adalah kakak sepupunya, yang sedari kecil sering bersama dengannya.
"Ya. Asli Jakarta, tapi mau pulang kampung. Mau nengok mama dan papa. Eh, sama adik Aku juga ding," jawab Nanda, menjelaskan pada temannya Ara.
"Oh..."
Cewek tersebut, sedikit paham dengan apa yang dikatakan oleh Nanda barusan. Meskipun dia masih belum mengerti benar, kenapa dia sendiri yang ada di Jakarta, dan tidak ikut bersama dengan keluarganya sendiri.
Setelah beberapa saat terdiam, cewek itu kembali bertanya pada Nanda. "Memangnya, kampungnya di mana Kak?"
"Jawa Timur," jawab Nanda, tanpa mengatakan secara jelas, alamat rumahnya di kampung.
"Oh, jauh juga Kak."
"Iya," sahut Nanda, membenarkan.
"Memangnya Kamu mau ke mana sendirian?" tanya Nanda kemudian, saat dia ingat, jika cewek ini sedari tadi sendiri, tanpa ada yang menemaninya.
"Mau ke Cirebon Kak. Mau jenguk nenek." Cewek tersebut, menjawab pertanyaan Nanda, dengan malu-malu.
"Kok sendirian?" tanya Nanda lagi, dengan cemas.
Nanda jadi teringat dengan Ara lagi. Dia merasa khawatir, jika yang sekarang ini ada di sampingnya adalah Ara, dia pasti tidak akan membiarkan Ara pergi sendiri, ke tempat yang cukup jauh.
Dengan kendaraan kereta api, dengan penumpangnya yang banyak, dan tidak saling kenal juga.
Membayangkan semua itu, Nanda jadi bertanya, "Kamu naik kereta yang jam berapa?" Kemudian bertanya lagi, setelah mengambil tiket kereta yang ada di saku bajunya. "Kereta ini gak?"
"Eh, iya Kak. Aku juga naik kereta itu. Tapi, gerbongnya sama gak?"
Akhirnya, mereka berdua mencocokan tiket kereta api mereka berdua.
Tapi sayang, meskipun satu gerbong, letak duduk mereka saling berjauhan. Tidak dekat, dan berseberangan juga.
__ADS_1
"Coba nanti minta tolong sama pramugari kereta. Siapa tahu, bisa di tukar dengan penumpang yang lain," ujar Nanda, memberikan solusi, agar mereka berdua bisa satu kursi atau bersebelahan.
Ini akan lebih baik, karena ada teman yang bisa di ajak ngobrol, saat di perjalanan yang cukup panjang dna mungkin saja, membosankan.