Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tidak Jelas


__ADS_3

"Mas. Wawan sudah kembali berkeliaran di perumahan ini lagi."


Anjani memberitahu tentang Wawan, pada Abimanyu begitu anak-anak mereka sudah berangkat ke sekolah semua.


Anjani tidak ingin bercerita tentang papanya Nanda, Wawan, saat ada kedua anaknya di rumah. Nanti, Anggi akan banyak tanya-tanya, karena kebiasaan anak kecil itu sering kali ingin tahu lebih banyak. Apalagi, Anggi tidak mengenal siapa Wawan.


"Siapa yang kasih tahu Bunda?" tanya Abimanyu, dengan kening berkerut. Dia sudah tidak pernah mengingat-ingat mantan suami adiknya, Yasmin.


"Kemarin itu, saat Bunda pulang ke rumah, karena mendapat kabar dari Ayah. Bunda ketemu langsung dengan Wawan."


Abimanyu mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban dari istrinya itu. Dia merasa jika, Wawan ingin tahu kabar Yasmin atau sekedar ingin bertemu dengan anaknya, Nanda. Karena selama yang Abimanyu tahu, Wawan itu orangnya selalu ingin tahu, bagaimana kehidupan seseorang, setelah tidak ada dirinya.


Apalagi ini tentang kehidupan istrinya yang dulu. Yang tidak pernah dia bahagiakan.


"Dia ngaku-ngaku udah jadi bos sekarang Yah," kata Anjani lagi, memberitahu pada suaminya itu, tentang keadaan mantan adik iparnya Wawan.


"Bunda kan tahu sendiri, jika Wawan itu pandai bicara dan bisa melakukan apa saja yang dia inginkan. Ya hati-hati saja kita Bun. Tidak usah digubris. Biarkan saja dia mau bicara apa St, terserah dia," ujar Abimanyu, mengingatkan pada istrinya, supaya tidak langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh Wawan.


Anjani mengangguk mengiyakan perkataan suaminya itu. Dia sendiri sebenarnya tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh Wawan, yang dulunya bahkan pernah memfitnah dirinya, dengan video asusila yang tidak layak untuk ditonton.


"Iya Yah. Bunda juga tidak percaya sih, dengan apa yang dikatakan oleh si Wawan. Dia sombongnya gak ilang-ilang. Gengsinya terlalu tinggi, sedangkan dia tidak mau berusaha dengan baik."


Akhirnya, mereka berdua mengakhiri berbincangan tentang Wawan, yang sudah mereka kenal, bagaimana kebiasaannya.


"Ya sudah Yah. Bunda cuma kasih tahu saja kok, jika sekarang Wawan muncul lagi. Ayah bisa kasih tau Yasmin, atau ayah Edi. Biar mereka waspada saja."


"Ya Bun. Besok-besok, Ayah coba bilang sama mereka."


*****


Hari sudah lewat jam makan siang.


Di pangkalan barang-barang bekas tempat Wawan sekarang tinggal.


"Mas Jajang. Itu ada beberapa barang pesanan. Tolong dibereskan segera ya!"


Wawan memerintahkan pada salah satu karyawan yang bekerja di pangkalan tersebut, sambil menunjuk ke beberapa mesin cuci dan lemari es second.

__ADS_1


"Oh siap Bos! hehehe..." sahut karyawan tersebut, dengan sikap hormat.


"Eh Mi. Mau ke mana?" tanya Wawan, saat melihat istrinya sedang bersiap untuk pergi.


"Mau ke pasar. Ini mau ambil barang-barang elektronik, yang miliknya warung depan pasar itu. Kemarin sudah bilang sama Mami. Barang elektronik warungnya, mau di ganti dengan yang baru, jadi yang lama di loakan."


"Gak ajak Aku Mi?" tanya Wawan lagi, yang merasa diabaikan oleh istrinya itu.


"Lho, gak antar pesanan yang kemarin?" tanya istrinya Wawan, sambil menyipitkan matanya, karena tidak mau mendengar alasan dari suaminya, yang berusia lebih muda darinya.


Istrinya Wawan, mengingatkan pada Wawan dengan beberapa pesanan yang harus diantarkan hari ini juga.


"Terus yang antar Mami siapa?" Wawan malah balik bertanya, mendesak istrinya itu, supaya ikut diajak ke pasar.


"Ada Mas Parmin, yang bisa jadi supir juga kan?"


"Ah, sama Aku saja Mi. Parmin biar di rumah bantu-bantu resparasi. Biar dia juga belajar gitu Mi." Wawan masih ngeyel untuk ikut ke pasar, bersama dengan istrinya.


