Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Video Call Yasmin Dengan Nanda


__ADS_3

Seminggu kemudian, ayah Edi dan ibu Sofie, benar-benar datang ke Bogor, untuk menjenguk cucunya, Ara. Selain itu, mereka juga ingin melihat keadaan Nanda, yang saat ini ada bersama mereka, Anjani dan Abimanyu, yang memutuskan untuk tinggal sementara di Bogor.


Nanda tentu merasa sangat senang, karena kakek dan neneknya datang berkunjung. Apalagi mereka berdua, juga juga membawakan makanan serta beberapa mainan untuknya, dan juga boneka untuk Ara.


Karena Ara sudah pulang dari rumah sakit, jadi ayah Edi dan ibu Sofie, tidak perlu ke rumah sakit untuk menjenguknya, dan langsung datang ke rumah.


"Bagaimana perjalanannya Yah? tidak ada halangan kan?" tanya Abimanyu, begitu ayahnya itu sampai di rumah.


"Iya. Alhamdulillah baik dan lancar tadi. Bagaimana Ara, sudah benar-benar sehat?" tanya ayah Edi, setelah menjawab pertanyaan dari anaknya, Abimanyu.


Mereka semua akhirnya masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju ke arah kamar Ara, karena Ara masih belum banyak bermain-main di luar kamar.


"Cucu Eyang Ti, cantik. Sudah sehat kan Sayang?" tanya ibu Sofie, menyapa cucunya, Ara, yang sedang di suapi Anjani.


"Ibu," Anjani berdiri dari tempat duduknya dan menyalami ibu mertuanya itu. Mereka berdua saling berpelukan.


"Maafkan Ibu Jani," bisik ibu Sofie, di telinga Anjani, saat mereka berdua berpelukan.


"Ya Bu. Tidak apa-apa. Yang penting, semua sudah baik-baik saja."


Setelah itu, Anjani mempersilahkan ibu Sofie untuk mengendong Ara, dan mengajaknya keluar dari dalam kamar.


"Kita keluar dari kamar saja yuk Bu, Yah. Kita ke ruang tengah saja yang lebih nyaman untuk orang banyak," ajak Anjani pada kedua mertuanya itu.


Mereka berdua mengangguk mengiyakan. Dan sekarang mereka semua ada di ruang tengah sambil berbincang-bincang dengan anak dan cucu-cucunya.


"Nanda. Nanda mau bicara tidak dengan mama. Kalau mau, eyang bisa telpon mama, atau video call. Mama mau pergi jauh lagi Sayang. Biar mama ada semangat dan harapan untuk bisa berubah jadi lebih baik lagi, ya Sayang ya!"


Ibu Sofie, sedang merayu cucunya, Nanda, agar mau bicara dengan mamanya, Yasmin, walau hanya sebentar saja. Ini dilakukan oleh ibu Sofie, supaya Yasmin bisa memikirkan masa depan anaknya juga, dan tidak menuruti keinginan dan egois dirinya sendiri.

__ADS_1


"Nanda, mau kan?" tanya ibu Sofie lagi, berharap supaya Nanda mau bicara dengan mamanya sendiri.


Tapi Nanda hanya diam dan sepertinya tidak begitu peduli dengan perkataan neneknya, hingga Anjani yang bicara dan meminta Nanda, supaya mengabulkan permintaan mamanya.


"Nanda. Bunda minta, meskipun tidak ada mama di sini, Nanda harus tetap sayang dan juga hormat pada mama Yasmin. Bunda tidak mau kalau Nanda tidak mau menyayangi mama, dan Bunda pasti akan sedih jika Nanda akan seperti ini pada Bunda nanti."


Mendengar perkataan dari bundanya, Anjani, akhirnya Nanda menatap ke arah neneknya, ibu Sofie. Dia juga mengangguk dan tersenyum, supaya neneknya itu, menghubungi mamanya.


Ibu Sofie merasa terharu, dengan perkataan Anjani yang dituruti oleh Nanda. Dia jadi merasa bersalah, karena membiarkan anaknya sendiri, Yasmin, berlaku egois dan tidak memikirkan kepentingan anaknya sendiri, Nanda, yang masih sangat memerlukan perhatian dan kasih sayang seorang ibu.


Nanda bersikap seperti itu pada Anjani, karena dia mendapatkan figur seorang ibu yang sesungguhnya pada diri Anjani, dan bukan pada diri mamanya sendiri.