Sebenarnya, Wawan malas saja di rumah, karena harus bantu resparasi barang-barang bekas tersebut. Itu artinya, dia juga harus ber_kotor-kotor, karena harus membongkar mesin-mesin elektronik tersebut dan membersihkannya juga. Apalagi, angkat-angkat barang juga. Hal yang sangat di hindari oleh Wawan.


"Nanti angkat-angkat sendiri barangnya itu naik ke mobil lho, Kamu bisa? kuat?" tanya istrinya Wawan menantang.


"Tidak usah. Kita kan harus hemat tenaga, biar yang kerja di pangkalan sekalian belajar juga. Ya sudah ayok. Ini kunci mobilnya!"


Wawan menerima kunci mobil, yang diberikan oleh istrinya. Dia meringis, saat mendengar jawaban dari istrinya itu. Karena jawaban dari istrinya itu adalah kata-katanya sendiri, saat istrinya ingin mengajak salah satu anak buahnya, dan meminta pada Wawan supaya tinggal di pangkalan saja.


Padahal sebenarnya, istrinya Wawan berniat untuk membiarkan Wawan ada di pangkalan, biar dia belajar menjadi seorang wirausaha yang mandiri, tanpa harus diawasi oleh istrinya.


Karena di pangkalan tersebut, sudah ada barang-barang pesanan, barang yang sudah siap untuk dipasarkan dan ada juga barang yang masih perlu di perhatikan dengan diperbaiki terlebih dahulu.


Tapi ternyata Wawan tidak peka. Dia hanya ingin mendapat ikan besar, tanpa mau memberikan umpan yang besar, dengan waktu yang cukup lama. Karena semuanya membutuhkan kesabaran, termasuk belajar menjadi seorang pengumpul barang-barang bekas sekalipun.


*****


Di Jam istirahat sekolah Ara.


Nanda datang ke kelas Ara. Dia mencari-cari keberadaan adik sepupunya itu, untuk memberikan kabar, jika nanti pulang sekolah, mau di ajak mampir ke pasar sebentar.

__ADS_1


Tapi Ara tidak ada. Kata temannya, Ara sedang ada latihan di lab bahasa, dan belum kembali.


"Mungkin Ara sekalian istirahat ke kantin, dan tidak kembali ke kelas terlebih dahulu Kak."


Nanda pamit pada temannya Ara, setelah mengucapkan terima kasih.


Sekarang, Nanda mencoba untuk menghubungi Ara, melalui panggilan telpon. Tapi ternyata, handphone milik Ara tidak aktif.


"Oh ya, kan dia ada di lab bahasa tadi. Bisa jadi, handphonenya dia tinggal di dalam tas, dan dia matikan." Nanda bergumam sendiri, sambil menatap ke layar handphonenya.


"Wooiii... Bodyguard Diyah. Sedang apa?" tanya Dika dengan tiba-tiba.


Nanda memicing, melihat ke arah Dika, yang terkesan sok akrab dengannya.


"Eh, sorry-sorry. Gue Kakak kelas Loe, masak gak ingat Gue?" tanya Dika, dengan menunjuk ke arah wajahnya sendiri.


"Ingatlah. Yang nuduh-nuduh adik Gue sembarangan kan?"


"Hahaha... sorry. Gue gak tau aja waktu itu."


Nanda hanya diam saja, mendengar penjelasan dari temannya Awan, si Dika, yang masih sangat dia ingat wajahnya.


"Eh, sedang ngapain sendiri di sini?"


Dika bertanya lagi, pada Nanda, yang sedang duduk di bangku taman, tak jauh dari koridor sekolah, yang menghubungkan antara gedung SMP dengan gedung SMA.


Tapi Nanda sedang malas menjawab pertanyaan. Dia hanya menaikkan kedua bahunya, tanda jika dia tidak peduli dengan pertanyaan tersebut.


"Hufff... beda bener dengan adiknya yang ramah." Dika masih saja berceloteh, dengan membandingkan antara Nanda dengan Ara.


"Banci aja! udah sono jauh-jauh dari Gue!" Nanda mengusir Dika, agar tidak ada lagi di depannya saat ini. Dia sedang bad mood.


Entah apa yang terjadi pada Nanda. Yang pasti, tadi dia menerima pesan dari nomer tidak di kenal dan memintanya datang ke pasar, jika ingin melihat seseorang yang sangat penting dalam hidupnya.


Nanda bingung, dengan maksud dari pesan yang dia terima tadi. Karena Nanda juga tidak tahu, siapa yang di maksud dengan seorang yang sangat penting dalam kehidupannya.


Apalagi, nomer tersebut juga tidak Nanda kenal.

__ADS_1


"Ah, abaikan. Mungkin saja orang iseng, kurang kerjaan, atau bisa jadi modus penipuan yang baru."


__ADS_2