Akhirnya, video call dengan Yasmin tersambung dan Nanda bisa melihat wajah mamanya yang sedang menangis di dalam kamar asrama untuk TKI.


..."Mama."...


..."Sayang..."...


Mereka berdua, sama-sama saling berpandangan melalui panggilan video call. Tidak ada pembicaraan yang bisa mereka lakukan, dan hanya lewat pandangan mata mereka mengungkapkan perasaan, keharuan dan semua yang dirasakan.


Semua ini yang membuat mereka yang ada di dalam ruang tengah ikut serta dalam perasaan yang haru. Anjani dan ibu Sofie, ikut menitikkan air mata, saat Nanda menangis, karena melihat mamanya yang sedang menangis.


Cukup lama, mereka semua saling diam saja dan hanya bisa menangis saja, hingga pada akhirnya, Yasmin bisa berbicara dengan terbata-bata disela-sela tangisannya.


..."Sa_sayangnya Mama. Nan_nanda harus ja_jadi anak yang baik ya. Maaf. Maafkan Mama, yang ti_tidak bersama dengan Nanda. Nurut ya Sayang, nurut sama bunda Jani. Hiks hiks hiks, mama pergi kerja. Nanti, nanti saat Mama pulang, kita, kita bisa bertemu lagi. Nanda, Nanda mau kan?"...


Nanda hanya mengangguk sambil melihat ke arah layar handphone, dengan masih dalam keadaan menangis.


Anjani, memeluk Nanda, supaya tidak merasa sendiri dalam keadaan sedih.

__ADS_1


..."Yasmin. Kamu jangan khawatir ya, Nanda akan baik-baik saja bersama dengan kami."...


Anjani, yang berbicara, mewakili semua yang ada di rumahnya saat ini.


..."Hiks hiks hiks, iya Mbak Jani. Terima kasih. Maaf Mbak, Yasmin merepotkan Mbak Jani terus. Yasmin juga sudah banyak buat masalah buat Mbak Jani. Huhuhu..."...


Yasmin semakin keras menangis, karena melihat kakak iparnya, Anjani, yang masih berlaku baik terhadap dirinya. Terutama pada Nanda, anaknya, yang saat ini ikut dengan Anjani lagi. Sama seperti waktu dulu, saat dia pergi ke luar negeri menjadi TKI, untuk pertama kalinya.


Yasmin, akhirnya meminta maaf pada ayah dan ibunya, serta kakaknya, Abimanyu. Dia tahu, jika sebenarnya, keluarganya bukanlah orang-orang yang kejam. Selama ini, dia sendiri yang tidak tahu malu, dan egois.


Sekarang, dia sudah merasa cukup lega, karena sudah meminta maaf pada keluarganya, sebelum dia berangkat ke luar negeri menjadi TKI lagi.


Untuk kali ini, Yasmin bercerita pada keluarganya, jika dia akan berangkat ke Taiwan untuk menjadi baby sitter lagi.


..."Kamu hati-hati ya di sana. Jaga diri baik-baik, dan jangan mudah terpengaruh oleh kata-kata orang lain, yang akan menjerumuskan Kamu sendiri. Kamu harus bisa berpikir jernih dan panjang, sebelum melakukan sesuatu."...


Begitulah nasehat yang diberikan oleh ibu Sofie, pada anaknya, Yasmin. Sama seperti nasehat-nasehatnya yang dulu, saat Yasmin ada di luar negeri juga untuk pertama kalinya.


Ayah Edi dan Abimanyu, hanya bisa mengangguk saja, tapi tidak ikut berbicara seperti Anjani dan ibu Sofie.


Mereka berdua, ayah Edi dan Abimanyu, sudah tidak ada yang perlu dikatakan lagi, karena sudah terwakili oleh Anjani dan ibu Sofie.


Sebelum video call dengan mamanya, Yasmin terputus, Nanda mengucapkan kata-kata yang membuat Yasmin merasa sangat senang dan juga terharu, dalam isakan tangisnya yang terdengar dengan jelas.


..."Ma. Nda sayang Mama. Mama sehat dan hati-hati ya Ma. Nanda sayang Mama."...


Semuanya, kembali menangis dalam keharuan yang dirasakan. Dan dengan demikian, Yasmin merasa sangat yakin, jika anaknya, Nanda, bisa tumbuh dengan baik bersama dengan keluarga kakaknya itu. Dia bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada kemarin-kemarin.


Hal yang sama juga diharapkan oleh semua anggota keluarganya, termasuk anaknya sendiri, yaitu Nanda.

__ADS_1


__ADS_2